NovelToon NovelToon
Ma Huang, Bencana Keluarga Jian

Ma Huang, Bencana Keluarga Jian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Action
Popularitas:360
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Malam pembantaian Keluarga Ma menyisakan darah, puing, dan dendam mendalam di dada Ma Huang. Sebagai satu-satunya yang masih bertahan, ia mengambil keputusan gila: menempuh Jalur Darah Pemakan Bencana, sebuah kultivasi terlarang yang menggerogoti organ fisiknya demi menggenggam kekuatan membunuh tiada tanding.

Berbekal Pedang Tulang Hitam dan tubuh yang dialiri racun pekat, Ma Huang melangkah menembus lautan darah untuk membantai satu per satu siapaun yang telibat dalam tragedi tersebut. Dari pelataran tempa Kota Yunjiang hingga kegelapan Lembah Tengkorak yang dipenuhi racun alam, ia bertaruh nyawa demi merebut kembali Segel Besi Hitam, pusaka komando tiga ribu prajurit Serigala Hitam, serta kunci rahasia Makam Leluhur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 - Gaun Merah Berbau Darah

Aroma minyak melati dan dupa cendana memenuhi aula besar Kediaman Ma. Lentera-lentera merah berderet rapi di sepanjang atap, memancarkan cahaya hangat yang memantul di atas lantai marmer hitam. Di tengah riuh pikuk ucapan selamat dari ratusan tamu undangan, bau amis yang teramat tipis bersembunyi rapi di balik keharuman itu.

Ma Huang berdiri tegap dengan jubah pengantin sutra merah bersulam benang emas. Di usianya yang baru dua puluh tahun, dadanya membumbung penuh kebanggaan. Aliran Qi di dalam tubuhnya berhembus deras, bergejolak layaknya gelombang samudra kecil di dalam Dantiannya.

Tinggal selangkah lagi menuju Alam Inti Emas. Puncak Alam Laut Qi yang berhasil dicapainya menjadikan Ma Huang sebagai pemuda paling berpotensi di seluruh wilayah Kota Yunjiang.

Di sampingnya, Jian Yue berdiri dengan sangat anggun. Gaun pengantin merahnya menjuntai indah hingga menyapu lantai, menutup rapat lekuk tubuhnya. Wajah putri tunggal Keluarga Jian itu terhalang kain transparan tipis berwarna senada.

Selama tiga tahun mengenal wanita ini, Ma Huang hanya mengetahui satu hal. Jian Yue adalah sosok wanita yang lembut, bertutur kata halus, dan senantiasa menunduk hormat dengan kepribadian yang begitu teruji.

"Hormat pertama pada Langit dan Bumi!" teriak pembawa acara dengan suara melengking dari atas panggung utama.

Ma Huang merapatkan kedua tangannya di depan dada, lalu membungkuk dalam-dalam. Jian Yue mengikutinya dengan gerakan mulus yang teramat sempurna. Suara sorak-sorai para tamu terdengar menggelegar dari segala sudut ruangan.

"Hormat kedua pada Orang Tua dan Leluhur!"

Ma Huang memutar tubuhnya perlahan. Ia menatap ke arah dua kursi kebesaran di ujung panggung aula. Ayahnya, Ma Tian, duduk tegap dengan senyum lebar yang sangat jarang terlihat di wajah tegasnya. Di sebelahnya, sang ibu menatap Ma Huang dengan mata berkaca-kaca penuh keharuan.

Keduanya membungkuk kembali. Ma Huang merasakan kehangatan yang menjalar deras di seluruh aliran darahnya. Hari ini, Keluarga Ma sedang berada di puncak kejayaan. Pernikahan ini akan mempererat hubungan dua kekuatan besar di wilayah Yunjiang.

"Hormat ketiga, Saling Menghormat Antar Pengantin!"

Ma Huang berbalik kembali, berhadapan langsung dengan Jian Yue. Melalui kain merah tipis yang tersingkap perlahan oleh hembusan angin malam, matanya mendadak menangkap sesuatu yang tidak biasa.

Senyum lembut yang biasanya selalu terhias di bibir indah Jian Yue mendadak lenyap tanpa sisa.

Rahang wanita itu mengatup kaku, memancarkan kedinginan yang menusuk hingga ke tulang. Tidak ada rasa malu, tidak ada kehangatan seorang pengantin. Yang tersisa di balik mata jernih Jian Yue hanyalah tatapan penuh kejijikan yang teramat pekat.

Brak!

Sebelum Ma Huang sempat memproses perubahan raut wajah calon istrinya, pintu kayu jati setinggi lima meter di bagian depan aula hancur berkeping-keping. Serpihan kayu berterbangan memecah udara, melukai wajah para tamu yang duduk di barisan depan.

Jeritan histeris langsung pecah membelah keheningan malam.

Puluhan bayangan hitam melompati sisa-sisa pilar kayu yang hancur. Wajah mereka tertutup rapat oleh topeng besi berukir gambar tengkorak. Pedang-pedang panjang di tangan mereka memantulkan cahaya merah lentera, berkilat menumpahkan darah para pengawal Keluarga Ma dalam hitungan detik.

"Pembunuh! Ada pembunuh!"

Suasana aula megah itu berubah menjadi neraka dalam sekejap mata. Para tamu dari sekte luar saling injak, berusaha melarikan diri menuju pintu keluar samping. Namun, kelompok bertopeng itu tidak peduli pada tamu biasa. Sasaran mereka sangat jelas: membantai setiap orang yang berdarah Ma.

"Hati-hati!" Ma Huang berteriak, hendak melompat ke panggung untuk melindungi kedua orang tuanya.

Jemari tangannya refleks menyatu di depan dada, bersiap menarik kekuatan Laut Qi untuk melancarkan teknik pukulan angin.

Namun, rasa dingin yang membakar mendadak menembus rusuk kirinya dari arah samping.

Sret!

Sensasi besi tajam yang merobek daging dan menyelusup masuk di antara celah tulang rusuk membuat napas Ma Huang terhenti seketika. Ia menunduk kaku dengan mata melotot lebar. Gagang belati berukir ular hijau menempel rapat di dadanya, dan jemari yang menggenggam belati itu adalah jemari lentik milik Jian Yue.

"Jian... Yue...?" suaranya tertahan kaku di ujung tenggorokan, terputus oleh darah segar yang mendadak menyeruak naik dari lambungnya.

Jian Yue mendekatkan wajahnya ke telinga Ma Huang. Kain penutup wajahnya telah terlepas, memperlihatkan wajah cantiknya yang kini terdistorsi oleh senyuman sinis yang teramat licik.

"Kau terlalu polos, Ma Huang," bisik Jian Yue dengan nada suara yang begitu dingin. Suara yang sangat berbeda dari nada lembut yang selalu ia gunakan selama tiga tahun terakhir. "Keluarga Ma berkembang terlalu pesat. Ayahku tidak akan pernah membiarkan ada orang sepertimu yang berpotensi mencapai Alam Legendaris dan menggeser posisi kami."

Jian Yue memutar gagang belati itu sembilan puluh derajat di dalam dada Ma Huang.

"Arghhh!" Ma Huang meraung kesakitan hingga urat-urat di lehernya menegang parah.

Racun cair berwarna hijau pekat meluncur deras dari ceruk belati, meresap langsung ke dalam aliran darah dan menerobos masuk ke Dantian milik Ma Huang. Rasa sakitnya menyerupai ribuan jarum membara yang merobek organ dalamnya secara bersamaan.

Lautan Qi yang selama bertahun-tahun ia bangun dengan cucuran keringat mulai bergolak liar. Dantiannya retak, lalu meledak hebat dari dalam. Aliran energi spiritualnya hancur berkeping-keping, terburai keluar dari pori-pori kulitnya bersama tetesan darah hitam.

Kultivasinya musnah. Puncak Alam Laut Qi yang diandalkannya hancur tanpa sisa hanya dalam beberapa hembusan napas.

"Huang-er!"

Suara raungan sang ibu terdengar membelah kekacauan di panggung utama. Ma Huang berjuang menoleh dengan pandangan mata yang mulai kabur oleh cairan darah. Ia melihat ayahnya, Ma Tian, bertarung keras menahan serangan tiga orang bertopeng tingkat Inti Emas.

Namun, saat Ma Tian melirik ke arah anaknya yang ambruk bersimbah darah, kelengahannya berbuah fatal. Sebuah tombak hitam menembus punggung Ma Tian dari belakang, merobek dadanya hingga tembus ke depan.

"Ibu! Ayah!" jerit Ma Huang hampa.

Darah segar menyembur deras dari mulut Ma Tian sebelum tubuh kaku sang ayah roboh menyapu lantai marmer. Ibu Ma Huang melompat histeris menuju tubuh suaminya, tetapi satu tebasan pedang dingin dari pembunuh bertopeng langsung memutus jalur napas wanita itu tanpa ampun.

Darah kedua orang tuanya memercik deras, mengenai wajah dan jubah pengantin Ma Huang.

Dunia di sekitar Ma Huang seolah berhenti berputar. Dadanya sesak mendapati kedua orang tuanya tewas mengenaskan hanya dalam jarak beberapa meter darinya.

Jian Yue mencabut belatinya dengan sekali hentakan kencang. Tubuh Ma Huang ambruk tak berdaya, menghantam lantai marmer yang kini tergenang darah segar keluarganya.

Kuku-kukunya menekan dalam-dalam ke telapak tangannya sendiri hingga menembus kulit, mencoba mengalihkan rasa hancur di dadanya saat melihat tubuh ibunya tak bernyawa lagi. Rasa sakit akibat hancurnya Dantian tidak ada apa-apanya dibandingkan hancurnya dada Ma Huang menyaksikan pembantaian ini.

Seorang pria paruh baya berpakaian mewah berjalan santai menembus genangan darah di aula. Pria itu adalah Jian Chen, Patriark Keluarga Jian sekaligus ayah kandung dari Jian Yue.

"Bagaimana, Yue-er? Apakah pemuda jenius ini sudah benar-benar mati?" tanya Jian Chen seraya menatap tubuh Ma Huang yang bersimbah darah dengan pandangan jijik.

Jian Yue menyapu bercak darah di belatinya menggunakan sapu tangan sutra. "Racun Ular Hijau Jiwa Kelam sudah merusak Dantian dan merayap ke jantungnya. Kultivasinya hancur total, hatinya terbelah. Dia tidak akan selamat lewat dari tiga hitungan napas."

Jian Chen tertawa terbahak-bahak. Suara tawa itu bergema nyaring di dalam aula yang kini dipenuhi ratusan mayat tetua dan murid Keluarga Ma.

"Bagus! Akhirnya duri terbesar di Kota Yunjiang ini berhasil kita cabut sampai ke akar-akarnya!" Jian Chen berseru penuh kepuasan. "Bakar seluruh kediaman ini! Pastikan tidak ada satu pun cacing dari Keluarga Ma yang tersisa!"

Para pembunuh bertopeng mulai melempar obor-obor menyala ke gorden sutra dan tiang kayu aula. Api dengan cepat melahap bangunan megah itu, menciptakan asap hitam tebal yang membubung ke langit malam.

Ma Huang berbaring kaku di antara tumpukan mayat sepupu dan ibunya. Racun mengerikan itu terus merayap, membakar setiap sel dan organ di dalam tubuhnya. Denyut jantungnya melemah secara drastis, nyaris tak teraba sama sekali.

Ia tahu ia harus berpura-pura mati jika ingin bertahan hidup. Ma Huang mengunci jalur napasnya menggunakan sisa-sisa teknik pernapasan internal kuno yang pernah dipelajarinya secara sembunyi-sembunyi. Persendian tangannya terkunci rapat di bawah lipatan jubahnya yang telah menghitam oleh darah.

Gigi-giginya bergemeletuk halus dari balik bibirnya yang terkatup rapat, menahan gejolak amarah yang nyaris meledakkan kesadarannya.

Langkah kaki Jian Yue dan ayahnya perlahan menjauh, diiringi gelak tawa penuh kemenangan yang menghina sisa-sisa kejayaan Keluarga Ma. Mereka merasa telah menang total. Mereka merasa telah memusnahkan ancaman terbesar bagi takdir kekuasaan Keluarga Jian.

Lidah api mulai menjilat lantai marmer tepat di samping kepala Ma Huang. Panasnya membakar sebagian kulit lehernya, namun Ma Huang tidak bergeser satu milimeter pun.

Di dalam kegelapan kesadarannya yang kian menipis, racun hijau yang merusak Laut Qi-nya mendadak berbenturan dengan jalur darah aneh di dalam sumsum tulangnya. Jalur darah terlarang yang selama puluhan tahun tertidur lelap di dalam tubuh keturunan Ma.

Darah hitam yang pekat mulai menyerap racun itu secara ganas, mengubah cairan membunuh tersebut menjadi energi yang sangat dingin dan kelam.

Mata Ma Huang yang semula terpejam perlahan terbuka sedikit di balik genangan darah yang melapisi wajahnya. Manik matanya tidak lagi berwarna cokelat terang, melainkan telah berubah menjadi warna merah darah yang teramat pekat.

Keluarga Jian tidak pernah tahu. Malam ini, mereka tidak sedang memusnahkan seorang musuh.

Mereka baru saja membangunkan sebuah bencana berjalan yang akan memburu setiap tetes darah Keluarga Jian sampai ke ujung neraka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!