Di Sekte Lembah Giok Hitam, menjadi "Murid Teladan" bukanlah kehormatan, melainkan vonis mati sebagai tumbal perpanjangan umur sang tetua.
Di malam sebelum darahnya dikuras habis di atas altar, Gu Yuan, seorang murid luar tanpa latar belakang, tak sengaja membangkitkan artefak peninggalan ayahnya: Kaca Kematian Awal (Yuan Sha Jing).
Setiap kali niat membunuh mengarah padanya, cermin kuno itu membekukan waktu dan memaksanya mati dalam ribuan cabang simulasi. Ia merasakan lehernya ditebas, meridiannya meledak, dan racun membakar jantungnya berulang kali, semua demi satu hal yakni menemukan satu-satunya jalan keluar hidup-hidup.
"Jika takdir menyuruhku mati sepuluh ribu kali, maka aku akan bangkit sepuluh ribu satu kali untuk memenggal takdir itu sendiri."
Bagi Gu Yuan, kematian bukan akhir, melainkan peta menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 009 - Bisikan di Balik Jeruji
Sebelum suara jeritan Xiao Wu sempat lepas dari tenggorokannya yang kering, Gu Yuan bergerak secepat kilat. Tubuhnya merendah di depan jeruji kayu besi, tangan kanannya terangkat menempelkan jari telunjuk ke bibir, sementara tatapan matanya menatap tajam dan dingin lurus ke pupil mata pemuda yang terbaring lemas itu.
“Tutup mulutmu kalau kau masih ingin melihat matahari terbit besok pagi,” bisik Gu Yuan. Suaranya sangat rendah, nyaris seperti desau angin malam yang menyusup di celah batu cadas, namun sarat ketegasan yang membuat Xiao Wu seketika menahan napas dan menelan kembali teriakannya ke pangkal kerongkongan.
Xiao Wu gemetar hebat di atas tumpukan jerami basah. Kedua tangannya yang kurus mencengkeram tanah liat yang becek oleh rembesan air dinding. Air mata membasahi pipinya yang kotor oleh jelaga dan debu kapur. Rasa takut yang bercampur harapan liar tampak jelas bergolak di dalam matanya yang cekung dan merah.
Gu Yuan meraba saku jubah bagian dalam, mengeluarkan sepotong roti jagung kering yang keras yang sempat ia ambil dari meja dapur saat menyelinap tadi. Roti itu sudah dingin dan kaku, tetapi bagi orang yang kelaparan, aromanya sangat menggugah selera. Ia melemparkan potongan roti itu melewati celah jeruji kayu besi ke arah dada Xiao Wu.
“Makan perlahan,” perintah Gu Yuan sambil berjongkok mengamati gembok rantai tembaga di pintu bilik. “Kunyah sampai lumat, jangan tersedak dan jangan bersuara sedikit pun.”
Xiao Wu menyambar potongan roti jagung itu dengan kedua tangannya yang kurus kering seperti cakar unggas liar. Ia menggigit roti keras itu tergesa-gesa, mengunyahnya tanpa sempat mengeluh tentang rasanya yang hambar dan kasar di dinding tenggorokan. Setelah menelan beberapa suapan dengan susah payah, pemuda itu merayap perlahan mendekati jeruji, menatap wajah Gu Yuan dengan mata berkaca-kaca menahan haru.
“Gu… Kakak Gu…” bisik Xiao Wu terbata-bata, suaranya serak dan parau seperti gesekan batu asah pada bilah besi berkarat. “Kau juga dipanggil ke balai obat untuk menerima pil berkah musim gugur, kan? Tolong keluarkan aku dari sini… ini bukan berkah sekte… ini tempat pemotongan hewan ternak…”
“Bicara yang penting saja,” potong Gu Yuan dingin tanpa mengalihkan pandangannya dari lubang silinder gembok tembaga. “Kapan kau dibawa ke sini? Dan apa yang sebenarnya sudah dilakukan Mo Cheng pada kalian selama di bawah tanah?”
Xiao Wu menelan ludah yang terasa pahit, dadanya yang kurus naik turun menahan kepanikan yang membuncah. “Tiga hari lalu… Aku dipanggil ke balai dalam dengan alasan terpilih menerima pil pembersih raga bersama tiga murid barak selatan. Tapi begitu kami melangkah masuk ke ruang belakang balai obat, para pengawas langsung menyiramkan bubuk bius ke wajah kami. Saat kesadaranku pulih, kedua tanganku sudah dirantai di tempat ini bersama sembilan murid lainnya.”
Pemuda itu mengangkat lengan kirinya yang penuh goresan sayatan pisau menghitam. Darah yang mengering meninggalkan kerak tebal di sekitar pergelangan tangannya.
“Setiap pagi dan senja, Luo Biao dan dua pengawas balai dalam datang membawa mangkuk tembaga besar,” lanjut Xiao Wu dengan suara yang bergetar ngeri. “Mereka mengiris pergelangan tangan kami satu per satu, menampung darah segar kami untuk dibawa ke tungku penyulingan Tetua Mo. Aku sempat mendengar bisikan mereka saat memeriksa suhu darahku… Tetua Mo menderita racun Korosi Tulang yang sangat parah akibat kegagalan menerobos tahap akhir Fondasi Sejati sepuluh tahun lalu.”
Gu Yuan menyipitkan mata. Urat-urat di rahangnya mengencang. “Racun Korosi Tulang?”
“Iya, racun itu membusukkan organ dalamnya dari hari ke hari…” bisik Xiao Wu sambil menunjuk ke arah langit-langit lorong. “Darah beracun di dalam Dantian Tetua Mo terus mendidih dan membakar meridiannya sendiri dari dalam. Untuk menahan rasa sakit dan memperlambat pembusukan tubuhnya, dia harus menyerap darah murni murid luar setiap tiga hari sekali. Tapi belakangan ini, racun itu sudah menjalar ke separuh wajahnya… tubuhnya mulai menolak darah yang diserap secara terpisah. Karena itulah dia merencanakan ritual pengorbanan massal malam ini… dia ingin menguras habis darah sebelas murid sekaligus di atas altar gua air terjun untuk membersihkan Dantian-nya secara paksa!”
Informasi yang diberikan Xiao Wu melengkapi potongan teka-teki mematikan yang sempat dilihat Gu Yuan di dalam simulasi cermin perunggu pagi tadi. Mo Cheng bukan hanya sekadar tetua kejam yang tamak akan umur panjang; ia adalah kultivator yang sedang terdesak oleh pembusukan tubuhnya sendiri. Seseorang yang terdesak biasanya sangat berbahaya dan bertindak membabi buta, namun di saat yang sama juga memiliki kelemahan fatal: Dantian yang rapuh tidak akan sanggup menahan gejolak arus balik tenaga jika susunan formasi altar yang mengalirkan darah itu diganggu dari dalam.
“Berapa banyak pengawas yang berjaga di lorong pembuangan ini?” tanya Gu Yuan cepat, tangannya mulai meraba seikat kunci kuningan master yang terselip di sabuknya.
“Biasanya hanya ada dua orang pengawas gerbang di ujung barat lorong pembuangan air limbah,” jawab Xiao Wu sambil menunjuk ke arah kegelapan lorong yang berbau lumut busuk. “Tapi pintu penghubung ke balai utama di ujung timur lorong ini dilindungi oleh gerbang besi bertatahkan formasi batu giok. Hanya Tetua Mo dan Luo Biao yang memegang pelat segel untuk membukanya dari atas.”
Gu Yuan mengamati seikat kunci kuningan master milik Luo Biao yang berhasil ia ambil di gudang tadi. Pada cincin tembaga itu, terdapat sebuah anak kunci berukuran tebal dengan ukiran kepala banteng bergerigi rumit yang tampak sangat pas dengan celah silinder gembok bilik Xiao Wu.
Gu Yuan memasukkan anak kunci tersebut ke dalam lubang silinder gembok tembaga. Logam berkarat bergesekan pelan saat ia mulai memutar tangkai kunci ke arah kanan secara perlahan.
Pasak jebakan pegas di dalam gembok bergeser halus dengan bunyi klik yang tertahan. Sedikit dorongan lagi, kait rantai besi pengunci bilik itu akan terlepas sepenuhnya.
Wuuunggg…!
Mendadak, sebuah dengungan tenaga spiritual yang sangat berat dan bergetar keras merambat menembus lapisan dinding batu cadas di ujung timur lorong.
Batu-batu kapur di langit-langit goa bergetar hebat, menjatuhkan rontokan debu pasir dan kerikil halus ke atas pundak Gu Yuan. Nyala api lentera minyak lemak ikan di dinding mendadak meliuk-liuk liar saat gelombang Qi dingin dan menekan menyapu seluruh lorong bawah tanah tersebut.
Itu adalah dengungan formasi pelindung batu giok yang sedang dinonaktifkan dari luar menggunakan pelat segel resmi sekte. Pintu besi tebal yang memisahkan lorong bawah tanah dengan aula utama balai dalam sedang ditarik membuka ke atas, disusul oleh suara derap langkah sepatu bot berat yang mulai menuruni tangga batu menuju lorong bilik tahanan dengan langkah tergesa-gesa.