NovelToon NovelToon
Asisten Rahasia Penguasa Sekolah

Asisten Rahasia Penguasa Sekolah

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Ketos
Popularitas:856
Nilai: 5
Nama Author: nalana lalasya

• Alesya Violetta Monica
atau yang lebih akrab dipanggil (Eca) sebenarnya gadis yang cerdas, manis, dan punya kepribadian yang asyik. Namun, karena trauma menjadi korban perundungan (bullying) akibat penampilannya yang terlalu mencolok di sekolah lamanya, ia pindah ke SMA Taruna Bangsa dengan misi baru: menjadi gadis cupu yang tidak kasat mata agar bisa lulus sekolah dengan damai.

• Angkasa Argantara Mahendra (ANGKASA)
Sesuai namanya, Angkasa adalah penguasa tertinggi di hierarki SMA Taruna Bangsa. Selain karena wajahnya yang tampan di atas rata-rata, keluarganya adalah donatur terbesar sekaligus pemilik yayasan sekolah. Di balik sifatnya yang ketus, dingin, dan tidak tersentuh, Angkasa adalah tipe cowok yang sangat perfeksionis dan benci jika rutinitasnya diusik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nalana lalasya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Kejaran Motor Sport dan Tatapan Membakar

Tawaran dari Reno Aliansyah sore itu bener-bener kayak buah simalakama yang mendadak menggelinding ke kaki Eca. Langit sore di atas gerbang SMA Taruna Bangsa udah mulai berubah warna jadi oranye keunguan yang temaram. Angin dingin berembus pelan, menerbangkan beberapa helai rambut kuncir duanya yang agak berantakan. Eca masih berdiri mematung di pinggir trotoar, memandangi kaca mobil sedan hitam Reno yang terbuka setengah.

"Gimana, Alesya? Nggak usah takut, gue cuma mau nganterin lo pulang dengan aman sekaligus ngobrol santai tanpa ada gangguan dari si Ketua yang posesif itu," ucap Reno lagi, suaranya terdengar begitu lembut, berbanding terbalik sama suara Angkasa yang selalu meledak-ledak penuh perintah.

Eca melirik ke arah gedung sekolah di belakangnya yang mulai sepi. Pikirannya berputar hebat. Kalau dia menolak, dia harus jalan kaki ke halte depan yang jaraknya lumayan jauh dalam kondisi tubuh yang udah lemas luar biasa akibat lembur semalam dan kerja rodi seharian. Lagian, Reno janji mau bantu ngambil kartu pelajar lamanya kan?

Bodo amat deh, yang penting gue bisa lepas dari perbudakan Angkasa lebih cepet, batin Eca nekat.

"Oke, Kak. Gue nebeng sampai halte depan aja ya," jawab Eca akhirnya. Dia melangkah maju, membuka pintu mobil sedan hitam itu, lalu duduk di kursi penumpang bagian depan di sebelah Reno.

Mobil perlahan melaju membelah jalanan sore kota yang mulai padat. Di dalam mobil, suasananya tenang banget, ditemani alunan musik instrumen klasik yang bikin rileks. Reno menyetir dengan santai, sesekali melirik ke arah Eca yang masih kelihatan canggung sambil memeluk tas ransel abu-abunya di pangkuan.

"Lo tahu, Alesya... Angkasa itu sebenernya nggak pernah sepeduli ini sama urusan murid lain," buka Reno pelan sambil memutar setir di tikungan jalan. "Makanya waktu dia bela-belain nyembunyikin kartu pelajar lo dan jadiin lo asisten pribadi, gue langsung tahu kalau lo itu spesial buat dia. Dia cuma gengsi aja buat akuin kalau dia tertarik sama lo."

Wajah Eca mendadak terasa menghangat mendengar ucapan Reno. Dia membuang mukanya ke arah jendela samping, membetulkan letak kacamatanya dengan gugup. "Spesial apanya, Kak? Yang ada gue tersiksa jadi babu dia. Dia itu cowok paling menyebalkan yang pernah gue temui seumur hidup."

Reno terkekeh pelan. "Tapi kalau lo butuh bantuan gue buat ngambil kartu itu balik dari dompetnya, gue punya rencana rahasia yang—"

VROOOOOOOMMMMMM!!!

Kalimat Reno mendadak terputus saat sebuah suara raungan mesin motor sport berkapasitas besar berbunyi super kencang dari arah belakang mobil. Suara knalpot racing-nya bergaung nyaring, membelah keheningan jalanan. Eca otomatis menengok ke spion samping mobil.

Jantung Eca langsung mencelos seketika. Matanya membelalak lebar di balik kacamata bulat tebalnya.

Dari arah belakang, sebuah motor sport berwarna hitam pekat edisi terbatas melaju dengan kecepatan tinggi, meliuk-liuk lincah di antara barisan mobil yang macet. Pengendaranya menggunakan jaket kulit hitam tebal dengan helm full-face berwarna senada. Meskipun wajahnya ketutup rapat, Eca tahu betul siapa pemilik motor sport mahal dan postur tubuh jangkung yang sangat familiar itu.

Dialah Angkasa Argantara Mahendra!

Brak! Motor sport Angkasa mendadak memotong jalur mobil Reno secara ekstrem di depan lampu merah yang baru saja berubah warna jadi merah. Angkasa mengerem mendadak hingga ban belakang motornya sedikit terangkat, lalu dia memarkirkan motor gedenya melintang tepat di depan moncong mobil sedan Reno, memblokir jalan sepenuhnya.

"Astaga! Cowok gila itu ngapain sih?!" pekik Eca panik setengah mati, wajahnya mendadak pucat pasi melihat kenekatan Angkasa di tengah jalan raya.

Reno langsung menginjak rem dalam-dalam, membuat tubuh Eca sempat terdorong ke depan. Wajah Reno yang tadinya tenang kini tampak mengeras, matanya menatap tajam ke arah motor Angkasa.

Di depan sana, Angkasa menurunkan standar motornya dengan satu sentakan kasar. Dia melepas helm full-face-nya dengan gerakan lambat yang kelihatan keren banget tapi sekaligus memancarkan aura membunuh yang sangat pekat. Rambut hitamnya yang sedikit berantakan karena angin sore membuat ketampanannya kelihatan berkali-kali lipat lebih liar dari biasanya. Sepasang mata elangnya berkilat penuh amarah yang menyala-nyala, menatap tajam menembus kaca depan mobil Reno, tepat ke arah posisi duduk Eca.

Angkasa berjalan cepat mendekati pintu penumpang tempat Eca duduk. Dia mengetuk kaca mobil dengan keras menggunakan buku jarinya beberapa kali.

TOK! TOK! TOK!

"Turun, Alesya!" perintah Angkasa dari luar, suaranya yang berat dan penuh penekanan samar-samar terdengar menembus kaca mobil yang tebal.

Eca menelan ludah dengan susah payah, badannya gemetaran. Reno menahan lengan Eca pelan. "Nggak usah turun, Ca. Biar gue yang urus cwo arogan ini," ucap Reno serius.

Tapi Eca tahu, kalau dia nggak turun, Angkasa nggak bakal segan-segan buat mecahin kaca mobil ini atau ngelakuin hal nekat yang lebih parah di tengah jalan raya. Dengan tangan gemetar, Eca membuka pintu mobil dan melangkah keluar ke trotoar jalan.

Begitu kaki Eca menapak di aspal, Angkasa langsung menyambar pergelangan tangan Eca dengan satu gerakan cepat, lalu menarik tubuh mungil cewek itu ke dalam perlindungannya. Angkasa memosisikan tubuh jangkungnya di depan Eca, menghalangi pandangan Reno yang kini juga ikut keluar dari mobil sedannya.

"Gue udah peringatin lo berkali-kali hari ini, Reno," desis Angkasa dengan suara yang sangat rendah, dingin, tapi penuh dengan nada mengancam yang bikin bulu kuduk merinding. "Jangan pernah berani bawa pergi milik gue tanpa izin dari gue."

Reno menatap Angkasa dengan senyuman sinis. "Milik lo? Sejak kapan Alesya jadi hak milik lo, Angkasa? Lo cuma nahan kartu pelajarnya pake cara licik, itu nggak bikin dia jadi punya lo."

Angkasa tidak membalas ucapan Reno. Seringai licik terukir di bibir tipisnya. Dia justru membalikkan tubuhnya menghadap Eca, mengabaikan Reno sepenuhnya. Angkasa maju satu langkah besar, mengikis jarak di antara mereka hingga tubuh Eca terpaksa mundur dan punggungnya membentur tiang lampu jalan di pinggir trotoar.

Angkasa meletakkan satu tangan kekarnya di tiang lampu tepat di sebelah kepala Eca, mengurung pergerakan cewek itu sepenuhnya di bawah temaram lampu jalan yang baru saja menyala otomatis. Wajah tampan Angkasa menunduk dalam, mendekat hingga jarak di antara hidung mereka berdua bener-bener tipis banget. Eca bahkan bisa mencium aroma parfum maskulin maskulin bercampur wangi angin malam dari tubuh Angkasa yang begitu dominan.

"Lo berani membangkang dari gue, huh?" bisik Angkasa tepat di depan wajah Eca. Suaranya terdengar berat, serak, tapi entah kenapa terdengar begitu seksi di telinga Eca. Tatapan mata elangnya tidak lagi memancarkan amarah dingin, melainkan sebuah tatapan posesif yang sangat kuat dan dalam, seolah-olah dia tidak sudi membiarkan Eca dilirik oleh cowok lain.

Jantung Eca mendadak berdegup brutal secara nggak ngotak. Saking dekatnya jarak mereka, Eca bisa melihat dengan jelas bulu mata lentik Angkasa dan pantulan wajah cupunya di dalam bola mata elang cowok itu. Rona merah padam langsung meledak hebat di kedua pipi Eca, menjalar sampai ke telinganya. Dia bener-bener salting tingkat dewa sampai bingung harus menaruh tangannya di mana.

"G-gue... gue cuma mau pulang cepat... tangan lo lepasin dulu..." cicit Eca dengan suara yang super gugup, matanya bergerak panik ke kiri dan ke kanan, nggak berani menatap langsung mata Angkasa yang menghanyutkan itu.

Melihat reaksi Eca yang gugup setengah mati dengan wajah yang memerah padam mirip tomat matang, kilatan amarah di mata Angkasa mendadak hilang sepenuhnya. Sudut bibir tipis cowok itu terangkat sedikit, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat menawan dan bikin meleleh siapa saja yang melihatnya.

Jari tangan Angkasa yang hangat tiba-tiba bergerak naik, menyentuh lembut dagu Eca, lalu menaikkan wajah cewek itu agar mau menatap matanya lagi. Sentuhan hangat di dagunya sukses bikin seluruh tubuh Eca merinding kaku seperti kesetrum listrik tegangan tinggi.

"Mulai hari ini, rumah lo, jalan pulang lo, dan ke mana pun kaki lo melangkah... itu semua harus lewat persetujuan gue, Asisten," bisik Angkasa pelan namun penuh dengan penekanan yang mutlak di dekat telinga Eca, membuat hembusan napas hangatnya menyapu permukaan kulit leher Eca yang sensitif. Eca bener-bener mau pingsan rasanya saking salting-nya digituin di tempat umum.

Angkasa menarik kembali tubuhnya dengan lambat, lalu melepas jaket kulit hitam tebal miliknya. Dengan gerakan yang sangat lembut tapi protektif, dia menyampirkan jaket kulit besar yang masih hangat oleh suhu tubuhnya itu ke atas bahu kecil Eca, membungkus tubuh mungil cewek itu dari terpaan angin malam. Jaket itu terlalu besar buat Eca, membuat penampilannya kelihatan sangat imut karena tenggelam di dalam pakaian Angkasa.

"Pakai helm ini," perintah Angkasa sambil memasangkan helm full-face hitam miliknya ke kepala Eca dengan hati-hati, lalu mengunci talinya di bawah dagu Eca dengan gerakan yang sangat telaten.

Angkasa menuntun Eca menuju motor sport-nya, membantu cewek itu naik ke jok belakang yang tinggi. Begitu Eca sudah duduk canggung di belakangnya, Angkasa ikut naik ke jok depan, menghidupkan mesin motornya yang menderu kencang, lalu meraih kedua tangan Eca dari belakang dan melingkarkannya secara paksa di sekitar pinggangnya yang ramping dan kokoh.

"Pegangan yang erat kalau lo nggak mau jatuh, Alesya," ucap Angkasa dari balik bahunya.

Eca yang tangannya dipaksa meluk pinggang Angkasa cuma bisa menyembunyikan wajahnya yang sudah merah padam sempurna di punggung tegap cowok itu, meresapi kehangatan jaket kulit dan detak jantung Angkasa yang ternyata berdenyut sama kencangnya dengan jantungnya sendiri.

Motor sport hitam itu langsung melesat cepat membelah jalanan malam, meninggalkan Reno yang masih berdiri mematung di pinggir trotoar dengan tatapan mata yang semakin tajam dan penuh teka-teki misterius.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!