SINOPSIS Gara-gara kesetrum kabel charger HP yang ngelupas pas lagi marathon baca novel roman picisan jam 3 pagi, Aira (18 tahun)—cewek slakan, blak-blakan, dan hobi tawuran—terlempar masuk ke dalam dunia novel "Cinta Di Balik Seragam". Aira nggak bertransmigrasi jadi tokoh utama cewek yang polos dan teraniaya, melainkan jadi Aira Shena, tokoh figuran yang nasibnya tragis: mati dikeroyok geng motor di bab 20 karena dijebak sama antagonis utama. Ogah pasrah sama takdir, Aira bertekad acak-acak alur cerita asli. Dia yang tadinya pemalas dan tukang resek, mendadak berubah jadi cewek paling red flag, jago berantem, tapi cerdasnya ngga ngotak. Namun, aksinya malah bikin Langit, male lead dingin dan physco-lite yang harusnya benci setengah mati sama Aira, malah ketagihan ngejar-ngejar dia. Konflik makin rumit saat rahasia kelam keluarga besar mereka, perebutan tahta bisnis raksasa, tuduhan pembunuhan palsu, hingga pengkhianatan sahabat terdekat menghancurkan kehidupan sekolah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IRISVEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Gelombang baru di
BAB 31: "GELOMBANG BARU DI BENUA BIRU"
Satu bulan berlalu sejak perpisahan manis di SMA Nusantara Mandiri. Langit Jakarta yang berdebu kini berganti dengan hembusan angin awal musim gugur yang sejuk di kota Zurich, Swiss. Bangunan-bangunan berarsitektur klasik, lanskap Danau Zurich yang membiru jernih, serta pemandangan Pegunungan Alpen di kejauhan menyambut lembaran baru kehidupan Aira dan Langit.
Di sebuah apartemen studio modern bergaya minimalis yang terletak di kawasan Universitas Zurich, Aira berdiri di dekat jendela besar sambil menyesap cokelat panas. Dia mengenakan turtleneck hitam dan celana jins longgar. Gaya rambut bergelombangnya kini dipotong sedikit lebih pendek, memberikan kesan makin segar dan tegas.
Sret.
Sebuah selimut tebal disampirkan dari belakang ke bahunya. Langit merapatkan tubuhnya, merangkul pinggang Aira dari belakang lalu menengamkan wajahnya di leher Aira, menghirup aroma hangat yang familier.
"Udah bilang jangan dingin-dingin berdiri dekat jendela tanpa jaket, Shena," tegur Langit dengan suara seraknya.
"Dih, lebay. Ini baru angin musim gugur, belum salju," balas Aira santai, walau tubuhnya makin menyandar nyaman pada dada hangat Langit.
"Lu sendiri ngapain bangun pagi-pagi? Bukannya jadwal kuliah perdana lu baru jam dua siang?"
"Gue mau nemenin lu orientasi kampus jam sembilan," jawab Langit mantap. Dia memutar tubuh Aira agar menghadapnya, menatap lurus ke iris mata cewek itu dengan binar posesif yang tak pernah pudar. "Lagian, kota ini asing. Gue gak bakal biarin Ratu gue jalan sendirian."
Aira menyunggingkan senyuman savage khasnya, menepuk dada Langit pelan. "Kanebo Kering... lu lupa siapa yang ngebantai puluhan eksekutor Crimson di Priok? Lu pikir bule-bule Swiss di kampus berani ngeduga macam-macam sama gue?"
Langit tertawa pelan, lalu mengecup kening Aira lembut. "Tetap aja. Lu milik gue, dan tugas gue jagain lu."
Di kota ini, Aira resmi diterima di Fakultas Hukum Universitas Zurich untuk mengejar impian barunya menjadi seorang pengacara internasional, sementara Langit mengambil jurusan Manajemen Bisnis Global demi membangun kembali kerajaan bisnis keluarga Adhitama dari nol—kali ini dengan fondasi yang bersih, legal, dan bebas dari bayang-bayang kelam Bramantara.
Pukul 10.00 waktu setempat, kompleks kampus utama Universitas Zurich tampak ramai oleh mahasiswa dari berbagai negara. Aira dan Langit berjalan berdampingan menyusuri koridor batu yang megah. Penampilan mereka yang mencolok—Langit dengan postur tegap, wajah tampan oriental dingin, serta jas kasualnya, disandingkan dengan Aira yang cantik memikat namun memancarkan aura dominan—langsung menarik perhatian pasang mata mahasiswa di sekitar.
"Liat tuh, anak baru dari Asia. Muka cowoknya dingin banget, tapi ceweknya gila sih aura-nya," bisik beberapa mahasiswa berbahasa Inggris di sudut koridor.
Aira hanya melirik mereka sekilas dengan tatapan mengejek yang tajam, membuat mahasiswa-mahasiswa itu refleks memalingkan wajah canggung.
Namun, saat mereka berdua baru saja melewati pelataran taman perpustakaan utama, sebuah panggilan video masuk ke ponsel Langit dari jalur enkripsi rahasia.
Layar ponsel menampilkan wajah Kenzo dan Bimo yang sedang duduk di markas pusat yayasan Averus di Jakarta.
"Bos! Ra! Gimana Swiss? Aman?" sapa Bimo heboh dari layar HP.
"Langsung ke intinya, Nzo. Ada apa?" potong Langit dingin, tahu betul Kenzo tidak akan menggunakan jalur enkripsi khusus hanya untuk menyapa.
Raut wajah Kenzo di layar mendadak berubah serius. Dia menggeser beberapa data di layarnya sebelum berbicara.
"Langit, Aira... gue sama tim intelijen baru aja nemuin pergerakan aneh pasca pembubaran Sindicat Crimson bulan lalu," papar Kenzo. "Crimson memang udah narik semua sayembaranya di Asia Tenggara. Tapi sisa-sisa pimpinan kubu radikal mereka ternyata memindahkan basis operasional rahasia mereka ke Eropa Tengah... tepatnya di Jenewa dan Zurich."
Aira menaikkan sebelah alisnya. "Lalat-lalat itu ternyata masih belum kapok?"
"Bukan cuma itu, Ra," timpal Bimo dengan nada cemas. "Intel kita denger rumor kalau ada faksi baru bernama 'Veritas' yang dibentuk oleh mantan perwira intelijen Eropa. Mereka lagi ngumpulin sisa-sisa aset elit bekas anak buah bapak lu, Langit. Dan kabar terburuknya... mereka tahu kalian berdua pindah ke Swiss."
Suasana di sekitar taman perpustakaan yang tadinya damai mendadak berubah tegang. Langit mengepalkan tangannya rapat di dalam saku mantelnya. Matanya yang sehitam malam berkilat dingin menembus layar ponsel.
"Mereka nyari masalah di kandang yang salah," desis Langit rendah.
Aira menyambar ponsel dari tangan Langit, menatap Kenzo dan Bimo di layar dengan senyuman miring penuh percaya diri.
"Kenzo, Galang... terus pantau pergerakan sinyal mereka dari Jakarta," perintah Aira tegas bagaikan komandan perang. "Bimo, siapin jalur logistik kalau kita butuh bantuan alat. Biar faksi 'Veritas' atau apa pun itu paham... mau di Jakarta atau di ujung Eropa sekali pun, tempat ini tetap arena permainan gue dan Langit!"
"Siap, Ratu!" sahut Kenzo dan Bimo serentak sebelum panggilan terputus.
Aira memasukkan ponsel Langit kembali ke saku jaket cowok itu, lalu menatap Langit yang sedang memandangnya dengan raut wajah penuh kekaguman.
"Kenapa ngeliatin gue gitu?" tanya Aira.
Langit merengkuh pinggang Aira, menarik cewek itu mendekat hingga tak ada jarak di antara mereka di tengah taman kampus.
"Gue cuma makin sadar..." bisik Langit, menyunggingkan senyum miring yang tampan. "...ke mana pun kita pergi, petualangan kita gak bakal pernah ngebosenin selama gue ada di samping lu, Aira Shena."
Aira terkekeh pelan, melingkarkan lengannya di leher Langit. "Jelas dong. Ayo, Kanebo! Kita tunjukin sama faksi baru itu gimana caranya anak Jakarta membereskan pengacau di Eropa!"
see you next bab 32
jangan lupa like dan komen jika suka cerita ini
dr deoaj baca agak bingung..
bukannya yang tau dia trans hanya si lajgit..kenzo & 1 nya lupan tadi namanya ?