Arabella (18th), gadis SMA yang haus kasih sayang akibat diabaikan keluarga, dia mencari kasih sayang itu dari luar. tanpa dia berpikir panjang bahwa dia di manfaatkan oleh dunia luar yang ia percaya sebagai rumah.
Merasa putra pertamanya, Nathan tak dekat dan mengabaikan bella. orang tua Nathan mengirim sang adik untuk membatu mengurus Bella.
Karena sikap liar Bella dengan kekasihnya itu membuat christian menyimpan rasa pada Bella. hingga perasaan itu berubah menjadi obsesi terlarang.
.
.
Happy reading ✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
"Itu karena kamu bukan..." Kalimat Nathan terhenti mendadak.
Cengkeraman tangannya di bahu Bella mendadak melemas. Rahang pria itu mengeras rapat, matanya membelalak lebar seolah baru saja menyadari batas terlarang yang hampir saja ia lewati. Di depannya, Bella berdiri membeku dengan napas tertahan, menatap kakaknya dengan mata bulat yang dipenuhi kebingungan dan ketakutan.
"Bukan apa, Kak?" bisik Bella gemetar, suaranya hampir tak terdengar di antara keheningan yang mendadak mencekam. "Aku bukan apa?"
Nathan mengalihkan pandangannya dengan cepat, menghembuskan napas berat yang terdengar putus asa. Ia memijit pelipisnya, berusaha keras meredam gejolak amarah yang sempat menguasai akal sehatnya. Kedataran dingin yang biasa menghiasi wajahnya kini kembali terpasang, meski tak sepenuhnya sempurna.
"Bukan anak kecil lagi," tangkis Nathan cepat, suaranya berubah datar dan tajam, menutupi kecemasannya. "Kamu udah delapan belas tahun, Bella. Stop bertindak seolah dunia harus berputar di sekeliling kamu."
Bella menggelengkan kepala pelan, merasa ada sesuatu yang janggal dari ekspresi kakaknya beberapa detik yang lalu. Ada rahasia besar yang tersembunyi di balik tatapan mata Nathan. "Nggak... bukan itu yang mau Kakak omongin tadi. Kak Nathan mau ngomong apa sebenarnya?"
"Nggak ada," potong Nathan dingin, melangkah mundur dan merapikan kemejanya yang sedikit kusut. Ia mengambil laptop serta berkas-berkas di atas meja tanpa menatap Bella lagi. "Nggak ada yang perlu dibahas lagi malam ini. Kamu masuk kamar dan tidur."
"Kak Nathan, jawab aku!" teriak Bella, berusaha mengejar kakaknya yang mulai melangkah menuju arah tangga. "Kenapa Kakak selalu main rahasia-rahasiaan?! Kenapa selalu aku yang nggak pernah tahu apa-apa di rumah ini?!"
Nathan menghentikan langkahnya di anak tangga pertama. Tanpa menoleh ke belakang, suaranya terdengar kaku dan pekat akan penegasan.
"Mulai besok pagi jam enam, aku udah berangkat ke bandara. Kunci mobil kamu bakal aku sita, dan kartu kredit kamu resmi diblokir atas perintah Mama," ujar Nathan tanpa simpati.
"Apa?!" Bella melotot tak percaya. "Trus aku naik apa ke sekolah?! Aku belanja pakai apa?!"
Nathan akhirnya memutar tubuhnya sedikit, melirik Bella dari sudut matanya yang dingin. Senyum tipis yang sarat akan ironi terbit di bibirnya.
"Mulai besok, kamu nggak bisa seenaknya lagi di rumah ini, Bella," gumam Nathan pelan namun begitu mengintimidasi. "Mama udah nyuruh seseorang buat tinggal di sini dan awasin kamu secara penuh selama aku pergi."
Bella mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Aku nggak butuh pengawas! Aku bisa jaga diri aku sendiri!"
"Nggak, kamu nggak bisa," sela Nathan cepat. "Kamu cuma gadis labil yang gampang dimanfaatin cowok-cowok brengsek di luar sana demi sepeser perhatian."
Kata-kata itu menusuk tepat di ulu hati Bella, membuat dadanya terasa sesak berlipat ganda. Belum sempat Bella membalas, Nathan sudah kembali melangkah naik melintasi anak tangga.
"Siapa?!" panggil Bella setengah berteriak dari dasar tangga. "Siapa yang Mama suruh ke sini, Kak?!"
Nathan menghentikan langkahnya sejenak di lantai atas, menatap Bella dari balik railing kayu yang megah. Sorot matanya nampak begitu suram di bawah pencahayaan koridor yang remang.
"Om Christian," jawab Nathan singkat. "Beliau baru selesai mengurus kepindahannya di rumah sakit dan bakal sampai besok sore. Siapkan diri kamu, Bella... karena Om Tian bukan tipe orang yang bakal toleransi sama kelakuan liar kamu."
Tanpa menunggu balasan lagi, Nathan melangkah pergi dan menghilang di balik pintu kamarnya, meninggalkan suara dentuman pintu yang tertutup rapat.
Bella berdiri sendirian di tengah ruang tamu yang luas dan dingin. Nama itu—Om Christian—terngiang-ngiang di kepalanya, menghadirkan rasa cemas asing yang perlahan merayapi dadanya.
*
Malam itu terasa makin pekat dan mencekam bagi Bella. Setelah suara pintu kamar Nathan tertutup rapat, keheningan di ruang tamu megah itu seolah menjepit dadanya, menyisakan gema kata-kata kakaknya yang masih menusuk ulu hati.
Bella berdiri mematung di dasar tangga. Matanya menatap tajam ke arah lantai atas dengan derai air mata yang mulai mengering di pipi.
"Om Christian..." gumam Bella lirih. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Adik Mama yang sok berkuasa itu? Mau ngatur hidup aku? In your dreams!"
Dengan perasaan campur aduk antara amarah, terluka, dan cemas yang mulai menggerogoti pikiran, Bella membalikkan badan lalu melangkah kasar menuju kamarnya di lantai bawah. Pintu kamar dihempaskannya keras-keras. Ia melempar tas desainer miliknya ke sembarang arah dan langsung merebahkan diri di atas tempat tidur king-size yang terasa terlalu luas untuk dirinya sendiri.
Ia meraih ponselnya, jemarinya bergerak cepat mencari nama Vero. Bella butuh suara penenang, butuh seseorang yang bisa meyakinkannya bahwa ia tidak sendirian di dunia ini.
Nada sambung berdering... sekali, dua kali, hingga akhirnya terputus otomatis.
Bella mencoba menelpon lagi. Kali ini, panggilan langsung dialihkan ke suara mesin pelayan otomatis. Vero mematikan ponselnya.
"Vero, please... angkat," bisik Bella frustrasi. Ia mengiringi pesan singkat lewat aplikasi percakapan.
Bella: Vero, kamu udah tidur? Kakakku tau semuanya. Kartu kreditku diblokir dan besok Om aku mau datang buat ngawasin aku. Aku takut, Vero. Kamu bisa jemput aku besok?
Centang satu. Pesan itu bahkan tidak masuk.
Sebuah tawa getir lolos dari bibir Bella. Ia memeluk lututnya di atas kasur, menatap langit-langit kamar yang tinggi. Di saat seperti ini, pria yang beberapa jam lalu mengaku menyayanginya dan menikmati setiap sentuhannya mendadak lenyap tanpa jejak. Rasa hangat yang ia beli tadi malam kini berganti menjadi kehampaan yang luar biasa dingin.
*
Keesokan harinya, pkl 06.00 WIB.
Suara raungan mesin mobil yang menjauh dari halaman depan membangunkan Bella dari tidur ayamnya. Ia tersentak, menyibak gorden jendela kamarnya, dan melihat mobil sedan hitam Nathan perlahan menghilang di balik pagar besi yang tinggi. Kakaknya benar-benar pergi tanpa pamit secara langsung padanya.
Rumah itu kini benar-benar kosong.
Bella bergegas mandi dan mengenakan seragam sekolahnya dengan asal-asalan. Saat melangkah ke area dapur, ia menemukan kunci mobil mini cooper miliknya sudah tidak ada di gantungan kunci biasa. Di atas meja makan, hanya ada sekotak susu dan sebuah catatan kecil dari Asisten Rumah Tangga yang sudah ditugasi Nathan:
Non Bella, Pak Nathan pesan Non berangkat sekolah naik taksi online yang sudah dipesankan. Kunci mobil disimpan Pak Nathan.
"Sialan!" umpat Bella sengit. Ia meremas kertas itu dan melemparnya ke tempat sampah.
Hari itu di sekolah terasa seperti neraka bagi Bella. Ia tak bisa fokus menyerap satu pun pelajaran di kelas. Otaknya dipenuhi rasa jengkel pada keluarganya dan kecemasan akan sosok pamannya yang bakal datang nanti sore. Di pikiran Bella, Christian Gerald adalah sosok pria dewasa yang dingin, kaku, dan membosankan—seorang dokter steril yang pasti akan membatasi kebebasannya habis-habisan.
"Bell, kamu kenapa, sih? Dari tadi melamun terus," bisik Clarisa, teman sebangkunya saat jam istirahat.
"Kakakku bikin ulah. Kartu kreditku diblokir, mobil disita," jawab Bella acuh tak acuh sambil memainkan sedotan minumannya.
"Demi apa?! Terus ntar malam kita jadi kan ke clubbing di Dragonfly? Vero kan bilang mau ngerayain anniversary temannya di sana?"
Mendengar nama Vero disebut, dada Bella berdenyut nyeri. "Vero dari semalam nggak bisa dihubungi."
"Hah? Serius? Tapi tadi pagi aku liat dia bikin story lagi nongkrong di kafe daerah Senopati, kok," ujar Clarisa polos sambil menyodorkan ponselnya.
Bella merebut ponsel Clarisa dan melihat unggahan foto Vero yang sedang tertawa bersama teman-teman prianya dengan caption: "Free weekend, no drama."
Darah Bella mendidih seketika. "Bajingan," desisnya rendah.
"Bell, kamu makin keliatan stres deh," kata Clarrisa ragu. "Mending nanti malam ikut aja. Luapin semuanya di club. Toh rumah kamu lagi nggak ada siapa-siapa, kan?"
Bella menyunggingkan senyum licik. Ucapan Clarrisa seperti menyulut api dalam dadanya. "Nggak ada siapa-siapa?" pikir Bella. Justru karena Om Christian mau datang sore ini, ia harus menunjukkan dari awal bahwa dirinya bukan gadis penurut yang bisa diatur-atur.
"Oke," jawab Bella tegas, matanya berkilat penuh pemberontakan. "Jemput aku jam sembilan malam. Kita pesta sampai pagi."
*
*
*
kesel banget liat keluarga allegra
tadi aja pada diem Bae pas Bella di maki"
pake acara marah segala pas Bella di culik orang