Alessandro Magnus, Grand Duke penguasa Wilayah Magnus, dia terkenal kejam, dingin, dan punya insting membunuh yang tajam. Segala macam jebakan politik, racun, atau mata-mata yang dikirim musuh-musuhnya hanyalah kotoran yang bisa dia selesaikan dalam satu tebasan pedang.
Anastasia Starling adalah gadis yang selama ini terkenal pendiam, tertutup, dan lemah di seluruh kekaisaran. Namun, tidak ada yang tahu bahwa jiwa di dalam tubuh itu telah digantikan oleh seorang pembunuh berdarah dingin yang mati akibat dikhianati.
Bagi Anastasia yang baru, air mata adalah tanda kelemahan yang menjijikkan, berbekal insting bertahan hidup yang kuat, mulut yang tajam, kemampuan bertarung, serta rahasia ruang dimensi di dalam jiwanya, dia menolak menjadi boneka politik
"Hugo, mundur tiga langkah, matamu terlalu lancang menatap istriku. Jaga batasanmu sendiri sebelum aku menganggap kesetiaanmu itu sebagai ancaman yang harus ku potong kepalanya." _Grand Duke Alessandro Magnus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAMPARAN UNTUK ARKAN
"S-Saya hanya memberi tahu Selir Elena kalau Pangeran Mahkota pergi ke wilayah Magnus secara rahasia, Madam. Sumpah, hanya itu!" jawab Maya dengan suara bergetar, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Kalung ini aku sita, dan mulai malam ini, kamu akan dipindahkan ke bagian cuci pakaian," ucap Madam J tanpa perasaan.
"Tapi Madam, kalung itu-"
"Atau kamu mau aku melaporkan tindakan mata-matamu ini langsung ke kepala Kaisar? Hukuman gantung terdengar bagus untuk pelayan pengkhianat," potong Madam J dengan nada datar namun mematikan.
Maya langsung bungkam seribu bahasa, dan hanya bisa menunduk pasrah, meratapi nasibnya yang baru saja mencicipi kekayaan instan namun harus langsung kehilangan segalanya dalam sekejap.
Dengan langkah gontai dan kepala tertunduk, Maya berjalan pergi meninggalkan koridor tersebut.
🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️
Malam semakin larut di wilayah Magnus, di lorong kastil yang remang-remang karena hanya diterangi oleh beberapa obor dinding, suasana terasa sangat sunyi.
Pintu kamar Anastasia terbuka perlahan tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
Anastasia melangkah keluar, sudah berganti pakaian dengan jubah tidur yang membungkus tubuh rampingnya, rambut panjangnya dibiarkan terurai, dan sepasang mata birunya berkilat tajam di kegelapan malam.
Dia berjalan dengan langkah santai namun pasti, menuju tempat di mana Pangeran Arkan dikurung.
Begitu sampai di depan kamar tamu tahanan, enam ksatria Magnus yang berjaga langsung menegakkan tubuh mereka dan menghunuskan pedang sebagai refleks.
SRING
Namun, begitu melihat siapa yang datang, mereka segera menurunkan senjata dan membungkuk hormat.
"Salam Yang Mulia Grand Duchess," ucap salah satu ksatria dengan nada rendah penuh rasa hormat.
"Buka pintunya, aku ingin menemui tamu agung kita sebentar," perintah Anastasia, suaranya terdengar datar namun penuh penekanan yang tidak bisa dibantah.
Para ksatria itu sempat saling lirik sejenak, ragu karena perintah Grand Duke adalah mengurung Arkan rapat-rapat.
Anastasia yang melihat keraguan itu langsung menyunggingkan senyum miring.
"Kenapa? Apa kalian takut aku akan terluka lagi oleh pria lemah di dalam sana? Tenang saja, suamiku sudah tahu aku ke sini," bohong Anastasia dengan sangat lancar.
Mendengar nama Grand Duke dibawa-bawa, salah satu ksatria segera mengambil kunci besar di pinggangnya.
"Baik, Grand Duchess. Silakan masuk," ucap salah satu penjaga.
Ceklekk.
Pintu kamar terbuka, Anastasia melangkah masuk dengan anggun, lalu memberi isyarat agar ksatria menutup kembali pintunya dari luar.
Di dalam kamar, Arkan yang belum bisa tidur sama sekali langsung meloncat dari ranjangnya begitu mendengar pintu terbuka.
Wajahnya yang kusut mendadak menegang saat melihat sosok yang masuk bukanlah Alessandro atau pelayan, melainkan Anastasia.
"Anastasia... kamu?" ucap Arkan, suaranya serak karena frustrasi.
Arkan langsung berjalan cepat menghampiri Anastasia dengan pandangan mata yang campur aduk antara amarah dan harapan palsu.
Anastasia menghentikan langkahnya tepat di depan Arkan, dia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap mantan tunangannya itu dengan tatapan menjijikan, bisa-bisa pemilik tubuh aslinya ini menyukai pria bodoh seperti Arkan.
"Bagaimana fasilitas kamar tamu di kediaman suamiku? Cukup nyaman untuk seorang tahanan politik?" tanya Anastasia, nadanya terdengar sangat meremehkan.
Mendengar nada bicara Anastasia yang begitu dingin, harapan Arkan bahwa wanita itu datang untuk melepaskannya langsung pupus seketika, rahangnya kembali mengetat.
"Kamu benar-benar keterlaluan, Anastasia! Apa maumu sebenarnya, hah? Sengaja memfitnahku di depan Alessandro, lalu sekarang datang ke sini untuk menertawakan ku?!" bentak Arkan, mencoba mengintimidasi Anastasia dengan langkah majunya.
Namun, Anastasia sama sekali tidak mundur satu senti pun, justru dia maju satu langkah, menatap tepat ke manik mata Arkan dengan kilatan yang sangat mengerikan.
"Menertawakan mu? Ah, itu terlalu murah, Arkan," ucap Anastasia dengan kekehan sinis yang terdengar sangat dingin di keheningan malam.
"Aku ke sini hanya ingin melihat bagaimana rupa seorang Pangeran Mahkota Kekaisaran yang agung ketika dia menyadari bahwa otaknya ternyata tidak lebih besar dari sebutir gandum," lanjut Anastasia, tersenyum miring.
Wajah Arkan memerah padam mendengar hinaan yang begitu terang-terangan itu, dia mengangkat tangan kanannya, hendak mencengkeram bahu Anastasia karena terlanjur emosi.
"Jaga bicaramu, Anastasia! Aku ini calon Kaisar-"
PLAKK
PLAKK
Sebelum tangan Arkan sempat menyentuh jubahnya, tangan Anastasia sudah bergerak lebih cepat.
Dua tamparan keras mendarat di pipi kiri dan kanan Arkan.
Arkan tertegun, kepalanya terenggut ke samping, dia memegangi pipinya yang terasa panas dan berdenyut, menatap Anastasia dengan mata melotot tidak percaya.
Dua ksatria pribadi Arkan yang duduk di sudut ruangan bahkan sampai tersedak saking terkejutnya melihat pangeran mereka ditampar oleh seorang wanita.
"Kamu!? Berani-beraninya kamu menamparku Anatasia?!" desis Arkan, suaranya bergetar karena murka yang luar biasa.
Anastasia mengibaskan telapak tangannya pelan, seolah-olah baru saja menyentuh sesuatu yang sangat kotor.
"Itu untuk semua drama menjijikkan yang kamu lakukan bersama Elena di ibu kota dulu, Arkan," ucap Anastasia, wajahnya kini benar-benar datar tanpa emosi, memancarkan aura pemimpin yang sangat kuat.
"Kamu pikir aku ini Anastasia yang dulu? Yang akan menangis saat kamu mencampakkan ku demi anak haram itu? Yang akan bertekuk lutut hanya karena kamu memberikan kata-kata manis tentang cinta palsu mu yang busuk itu?" tanya Anastasia, nadanya semakin merendah namun terasa sangat menekan.
Arkan melangkah mundur, rasa perih di pipinya mendadak kalah oleh rasa ngeri yang perlahan menjalar di punggungnya saat melihat tatapan mata Anastasia.
Gadis di depannya ini benar-benar terasa asing, tidak ada lagi tatapan cinta seperti Anastasia dulu.
"K-kamu bukan Anastasia. Anastasia tidak mungkin selicik dan sekejam ini," gumam Arkan, menggelengkan kepalanya dengan tubuh yang sedikit gemetar.
Anastasia melangkah maju, memaksa Arkan untuk terus mundur hingga punggung pria itu membentur tiang ranjang besar di belakangnya, memajukan wajahnya, berbisik tepat di depan wajah Arkan yang kini sudah dipenuhi keringat dingin.
"Aku adalah Anastasia Magnus sekarang, Arkan, dan di wilayah ini, aturan mainnya ditentukan olehku dan suamiku, bukan oleh ayahmu yang sebentar lagi akan turun tahta itu," bisik Anastasia dengan senyuman yang sangat mematikan.
"Peta pertahanan yang kamu incar itu? Bahkan jika aku meletakkannya di depan matamu sekarang, kamu tidak akan pernah bisa membawanya keluar dari kastil ini hidup-hidup," lanjut Anastasia, menepuk-nepuk pipi Arkan yang ditamparnya tadi dengan ujung jarinya secara meremehkan.
Glek
Arkan menelan ludahnya dengan kasar, tenggorokannya terasa sangat kering, dia benar-benar merasa tidak berdaya di bawah dominasi mantan tunangannya sendiri.
"Lalu apa yang akan kalian lakukan padaku? Ayahku pasti akan menghancurkan Magnus jika aku tidak kembali!" ucap Arkan, mengancam, mencoba mengeluarkan kartu terakhirnya meskipun suaranya terdengar gemetar.
Anastasia menarik kembali tubuhnya, lalu tertawa renyah seolah baru saja mendengar lelucon paling lucu di dunia.