Selama 5 tahun Maya mengorbankan seluruh hidup dan cita-citanya demi merawat bagas, Suaminya yang koma dan lumpuh akibat akibat kecelakaan.
Maya harus bekerja keras banting tulang untuk biaya ruah sakit dan selalu setia menemani sang suami dengan air mata dan doa.
Akhirnya membuahkan hasil, Bagas perlahan-lahan sembuh.
Tapi apa yang Maya dapat, Setelah sembuh, Bagas mendapatan pekerjaan bagus dan ia malah menjalin hubungan dengan teman kantornya yang bernama Rania, Karena ia malu memiliki istri seperti Maya yang terlibat kusam akibat penderitaan selama bertahun-tahun.
Perceraian itu akhirnya terungkap saat Maya menemukan surat cerai di saat hari pernikahan mereka yang ke-7 tahun.
Maya pun harus bangkit dari kehidupan, pengorbanannya selama ini ternyata sia-sia, iya akan menunjukkan ketulusannya akan menjadi penyesalan terbesar Bagas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7
"Maaf, Bu Maya. Ini prosedur mutlak dari manajemen rumah sakit untuk penggunaan ruang operasi khusus. Tanpa uang muka tersebut, penanganan operasi belum bisa kami jadwalkan."
Di koridor rumah sakit yang dingin, Maya terduduk lemas di lantai. Dunianya serasa dijepit oleh dua beban raksasa yang siap meremukkannya kapan saja.
Di lantai tiga, Bagas—suami yang dicintainya—sedang terbaring koma. Kemarin sore, perawat baru saja mengingatkan bahwa simpanan uang obat harian dan sewa mesin ventilator Bagas untuk minggu depan sudah benar-benar habis. Maya baru saja berhasil mengumpulkan uang simpanan sebesar delapan juta rupiah dari hasil meminjam ke sana-sini dan bekerja mati-matian tiga pekerjaan sehari. Rencananya, uang itu akan disetorkan pagi ini agar alat bantu napas Bagas tidak dilepas.
Namun di IGD lantai dasar, Ibunya terbaring sekarat, membutuhkan uang delapan juta rupiah yang sama detik ini juga untuk operasi menyelamatkan nyawanya.
Maya hanya punya delapan juta rupiah. Hanya cukup untuk menyelamatkan salah satu dari mereka.
"Mbak... gimana?" Rian menghampiri Maya dengan mata sembap. "Uang tabungan Mbak cukup kan buat bayar uang muka operasi Ibu? Rian nggak punya uang sama sekali, Mbak..."
Maya menengadah, menatap adiknya dengan pandangan hampa. "Uang Mbak cuma ada delapan juta, Rian... Dan uang itu... uang itu tadinya mau Mbak bayarkan buat biaya alat penunjang hidup Mas Bagas pagi ini."
Rian terperanjat, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Maksud Mbak apa?! Mbak lebih milih Mas Bagas daripada Ibu?!"
"Bukan begitu, Rian! Mbak bingung!" tangis Maya pecah seketika, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Kalau uang itu Mbak pakai buat operasi Ibu, biaya Mas Bagas kosong. Selang oksigen dan mesin pemacu jantung Mas Bagas bisa dicopot sama pihak rumah sakit! Tapi kalau Mbak kasih ke Mas Bagas... Ibu..."
"Mbak Maya sadar nggak sih?!" potong Rian dengan nada tinggi dan penuh emosi. "Ibu itu orang tua kita! Ibu yang melahirkan dan membesarkan Mbak! Mas Bagas itu cuma suami Mbak yang sekarang bahkan udah kaya mayat hidup! Kenapa Mbak harus mikir dua kali buat menyelamatkan nyawa Ibu sendiri?!"
"Rian! Jangan bicara seperti itu tentang Mas Bagas!" jerit Maya histeris. "Mas Bagas itu suami Mbak! Dia bertaruh nyawa waktu kerja buat kita! Mbak nggak bisa menelantarkan dia begitu aja!"
"Tapi Ibu lagi bertaruh nyawa sekarang, Mbak!" bentak Rian, air matanya menetes keras. "Kalau Ibu meninggal hari ini gara-gara Mbak pelit ngeluarin uang demi Mas Bagas, Rian nggak akan pernah maafin Mbak seumur hidup!"
Perkataan Rian menusuk jantung Maya sangat dalam. Tubuh Maya gemetar hebat. Rasa bersalah, panik, dan keputusasaan bercampur menjadi satu racun yang membakar jiwanya.
Maya berlari meninggalkan Rian, menaiki tangga darurat menuju lantai tiga tempat Bagas dirawat. Ia menerobos masuk ke dalam kamar Bagas yang hening.
Di depan ranjang Bagas, Maya jatuh berlutut. Ia menggenggam tangan kaku suaminya, menempelkannya ke dahi, dan menangis sejadi-jadinya.
"Mas... Mas Bagas... tolong aku, Mas..." bisik Maya di antara isak tangisnya yang sesak. "Ibu kritis, Mas... Ibu harus operasi sekarang. Tapi kalau uangnya aku pakai buat Ibu, gimana nasib Mas Bagas? Siapa yang mau bayar alat-alat ini?"
Suara bip-bip mesin detak jantung tetap terdengar teratur. Wajah Bagas tetap tenang dan tak bergeming, sama sekali tidak memberikan jawaban atas dilema mematikan yang sedang menghancurkan hidup istrinya.
"Mas... maafin aku..." ucap Maya lirih dengan dada yang serasa dihantam godam besar. "Maafin aku, Mas Bagas... Ibu yang melahirkan aku. Aku nggak bisa biarkan Ibu meninggal di depan mata aku..."
Maya bangkit berdiri dengan tubuh limbung. Dengan jemari yang gemetar, ia mengambil amplop cokelat berisi uang delapan juta rupiah hasil keringat dan darahnya. Ia menatap Bagas untuk terakhir kalinya sebelum berbalik perlahan, melangkah keluar ruangan demi menyelamatkan nyawa ibunya, tanpa pernah tahu betapa besarnya pengorbanan yang telah ia pertaruhkan hari ini.
Setelah hari ini Maya istirahat terlebih dahulu hingga akhir nya malam tiba Maya pun tidur disebelah Bagas dirawat.