NovelToon NovelToon
Cinta Sang Bos Pada Guru Les Anaknya

Cinta Sang Bos Pada Guru Les Anaknya

Status: tamat
Genre:Duda / CEO / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Puja Mardika

Aelsana Jamira, mahasiswi cerdas yang baru lulus kuliah, menerima pekerjaan di Hanggara Group tanpa menyadari bahwa atasannya, Raksa Hanggara, adalah ayah dari Langit, anak yang selama ini ia rawat sebagai pengasuh sekaligus guru lesnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puja Mardika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2

Sana menatap Cantika, lalu mengeluarkan beberapa surat undangan wawancara dari tasnya. Dia menyodorkannya begitu saja, seperti hal yang biasa dialami semua orang.

"Hah? Kamu sudah kirim lamaran dan sudah dibalas? Berarti kamu nggak usah khawatir." Cantika memandangi lembaran itu dengan kaget yang makin besar.

Tujuh perusahaan mengirim undangan: Nusa Jaya, Adinata Teknologi, Mahkota Prima, Tirta Utama, Metro Grup, Lintas Karsa, dan Hanggara Group. Semuanya perusahaan dalam negeri papan atas.

"Aku nggak pernah kirim lamaran apa-apa, Kika. Surat-surat ini datang sendiri beberapa bulan terakhir. Yang paling baru sejak bulan lalu."

Sana menyelipkan rambut ke belakang telinga dengan canggung. Dia tidak sadar bahwa prestasinya di kampus membuatnya jadi incaran banyak perusahaan.

"Mereka yang menghubungi kamu duluan! Wah, Sana, kamu luar biasa. Kamu nggak perlu mikirin kerjaan sama sekali. Peluang kayak gini yang diimpikan banyak orang." Cantika mengembalikan semua surat itu dengan nada iri.

Dia sendiri belum tahu apakah bisa lulus ujian hari ini. Jaraknya dengan Sana terasa jauh sekali.

"Kalau gitu aku tenang. Bel sudah bunyi, ujian mau mulai. Kita lanjut ngobrol nanti, ya."

Sana memasukkan surat-surat itu kembali ke dalam tasnya dan menaruh tasnya di meja pengawas di depan kelas. Setelah itu dia duduk lagi dengan tenang.

Begitu bel berbunyi, pengawas membagikan lembar soal. Isinya persis soal yang hanya bisa keluar di jurusan Hubungan Internasional, termasuk pernyataan ganjil seperti "negara bukanlah manusia".

Ujian hanya terdiri dari dua soal esai, masing-masing bernilai lima puluh poin. Selain soal teori arus utama, ada pertanyaan aneh: kalau tidak ada polisi dunia, lalu siapa yang menjaga ketertiban antarnegara, dan kalau ada, siapa yang mengawasi polisinya?

"Soal macam apa ini?!" Seisi kelas, termasuk Cantika, mengeluh putus asa. Soal kedua jelas jebakan.

Sana justru tersenyum. Menurutnya soal-soal itu tidak sulit. Dia menulis cepat dan menjadi orang pertama yang mengumpulkan lembar jawaban.

Di luar kelas dia melirik jam tangannya. Selain ujian akhir, masih ada satu hal penting yang harus dia selesaikan hari ini.

※※※

Dari kampus, Sana langsung menuju rumah keluarga Hanggara di kawasan Sentul City, Bogor, tanpa singgah ke mana-mana.

Hari ini hari terakhirnya sebagai pengasuh sekaligus tutor Langit Hanggara. Hatinya berat. Tapi kelulusan sudah di depan mata, dan pekerjaan sampingan seperti ini tidak bisa dijalani selamanya.

Dia mengendarai motornya sampai gerbang dan menyapa para penjaga, lalu masuk ke halaman dan memarkir motor. Helm dia lepas dengan cekatan, dan rambut panjangnya jatuh terurai.

"Kak Aelsana! Kak Aelsana, aku di sini!"

Suara anak laki-laki terdengar dari dalam rumah. Tak lama, sosok kecil berwajah mungil berlari keluar sambil melambai. Langit sudah hafal bunyi motor Sana dan langsung berlari menyambutnya.

"Langit anak baik, nggak? PR-nya sudah dikerjakan?" Sana mengangkat bocah lima tahun itu ke dalam gendongannya sambil tersenyum.

"Aku anak baik. Tapi PR hari ini susah banget, aku nggak bisa!"

Langit memeluk leher Sana dan merengek manja. Sebenarnya PR dari sekolah itu mudah dan dia bisa mengerjakannya sendiri. Dia hanya selalu ingin menunggu Sana datang dulu.

"Beneran nggak bisa, atau cuma malas?"

Sana mencubit pipinya pelan. Dia sudah tahu jawabannya. Setelah lebih dari setahun menemani Langit, mana mungkin akal-akalan kecil anak itu luput darinya.

"Ketahuan..." Langit menggaruk kepala dan terkekeh. Dia tahu dia tidak bisa membohongi Kak Aelsana soal apa pun.

"Dasar nakal. Ayo masuk."

Sana menurunkannya, mengangguk kepada Pak Wahyu, kepala rumah tangga keluarga Hanggara yang ikut keluar menyambut, lalu mengikuti Langit masuk.

Langit menggandeng tangan Sana sepanjang jalan menuju ruang belajar kecilnya di lantai dua. Hari ini banyak hal terjadi di sekolah, dan dia ingin menceritakan semuanya.

Melihat Langit sedang ceria, dada Sana terasa sesak. Bagaimana cara mengatakan bahwa hari ini hari terakhirnya? Mulai besok dia harus mencari pekerjaan, dan tidak akan punya banyak waktu untuk menemuinya atau mengajarinya main mata-mata lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!