Evita Desniati adalah seorang wanita yang sudah menikah selama 6 tahun lamanya dengan Xander Wiryawan. Kehidupan rumah tangga mereka mendadak hancur saat Evita memergoki Xander tengah bermesraan dengan seorang wanita bernama Viola Sanustika di atas ranjang yang biasa ia dan Xander gunakan! Evita menjadi trauma dengan ranjang hingga seorang pria asing dari Tiongkok bernama Ma Yong Hua muncul dan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyaris Saja
Suasana di koridor depan ruang pemulihan Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Internasional Santa Carolus mendadak membeku dalam ketegangan yang mematikan. Udara di sekitar Pak Santoso dan Bu Yekti terasa begitu berat, seolah dipenuhi oleh racun kebencian yang ditebarkan oleh wanita berkedok perawat palsu di hadapan mereka.
Viola Sanustika berdiri tegak dengan mata melotot liar di balik masker medis putihnya. Seringai sadis yang terukir di bibirnya perlahan berubah menjadi seringai penuh kemenangan yang mengerikan. Tanpa membuang waktu sedetik pun, tangan kanannya bergerak secepat kilat merogoh saku jas perawat yang ia kenakan.
Syuuung!
Sebuah jarum suntik medis berukuran besar yang sudah terisi cairan kimia pekat berwarna keunguan berkilat terpantul di bawah lampu sorot koridor rumah sakit. Dengan gerakan membabi buta, Viola mengangkat jarum suntik beracun itu tinggi-tinggi, bersiap menghujamkannya langsung ke arah leher Pak Santoso yang berdiri paling dekat darinya!
"Mati saja kau bersama keluarga sialanmu, Pak tua!" desis Viola buas, mengayunkan jarum suntik maut tersebut dengan penuh tenaga.
Bu Yekti yang melihat pemandangan mengerikan itu membelalakkan matanya lebar-lebar, menjerit histeris sejadi-jadinya.
"Awas, Pak! Suamikuuu!" teriak Bu Yekti histeris, mencoba mendorong tubuh suaminya, namun jarak yang terlalu dekat membuat mereka tak sempat menghindar.
Pak Santoso terperanjat kaget, membeku di tempat saat melihat ujung jarum suntik beracun itu meluncur cepat ke arah lehernya. Kematian berada hanya dalam hitungan detik!
Namun, takdir berkata lain.
Tepat sepersekian detik sebelum jarum beracun itu merobek kulit Pak Santoso, sebuah bentakan keras menggelegar memecah keheningan koridor rumah sakit.
"Keparat kau, wanita sialan! Hentikan tangan kotormu!"
Brak!
Sosok Ma Yong Hua muncul dari tikungan koridor bersama sekretaris setianya, Feng Zhi, dengan kecepatan kilat. Pria Tionghoa berdarah dingin itu melompat menerjang maju, menepis tangan Viola dengan tendangan samping yang sangat kuat dan presisi.
Prang!
Jarum suntik di tangan Viola terlempar jauh ke udara, membentur lantai keramik rumah sakit dan pecah berkeping-keping, menumpahkan cairan beracunnya ke permukaan lantai hingga mendesis mengeluarkan buih kecil.
****
Viola tersentak kaget bukan kepalang. Tendangan telak itu membuat tangannya mati rasa dan tubuhnya terhuyung mundur beberapa langkah hingga hampir terjatuh. Ia mendongakkan kepalanya, mendapati sosok Ma Yong Hua berdiri tegak dengan mata menyala penuh amarah yang siap melahapnya hidup-hidup.
"T-Tuan Ma...?" cicit Viola tertahan, napasnya tercekat hebat melihat kehadiran pria yang paling ia takuti di dunia ini muncul di saat yang paling tidak tepat.
"Kau benar-benar sudah melampaui batas kewarasan, Viola Sanustika!" bentak Ma Yong Hua dengan suara baritonnya yang menggelegar penuh tekanan mutlak, membuat seluruh dinding koridor rumah sakit bergetar. "Feng Zhi, tangkap wanita iblis itu! Jangan biarkan dia melangkah keluar dari tempat ini hidup-hidup!"
Tanpa menunggu komando dua kali, Feng Zhi bergerak secepat kilat menerjang maju, merentangkan tangan besinya untuk mencengkeram kedua bahu Viola dengan cengkeraman besi yang tidak memberikan ruang untuk melawan.
"Lepaskan aku! Lepaskan tangan kotor kalian, anjing-anjing pengusaha sialan!" teriak Viola histeris, meronta-ronta dengan sisa tenaga brutal yang tersisa di dalam tubuhnya.
Meskipun dicengkeram erat oleh Feng Zhi, jiwa psikopat Viola membuatnya menggunakan cara-cara yang di luar nalar. Dengan menggunakan tumit sepatunya, Viola dengan sengaja menginjak sekuat tenaga sepatu pantofel Feng Zhi, lalu menggigit lengan tangan sang sekretaris hingga tembus melapis kain jasnya.
****
"Argh! Sialan, wanita gila ini menggigit!" geram Feng Zhi kesakitan, terpaksa melonggarkan sedikit cengkeramannya karena serangan mendadak tersebut.
Memanfaatkan celah sepersekian detik itu, Viola langsung memutar tubuhnya dengan kasar. Ia merobek jas perawat yang ia kenakan hingga tercabik lepas, lalu dengan gerakan nekat yang sangat dramatis...
Pluk!
Viola dengan sengaja menendang lepas kedua alas kaki rumah sakit yang ia kenakan, berlari terbirit-birit dengan kaki telanjang menelusuri koridor rumah sakit menuju pintu tangga darurat darurat evakuasi lantai bawah.
"Tangkap dia, Feng Zhi! Jangan sampai lolos!" perintah Ma Yong Hua dengan suara menggelegar murka.
Feng Zhi yang baru saja melepaskan gigitan di lengannya segera berlari mengejar, namun kelincahan Viola yang berlari bagaikan orang kesurupan membuatnya berhasil melompat turun menuruni anak tangga darurat sebelum regu pengawal keamanan rumah sakit sempat menutup akses pintu bawah.
Sementara itu di ruang tunggu, suasana berubah menjadi sangat dramatis. Pak Santoso dan Bu Yekti masih berdiri terpaku dengan tubuh gemetar hebat akibat nyaris kehilangan nyawa di ujung jarum suntik beracun beberapa detik lalu. Bu Yekti langsung memeluk suaminya erat-erat, menangis tersedu-sedu meluapkan rasa syok yang luar biasa.
"Ya Allah... Ya Allah, Pak... kita hampir mati dibunuh oleh wanita iblis itu..." tangis Bu Yekti sesenggukan di pelukan suaminya.
Ma Yong Hua dengan cepat melangkah mendekati kedua orang tua Evita tersebut. Wajah sang taipan yang tadinya beringas kini melembut secara drastis, memancarkan rasa hormat dan perhatian yang mendalam. Ia membungkuk sedikit, menatap kedua orang tua wanita yang dilindunginya dengan penuh penyesalan.
****
"Maafkan saya, Om, Tante..." ucap Ma Yong Hua dengan nada suara yang sangat tulus dan bergetar halus. "Saya terlambat datang... Sekiranya saya mengerahkan pengawal lebih cepat, kejadian mengerikan ini tidak akan pernah menimpa kalian berdua."
Pak Santoso menatap Ma Yong Hua, lalu menggelengkan kepalanya perlahan sambil menarik napas panjang untuk menenangkan degup jantungnya.
"Tidak apa-apa, Nak Yong Hua... Terima kasih banyak... Kamu sudah menyelamatkan nyawa kami berdua hari ini," ucap Pak Santoso terbata-bata, menepuk bahu Ma Yong Hua penuh rasa terima kasih. "Bagaimana dengan Evita? Apakah putri kami baik-baik saja di dalam?"
Belum sempat Ma Yong Hua menjawab pertanyaan sang ayah, pintu ruang pemulihan intensif di belakang mereka perlahan terbuka. Seorang dokter spesialis bedah senior melangkah keluar dari ruangan sambil melepas masker bedahnya, menyeka keringat di dahinya dengan senyuman tipis di wajahnya.
"Keluarga pasien Evita Desniati?" panggil sang dokter.
Ma Yong Hua dan kedua orang tua Evita langsung bergegas mendekati sang dokter secara bersamaan.
"Saya ayahnya, Dok! Bagaimana kondisi anak saya?!" tanya Pak Santoso tidak sabar.
Sang dokter mengangguk menenangkan. "Syukurlah, operasi darurat dan penanganan luka benturannya berjalan dengan sangat sukses. Pasien sudah melewati masa kritisnya. Benturan di kepala dan sikunya memang cukup parah, namun struktur tulangnya tidak mengalami patah yang serius. Saat ini, pasien sudah mulai siuman dan kesadarannya perlahan pulih sepenuhnya. Kalian bisa masuk untuk menjenguknya satu persatu."
Mendengar kabar baik tersebut, beban berat yang menghimpit dada mereka seolah terangkat seketika. Bu Yekti kembali menangis, namun kali ini adalah air mata kelegaan yang luar biasa.