Jarinya dipotong. Adiknya mati. Tabungannya dirampas.
Dibuang seperti bangkai oleh bos kasino tempatnya mengabdi selama lima tahun, mantan bandar bernama Sora membangkitkan satu-satunya senjata yang tersisa yakni sistem yang memanipulasi probabilitas kenyataan.
Pisau yang harusnya menancap di dada? 0,01% peluang kena. Brankas yang harusnya terkunci rapat? 99,99% terbuka. Sekarang, meja taruhan sudah terbalik. Dan rumah kasino yang selalu menang akan ia beli sendiri.
Peringatan Konten: Cerita ini mengandung kekerasan fisik ekstrem, adegan penyiksaan berdarah, tema kriminalitas (judi, pemerasan, pencucian uang), trauma psikologis gelap, serta bahasa kasar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Getaran ketukan kayu itu merambat halus ke lantai. Di seberang jalan raya Zona Tengah, melalui pemancar frekuensi radio yang disinkronkan Maya, Gani yang sedang duduk di warung kopi emperan menerima sinyal kode pulsa di radio sakunya. Modul di kolong meja nomor tiga seketika beralih ke mode siaga penuh.
Bola gading mulai kehilangan momentum putarannya. Kecepatannya melambat drastis saat turun dari lingkar luar menuju cincin sekat kuningan bernomor. Bola itu memantul di atas sekat angka 29 Hitam, terpental dua kali ke angka 18 Merah, lalu bergulir liar melintasi sektor tengah.
Sora memperhatikan deselerasi putaran bola gading dengan cermat. Ia tidak membutuhkan sistem probabilitas untuk membaca lintasan dasar ini. Pengalaman lima tahun berdiri di belakang meja ini telah menanamkan ritme fisik gravitasi dan sudut pantulan bola ke dalam insting bawah sadarnya.
‘Satu detik lagi.’
Tepat saat bola gading berada dua inci di atas sekat angka 7 Merah, ibu jari kanan Sora di dalam saku celana menekan tombol silikon merah pada remote saku selama nol koma lima detik.
Gelombang pulsa elektromagnetik berdaya rendah memancar senyap dari modul di kolong meja.
Medan magnetik kecil menyentuh lapisan timah di dasar piringan rolet, membatalkan gaya sentrifugal bola gading seketika tanpa menimbulkan getaran yang kasatmata.
Klek.
Bola gading putih itu terjatuh tegak, terbenam tepat di dasar kantong nomor 7 Merah.
“Tujuh Merah! Ganjil, Rendah!” seru dealer seraya meletakkan bidak penanda kuningan di atas angka tujuh pada meja karpet hijau.
Pria pengusaha kayu di ujung meja bersorak puas seraya menepuk meja karena taruhan warnanya menang. Namun dealer kasino tidak memandang pria itu. Matanya beralih ke arah tumpukan cip merah Sora yang terpasang di kotak taruhan sudut angka tujuh.
Kemenangan taruhan sudut membayar delapan kali lipat dari modal awal.
Dealer kasino mendorong enam belas keping cip merah tambahan ke hadapan Sora dengan tongkat pengeruk akriliknya. “Enam belas juta untuk Tuan di sudut kiri.”
Sora menarik cip kemenangannya dengan tenang menggunakan tangan kanan. Wajahnya datar, menatap permukaan karpet hijau di hadapannya tanpa ekspresi berlebihan.
Pada tiga putaran berikutnya, Sora mengulang pola yang sama dengan perhitungan terukur.
Ia sengaja membiarkan putaran kedua kalah dengan memasang taruhan kecil di angka sembilan belas hitam, membiarkan kasino mengambil empat juta rupiah darinya untuk menidurkan kecurigaan pengawas lantai yang berdiri di dekat pilar cermin.
Namun pada putaran ketiga dan keempat, saat para pemain kaya lain mulai terpecah konsentrasinya oleh kekalahan beruntun di sektor angka ganjil, Sora kembali mengaktifkan pulsa magnetik Gani pada momentum yang tepat, mengunci taruhan ganda di angka 20 Hitam dan 24 Hitam.
Dalam waktu kurang dari dua puluh menit, tumpukan cip merah di hadapan Sora telah berganti barisan silinder cip hitam dan emas bernilai puluhan juta rupiah.
Tumpukan itu menggunung rapi di atas garis batas taruhan angka genap, menyita perhatian para pejudi VIP di sekitarnya yang mulai berbisik-bisik heran melihat pemuda bertopi pet lusuh itu menyapu bersih pembayaran meja berturut-turut.
Dealer muda berompi hitam itu mulai bernapas lebih cepat. Butir-butir keringat membasahi pelipis dan kerah kemeja putihnya yang kaku.
Modal kas kasino yang tersimpan di laci meja nomor tiga—yang disiapkan untuk operasional malam ini sebesar seratus lima puluh juta rupiah tunai—kini telah tersedot lebih dari seratus juta rupiah ke hadapan satu orang pemain tak dikenal.
Dealer itu melirik gelisah ke arah pengawas lantai berjas kelabu di samping tangga kantor Jerry. Pengawas lantai itu memicingkan mata menatap tumpukan cip emas Sora, lalu mengangkat tangan kanannya ke arah radio komunikasi di kerah bajunya.
“Ada yang panas di meja nomor tiga,” bisik pengawas lantai itu ke radionya dengan nada tegang. “Panggil Koko turun.”
Sora menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu busa, tangannya yang buntung bersilang santai di atas meja karpet hijau. Pemanasan telah selesai, dan sang pemilik rumah kasino sebentar lagi akan dipaksa melangkah masuk ke dalam jebakannya sendiri.