NovelToon NovelToon
MEKANIK: Yang Diremehkan, Ternyata Mekanik Top 1 Dunia.

MEKANIK: Yang Diremehkan, Ternyata Mekanik Top 1 Dunia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rahmat Agung

Di dunia otomotif, uang bisa membeli mobil mewah, kekuasaan bisa membeli bengkel terbaik, dan nama besar bisa membuat seseorang dihormati. Namun, tidak semua orang memahami bahwa di balik setiap mesin hebat, ada seseorang yang benar-benar mengerti cara kerjanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmat Agung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 — KODE YANG TERSEMBUNYI DI BALIK MESIN

Suara mesin meraung memenuhi arena kompetisi.

Di hadapan Arga Pratama, mobil balap nomor tiga belas berdiri di atas area pemeriksaan dengan kap mesin terbuka. Lampu indikator pada panel instrumen menyala sesekali, sementara layar diagnostik menampilkan sejumlah data yang tampak tidak saling berhubungan.

Putaran mesin tidak stabil ketika suhu meningkat. Respons tenaga terlambat saat pedal akselerator diinjak secara mendadak. Peringatan sistem muncul beberapa detik, kemudian menghilang tanpa meninggalkan kode kerusakan permanen.

Bagi sebagian peserta, kombinasi gejala itu terlihat seperti mimpi buruk.

Bagi Arga, justru di situlah tantangannya.

Ia menatap layar, lalu mengalihkan pandangan ke mesin. Tangannya tidak langsung menyentuh komponen apa pun. Ia terlebih dahulu mencatat kondisi awal, suhu kerja, tegangan sistem, dan waktu munculnya setiap gejala.

Di sisi lain arena, Rendy Mahardika memperhatikan dari balik kap mobil balap nomor delapan.

"Kenapa dia cuma berdiri?" gumam Rendy.

Kevin Santoso, yang kebetulan berada di dekatnya, ikut melihat ke arah Arga.

"Mungkin sedang membaca data."

"Semua peserta juga membaca data," balas Rendy. "Bedanya, mereka bekerja. Dia malah seperti sedang menunggu ilham."

Kevin tidak menanggapi. Ia justru memperhatikan gerakan tangan Arga yang sesekali mengetuk meja kerja sambil mencatat angka.

Ada sesuatu dalam cara pria itu bekerja yang terasa familier.

Sesuatu yang pernah dilihat Kevin bertahun-tahun lalu.

Sesuatu yang selama ini berusaha ia lupakan.

Di ruang juri, Marcus Hale mengamati layar pemantau milik setiap peserta.

Ketika gambar kamera memperlihatkan Arga memeriksa jalur kabel di dekat modul kontrol mesin, Marcus langsung menegakkan punggung.

"Dia memulai dari sana?" tanyanya.

Fajar, koordinator teknis kompetisi, menoleh.

"Ada masalah?"

"Tidak." Marcus segera menggeleng. "Saya hanya ingin tahu pendekatan diagnostiknya."

Fajar melihat layar. "Peserta lain sebagian besar memulai dari pemindai kode kerusakan. Arga justru memeriksa kondisi fisik dan hubungan antarkomponen."

"Pendekatan lama," kata Marcus.

"Pendekatan yang masih masuk akal jika dilakukan dengan benar."

Marcus terdiam.

Ia tahu Fajar tidak sedang membela siapa pun. Secara teknis, pernyataan itu benar. Kode kerusakan hanya menunjukkan kondisi yang terdeteksi sistem, bukan selalu penyebab utama gangguan.

Namun, Marcus juga tahu bahwa Arga memiliki kebiasaan yang jauh lebih berbahaya bagi orang-orang tertentu.

Arga tidak mudah menerima kesimpulan pertama.

Ia akan terus mencari sampai menemukan hubungan antara gejala, data, dan penyebab sebenarnya.

Marcus melirik kursi di ujung ruangan.

Adrian Voss belum datang.

Tetapi sebuah pesan di ponselnya membuat rahang Marcus mengeras.

Pastikan peserta nomor 17 tidak mendapatkan akses ke sistem rekaman kendaraan.

Pesan itu singkat, tanpa penjelasan.

Marcus menatap layar sekali lagi.

"Sudah terlambat," bisiknya.

Arga akhirnya menghubungkan alat ukur ke jalur sensor yang berkaitan dengan respons mesin.

Ia menjalankan prosedur pengujian sesuai panduan teknis kompetisi. Mesin dipertahankan pada kondisi kerja tertentu, lalu respons sistem diamati ketika beban simulasi berubah.

Hasilnya aneh.

Pada kondisi awal, pembacaan sensor tampak normal. Akan tetapi, ketika suhu meningkat dan getaran bertambah, sinyal yang diterima modul kontrol mengalami gangguan sesaat.

Gangguan itu terlalu singkat untuk selalu tersimpan sebagai kode kesalahan.

Arga mengulang pengujian.

Hasilnya sama.

Ia kemudian memeriksa sambungan listrik, kondisi konektor, dan jalur kabel yang terlihat. Tidak ada kerusakan mencolok. Pengunci konektor terpasang, lapisan pelindung kabel masih utuh, dan tidak ditemukan tanda panas berlebih.

Namun, ia belum puas.

"Kalau kabelnya benar-benar putus, gejalanya akan lebih jelas," gumamnya. "Kalau sensornya rusak, pembacaannya seharusnya menunjukkan penyimpangan yang lebih konsisten."

Ia melihat kembali data yang sudah dicatat.

Gangguan muncul ketika suhu naik, tetapi hanya pada kondisi tertentu. Setelah mesin kembali stabil, sinyal tampak normal.

Arga menunduk, memperhatikan titik tempat kabel bertemu dengan konektor.

Ada kemungkinan sambungan internal mengalami hambatan yang berubah ketika menerima panas dan getaran. Namun, ia tidak akan menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan dugaan.

Ia meminta izin kepada pengawas untuk melakukan pengujian kontinuitas dan penurunan tegangan sesuai batas yang diperbolehkan.

Pengawas mengangguk.

Arga mematikan sistem sesuai prosedur, memastikan kondisi aman, lalu melakukan pemeriksaan.

Beberapa menit kemudian, ia menemukan penyimpangan kecil.

Bukan pada sensor.

Bukan pula pada modul kontrol.

Masalahnya berada pada terminal di salah satu konektor jalur sinyal. Kontak terminal tersebut tidak stabil ketika menerima getaran tertentu. Dari luar, sambungan itu tampak normal, tetapi hasil pengujian menunjukkan perubahan hambatan yang tidak semestinya.

Arga menarik napas perlahan.

"Ketemu."

Ia tidak langsung mengganti komponen. Ia memanggil pengawas dan menunjukkan hasil pengukuran agar temuan itu tercatat secara resmi.

Setelah mendapatkan persetujuan, ia memperbaiki sambungan sesuai prosedur dan memeriksa kembali seluruh jalur terkait.

Kemudian ia menjalankan pengujian ulang.

Mesin dinyalakan.

Putaran awal stabil.

Suhu meningkat secara bertahap.

Respons akselerasi diuji dalam beberapa kondisi simulasi.

Tidak ada lagi keterlambatan respons yang sebelumnya muncul. Peringatan sistem juga tidak kembali muncul selama pengujian yang ditentukan.

Arga mencatat hasil akhir, termasuk tindakan perbaikan dan alasan teknisnya.

Ia tidak tersenyum lebar.

Baginya, memperbaiki kerusakan hanyalah separuh pekerjaan. Separuh lainnya adalah memastikan bahwa kesimpulannya dapat dipertanggungjawabkan.

"Peserta nomor tujuh belas menyelesaikan diagnosis!"

Suara pengumuman membuat sejumlah kepala menoleh.

Rendy berhenti bekerja sejenak.

"Apa?" Ia memandang layar penilaian. "Secepat itu?"

"Dia tidak mengganti banyak komponen," ujar Kevin pelan. "Dia menemukan masalah pada sambungan."

Rendy mendengus.

"Keberuntungan."

Namun, ekspresinya berubah ketika layar menampilkan catatan pemeriksaan Arga. Setiap langkah disertai hasil pengukuran, alasan pemeriksaan, dan verifikasi setelah perbaikan.

Tidak ada komponen mahal yang diganti tanpa alasan.

Tidak ada langkah yang dilakukan hanya untuk terlihat hebat.

Rendy memandang mobilnya sendiri.

Ia sudah menghabiskan banyak waktu mencoba mengejar posisi teratas. Selama ini, ia mengandalkan peralatan terbaik, pelatihan eksklusif, dan bantuan para teknisi berpengalaman.

Arga hanya memiliki meja kerja sederhana, alat ukur, dan cara berpikir yang sulit ditandingi.

"Jangan bilang dia lebih baik dariku," gumam Rendy.

Kevin menatapnya.

"Aku tidak mengatakan itu."

"Tapi kau memikirkannya."

Kevin memilih kembali bekerja.

Sikap diamnya justru membuat Rendy semakin kesal.

Beberapa menit kemudian, seluruh peserta diminta menghentikan pekerjaan.

Fajar naik ke panggung kecil di tengah arena, membawa papan hasil sementara.

"Babak ketiga menguji kemampuan peserta dalam menganalisis gangguan yang tidak selalu meninggalkan kode kesalahan permanen. Penilaian tidak hanya didasarkan pada kecepatan, tetapi juga ketepatan diagnosis, keselamatan kerja, dan kualitas verifikasi."

Ia berhenti sejenak.

"Untuk sementara, peserta nomor tujuh belas memperoleh nilai tertinggi."

Tepuk tangan terdengar dari beberapa sisi.

Arga hanya mengangguk ketika namanya disebut. Ia membereskan peralatan, memeriksa kembali catatan, lalu menyerahkannya kepada petugas penilai.

Rendy berdiri dengan wajah tegang.

"Nilai tertinggi bukan berarti dia yang terbaik," katanya cukup keras hingga beberapa peserta mendengar.

Fajar menoleh.

"Benar. Karena itu, masih ada babak berikutnya."

Rendy mengangkat dagu, seolah mendapatkan kembali keyakinannya.

Namun, Fajar melanjutkan, "Dan setiap peserta akan dinilai dengan standar yang sama."

Kalimat itu membuat Rendy terdiam.

Arga berjalan melewatinya tanpa berkata apa-apa.

"Hei, Arga!" panggil Rendy.

Arga berhenti.

"Kau pikir memenangkan tiga babak membuatmu menjadi legenda?"

"Tidak," jawab Arga tenang.

"Kalau begitu, apa yang kau kejar?"

Arga memandangnya beberapa saat.

"Aku hanya ingin memastikan bahwa aku masih bisa melakukan pekerjaanku dengan benar."

Jawaban itu membuat Rendy kehilangan kata-kata.

Arga kemudian melanjutkan langkahnya.

Bagi Rendy, jawaban tersebut terdengar seperti penghinaan yang disampaikan tanpa niat menghina. Dan entah mengapa, hal itu jauh lebih menyakitkan daripada ejekan langsung.

Ketika peserta mulai meninggalkan arena untuk beristirahat, Nadia Prameswari menghampiri Arga di dekat lorong teknis.

"Kamu berhasil memperbaikinya," katanya.

"Masalahnya tidak terlalu rumit setelah gejalanya dipahami."

Nadia menggeleng.

"Jangan merendah. Banyak orang langsung mengganti sensor atau modul kontrol ketika melihat gejala seperti itu."

"Karena mengganti komponen lebih mudah daripada mencari penyebabnya."

Nadia tersenyum tipis. "Itu kalimat yang dulu sering diucapkan kepala tim ARX-9."

Arga terdiam.

"Siapa yang mengucapkannya?" tanyanya.

Nadia tidak langsung menjawab. Ia melirik ke ujung lorong, memastikan tidak ada orang yang cukup dekat untuk mendengar percakapan mereka.

"Namanya tidak penting sekarang. Yang penting, aku menemukan sesuatu di arsip cadangan."

Jantung Arga berdetak sedikit lebih cepat.

"Data asli?"

"Sebagian. Aku belum bisa memastikan semuanya lengkap. Ada beberapa berkas yang rusak, dan sebagian catatan hanya bisa dibuka dengan kode akses lama."

"Apakah kamu sudah membuat salinan?"

"Salinan terenkripsi. Berkas aslinya tidak aku ubah."

Arga mengangguk. Itu keputusan yang benar.

"Jangan kirimkan data itu kepada siapa pun dulu," katanya. "Kita harus memastikan sumber, tanggal, dan keutuhannya sebelum menarik kesimpulan."

"Aku tahu."

Nadia mengeluarkan secarik kertas kecil dari saku jaketnya.

Di atasnya terdapat deretan angka dan huruf.

Arga membaca kode itu.

Wajahnya berubah.

Ia mengenali formatnya.

Bukan kode komponen, bukan nomor pengiriman biasa, dan bukan pula nomor seri mesin.

Itu adalah format kode otorisasi internal yang pernah digunakan oleh tim pengembangan ARX-9.

"Di mana kamu mendapatkan ini?" tanyanya.

"Dari catatan perubahan akses pada arsip cadangan. Aku belum bisa membuka seluruh riwayatnya, tetapi ada satu entri yang muncul berulang kali."

Nadia menunjuk bagian akhir kode.

"Entri ini berkaitan dengan akses terakhir sebelum laporan kegagalan ARX-9 diserahkan kepada dewan direksi."

Arga membaca ulang kode tersebut.

Ia teringat pesan dari nomor tak dikenal yang menyuruhnya membandingkan kode otorisasi pada dokumen Surya dengan arsip proyek yang ia miliki.

Kedua petunjuk itu mungkin saling berkaitan.

Namun, ia belum tahu apakah pengirim pesan sedang membantunya atau justru menggiringnya menuju jebakan.

"Jangan beri tahu siapa pun bahwa kamu menunjukkan ini kepadaku," kata Arga.

Nadia mengerutkan kening. "Kamu mencurigai seseorang?"

"Aku mencurigai keadaan yang belum bisa kujelaskan."

Sebelum Nadia menjawab, terdengar suara langkah dari arah belakang.

Marcus Hale muncul di lorong.

"Apa yang sedang kalian bicarakan?"

Nadia segera memasukkan kertas itu ke dalam saku.

"Tentang hasil babak ketiga," jawabnya.

Marcus menatap mereka bergantian. Tatapannya berhenti sedikit lebih lama pada Arga.

"Arga, Adrian ingin bertemu denganmu."

Arga tidak menunjukkan keterkejutan.

"Untuk apa?"

"Itu tidak dijelaskan."

"Kalau begitu, sampaikan bahwa aku akan menemuinya setelah menyelesaikan urusanku."

Marcus mengerutkan dahi.

"Ini bukan permintaan yang sebaiknya kau abaikan."

Arga menatapnya lurus-lurus.

"Lima tahun lalu, aku terlalu sering mengikuti arahan orang yang tidak menjelaskan alasan mereka. Kali ini, aku akan menentukan sendiri kapan aku harus datang."

Untuk sesaat, Marcus terlihat kehilangan kendali atas ekspresinya.

Kemudian ia merapikan jasnya.

"Jangan sampai keputusanmu merugikan dirimu sendiri."

"Nasihat yang bagus," jawab Arga. "Sayangnya, aku sudah pernah mendengarnya dari orang yang salah."

Marcus pergi tanpa membalas.

Nadia mengembuskan napas panjang.

"Kamu benar-benar tidak takut kepadanya."

"Aku pernah kehilangan terlalu banyak karena rasa takut."

Arga memandang lorong yang baru saja ditinggalkan Marcus.

"Tapi bukan berarti aku akan bertindak ceroboh."

Di ruangan khusus juri, Adrian Voss membaca laporan hasil babak ketiga.

Ia tidak memedulikan peringkat peserta lain. Perhatiannya tertuju pada satu baris dalam catatan teknis.

Peserta 17 menemukan gangguan intermiten pada terminal jalur sinyal melalui pengujian penurunan tegangan dan verifikasi kondisi kerja.

Adrian meletakkan laporan itu di atas meja.

"Dia masih menggunakan metode yang sama," katanya.

Marcus berdiri di dekat jendela.

"Dia memang tidak berubah."

"Orang bisa berubah."

"Arga tidak."

Adrian mengangkat wajah.

"Jadi, apa yang kau sarankan?"

Marcus terdiam beberapa detik.

"Kita perlu mengetahui siapa yang menghubunginya. Dia sudah bertemu Surya, berbicara dengan Nadia, dan sekarang mulai mencari kode otorisasi."

Ekspresi Adrian mengeras.

"Bagaimana kau tahu tentang Surya?"

Marcus tidak menjawab.

Keheningan memenuhi ruangan.

Adrian berdiri perlahan.

"Marcus."

"Aku menerima laporan dari orang-orang yang masih mengawasi arsip lama."

"Siapa yang memerintahkan mereka?"

Marcus menelan ludah.

"Aku tidak tahu."

Adrian tertawa pendek, tetapi tidak ada kegembiraan di dalamnya.

"Kau seorang juri senior. Kau mengatakan tidak tahu siapa yang mengendalikan jaringan pengawasan yang melapor kepadamu?"

"Aku hanya menjalankan tugas."

"Kalimat itu," ujar Adrian dingin, "adalah alasan yang sama yang digunakan banyak orang ketika mereka tidak ingin mengakui tanggung jawab."

Marcus menatapnya dengan wajah pucat.

Adrian mengambil laporan Arga sekali lagi.

"Kalau dia mendapatkan kode otorisasi lengkap, dia akan mulai mencari nama di baliknya."

"Apakah kita harus menghentikannya?"

Adrian tidak segera menjawab.

Ia berjalan menuju lemari arsip, membuka laci paling bawah, lalu mengeluarkan sebuah map hitam yang sudah lama tidak disentuh.

Pada sampulnya tercetak tulisan:

ARX-9 — AKSES TERBATAS

Adrian membuka halaman pertama.

Di sana terdapat daftar beberapa nama, nomor akses, dan tanggal persetujuan.

Salah satu baris diberi tanda merah.

Adrian menatap nama itu cukup lama sebelum menutup map.

"Belum," katanya akhirnya. "Kita harus mengetahui seberapa banyak yang sudah dia miliki."

"Dan jika dia menemukan semuanya?"

Adrian menatap Marcus.

"Kalau dia menemukan semuanya, kita tidak lagi memiliki kendali atas apa yang terjadi berikutnya."

Malam itu, Arga kembali ke penginapannya dengan kepala penuh pertanyaan.

Ia meletakkan tas di atas meja, mengeluarkan buku catatan lama, lalu membuka halaman yang memuat salinan data ARX-9 yang pernah ia simpan sebelum semuanya hancur lima tahun silam.

Sebagian catatan sudah menguning. Beberapa halaman memiliki bekas lipatan. Namun, kode-kode penting masih dapat dibaca.

Arga mengambil kertas dari Nadia dan menyalin kode tersebut ke buku catatannya.

Ia membandingkan formatnya dengan kode yang tercatat pada dokumen lama.

Hasilnya tidak langsung memberikan nama.

Tetapi ia menemukan sesuatu yang lebih penting.

Kode yang diberikan Nadia bukan kode akses biasa. Itu adalah bagian dari sistem otorisasi berlapis. Empat karakter terakhir menunjukkan bahwa akses dilakukan melalui jalur persetujuan tingkat manajemen.

Arga memeriksa catatan pengiriman yang ia dokumentasikan dari dokumen Surya.

Ada kesamaan pola.

Namun, tanggal pada kedua dokumen berbeda beberapa jam dari catatan waktu yang seharusnya.

Arga mengulang perhitungan, memeriksa format tanggal, dan memastikan tidak ada perbedaan zona waktu yang bisa menjelaskan selisih tersebut.

Selisih itu tetap ada.

"Jadi, seseorang mengubah urutan waktu dalam laporan," gumamnya.

Ia belum bisa memastikan apakah perubahan itu disengaja. Bisa saja terdapat kesalahan pencatatan atau perbedaan sistem waktu antarserver. Ia membutuhkan berkas asli dan catatan audit yang utuh sebelum menyimpulkan sesuatu.

Ponselnya bergetar.

Nomor tak dikenal yang sama kembali mengirim pesan.

Kau sudah menemukan kesamaan kodenya. Sekarang periksa siapa yang menyetujui akses itu, bukan siapa yang menggunakannya.

Arga membaca pesan tersebut dua kali.

Lalu ia mengetik balasan.

Siapa kamu?

Pesan terkirim.

Tidak ada jawaban.

Ia mencoba menelepon nomor itu. Panggilan tidak tersambung.

Arga meletakkan ponsel, lalu kembali menatap buku catatan.

Pesan itu mungkin berasal dari seseorang yang ingin membantunya. Namun, bisa juga berasal dari orang yang mengetahui persis bagaimana mengarahkannya ke kesimpulan tertentu.

Ia tidak akan membiarkan siapa pun menentukan apa yang harus ia percayai.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar lagi.

Bukan pesan.

Sebuah berkas masuk melalui alamat surel yang tidak dikenalnya.

Judul berkas itu hanya terdiri atas satu kalimat:

RIWAYAT OTORISASI ARX-9 — SALINAN CADANGAN

Arga tidak langsung membukanya.

Ia memeriksa alamat pengirim, waktu penerimaan, dan informasi dasar berkas. Setelah memastikan perangkatnya berada dalam kondisi aman, ia menyimpan salinan tanpa mengubah berkas asli.

Di bagian bawah surel terdapat satu baris pesan.

Jangan percaya pada daftar nama yang akan kamu lihat. Cari tanda tangan digitalnya.

Arga merasakan tengkuknya menegang.

Ia membuka tampilan awal dokumen.

Daftar otorisasi muncul di layar, berisi beberapa nama yang pernah bekerja dalam proyek ARX-9.

Ada nama Marcus Hale.

Ada nama Adrian Voss.

Ada nama Kevin Santoso.

Dan di baris paling bawah, tercantum nama yang membuat Arga terdiam lama.

Nama seseorang yang selama lima tahun ia yakini tidak memiliki hubungan apa pun dengan kehancuran hidupnya.

SURYA WIRATAMA — OTORISASI CADANGAN AKSES TERAKHIR.

Arga menatap layar tanpa berkedip.

Surya.

Teknisi yang ditemuinya pagi tadi.

Orang yang menyerahkan informasi pengiriman komponen dan mengatakan bahwa dirinya hanya ingin kebenaran terungkap.

Mengapa nama Surya tercantum sebagai pemegang otorisasi cadangan?

Apakah ia sengaja menyembunyikan sesuatu?

Atau seseorang telah menggunakan identitasnya?

Arga memperbesar bagian bawah dokumen.

Di sana terdapat tanda tangan digital yang tampak seperti rangkaian karakter acak.

Ia tidak dapat memverifikasinya hanya dari tampilan tersebut. Untuk mengetahui apakah tanda tangan itu asli, ia membutuhkan sertifikat digital, catatan audit, dan sumber dokumen yang dapat dipercaya.

Namun, satu hal sudah jelas.

Seseorang berusaha membawanya menuju Surya.

Dan seseorang lainnya mungkin sedang berusaha menjadikan Surya sebagai kambing hitam.

Arga menutup dokumen itu, lalu menyimpan seluruh catatan di tempat terpisah.

Ia tidak akan menuduh Surya sebelum memperoleh bukti.

Ia juga tidak akan mengabaikan kemungkinan bahwa pria itu telah menyembunyikan sebagian kebenaran.

Lima tahun lalu, Arga kehilangan kariernya karena mempercayai laporan yang ternyata tidak lengkap.

Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Arga berdiri di dekat jendela penginapan. Lampu-lampu kota berkilauan di kejauhan, sementara lalu lintas malam terus bergerak tanpa mengetahui bahwa sebuah rahasia lama perlahan mulai terbuka.

Ia memandang pantulan wajahnya sendiri di kaca.

"Siapa pun yang berada di balik semua ini," bisiknya, "aku akan menemukan kebenarannya."

Ponselnya kembali menyala.

Sebuah pesan baru masuk dari nomor yang berbeda.

Jika kau ingin mengetahui siapa yang benar-benar membuka akses ARX-9 malam itu, datanglah besok sebelum babak final dimulai. Jangan bawa Nadia. Jangan beri tahu Marcus. Dan yang paling penting—jangan percaya kepada Surya.

Arga membaca pesan itu sampai selesai.

Kemudian ia mematikan layar.

Untuk pertama kalinya sejak kembali ke dunia otomotif, ia merasa bahwa kompetisi ini bukan sekadar jalan untuk membuktikan kemampuannya.

Kompetisi itu adalah pintu menuju masa lalu yang belum selesai.

Dan di balik pintu tersebut, seseorang sedang menunggunya.

Seseorang yang mengetahui kebenaran.

Atau seseorang yang ingin memastikan Arga tidak pernah menemukannya.

Bersambung.

1
Rahmat Agung
🙏
Supendi Supendi
lanjut dan semangat terus thor💪
Supendi Supendi
semoga jalan ceritanya semakin menarik dan tidak membosankan🤣
Supendi Supendi
menarik thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!