Dirga mengira Vara adalah istri polos yang mudah dibohongi. Namun, Vara sudah mengetahui perselingkuhan dan rencana busuk suaminya.
Kini, hanya perlu berpura-pura menjadi wanita yang sama... sebelum semuanya kebalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa lalu...
"Sayang, makasih ya. Aku akhirnya nggak perlu tinggal di kontrakan lagi."
Monica terlihat begitu bahagia. Ia sudah tidak sabar menempati rumah yang dibelikan Dirga dan meninggalkan kontrakan lamanya.
Dirga tersenyum tipis sambil tetap fokus mengemudi.
"Asal kamu senang, apa pun akan aku lakukan."
Monica langsung merangkul lengan Dirga. "Aku bahagia banget. Akhirnya aku bisa keluar dari kontrakanku itu."
"Nanti kamu bawa barang yang penting saja."
"Iya, Sayang. Kamu tenang saja."
Wajah Monica terus berseri-seri. Dalam pikirannya, hidupnya akan jauh lebih menyenangkan jika suatu hari nanti Dirga benar-benar menjadi suaminya.
Kalau sekarang saja Dirga sudah memberinya rumah, bagaimana nanti jika ia menjadi istrinya? Apa pun yang ia inginkan pasti akan mudah didapatkan.
Monica semakin tidak sabar.
Vara, siap-siap saja kamu akan aku hempaskan dari kehidupan Dirga. Hahaha...
"Kapan aku bisa menempati rumah baruku, Sayang?" tanyanyanya.
"Mungkin minggu depan. Masih ada beberapa berkas yang harus diurus dulu." Dirga meliriknya sekilas. "Kamu nggak apa-apa menunggu?"
"Tentu nggak, Sayang. Seminggu doang, kan?"
Dirga mengangguk.
Monica kembali menatap keluar jendela.
Namun, beberapa saat kemudian, ia mengernyitkan kening ketika menyadari Dirga mengambil jalan yang berbeda dari biasanya.
"Sayang, kita mau ke mana?"
"Kamu lupa jalan ini?"
Monica memperhatikan jalanan di depan mereka. Beberapa detik kemudian, senyum tipis muncul di wajahnya.
"Jangan bilang kita mau nostalgia?"
Dirga tersenyum. "Iya, Sayang."
Tak lama kemudian, Dirga menghentikan mobil di depan sebuah taman. Tepat di seberang taman itu berdiri sebuah sekolah.
Monica turun dari mobil dan menatap bangunan tersebut.
Sekolah itu menjadi salah satu saksi cinta mereka di masa lalu.
"Masih ingat tempat ini?" tanya Dirga.
"Tentu saja."
Dirga kemudian menggandeng tangan Monica. "Ayo, kita ke taman."
Monica mengangguk.
Mereka berjalan menuju taman yang berada tidak jauh dari sekolah. Beberapa siswa terlihat duduk santai sambil mengobrol.
Dirga dan Monica memilih salah satu bangku yang agak jauh dari keramaian.
"Kamu mau es krim?" tawar Dirga.
"Boleh."
Dirga segera menghampiri penjual es krim yang berada tidak jauh dari sana. Beberapa saat kemudian, ia kembali membawa dua es krim.
"Ini."
"Terima kasih, Sayang."
Mereka kemudian terdiam. Untuk beberapa saat, keduanya saling menikmati es krim sambil memandangi suasana taman.
"Andai dulu aku nggak pergi ke luar negeri, mungkin kita masih bersama sampai sekarang," ucap Monica pelan.
Dirga menoleh kepadanya. "Sayang, kita masih tetap bersama."
"Iya, aku tahu." Monica tersenyum tipis. "Tapi sekarang kamu sudah jadi milik Vara."
Dirga menghela napas. "Iya, aku tahu. Aku juga minta maaf telah menikahi Vara."
Monica menatapnya intens.
"Tapi kalau aku nggak menikah dengannya, mungkin aku nggak akan mendapatkan semua yang aku punya sekarang," lanjut Dirga.
Monica mengangguk pelan.
"Iya, sih. Tapi tetap saja..."
"Sudahlah. Nggak usah membahas itu lagi." Dirga menatap Monica. "Sekarang aku dan kamu sudah kembali bersama. Kita cuma perlu fokus pada tujuan kita."
"Memiliki aset Vara?"
Dirga mengangguk. "Iya. Setelah semuanya berhasil, kita bisa menikmati hidup tanpa perlu bersembunyi lagi."
Monica tertawa kecil. "Aku sudah nggak sabar menunggu hari itu." Ia kemudian menyandarkan kepalanya ke bahu Dirga. "Aku ingin melihat Vara tersingkir dari rumahnya sendiri."
Monica tersenyum puas.
Dirga menggenggam tangan Monica. "Dan setelah itu, nggak ada lagi yang bisa menghalangi kita."
Monica semakin tersenyum lebar. Ia benar-benar yakin masa depannya bersama Dirga akan sempurna.
Tanpa sadar, mereka sedang membicarakan masa depan yang belum tentu menjadi milik mereka.
••••
"Capek banget."
Vara merebahkan tubuhnya di sofa. Hari ini benar-benar menguras tenaganya. Monica datang ke rumahnya dengan berani, urusan perusahaan juga semakin rumit, belum lagi rencana yang harus terus ia jalankan tanpa membuat siapa pun curiga.
Vara memejamkan mata sambil menghela napas.
"Ya Tuhan, kuatkan aku. Aku nggak mau mereka mengambil apa yang sudah diwariskan kedua orang tuaku."
Beberapa saat kemudian, Vara bangkit dari sofa. Tenggorakannya terasa kering. Saat berjalan menuju dapur, ia bertemu dengan Bibi Rati.
"Eh, Non Vara."
Vara hanya mengangguk. Ia langsung mengambil sebotol air dingin, lalu meminumnya sampai habis.
Bibi Rati hanya diam memperhatikan Vara. Tatapannya terlihat sedih.
"Jangan lihat aku seperti itu, Bi," ucap Vara.
Bibi Rati menghela napas berat.
Vara menatapnya dan tersenyum kecil. "Aku baik-baik saja, Bi."
"Non..." Bibi Rati akhirnya mendekat dan memeluk Vara. "Kenapa mereka tega banget sama Non?"
Vara terdiam dalam pelukan itu. "Sudahlah, Bi. Vara nggak apa-apa." Ia berusaha tersenyum. "Doakan Vara supaya tetap kuat, ya."
"Iya, Non. Itu sudah pasti."
"Terima kasih, Bi."
Vara melepaskan pelukan itu. "Aku kembali ke kamar dulu, ya."
Bibi Rati mengangguk.
Vara meninggalkan dapur dan berjalan menuju kamarnya.
Namun, langkahnya terhenti ketika melewati kamar Diana.
Dari dalam kamar terdengar suara Diana.
Vara mengernyitkan kening.
"Mama bicara dengan siapa, ya?" Ia mendekat, lalu menempelkan telinganya ke pintu. Suara Diana terdengar samar dari dalam.
"Kau sudah menghancurkanku..."
Vara terdiam.
Suara Diana kembali terdengar, kali ini penuh kebencian.
"Sekarang saatnya aku menghancurkan keturunanmu!"
Vara langsung menegang. Ia menarik tubuhnya dari pintu dan menatap kamar Diana dengan kening berkerut.
"Apa maksudnya?" gumamnya pelan.