NovelToon NovelToon
Putri Mafia

Putri Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Edina Gonçalves

Fernando Garcia Sanchez punya segalanya: kerajaan bisnis teknologi yang disegani, dan sebuah organisasi kriminal yang tumbuh jauh dari mata dunia. Yang tak ia punya hanyalah seseorang yang mencintainya tanpa peduli nama keluarganya.

Maka suatu malam, sang Don menyamar sebagai bartender di klub malamnya sendiri. Di tengah hujan deras, ia bahkan tak sanggup membuka sebuah payung, dan seorang gadis asing menyeberangi jalan hanya untuk menolongnya.

Carolina Gomes Santos, gadis Brasil yang merantau ke Madrid, tak menanyakan harta, pekerjaan, atau nama belakangnya. Ia hanya mengeringkan wajah pria itu dengan handuk kecil, lalu tersenyum.

Sejak malam itu, Fernando tak lagi bisa menyangkal bahwa ia telah jatuh. Namun pria yang ia kenal sebagai "Jorge" menyimpan kebohongan yang cepat atau lambat akan meledak. Dan Carolina sendiri, tanpa ia sadari, membawa rahasia yang jauh lebih besar dari kebohongan mana pun: sebuah masa lalu yang sengaja dihapus, dan mimpi-mimpi tentang ibunya yang terus memperingatkan bahwa hidupnya akan berubah drastis.

Ketika kebenaran terungkap satu per satu, cinta mereka diuji oleh pengkhianatan, musuh lama yang tak pernah berhenti mengintai, dan keputusan sulit antara kedamaian dan kekacauan.

Bisakah seorang pria yang terbiasa mengendalikan segalanya mempertahankan satu-satunya hal yang tak ingin ia kehilangan?

Dan apa jadinya jika wanita yang ia pilih ternyata bukan sekadar gadis kafe biasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edina Gonçalves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Semakin Mengenalnya

Aku memandangi Miguel beberapa saat.

Ia mengenal naluriku dan tahu aku tak suka informasi yang tidak lengkap, terutama bila menyangkut seseorang yang mungkin menjadi bagian hidupku, dan karenanya juga bagian dari organisasi.

"Aku mau kamu cari tahu semuanya," kataku. "Berapa pun waktu yang dibutuhkan, asal dikerjakan dengan benar."

Miguel mengangguk, tetapi tidak beranjak.

"Kamu benar-benar sudah memutuskan dia akan jadi istrimu?"

Aku kembali menatap dokumen-dokumen itu.

"Bukan hanya istriku."

Ia langsung paham.

"Nyonya Don."

"Ya."

Miguel mengembuskan napas pelan.

"Kamu baru mengenal wanita ini sebentar."

"Aku tahu."

"Dan kamu sudah mengambil keputusan sebesar itu."

"Aku belum pernah mengambil keputusan seperti ini karena belum pernah bertemu wanita seperti Carolina."

Miguel mengamatiku beberapa detik, tetapi tak membantah. Ia cukup mengenal wataku untuk tahu bahwa begitu aku sampai pada suatu kesimpulan, aku jarang berubah pikiran.

"Aku akan terus menyelidiki," katanya sebelum keluar.

Begitu sendirian, aku kembali bekerja. Ada rapat penting, dokumen yang harus ditandatangani, dan urusan perusahaan yang menuntut keputusan cepat, tetapi konsentrasiku tidak utuh sepanjang sore.

Carolina terus kembali ke pikiranku dengan frekuensi yang mulai mengusikku.

Menjelang akhir jam kerja, aku mencari cara untuk pulang lebih awal.

Aku ingin melihatnya.

Tak ada alasan yang benar-benar perlu. Aku bisa menunggu beberapa hari, bertemu dengannya lagi seolah kebetulan, dan terus mengamati rutinitasnya tanpa menimbulkan curiga. Tapi sebelum sadar, aku sudah dalam perjalanan ke kafe.

Aku sudah mencari tahu jam ia menyelesaikan shift dan tahu ia biasa pulang berjalan kaki. Sesampainya di sana, aku menunggu di luar, berpakaian sederhana sebagai Jorge.

Aku juga membawa bungkusan berisi makanan yang kupilih sendiri.

Ketika Carolina akhirnya keluar, pandangannya menemukan mataku hampir seketika.

Senyum yang terbit di wajahnya mengejutkanku lebih dari seharusnya.

"Jorge? Kamu ngapain di sini?"

Aku mendekat dan mengulurkan bungkusan itu.

"Aku datang untuk berterima kasih atas bantuanmu malam itu. Kupikir makan malam cara yang lebih baik daripada sekadar bilang terima kasih."

Ia menerima bungkusan itu dan membukanya dengan rasa ingin tahu.

Di dalamnya ada tortilla de patatas, croquetas de jamón, beberapa empanada, dan seporsi churros dengan cokelat.

"Kamu bawa semua ini?"

"Kupikir kamu mungkin suka."

Ia tersenyum.

"Aku suka sekali."

"Kalau begitu pilihanku nggak terlalu buruk."

Kami mulai berjalan menuju rumahnya.

Anak buahku mengikuti dari jauh secara diam-diam, menjaga jarak agar tidak mengganggu. Aku tak ingin Carolina tahu ia sedang dilindungi. Setidaknya belum sekarang.

Sepanjang jalan aku bertanya tentang kuliahnya, pekerjaannya, dan rencananya. Carolina bicara tentang Teknologi Informasi dengan keyakinan yang menarik perhatianku. Ia tidak mengulang apa yang dipelajarinya hanya agar tampak pintar; ia benar-benar memahami bidangnya dan menunjukkan minat yang tulus.

Ia juga bercerita tentang Catarina dan hidup yang mereka bangun di Madrid setelah meninggalkan Brasil. Ia mengisahkan beberapa kenangan masa kecil, menyebut Antônio, dan membicarakan ibunya dengan kelembutan yang menegaskan betapa kehilangan itu masih menjadi bagian dirinya.

Aku mendengarkan semuanya.

Semakin banyak Carolina bicara, semakin sulit kubayangkan wanita ini punya hubungan dengan dunia tempatku hidup. Ia seolah berasal dari kenyataan yang sama sekali berbeda, tempat kekhawatiran terbesar adalah kuliah, pekerjaan, tagihan, dan rencana masa depan.

Sesampainya di rumahnya, ia mengejutkanku dengan sebuah undangan.

"Mau masuk?"

Aku menatapnya beberapa saat sebelum menerima.

"Kalau kamu nggak keberatan."

"Nggak keberatan."

Begitu masuk, aku mengamati ruangan dengan hati-hati. Rumahnya kecil, tetapi rapi dan nyaman. Perabotnya sederhana, dindingnya nyaris tanpa hiasan, dan beberapa foto menempati tempat istimewa.

Tak ada kemewahan, tetapi semuanya memperlihatkan kepedulian.

Carolina meletakkan makanan di meja dan mulai menata piring.

"Duduk. Aku ambilkan alat makan."

Aku memperhatikannya bergerak di dapur, benar-benar santai.

Ia bukan wanita yang sibuk mengesankan orang.

Ia hanya Carolina.

Kami duduk di meja dan mulai makan. Obrolan berlanjut jauh lebih lama dari dugaanku. Aku bertanya tentang studinya, hal-hal yang ia sukai, tempat-tempat yang ingin ia kunjungi, dan rencananya setelah lulus.

Pada satu titik, aku mulai membayangkan seperti apa jika ia bekerja di Vértice Technologies.

Ia cerdas, menguasai teknologi, dan punya kemampuan belajar yang bisa sangat berguna bagi perusahaan.

Aku bisa menawarinya kesempatan tanpa membuka identitas asliku.

Mungkin itu cara membantunya tanpa mencampuri pilihannya secara langsung.

Setelah hampir dua jam, aku sadar waktu berlalu terlalu cepat.

"Aku harus pergi," kataku sambil melihat jam. "Besok aku harus bangun pagi."

Carolina mengantarku sampai pintu.

"Terima kasih makanannya."

"Aku yang berterima kasih atas kebersamaanmu."

Aku mendekat dan mengecup pipinya sebelum menjauh.

Gerakan itu sederhana, tetapi tubuhku bereaksi seketika. Jantungku berdegup kencang dan, selama beberapa detik, aku tak mengerti mengapa kedekatan itu bisa memicu reaksi yang tak pernah dibangkitkan wanita lain.

Carolina juga tampak terkejut, meski cepat menyembunyikannya.

"Selamat malam, Jorge."

"Selamat malam, Carolina."

Aku berjalan ke mobil tanpa menoleh.

Setelah masuk, aku diam beberapa detik, mencoba menata pikiranku sendiri.

Aku terbiasa mengendalikan segala sesuatu di sekelilingku. Aku tahu persis bagaimana menghadapi musuh, memimpin negosiasi sulit, dan mengambil keputusan yang bisa mempertaruhkan nyawa. Tak satu pun membuatku siap menghadapi rasa kehilangan kendali hanya karena seorang wanita menyentuhkan wajahnya ke wajahku saat berpisah.

Aku masih belum bisa menjelaskan apa yang terjadi padaku.

Tetapi satu hal makin jelas.

Carolina bukan pilihan yang nyaman untuk pernikahan politik, dan bukan wanita yang bisa dikenalkan keluargaku demi memperkuat aliansi. Ia tak butuh uangku, tak tahu kekuasaanku, dan tak menunjukkan minat sedikit pun pada apa yang kumiliki.

Aku menginginkannya apa adanya.

Dan semakin lama aku berada di dekatnya, semakin mantap keputusanku.

Carolina akan menjadi wanita di sisiku.

Dia akan menjadi istriku.

Dan, jika semuanya berjalan seperti harapanku, ia juga akan menjadi Nyonya Don di organisasi.

Namun ada satu hal yang harus diselesaikan sebelum langkah apa pun yang bersifat final.

Aku harus tahu siapa ayahnya.

Ketiadaan pria itu tidak terasa wajar. Semua catatan tentang masa kecil Carolina jelas sampai titik tertentu, tetapi begitu menyangkut asal-usul dari pihak ayah, muncul kekosongan yang bahkan tak sanggup diisi Miguel.

Dan aku terlalu paham bahayanya informasi yang sengaja dihapus.

Pengalaman mengajarkanku bahwa rahasia jarang menghilang tanpa sebab.

Untuk saat ini, bagaimanapun, aku akan tetap menyembunyikan identitasku.

Aku masih ingin mengenal Carolina tanpa namaku ikut campur. Aku ingin tahu siapa dia saat tak seorang pun berusaha menyenangkan pria di balik nama Garcia Sanchez.

Aku ingin tahu apakah ia akan memilih tetap bersamaku saat tahu kebenarannya.

Karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak sekadar memikirkan apa yang terbaik bagi organisasi.

Aku memikirkan apa yang kuinginkan untuk diriku sendiri.

Dan aku menginginkan Carolina.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!