NovelToon NovelToon
Unit Kosong

Unit Kosong

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Rumahhantu / Iblis
Popularitas:246
Nilai: 5
Nama Author: Storyginal Finger

Cerita bergenre Horor dan Misteri yang mengungkap rahasia kelam pembantaian korban penghuni apartemen oleh penguasa. Meski terinspirasi berdasarkan kisah nyata, tapi termasuk Fiksi karena banyak tambahan yang dimasukkan ke dalam cerita.

SINOPSIS: Bagas bersama timnya pergi dari Jakarta ke Bandung untuk bertemu investor yang akan membiayai project film mereka. Tapi siapa sangka kalau mereka justru dipesankan unit apartemen yang berhantu. Bangunan terbengkalai yang mangkrak karena wabah covid-19.

Meskipun sudah diminta pindah, Jefry yang merupakan leader tim justru menolak. Ia menganggap bahwa ini kesempatan untuk mendapat ide cerita horor dari kisah nyata. Sedangkan Bagas tidak bisa menolak keputusan leadernya itu.

Mereka pun harus menghadapi teror demi teror yang semakin hari, semakin membahayakan. Tapi di balik bahaya tersebut, membuat Jefry semakin bersemangat dan penasaran akhir yang akan mereka lalui ke depan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7: Menuju Kamar dan Teror Pertama

Lift itu seharusnya hanya naik delapan lantai. Ya, delapan saja. Tapi rasanya kami sudah terkurung di dalam kotak besi ini lebih dari lima menit. Terlalu lama untuk jarak delapan lantai.

Angka digital di atas pintu awalnya bergerak pelan, 1, 2, 3.

Lalu, hilang.

Lampu indikator itu mati begitu saja, meninggalkan kami tanpa kepastian apakah kami masih naik, atau justru sudah turun kembali ke dasar.

Aku berdiri merapat ke tembok lift, merasakan getar halus di belakang punggungku. Shinta diam memeluk tasnya. Hendra gelisah, bibirnya komat-kamit membaca sesuatu. Jefry, seperti biasa, berusaha terlihat tenang, meski aku bisa melihat alisnya menegang.

"Kok nggak berhenti-berhenti ya?" suara Shinta lirih, hampir berbisik.

Aku menjawabnya dengan tenang. "Mungkin error kali ya," jawabku seadanya. Tapi suaraku sendiri terdengar asing, telingaku seperti mendengung.

Jefry maju, menekan tombol angka 8 berulang-ulang.

Klik, klik, klik.

Tak ada perubahan. Lift tetap bergerak entah ke mana, diiringi suara gesekan kabel yang panjang,  monoton. Seakan kami sedang dibawa oleh sesuatu yang tak ingin melepaskan.

"Apaan sih ini," gerutu Jefry. Ia mulai kesal kemudian memukul dinding lift dengan cukup keras.

Brak!

Saat itu juga lampu lift berkedip-kedip, nyaris padam. Selama sepersekian detik, semuanya gelap total dan aku merasakan sesuatu menyentuh punggung tanganku. Dingin, kasar, seperti kulit yang retak. Rasa ini mirip seperti saat ada yang menyentuhku di kereta Whoosh.

Aku spontan menggerakkan tangan, menarik nafas cukup kencang.

Lampu kembali menyala, tak ada apa-apa. Hanya nafas kami yang mulai memburu.

Tiba-tiba, lift berhenti mendadak. Tubuh kami bahkan sedikit bergoyang.

"Ding!"

Angka digital yang tadinya mati kini hidup kembali, menampilkan angka 8.

Pintu terbuka perlahan, seketika udara dingin dari luar lorong menyentuh kulitku. Kami saling pandang sebentar. Tidak ada yang bicara. Satu per-satu kami melangkah keluar.

Lorong itu temaram.

Beberapa lampu mati, menyisakan cahaya kekuningan yang remang, lantai berdebu. Angka yang menempel di depan pintu lusuh, dindingnya penuh cat terkelupas, terlihat lembap. Suasana seperti bangunan tua yang ditinggalkan, padahal ini apartemen, kan?

Aku bisa mencium bau apek bercampur karat. Tidak tahu berasal dari mana.

"Nomor 26B di mana ya," gumam Shinta pelan.

Kami berjalan menyusuri lorong yang panjang. Melihat satu per-satu nomor di tengah pintu. Setiap langkah kami seperti memantul, bergema berulang kali. Sesekali terdengar bunyi gemerisik dari salah satu pipa di langit-langit.

Pada bagian bawah beberapa kamar, aku melihat tumpukan kertas tagihan menyembul dari sela pintu. Jumlahnya ada puluhan amplop.

Tak ada yang membersihkan. Sepertinya juga tidak ada yang mengambil. Seakan pintu-pintu itu sudah lama tak dibuka.

"Kayak nggak ada yang tinggal di sini ya," bisik Shinta lagi.

Aku tidak menjawab, tenggorokanku terasa kering.

Akhirnya kami menemukan 26B.

Pintu cokelat tua dengan gagang yang sudah pudar. Begitu Jefry memutar, suara engsel pintu berderit perlahan.

Aku telah bersiap melihat pemandangan menyeramkan di dalamnya. Tapi yang kami temukan justru tak seperti bayangan.

Unit 26B terang benderang.

Bersih, rapi dan luas.

Seperti dunia lain yang terpisah dari lorong gelap di luar sana. Sofa empuk, lantai mengkilap, aroma pengharum ruangan tercium samar. Semua tampak normal, bahkan cenderung mewah.

Kunci juga sudah tergeletak di meja dekat sofa ruang tengah, seperti kata pria tadi.

"Waduh ini mah bagus banget," ujar Hendra, langsung masuk ke dalam salah satu kamar.

Shinta ikut masuk sambil menghela nafas lega. "Gua kira bakal kayak luar tadi kondisinya."

Aku berdiri di ambang pintu sebentar. Ada sesuatu yang tidak selaras. Kontras terlalu ekstrem, seperti topeng yang menutupi sesuatu hal busuk di baliknya.

Lalu perlahan aku melangkah masuk, sementara pintu di belakangku menutup dengan bunyi klik yang tipis. Suara kecil itu terdengar seakan ada yang menggerakan dari luar. Aku bergegas membukanya, pintu terbuka dengan mulus.

Seketika itu juga aku langsung menutupnya kembali karena suasana di luar yang gelap, menyeramkan.

Begitu berada di dalam unit, kami sepakat untuk mandi lalu langsung tidur. Badan rasanya remuk ditambah dengan pengalaman menyeramkan barusan.

Hendra masuk ke kamar yang berada di pojok kanan, sementara aku mengambil kamar sebelah kiri. Jefry dan Shinta berbagi kamar utama.

Tak ada hal aneh. Semuanya berjalan biasa saja. Aku bahkan sempat berpikir mungkin rasa tidak enak sejak tadi hanyalah karena kelelahan.

Aku pun tidur dengan cepat.

Namun kemudian, sekejap aku terbangun.

Awalnya kupikir hanya mimpi yang menyeretku ke alam bawah sadar. Tapi begitu mataku terbuka, gelap itu terasa nyata. Sesuatu seperti hawa dingin menempel di kulitku.

Jam di handphone menyala sekilas, 03.00 tepat.

Angka yang tidak ku harapkan. Pagi masih lama. Aku melihat pintu kamar, seperti yang ada di lorong rumah sakit, tidak tahu apa dibaliknya, tapi kamu tahu tidak ingin masuk ke dalam.

Aku berbalik, menatap ke arah jendela unit kamar yang ditutupi gorden menguning karena luntur.

Lalu kudengar suara itu.

“Tap, tap, tap”

Langkah kaki.

Terdengar berat, kadang mendekat, lalu menjauh dan mendekat lagi. Seperti suara seseorang berjalan di lorong panjang dan sesekali berhenti tepat di depan pintu kamarku.

Aku menahan nafas sejenak. Menunggu, tapi suara itu menghilang.

Namun hanya sebentar saja, “Tap, tap, tap.” Suara itu datang lagi, kali ini lebih jelas.

Aku memejamkan mata, mencoba tidur lagi, tapi ada suara lain yang menggantikan langkah itu. Suara air menetes dari dapur.

“Tik, tik, tik”

Kran cuci piring, sepertinya tidak tertutup rapat.

Biasanya suara seperti itu tidak masalah, tapi dini hari ini bunyinya seperti diperdengarkan tepat di telingaku. Setiap tetes terasa layaknya sentakan kecil di kepala.

Aku akhirnya duduk, menarik nafas panjang. "Lebih baik aku keluar, nggak boleh takut!" pikirku, mencari alasan logis agar tidak panik.

Saat kutarik gagang pintu kamar, klik, terbuka. Tapi kemudian aku melihat sesuatu yang tak ku duga.

Dari arah depan, pintu kamar Jefry dan Shinta juga terbuka.

Hendra pun demikian yang tiba-tiba muncul dari sudut samping, mengejutkanku dengan wajah setengah sadar.

Sedangkan Shinta menatapku, dahinya mengkerut. Ia memeluk tubuhnya sendiri, seperti sedang menahan dingin yang menusuk.

Kami saling berpandangan.

Tidak ada yang bicara. Seolah-olah, kalau ada satu saja kata keluar, malam itu akan berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa kami tarik kembali.

"Lo juga denger?" tanya Hendra, suaranya nyaris berbisik.

Aku tidak menjawab. Hanya mengangguk.

Kami sama–sama mendengar tetesan air itu. Suaranya tetap sama, “Tik, tik, tik.”

Irama yang bisa membuat bulu kuduk berdiri.

Aku melangkah lebih dulu ke kitchen set. Setiap langkah terasa berat, seperti lantai menahan kakiku agar tidak maju. Kran memang tidak tertutup rapat, airnya menetes seperti sedang menunggu seseorang datang memperhatikannya.

Ku putar krannya pelan ke kanan. Air berhenti, hening seketika.

Aku menoleh sebentar ke arah mereka. "Udah," kataku pendek. Suaraku terdengar santai, padahal dibalik itu aku merasakan takut luar biasa.

Hendra mengangguk.

Jefry menarik pintu kamarnya, mengajak Shinta untuk masuk kembali, tidak bicara sama sekali. Sorot mata Shinta kosong, seperti masih tertinggal di tengah mimpi buruk yang belum berakhir.

Kami kembali ke kamar masing–masing.

Tidak ada yang membahas apapun. Mungkin belum ada yang berani menyinggung langkah kaki itu. Juga tanpa pembahasan kenapa kami bisa terbangun di waktu yang sama.

Meski di dalam hati merasa ada sesuatu yang janggal, kami memilih untuk mengabaikannya untuk saat ini.

Aku berbaring lagi, tapi tidur tidak datang. Yang datang hanya bayangan lorong gelap, langkah kaki berderap, dan perasaan diawasi oleh sesuatu yang rasanya tak peduli kamu percaya atau tidak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!