Lia hanyalah gadis biasa. Hidup sederhana, bekerja keras membantu orang tuanya, tidak punya harta, tidak punya nama besar. Ia hanya ingin menjalani hari dengan tenang dan jujur.
Namun takdir membawa ia melangkah masuk ke dunia yang sama sekali asing — dunia mewah, dingin, dan penuh aturan milik Arga, pewaris tunggal kekayaan keluarga paling berpengaruh di kota itu.
Pertemuan mereka bukan karena kebetulan. Sebuah perjanjian lama mengikat kedua keluarga, memaksa mereka menikah. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah kewajiban yang harus ia penuhi. Bagi Lia, ini adalah awal dari perjalanan yang menguji ketabahan, kesetiaan, dan hatinya.
Di antara dua dunia yang tak pernah bertemu, bisakah cinta tumbuh? Apakah gadis biasa seperti Lia mampu menembus dinding dingin yang dibangun Arga? Atau pada akhirnya, ia hanya akan menjadi kisah singkat yang terlupakan di istana megah itu?
"Aku mungkin tidak lahir dengan harta, tapi aku lahir dengan hati yang mampu mencintaimu seutuhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi diana Nana anggrini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Hanyalah Gadis Biasa, Ingat Itu
Hari itu pesta diadakan bukan untuk merayakan sesuatu yang sederhana — itu adalah pertemuan keluarga besar, acara yang sudah direncanakan berbulan-bulan, dihadiri oleh puluhan orang yang namanya tercatat di lingkaran paling dekat dengan kehidupan Arga. Ruangan itu penuh dengan orang-orang yang mengenal satu sama lain sejak lahir, yang berbicara dalam nada yang sama, yang tertawa dengan tawa yang sama, yang seakan lahir dengan peta dunia yang sama di tangan mereka. Aku berdiri di sudut ruangan, mengenakan pakaian yang indah namun terasa asing di tubuhku, menyadari satu hal yang tak bisa diubah: aku tidak termasuk di antara mereka.
Arga berdiri di tengah ruangan, dikelilingi kerabat dan teman-teman lamanya. Ia tampak tenang, tegas, dihormati — persis seperti sosok yang digambarkan orang-orang sejak awal. Sesekali ia menoleh ke arahku, tersenyum, memberi isyarat agar aku mendekat. Namun setiap kali aku melangkah maju, ada rasa berat yang menahan kakiku. Di sana, di tengah-tengah mereka, aku terlihat berbeda — bukan sekadar pakaian, bukan sekadar cara berbicara, melainkan sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang tak bisa diubah dengan pakaian bagus atau senyum yang dilatih.
Rania berdiri di sampingnya, seakan tempat itu memang miliknya. Ia berbicara dengan lincah, tertawa mendengar cerita kerabat yang lebih tua, menambahkan kalimat yang membuat semua orang mengangguk setuju. Ia tahu siapa yang sedang dibicarakan, mengerti lelucon yang tersirat, paham jejak hubungan yang tak pernah diucapkan secara terang-terangan. Dan aku? Aku hanya berdiri diam, tersenyum di saat yang tepat, mengangguk tanpa benar-benar mengerti, merasa seperti orang yang membaca buku yang halaman-halaman pertamanya sudah hilang.
Saat satu per satu orang menyapaku, pertanyaan yang sama berulang-ulang: "Dari mana asalmu?" "Bagaimana kau bisa bertemu Arga?" "Apakah kau sudah terbiasa di sini?" Setiap pertanyaan terdengar sopan, namun di baliknya ada pertanyaan lain yang tak diucapkan: "Apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana seseorang sepertimu bisa berdiri di tempat ini?"
Aku menjawab sebaik-baiknya, singkat, jujur, sederhana — namun setiap jawaban seakan mempertegas jarak di antara kami. Aku berasal dari desa kecil. Ayahku bekerja di ladang. Ibu menjahit pakaian tetangga. Aku tidak pernah bersekolah di kota besar. Aku tidak pernah bepergian ke luar negeri. Aku tidak tahu nama-nama bangunan yang mereka sebutkan sehari-hari. Aku hanyalah gadis biasa. Dan di ruangan itu, di antara mereka yang tampak begitu istimewa, hal itu terasa bukan sekadar keterangan — melainkan sebuah batas.
Sore itu, setelah para tamu mulai pulang, aku duduk sendirian di beranda belakang, membiarkan angin malam menyentuh wajahku yang terasa panas. Arga menemukanku di sana, duduk di sampingku, menyentuh tanganku yang dingin.
"Kau diam sepanjang sore," ucapnya lembut. "Apakah ada yang menyakitimu?"
Aku menarik tanganku perlahan, tidak menatapnya langsung. "Tidak ada yang salah. Mereka hanya... mereka adalah duniamu, Arga. Dan aku bukan bagian dari itu."
Ia terdiam sejenak. "Kau bagian dari hidupku. Itu sudah cukup."
"Apakah cukup?" Aku akhirnya menatapnya, dan di mataku ada kesedihan yang dalam, bukan kemarahan. "Lihat mereka. Mereka mengerti satu sama lain tanpa perlu banyak bicara. Mereka tahu sejarah keluarga ini, tempat-tempat ini, semua hal yang belum pernah kulihat. Aku tidak bisa mengikuti percakapan mereka. Aku tidak tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Aku hanya berdiri di sana, merasa asing."
"Itu hanya soal waktu," katanya, mencoba menenangkan.
Aku menggeleng pelan. "Bukan soal waktu. Ini soal siapa aku. Aku hanyalah gadis biasa, Arga. Ingat itu. Aku tidak tumbuh dengan kehidupan seperti ini. Aku tidak terbiasa dengan pesta, dengan pembicaraan tentang harta dan kedudukan, dengan cara mereka melihat orang seakan menilai nilainya. Aku tumbuh di tempat di mana seseorang dihargai karena seberapa keras ia bekerja, seberapa tulus hatinya, bukan karena siapa ayahnya atau seberapa besar rumahnya."
Suaraku bergetar, namun aku terus berbicara. "Aku tidak akan pernah menjadi seperti mereka. Aku tidak akan pernah bisa berbicara dengan gaya mereka, tertawa dengan cara mereka, memahami semua hal yang mereka anggap wajar. Aku akan selalu berbeda. Dan kadang... aku takut suatu hari nanti kau akan menyadari hal itu. Kau akan melihatku dan berpikir — dia bukan orang yang pantas berdiri di sampingku."
Arga menatapku lekat-lekat, wajahnya penuh kesedihan namun juga ketegasan yang lembut. "Apakah kau benar-benar berpikir aku mencintaimu karena siapa yang ada di pesta itu?"
"Kau tumbuh bersama mereka," jawabku pelan. "Dan aku... aku hanyalah gadis yang datang dari tempat lain."
"Justru karena itu aku mencintaimu," potongnya mantap. "Di antara mereka, aku selalu merasa harus menjadi seseorang yang lain — harus tegas, harus cerdas, harus tidak pernah salah. Di depanmu, aku boleh menjadi diriku sendiri. Yang lelah, yang bingung, yang kadang takut. Kau tidak melihat gelarku, kau tidak melihat hartaku, kau tidak melihat apa yang dikatakan orang lain. Kau melihatku."
Ia mendekat, memegang kedua tanganku, menatapku dalam-dalam. "Dan kau bilang kau gadis biasa? Tidak ada hal yang biasa tentang dirimu. Kau membawa ketulusan yang tidak mereka miliki. Kau membawa kehangatan yang sudah lama hilang dari rumah ini. Kau mengajarkanku bahwa menjadi sederhana bukan berarti kurang berharga — itu berarti lebih dekat dengan apa yang sebenarnya penting."
"Namun aku tetap tidak seperti mereka," bisikku.
"Syukurlah," jawabnya tulus. "Jika kau seperti mereka, aku tidak akan pernah menemukan tempat untuk beristirahat. Dunia di ruangan itu penuh dengan topeng. Kau datang tanpa topeng apa pun. Itulah anugerah terbesar yang pernah kuterima."
Ia menarikku ke pelukannya, membiarkan kepalaku bersandar di dadanya, mendengar detak jantungnya yang tenang dan kuat. "Jangan pernah malu menjadi dirimu, Lia. Jangan pernah meminta maaf karena tidak seperti mereka. Karena justru karenanya, kau adalah satu-satunya tempat yang ingin kutuju."
Namun kata-katanya, meski menenangkan, tidak langsung menghapuskan perasaan itu sepenuhnya. Berhari-hari setelah itu, kalimat itu terus terngiang di kepalaku — aku hanyalah gadis biasa. Bukan sebagai keluhan, bukan sebagai rasa rendah diri semata, melainkan sebagai pengingat: aku tidak bisa mengubah siapa diriku. Aku tidak bisa menjadi orang lain. Dan jika ia mencintaiku, ia harus mencintai gadis biasa ini — dengan segala keterbatasannya, dengan segala kesederhanaannya, dengan segala hal yang tidak akan pernah ia miliki bersama siapa pun yang lain.
Suatu pagi, saat kami berjalan di halaman kecilku, aku berkata padanya, "Aku tidak akan pernah menjadi wanita yang bisa berdiri di sampingmu di setiap pesta dan membuat semua orang terkesan."
Arga berhenti berjalan, memutar tubuhku agar menatapnya. "Kau salah. Kau sudah membuatku terkesan setiap hari. Bukan dengan kata-kata indah atau pakaian mahal, tapi dengan hatimu yang tulus, kesabaranmu, caramu mencintai orang lain tanpa mengharap imbalan. Itu jauh lebih berharga daripada apa pun yang bisa mereka tunjukkan."
Ia mencium keningku dengan lembut. "Dan ketahuilah ini — aku tidak mencari wanita yang mengagumkan di mata mereka. Aku mencari wanita yang membuatku merasa dicintai dengan tulus. Dan kau melakukannya, setiap hari, tanpa perlu berusaha menjadi orang lain."
Aku tersenyum, air mata menetes pelan namun bukan karena sedih. "Terima kasih menerima aku apa adanya."
"Terima kasih menerima aku juga," jawabnya lembut. "Bukan sebagai pewaris, bukan sebagai tuan rumah, melainkan sebagai Arga — orang yang butuh dicintai seperti orang biasa."
Dan di saat itulah aku mulai paham: menjadi gadis biasa bukanlah kekurangan. Itulah kelebihanku. Karena cinta yang tumbuh dari kesederhanaan tidak bergantung pada apa yang dimiliki, melainkan pada siapa kami sebenarnya. Dan di hatinya, tempat paling hangat di dunia, gadis biasa ini akhirnya menemukan tempatnya — bukan sebagai tamu, bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai pemilik, selamanya.