Demi membeli sebuah kue ulang tahun untuk sang adik, Rio yang baru berusia sepuluh tahun rela tak menebus obat hingga penyakit jantungnya kumat parah dan nyaris merenggut nyawanya. Tak ingin ibunya mati perlahan karena terjerat hutang biaya operasi sebesar lima ratus juta, Rio nekat kabur dari rumah sakit di tengah malam untuk menjemput ajalnya sendiri, meninggalkan ibunya yang hancur dalam tangisan. Namun takdir berkata lain; lima belas tahun berlalu, Rio yang diselamatkan oleh seorang konglomerat kini kembali sebagai Direktur Utama Grup Sentosa yang berkuasa, hanya untuk mendapati kenyataan yang menjijikkan. Rizky, adik kecil yang dulu sangat ia sayangi, kini tumbuh menjadi pria gila harta yang tega mengusir dan tak mengakui ibu kandung mereka yang pincang di tengah kemewahan pesta pernikahannya. Di detik itulah Rio melangkah maju ke tengah pesta, bukan lagi sebagai kakak yang rela berkorban, melainkan sebagai sang penguasa yang akan menghancurkan siapa pun yang berani meneteskan air
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Bruk.
Sebuah karung goni raksasa berisi sampah basah jatuh ke tanah berdebu.
Nafas Rizky tersengal-sengal seperti orang yang hampir kehabisan pasokan oksigen.
Matahari siang ini bersinar sangat terik seolah ingin membakar ubun-ubunnya.
Kulitnya yang dulu selalu dirawat dengan krim mahal kini hitam legam dan penuh daki.
Bau busuk yang menyengat dari gunungan sampah membuat perutnya mual dan terus bergejolak.
"Cepat angkat lagi karung yang di sana dasar pemalas!" bentak seorang pria berwajah sangar.
Pria itu adalah salah satu anak buah Bos Toni yang ditugaskan mengawasi para pekerja paksa.
Plak.
Sebuah sabetan rotan mendarat dengan keras di punggung Rizky yang hanya berlapis kaus kutang robek.
"Aduh! Ampun Bang, punggung saya rasanya mau patah," rintih Rizky memegangi punggungnya yang perih.
"Alah banyak alasan kamu, utangmu masih satu koma satu miliar tahu!" ejek penjaga itu meludah ke tanah.
"Kerja rodi seumur hidup juga belum tentu lunas, cepat jalan!" bentaknya lagi mengayunkan rotan.
Rizky buru-buru berdiri dan menyeret kakinya yang gemetar menuju tumpukan sampah berikutnya.
Air matanya menetes bercampur dengan keringat kotor di wajahnya.
"Ibu, masakan Ibu pasti enak banget siang-siang begini," batin Rizky menangis membayangkan rumah petaknya.
"Maafin Rizky Bu, Rizky kangen tidur di kasur, di sini banyak nyamuk dan lalat," isaknya meratapi nasib.
Dia sangat menyesal telah membuang ibunya demi wanita gila harta dan keluarga palsu.
Tapi penyesalan itu sudah terlambat karena kakaknya yang kejam tidak akan pernah memberinya ampunan.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang diseret dari arah gerbang masuk tempat pembuangan akhir itu.
Tap tap tap.
Suara sepatu hak tinggi yang salah satu ujungnya sudah patah terdengar mendekat.
Seorang wanita dengan rambut acak-acakan berjalan sambil menutup hidungnya menggunakan sapu tangan kumal.
Pakaian wanita itu hanya kaus oblong lusuh dan celana jeans murah yang warnanya sudah pudar.
Wanita itu adalah Cynthia Wijaya, mantan sosialita kaya yang kini jatuh miskin dalam semalam.
"Sialan, bau sekali tempat ini, bikin aku mau muntah saja," keluh Cynthia mengipasi wajahnya.
Sejak Grup Makmur bangkrut dan semua aset disita bank, Cynthia dan ayahnya diusir dari rumah mewah mereka.
Tuan Wijaya yang terkena serangan jantung kini hanya dirawat di bangsal kelas tiga rumah sakit umum.
Cynthia kehabisan uang dan tidak ada satu pun teman sosialitanya yang mau meminjamkan uang padanya.
Dia mendapat informasi dari mantan sopir pribadinya kalau Rizky dibawa rentenir ke tempat sampah ini.
"Di mana penipu sialan itu, aku harus minta pertanggungjawaban darinya hari ini juga," gumam Cynthia celingukan.
Matanya menyapu lautan sampah dan para pemulung yang sedang bekerja di bawah terik matahari.
Pandangan Cynthia akhirnya berhenti pada sosok pemuda kurus kotor yang sedang memanggul karung sampah.
Walaupun wajahnya tertutup kotoran hitam, Cynthia sangat mengenali postur tubuh mantan calon suaminya itu.
"Heh penipu miskin!" teriak Cynthia dengan suara melengking memecah bisingnya alat berat.
Rizky menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sumber suara tersebut.
Matanya membelalak kaget melihat Cynthia berdiri di tengah jalan tanah dengan wajah penuh amarah.
"Cynthia? Sedang apa kamu di tempat kotor begini?" tanya Rizky menurunkan karung sampahnya.
"Sedang apa kamu bilang?! Aku ke sini mau minta ganti rugi atas semua kehancuran keluargaku!" jerit Cynthia melangkah maju.
Rizky mendengus sinis mendengar tuntutan dari wanita yang menamparnya kemarin.
"Ganti rugi apa? Kamu buta ya tidak lihat aku sekarang jadi kuli sampah begini?" balas Rizky mengangkat bahunya.
"Aku tidak peduli! Papaku butuh biaya rumah sakit dan semua itu gara-gara kamu menipu kami!" tuntut Cynthia tidak mau kalah.
"Kalau kamu tidak bayar ganti rugi, aku akan lapor polisi supaya kamu dipenjara!" ancamnya bertolak pinggang.
Rizky tertawa keras mendengar ancaman konyol dari wanita di depannya itu.
"Silakan lapor polisi sana, sekalian bilang kalau Grup Makmur bangkrut karena dihancurkan oleh Kakak kandungku," tantang Rizky tersenyum mengejek.
"Kamu pikir aku takut masuk penjara? Di penjara malah enak bisa dapat makan gratis setiap hari," ucap Rizky santai.
"Dari pada di sini aku harus kerja paksa buat bayar utang rentenir miliaran rupiah," keluhnya dengan nada getir.
Mendengar hal itu wajah Cynthia memerah menahan amarah yang sudah meledak-ledak.
Dia merasa sangat dipermainkan oleh pemuda miskin yang dulu berlutut di kakinya.
"Dasar laki-laki tidak berguna! Gembel! Sampah masyarakat!" maki Cynthia melompat ke arah Rizky.
Plak!
Cynthia menampar pipi Rizky dengan sekuat tenaga hingga kepala pemuda itu menoleh ke samping.
Rasa perih menjalar di pipi Rizky, namun kali ini dia tidak diam saja seperti saat di hotel kemarin.
"Beraninya kamu menampar wajahku lagi wanita gila!" teriak Rizky mendorong bahu Cynthia dengan kasar.
Bruk.
Cynthia jatuh terduduk di atas tanah berdebu yang bercampur dengan air sisa sampah.
"Baju murahanku jadi kotor dasar gembel bau!" jerit Cynthia histeris melihat celananya basah.
Cynthia bangkit berdiri dan langsung menerjang Rizky dengan brutal layaknya orang kesurupan.