Aletha sangat terkejut setelah papanya, Baskara memberitahu jika ia dijodohkan dengan anak sahabatnya sejak dari dalam kandungan. Dan sebelum kelulusannya ia akan melangsungkan pertunangan lebih dulu.
Aletha sedikit tergoda oleh ketampanan. Pria itu saat papanya bicara tentang ketampanan calon tunangannya itu.
Namun, saat tiba pertemuan di malam itu. Ternyata pria yang dijodohkan adalah Langit.
Musuh bebuyutannya di sekolah, apakah mereka akan melanjutkan perjodohan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cristaal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Perpisahan.
Lantai marmer Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta pagi itu dipadati oleh hiruk-pikuk calon penumpang. Suara pengumuman penerbangan internasional bersahut-sahutan di udara, beradu dengan deru roda koper yang diseret. Namun, bagi Aletha, seluruh kebisingan itu seolah teredam oleh rasa sesak yang kian menghimpit dadanya.
Hari ini adalah H-day keberangkatan mereka. Tepat satu minggu setelah sebuah pernikahan tertutup yang teramat sakral dan penuh air mata haru digelar di kediaman keluarga Voss, hari perpisahan yang sesungguhnya akhirnya tiba.
Aletha berdiri kaku di dekat pembatas area check-in internasional. Ia mengenakan mantel tebal berwarna krem, dengan sebuah koper besar di sampingnya. Tiket penerbangan rute Jakarta-Frankfurt sudah tergenggam erat di tangannya. Tiga jam lagi, pesawatnya akan lepas landas menuju Jerman, tempat kakeknya sudah menunggu.
Di depannya, Langit Saghara Voss berdiri tegap. Penerbangan Langit menuju London baru akan dijadwalkan malam nanti, namun cowok itu bersikeras untuk mengantar istri kecilnya ini lebih dulu. Langit mengenakan jaket tweed gelap yang pas di tubuh tingginya. Wajah tripleks nya yang biasanya sedingin es kini tampak sedikit kuyu, menahan beban emosi yang teramat berat.
"Kakek udah konfirmasi kalau dia bakal jemput lo di bandara Frankfurt, kan?" tanya Langit. Suaranya terdengar lebih rendah dan serak dari biasanya.
Aletha mengangguk pelan, matanya mulai berkaca-kaca menatap jaket Langit.
"Udah. Pengawal kakek udah standby di sana."
Keheningan yang teramat pekat mendadak mengunci mereka di tengah ramainya bandara. Tiga tahun bertengkar bagai Tom and Jerry di koridor sekolah, siapa yang menyangka bahwa momen perpisahan ini akan terasa begitu menyakitkan? Benci itu telah sepenuhnya bertransformasi menjadi rasa kepemilikan yang teramat dalam.
"Langit..." bisik Aletha parau, setetes air mata akhirnya luruh membasahi pipinya.
"Empat tahun itu... lama banget. Gimana kalau lo nemu cewek bule yang lebih pinter di London?"
Mendengar kekhawatiran polos dari Aletha, pertahanan dingin Langit runtuh total. Cowok tegap itu mengambil satu langkah besar, memangkas jarak di antara mereka, lalu dengan sebuah gerakan protektif yang teramat erat, ia menarik tubuh mungil Aletha ke dalam pelukannya.
Set.
Langit mendekap erat pinggang Aletha, membenamkan wajah tegasnya di ceruk leher gadis itu, menghirup aroma wangi rambut Aletha yang akan sangat ia rindukan. Kedua tangan mungil Aletha secara refleks melingkar erat di pinggang Langit, meremas jaket cowok itu dengan seluruh sisa tenaganya seolah enggan melepasnya pergi.
Pelukan itu begitu erat, seakan-akan mereka sedang mencoba menyatukan dua jiwa sebelum jarak ribuan kilometer memisahkan mereka. Aletha bisa mendengar detak jantung Langit yang berdegup kencang dan tak beraturan tepat di dadanya, sebuah detak yang menyuarakan rasa takut kehilangan yang sama besarnya.
"Dengerin gue, Kurcaci," desis Langit tepat di dekat telinga Aletha. Suaranya bergetar hebat, menahan gejolak rindu yang bahkan sudah mulai membakar dadanya sebelum mereka berpisah.
"Otak gue terlalu penuh sama rumus dan bayangan lo buat bisa masukin orang baru. Di London ataupun di belahan dunia mana pun, nggak akan ada cewek yang bisa menggantikan posisi satu-satunya babu berisik yang udah resmi punya cincin di jari manis gue."
Langit melonggarkan pelukannya sedikit, lalu menangkup wajah Aletha dengan kedua tangan hangatnya. Ibu jarinya bergerak lembut, menghapus air mata yang kian deras mengalir di pipi Aletha. Ia mendongakkan kepala Aletha agar sepasang mata mereka saling mengunci. Sorot mata hazel Langit berkilat penuh kehangatan, kerapuhan, dan komitmen yang absolut.
Perlahan, di tengah keramaian Terminal 3 bandara yang mengabaikan mereka, Langit menundukkan wajahnya. Bibirnya menyentuh bibir mungil Aletha. Sebuah kecupan perpisahan yang teramat lembut, lama, dan sarat akan janji suci yang tidak terucapkan.
Ini adalah ciuman pertama mereka di bibir. Kecupan itu terasa menuntut. Ada rasa tidak rela yang begitu besar yang mengalir di dalamnya. Langit memperdalam lumatan lembutnya, seolah ingin mengukir rasanya di benak Aletha agar gadis itu tidak melupakannya selama di Jerman. Aletha meremas bahu tegap Langit, membalas kecupan itu dengan air mata yang membasahi sela-sela pautan mereka. Dada mereka bergemuruh, sesak oleh kenyataan bahwa setelah ini, mereka tidak akan bisa saling menyentuh untuk waktu yang sangat lama.
Setelah melepaskan tautan bibir mereka dengan berat hati, Langit menempelkan dahinya pada dahi Aletha. Napas mereka memburu, saling beradu dalam jarak yang begitu intim. Langit memejamkan mata, tangannya masih enggan lepas dari pipi Aletha.
"Kalau kangen... langsung telepon gue. Jangan ditahan karena gengsi, Aletha," bisik Langit lirih, suaranya parau menahan sesak.
"Gue nggak tahu gimana caranya lewat sebulan tanpa denger celotehan berisik lo."
Aletha terisak pelan, mengangguk di sela tangisnya.
"Lo juga. Jangan sok sibuk sampai lupa ngabarin gue, Suami tiang listrik."
Langit tersenyum sangat tipis, lalu menjentik dahi Aletha dengan pelan sebuah gestur jahil andalannya yang kali ini terasa begitu hangat sekaligus menyayat hati.
"Masuk sana. Pesawat lo nggak akan nungguin anak cengeng," gumam Langit, berusaha mengembalikan nada datarnya meski matanya sendiri tampak berkilat basah.
Aletha menghapus air matanya, menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan sisa keberaniannya. Ia meraih paspor dan koper besarnya.
"Gue pergi dulu ya, Langit."
"Sampai jumpa empat tahun lagi di Indonesia, Istri kurcaci," sahut Langit rendah.
Aletha berbalik dan melangkah perlahan menuju gerbang keberangkatan internasional. Di setiap tiga langkah, ia selalu menoleh ke belakang, mendapati tubuh tinggi tegap Langit yang masih berdiri kokoh di tempat yang sama, melambaikan tangan padanya dengan tatapan mata hazel yang tidak pernah lepas mengawalnya.
Tepat sebelum memasuki bilik pemeriksaan paspor, Aletha menoleh untuk terakhir kalinya. Di kejauhan, ia bisa melihat Langit masih menatapnya tanpa berkedip, dengan satu tangan mengepal di dada tepat di atas posisi jantungnya.
Begitu tubuh Aletha benar-benar menghilang di balik bilik pemeriksaan, kehangatan di bandara itu seolah lenyap, berganti dingin yang menusuk. Penerbangan menuju cakrawala baru telah dimulai, memisahkan mereka oleh jarak ribuan kilometer antarnegara. Mereka tidak pernah tahu, bahwa setelah pelukan hangat dan kecupan basah di bandara ini, sebuah kesalahpahaman besar di seberang benua akan mengunci komunikasi mereka, mengubah debaran manis ini menjadi keheningan asing yang membeku selama bertahun-tahun lamanya.