Beside Story Of [SELEPAS KATA TALAK]
"Separah itukah garis takdir sampai aku mendapat gelar istri yang haram disentuh?"
Gevanya Rianti adalah seorang Dokter Muda, dia harus menelan pil pahit disaat dirinya harus berdiri di pelaminan tanpa mempelai pria karena calon suaminya, Loki Ardiansyah lebih memilih pergi bersama selingkuhannya.
Refal Argantara, seorang pria lumpuh kakak dari Loki memilih menjadi pengganti Loki sebagai suami Gevanya, namun siapa sangka dimalam pertama mereka Gevanya mendapatkan fakta bahwa dirinya hamil setelah pernikahan itu yang membuat dirinya menjadi istri yang haram disentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25. Bak Diatas Kertas
Memikirkan ini semua membuat Gevanya benar-benar merasa dilema, Gevanya menyandarkan punggungnya pada punggung kasur dan menatap kedepan dengan kosong sampai pintu perlahan dibuka yang ternyata itu adalah Arga.
Gevanya membuang muka sejenak, untuk kesekian kalinya Gevanya kembali merasa bersalah jika menatap wajah Arga dengan bayang-bayang Agnes disana.
"Kau sudah makan?" Arga membuka suara membawa makanan yang diberikan Ridwan sebelumnya sembari menggerakkan roda kursinya ke samping ranjang Gevanya.
"Letakkan saja di situ," Gevanya belum mau menjawab Arga.
Gevanya memang mencintai Arga, jauh sebelum Arga menikah dengan Agnes, tapi cinta dibalas itu bukanlah bagian dari opsi hidup Gevanya, dia selalu berkata mungkin, Gevanya sengaja membuat perjanjian akan berpisah setelah Arga sembuh, karena dia ingin Arga setidaknya bahagia setelah kematian istrinya.
"Lebih baik kau makan dulu, kau butuh asupan untuk sembuh, lagipula kau harus sembuh," Arga menghela napas panjang.
"Nanti saja,"
"Kau keras kepala, kenapa kau begini setelah aku mengungkapkan perasaanku?"
"Karena ini tidak benar!" Gevanya membuka suara dan menatap Arga nanar.
Arga mendelik, dia menatap balik Gevanya. "Apa yang salah? Aku belajar mencintaimu karena kau istriku, aku berusaha menerima keadaan, dan kenapa kau tidak memberiku peluang?"
"Karena aku hanya menganggap pernikahan ini adalah pernikahan di atas kertas, lebih baik tidak ada perassan diantara kita, Bang,"
Gevanya berbohong! Dia sudah menyalahi perasaannya, dia sebenarnya tidak ingin mengatakan itu, tapi entah kenapa bibirnya bersepakat dengan raga nya untuk melontarkan kalimat barusan.
"Jadi seperti itu aku dimatamu Ge?" Arga menatap Gevanya sendiri, ada seberkas luka dalam di hati Arga kali ini. "Setidaknya kalau kau tidak menerima ku, sembuhlah demi menyelesaikan perjanjian kita, dan aku akan melepaskan mu."
Arga membalikkan kursi rodanya, dia menatap Gevanya sekilas kemudian kembali berbalik ke arah Gevanya. Suasana canggung saat ini.
Arga meraih tangan Gevanya. "Kau memang melarang ku mencintaimu, tapi Allah tidak pernah melarang umatnya mencintai sesamanya terlebih kau istriku."
Arga menarik tangan Gevanya sehingga wajah Gevanya kini mendekat kepadanya. "Kau ingin meluruskan noda merah dalam buku nikah kita kan? Biar aku bantu kau menjelaskan apa itu putih setelah kau membersihkannya, sayang."
Deg!
Gevanya diam, perbuatan intim Arga kepadanya benar-benar membuat Gevanya takluk. Bagaimana bisa Arga begitu bersikeras dengan keputusannya, dan ternyata lupa bahwa dia menikahi pria yang keras kepala, dan jika Arga mau dia harus mendapatkannya.
"Duduk! Ini bagian dari perjanjian kita, menurut satu sama lain, kau bilang kunci dari berhasilnya perjanjian kita adalah saling menuruti, jadi biarkan aku yang menyuapimu," Arga meraih piring makan Gevanya dan mulai menyuapi Gevanya.
"Aku bisa sendiri,"
"Nurut! Kamu istri aku,"
Arga memaksa menyuapi sampai Gevanya menyerah menolak, dia menerima suapan dari Arga, hening diantara mereka kali ini, namun suara sendok dan piring yang beradu menjadi background suara yang retoris bagi mereka berdua.
"Kau mengingatkanku pada Agnes," gumam Arga yang masih bisa di dengar Gevanya.
Uhuk!
Gevanya terbatuk, yang membuat Arga segera mengambil air dan memberinya kepada Gevanya, Gevanya meminum air tersebut.
Perlahan dirinya menangis, entah kenapa air mata itu lolos begitu saja, yang membuat Arga mengernyit. "Kenapa kau membuatku dalam posisi seperti ini?"
Arga perlahan bangkit dan duduk ditepi ranjang Gevanya dia meraih kepala Gevanya dan menatapnya dalam. "Yang harus kau ingat hanya tiga kata."
"Karena~"
"Aku~"
"Mencintaimu~"
Arga mengucapkan kalimatnya dengan ejaan kata satu persatu.
•
•
•
TBC
Assalamualaikum
Jangan Lupa Like
Halo semuanya maaf Author telat Update buat kalian yang belum follow Author jangan lupa follow yah!