NovelToon NovelToon
SEPERTIGA (MANUSIA, DEWA DAN SILUMAN)

SEPERTIGA (MANUSIA, DEWA DAN SILUMAN)

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:853
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Lu Chen adalah seorang pemuda berusia dua puluhan yang hidup terasing di pinggiran Desa Qingfu. Di balik penampilannya yang sederhana sebagai peracik obat herbal yang pendiam, ia menyimpan sebuah rahasia besar dan mengerikan: garis keturunan gila yang menggabungkan tiga unsur sekaligus, yaitu darah manusia yang fana, cahaya dewa yang suci, dan kutukan siluman kegelapan.

Secara fisik, Lu Chen memiliki daya tarik yang kuat dengan garis wajah tegas, namun tubuhnya menyimpan ketidakseimbangan yang berbahaya. Matanya memiliki dua warna yang berbeda; mata sebelah kanan memancarkan cahaya keemasan yang hangat dan tenang, melambangkan sisa-sisa kekuatan dewanya, sementara mata sebelah kiri sering kali berubah menjadi ungu legam yang dingin saat emosinya tak terkendali. Di leher hingga sebagian wajahnya juga tersembunyi rajah alami berupa sulur-sulur hitam yang menandakan segel kutukan siluman purba.

Dari segi sifat dan kepribadian, Lu Chen adalah sosok yang sabar, lembut, dan sangat peduli

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 — DESA KETIGA: KESEDIHAN

Kuda angin yang dikendarai Lu Chen dan Wolf mendarat dengan kasar di atas tanah berdebu Desa Air Mata. Berbeda dari dua desa sebelumnya yang lenyap tanpa suara, desa yang terletak di perbatasan lembah kabut ini menyisakan kesunyian yang teramat pekat. Tidak ada abu, tidak ada rumah yang terbakar—hanya pintu-pintu rumah yang terbuka lebar, membiarkan angin malam mendesir lirih melewati lorong-lorong sepi.

Lu Chen melompat turun. Tato segel di dadanya berdenyut pelan, memancarkan tiga warna cahaya: emas dewa, ungu siluman, dan merah kemerahan darah manusia.

"Hati-hati," bisik Wolf sambil menghunus pisau belatinya. "Ada yang tidak beres di sini."

Mereka berjalan menyusuri jalan utama hingga tiba di alun-alun desa. Di tengah lapangan, puluhan orang berdiri mematung. Pria, wanita, tua, dan muda—mereka semua berdiri dengan mata terbuka lebar namun tak bernyawa. Mereka tidak berubah menjadi abu; raga mereka terkunci dalam kebekuan abadi oleh gelombang kesedihan yang teramat sangat.

"Mereka... tidak mati," Lin Yue berujar lirih, menyusul dari belakang. "Jiwa mereka dicabut saat air mata terakhir mereka menetes."

Lu Chen mendekati seorang wanita paruh baya yang berdiri kaku sambil mendekap sehelai kain bedong bayi yang kosong. Di pipi wanita itu, jejak air mata telah mengering menjadi kristal putih.

JLEB.

Napas Lu Chen tercekat. Identitas aslinya sebagai pemuda berdarah campuran—sepertiga manusia, sepertiga dewa, dan sepertiga siluman—membuatnya mampu merasakan resonansi emosional dari para korban. Di dalam benaknya, jutaan suara isak tangis, rasa putus asa karena dikucilkan, dan kesedihan mendalam karena ditolak oleh tiga ras sekaligus, bergemuruh hebat menyerang mentalnya.

"Ugh..." Lu Chen terhuyung ke belakang, mencengkeram kepalanya sendiri.

"Chen!" Xue Ling langsung menangkap tubuh pemuda itu sebelum jatuh tersungkur. "Kau kenapa?"

"Aku... aku bisa merasakan mereka," bisik Lu Chen dengan napas tersengal, manik matanya memantulkan tiga pendar warna yang bergejolak tak beraturan. "Mereka dibenci karena mereka adalah keluarga campuran... sama sepertiku."

Pesan di Dinding Kepedihan

Luna yang menyisir sisi utara alun-alun memanggil mereka dengan suara bergetar. "Kalian harus melihat ini."

Di dinding balai desa, sebuah pesan baru tertulis menggunakan air mata yang membeku menjadi darah hitam:

3/9. UNTUK KEBANGKITAN. HATI KETIGA: KESEDIHAN (AIR MATA CAMPURAN)

Xue Ling menatap tulisan itu lekat-lekat. "Tiga hati emosi telah terkumpul: Ketakutan, Kemarahan, dan Kesedihan. Para jenderal itu secara spesifik menargetkan emosi-emosi dari para korban yang mengalami penindasan rasial."

Wolf mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih. "Sialan! Mereka memanfaatkan luka masa lalu umat manusia, dewa, dan siluman untuk membangkitkan monster itu!"

Tiba-tiba, udara di sekitar mereka membeku. Bayangan tiga jenderal tanpa wajah kembali muncul melayang di atas atap-atap rumah yang kosong.

"Kau semakin peka, sang Raja Campuran," suara Jenderal Pertama menggema dingin, mengejek kelemahan batin Lu Chen. "Apakah kau merasakan kepedihan mereka? Kepedihan dari makhluk-makhluk yang tidak diinginkan oleh dunia?"

Lu Chen perlahan menegakkan tubuhnya. Pendar tiga warna di dadanya kembali stabil. Ia menatap tajam ke arah bayangan tersebut. "Mereka bukan makhluk yang tidak diinginkan. Mereka adalah bagian dari dunia ini."

"Omong kosong!" sambar Jenderal Kedua. "Bahkan rasmu sendiri—manusia, dewa, dan siluman—mengutuk keberadaanmu sejak hari pertama kau lahir ke dunia!"

Krisis Identitas

Kata-kata itu menghujam tepat di ulu hati Lu Chen. Kilasan memori masa lalu berkelebat cepat di kepalanya: saat ia diusir oleh para pendeta dewa karena dianggap menodai kesucian kahyangan; saat para tetua siluman mencambuknya karena darah manusianya yang dianggap lemah; dan saat penduduk desa fana melemparkannya batu karena menganggapnya anak iblis.

Napasnya memburu.

Sisi siluman di dalam dirinya berontak liar menuntut pembalasan. Energi bayangan hitam pekat mulai merayap keluar dari balik punggungnya, membentuk wujud cakar yang mematikan.

"Bunuh mereka..." bisik suara kegelapan di dalam batinnya. "Musnahkan semua ras yang pernah menghinamu!"

"Lu Chen!" suara Xue Ling menyadarkannya dari jurang kegelapan. Wanita berambut perak itu mencengkeram kedua bahu Lu Chen kuat-kuat. "Jangan biarkan mereka mengendalikanmu! Ingat siapa dirimu!"

Lu Chen terengah-engah, menatap manik mata Xue Ling. Ia melirik ke arah bayangan para jenderal yang kini tertawa meremehkan.

Dengan sisa tekad baja yang dimilikinya, Lu Chen menutup mata rapat-rapat. Ia merangkul ketiga bagian identitas di dalam dirinya—mengambil strategi dan ketahanan dari manusia, cahaya penyembuhan dari dewa, serta ketenangan bayangan dari siluman.

Ia tidak melawan kodrat darah campurannya. Ia menerimanya.

CAHAYA TIGA WARNA MELEDAK NYARING.

Gelombang energi murni itu melesat menyapu bersih sisa-sisa kutukan kesedihan di desa tersebut, membuat raga para korban yang tadinya membeku perlahan-lahan luruh menjadi cahaya tenang yang terbebas.

Bayangan ketiga jenderal itu terdorong mundur akibat hantaman aura tersebut. "Menarik... tapi perjalananmu masih panjang, Raja Campuran. Masih ada enam hati emosi lagi menanti di depan."

WUS! Mereka lenyap ditelan kabut.

Janji Seorang Anak Tiga Ras

Malam beranjak larut di atas reruntuhan Desa Air Mata.

Lu Chen duduk bersila di tengah alun-alun, menatap telapak tangannya sendiri yang kini bersih dari sisa-sisa amukan siluman.

Shen Yue, yang mendapatkan laporan darurat melalui cermin penghubung istana, memproyeksikan wujudnya di hadapan sang putra.

"Nak..." panggil Shen Yue lembut.

Lu Chen mendongak. "Bu... apakah salah jika aku terlahir dari tiga dunia yang saling berperang?"

Shen Yue berlutut, merengkuh wajah putranya dengan penuh kasih sayang. "Dengarkan Ibu, Lu Chen. Kau bukanlah sebuah kesalahan kosmik. Kau adalah bukti nyata bahwa tiga hal yang saling bertolak belakang bisa bersatu dalam harmoni yang indah. Jangan pernah benci darah yang mengalir di nadimu."

Lu Chen tersenyum tipis, air matanya menetes jatuh ke tanah. "Ya, Bu. Aku bangga menjadi sepertiga manusia, sepertiga dewa, dan sepertiga siluman."

Tato di dadanya menyala terang, memancarkan harmoni sempurna dari Cahaya Penyelamat.

"Kita harus bergerak cepat," kata Lu Chen bangkit berdiri, auranya kini jauh lebih mantap dan tidak tergoyahkan. "Desa keempat sedang menunggu kita."

Cliffhanger: Desa Keempat

Pagi harinya di ruang takhta Kerajaan Harapan, laporan peta perbatasan kembali berkedip merah.

LAPORAN KRITIS: DESA KEEMPAT HILANG. EMOSI KEEMPAT: Keserakahan.

Lu Chen mengenakan jubah perangnya, memegang pedang dengan mantap. Ia menoleh ke arah tim intinya yang berdiri siaga.

"Siapkan pasukan," perintah Lu Chen tegas. "Kita kejar para jenderal itu sebelum hati keempat jatuh ke tangan mereka."

Dan di ujung cakrawala, bayangan sembilan rasi bintang kegelapan mulai berputar semakin cepat, menyambut babak baru dari perburuan sembilan emosi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!