NovelToon NovelToon
Unit Kosong

Unit Kosong

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Rumahhantu / Iblis
Popularitas:230
Nilai: 5
Nama Author: Storyginal Finger

Cerita bergenre Horor dan Misteri yang mengungkap rahasia kelam pembantaian korban penghuni apartemen oleh penguasa. Meski terinspirasi berdasarkan kisah nyata, tapi termasuk Fiksi karena banyak tambahan yang dimasukkan ke dalam cerita.

SINOPSIS: Bagas bersama timnya pergi dari Jakarta ke Bandung untuk bertemu investor yang akan membiayai project film mereka. Tapi siapa sangka kalau mereka justru dipesankan unit apartemen yang berhantu. Bangunan terbengkalai yang mangkrak karena wabah covid-19.

Meskipun sudah diminta pindah, Jefry yang merupakan leader tim justru menolak. Ia menganggap bahwa ini kesempatan untuk mendapat ide cerita horor dari kisah nyata. Sedangkan Bagas tidak bisa menolak keputusan leadernya itu.

Mereka pun harus menghadapi teror demi teror yang semakin hari, semakin membahayakan. Tapi di balik bahaya tersebut, membuat Jefry semakin bersemangat dan penasaran akhir yang akan mereka lalui ke depan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4: Konflik dan Menginap di Hotel

"Oke, konsep soft opening-nya begini ya," Jefry menepuk-nepuk meja kayu jati itu dengan percaya diri. Nada suaranya terdengar seperti seorang bos yang sedang memberi perintah kepada anak buah.

Jeje hanya bisa mengikuti arahannya dengan tenang "Siap,Kang. Nanti tim saya bantu eksekusinya."

"Oke, good. Lo tunggu arahan dari gua ya," Jefry menimpali cepat. "Kita harus bikin beda. Restoran ini kan bakal jadi ikon. Gua sudah sering kok bikin event kayak gini. Tenang aja," senyum tipisnya lebih mirip pamer ketimbang ramah.

Jeje tetap tersenyum, sopan, tapi karena keseringan, aku bisa merasa kalau sikapnya seperti dibuat-buat. "Baik, Kang. Kita sesuaikan saja ya."

Namun anggota tim Jeje mulai saling pandang.

Ada yang mendesah pelan, mengerling ke temannya. Mereka tetap bekerja, menyapu, menata kursi, mengecek lampu, tapi suasananya berubah.

Senyum yang tadi hangat kini terasa dingin, terutama setiap kali Jefry lewat, bisik-bisik kecil terdengar lirih.

"Ini orang siapa sih sebenernya?" bisik salah satu dari mereka.

"Kayak pemilik tempat aja," balas yang lain, menahan tawa kesal.

Aku berdiri sedikit jauh, memeluk kedua lenganku. Aku hanya mengamati. Ada gelisah, tapi sekarang aku hanya penasaran apa yang akan dilakukan Jefry selanjutnya.

"Gas, tenang aja lah," ujar Hendra tiba-tiba mendekat bersama Shinta, menyadari kegelisahanku. "Ini kan strategi. Biar mereka makin yakin sama kita."

Shinta ikut menimpali, setengah berbisik, "Iya. Jefry itu emang gitu orangnya, tapi hasilnya selalu ada kok."

Aku hanya mengiyakan dengan cepat. Namun hatiku tidak setuju. Ada sesuatu yang terasa salah. Terlalu berlebihan, memaksa, bahkan hal-hal yang seharusnya tidak perlu diakukan Jefry. Menguasai semua peranan, misalnya.

Sementara itu Jefry terus memberi arahan.

"Kursi di situ kurang pas. Pindahin ke dekat kaca. Lighting jangan terlalu terang. Nanti kesannya murahan. Tolong rundown-nya nanti biar asisten gua aja yang atur ya, biar rapi," ucapnya.

Jeje menahan nafas sejenak, "Siap, Kang. Nanti saya bantu koordinasikan."

Belum satu hari kami  di restoran ini, tapi Jefry sudah terlihat seperti penguasa, mengatur semua orang, bahkan keputusan kecil sekalipun.

Semua memang terlihat berjalan normal di permukaan. Tawa, langkah kaki, denting gelas, gesekan perabot, seluruh kegiatan persiapan acara soft opening.

Namun di sela-sela itu, aku merasakan hawa yang berbeda. Seperti ada sesuatu terbangun perlahan, keangkuhan Jefry adalah pemicunya.

Malam merayap pelan, meninggalkan langit Bandung yang temaram. Namun sampai jarum jam menembus angka 11 lewat, pembahasan soal film belum juga terdengar. Obrolan kami masih berputar di rencana pembukaan restoran.

"Jadi nanti yang sambutan dulu siapa? Pak Bos atau Bu Bos nih?" tanya Shinta sambil menatap catatannya.

"Bapak dulu lah, Dek," sahut Jefry mantap. "Biar flow-nya naik pelan-pelan. Kita yang atur." Nada suaranya terdengar seperti seseorang yang sudah hafal medan perang.

Jeje hanya tersenyum kecil, "Siap, Kang. Nanti anak-anak saya bantu koordinasi."

Hendra menguap tanpa dosa. "Waduh, udah jam sebelas aja ya. Besok masih lanjut nggak nih?"

Sully tertawa, "Sudah, sudah. Kalian pasti capek. Hotelnya sudah gua siapkan. Lebih baik istirahat dulu."

Singkat cerita, perjalanan menuju hotel terasa cepat berlalu. Kami diberi mobil operasional, Toyota Fortuner berwarna hitam. Hendra yang menyetir.

Untuk kekayaan, aku tidak bisa menampik kalau Damar dan Sully memang orang kaya. Mobil semahal ini bahkan dipercayakan begitu saja kepada kami. Wajar saja, karena mereka memarkir beberapa mobil supercar di halaman restoran.

Kendaraan harian Sully, mustang berwarna kuning. Sedangkan Damar menggunakan rubicon hitam. Dua mobil yang bisa menunjukkan, bahwa mereka bukan orang sembarangan.

Begitu mobil berhenti di depan lobi, cahaya keemasan menyiram wajah kami dengan hangat. Gedung itu terlihat megah, sangat mewah untuk sekadar tempat singgah semalam.

"Serius nih, kita nginapnya di sini?" gumamku, lebih kepada diriku sendiri tapi terdengar.

"Ini mah nggak lumayan, Gas. Mewah," sahut Jefry sambil cekikikan.

Di meja resepsionis, kami menerima tiga kunci kamar. Jefry menepuk pundak Shinta santai. "Kita satu kamar aja ya, Dek. Biar gampang briefing besok pagi."

Shinta hanya mengangguk. "Siap, Bang."

Sudah bertahun‑tahun ia menjadi asistennya, bukan hal yang membuatku heran jika hubungan mereka bisa sedekat itu. Bukan pasangan, tapi bisa tidur satu kamar.

"Nah, gua enak nih. Kamar sendiri, nggak ada yang ngorok," seloroh Hendra, membuat kami merespon dengan tertawa kecil.

Teringat sesuatu, aku mengeluarkan handphone dari kantong, memotret sudut lobi yang paling terang, lalu mengirimkannya pada Delia.

"Ma, hotelnya bagus. Investor yang ini kelihatannya serius", tulisku.

Tak ada emotikon, hanya kalimat yang terasa ingin meyakinkan. Bukan hanya Delia, mungkin juga diriku sendiri.

Kami berpisah di pintu kamar yang bersebelahan. Aku membuka pintu kamarnya. Rapi, bersih dan wangi.

Semua tampak normal.

Tapi begitu masuk, aku merasakan nafasku tiba‑tiba terasa berat.

Aku berhenti di ambang pintu yang baru saja menutup. Ada keheningan aneh yang menggantung di udara, sunyi yang terasa bukan sekadar sepi biasa.

"Halusinasi, Gas," gumamku pelan. Aku menaruh tas, melepas sepatu, lalu merebahkan diri di atas kasur yang empuk. Lampu kamar aku biarkan tetap menyala sepenuhnya.

Baru saja menikmati suasana, tiba-tiba aku dikejutkan dengan getar layar handphone yang ikut menyala. Delia mengingatkan aku supaya mandi terlebih dahulu sebelum tidur.

Aku pun mengiyakannya.

Meski malas, bisa saja aku berbohong, tapi aku memiliki prinsip untuk tidak pernah bohong lagi pada Delia. Ada kisah mengapa aku berprinsip seperti itu.

Aku punya sejarah panjang mengenai kejujuran, sehingga aku sudah berjanji tidak akan bohong, sekecil apapun itu.

Walau tidak yakin pada awalnya, tapi ternyata aku mandi dengan tanpa masalah apapun. TIdak ada kejadian yang ditakutkan.

Setelah mandi, aku laporan kepada Delia, lalu membaringkan tubuh ke atas ranjang lagi.

Delia melakukan panggilan video, ia berada di ruang tengah, tempat biasa kita makan dan berbincang. Tanpa sengaja, ia memperhatikan tanganku.

"Lho, gelang kamu mana?" tanya Delia serius.

Aku baru menyadari kalau telah melepaskannya sebelum mandi tadi dan lupa memakainya kembali. "Ambil, pakai dulu," tegas Delia.

Ia melanjutkan perkataannya, "Aku kan udah bilang, jangan dilepas."

Menyadari istriku kesal, aku langsung mengambil gelang serabut yang tergeletak di atas meja lampu.

Namun tidak lama kemudian, setelah berbincang beberapa saat, aku memutuskan menyudahi panggilan tersebut karena waktu sudah larut malam. Aku beralasan ingin istirahat, minta Delia melakukan hal yang sama.

Sesaat setelah telepon ditutup, aku langsung memejamkan mata, tapi perasaan itu ternyata belum pergi.

Mendadak rasanya ada sesuatu yang tidak tampak, tanpa suara, namun terasa jelas. Seperti ada yang berdiri di sudut ruangan, diam‑diam memperhatikanku.

Aku menarik nafas panjang. "Besok saja dipikirin," kataku dalam hati.

Lalu aku memaksa diriku tidur, tidak sabar menyongsong hari esok, semoga Jefry segera membicarakan soal pitching film.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!