Terbang menuju Italia demi cinta, Evelyn hanya ingin membahagiakan kekasihnya. Namun, takdir berkata lain saat ia menemukan kenyataan pahit di dalam pesawat: sang kekasih berciuman mesra dengan wanita lain di depan matanya.
Saat air mata menetes dan tubuhnya goyah akibat turbulensi mendadak, sepasang lengan kekar menariknya rapat. Ia berada di pelukan Wiliam, pria dewasa berwajah tegas, berkelas, dan memiliki tatapan dingin membunuh. Pria itu tak membiarkan Evelyn lepas begitu saja. Dari sebuah insiden guncangan pesawat, Evelyn justru melangkah masuk ke dalam dunia sang pria paruh baya yang kaya raya, protektif, dan siap memanjakannya tanpa batas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 20
***
Beberapa hari pasca-kejadian di apartemen, beban pikiran yang meremukkan dada Clara akhirnya merobohkan pertahanan fisiknya. Pengoperasian jaringan kekuasaan Wiliam di balik layar telah membuat seluruh saluran komunikasi sang ibu terputus total dari Eropa, meninggalkan Clara dalam pusaran kecemasan dan keputusasaan yang mendalam. Gadis itu jatuh sakit, terserang demam tinggi yang membuat tubuhnya terkulai lemas di atas ranjang kamar tidurnya.
Mendengar kabar tersebut, Lyn tanpa ragu bergegas menuju kediaman megah keluarga Wiliam di kawasan perkotaan elite. Rumah empat lantai berarsitektur klasik modern itu berdiri megah, namun menyelimutkan kesunyian yang dingin dan mencekam.
Seharian penuh, Lyn tak beranjak dari sisi tempat tidur Clara. Dengan rasa kasih sayang seorang sahabat yang tulus sekaligus gumpalan rasa bersalah yang terus menggerogoti jiwanya, Lyn mengganti kain kompres, menyuapkan bubur hangat, dan mengusap dahi Clara yang membara. Wajah Lyn sendiri tampak kian pucat; lingkaran hitam tipis terukir di bawah matanya karena ia tidak tidur sedikit pun demi memastikan suhu tubuh Clara meluruh.
Malam makin melarut. Suasana mansion luas itu terkurung dalam hening. Derap langkah para pelayan telah reda di area privat lantai atas.
Sekitar pukul sebelas malam, Lyn membawa mangkuk kompres dan nampan bekas makanan Clara turun menyusuri tangga marmer menuju dapur utama di lantai bawah. Dapur berdesain interior clean-minimalist dengan dominasi marmer hitam dan lampu gantung berpendar temaram itu tampak sepi.
Saat Lyn sedang membilas kain kompres di bawah kucuran air wastafel marmer, suara langkah kaki mantap yang teratur bergaung lembut dari lorong utama.
Aroma sandalwood yang pekat bercampur pendar dingin udara malam mendahului presensi sang pemilik rumah.
Lyn membeku. Ia mematikan keran air, jantungnya seketika berdegup kencang. Ketika ia memutar tubuhnya, Wiliam sudah berdiri hanya selangkah di hadapannya. Pria paruh baya itu baru saja kembali dari perjalanan bisnis luar kota. Ia telah menanggalkan jas mewahnya, menyisakan kemeja putih bergaris tegas yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan lengannya yang kokoh dan berurat.
"W-Wiliam...?" bisik Lyn hampir tak terdengar. Napasnya memburu pelan. "Anda... sudah pulang?"
Wiliam tidak langsung menjawab. Mata sehitam jelaga milik pria berkuasa itu mengunci wajah pucat Lyn, membaca setiap jejak kelelahan yang terpancar dari aura gadis 21 tahun itu. Ada pendar amarah cemburu yang terdistilasi dingin di matanya melihat bagaimana milik pribadinya menguras habis tenaganya demi orang lain—bahkan demi putrinya sendiri.
"Kamu mengabaikan tubuhmu sendiri demi merawat Clara, Little Lady," suara berat dan dalam Wiliam menggelegar tenang namun sarat akan intimikasi mutlak di udara dapur yang sepi.
"Clara... dia demam tinggi, Wiliam," sahut Lyn terbata-bata, melangkah mundur satu tapak hingga punggungnya menempel pada tepian meja marmer yang dingin. "Saya... saya hanya ingin memastikannya baik-baik saja..."
Wiliam melangkah maju, menutup habis jarak di antara mereka. Dua lengan kokohnya terangkat, mengurung Lyn rapat di antara meja marmer dapur. Hawa panas dari tubuh tegap pria matang itu seketika membakar kulit Lyn yang dingin.
"Dia berada di bawah penanganan dokter terbaikku," bisik Wiliam serak tepat di depan wajah Lyn, jemari tangannya yang besar dan hangat meraih rahang mulus Lyn, memaksa gadis itu menatap lurus ke dalam matanya. "Tapi kamu... siapa yang bertanggung jawab atas kelelahan tubuhmu ini selain aku?"
"W-Wiliam... jangan di sini..." cicit Lyn panik luar biasa. Matanya melirik takut-takut ke arah tangga menuju lantai atas. "Ini rumah Anda... Clara sedang terbaring di atas... bagaimana kalau ada pelayan yang lewat...?"
"Tidak ada yang berani melangkah ke area ini tanpa izin dariku," potong Wiliam dingin, nada suaranya memancarkan otoritas penuh tanpa bantahan. "Di bawah atap ini, seluruh aturan berada di tanganku, Lyn."
Tanpa memberi ruang sanggah sedikit pun, Wiliam menundukkan kepalanya dan membungkam bibir manis Lyn dengan ciuman yang amat pekat, panas, dan mendominasi. Lidah lihai pria berkelas itu menginvasi rongga mulut Lyn tanpa ampun, menyerap seluruh hela desah napas sang gadis.
"Mmph...!" Lyn melenguh pasrah, jemari lentiknya refleks meremas kain kemeja putih Wiliam di bagian dada. Ketakutan akan risiko tertangkap di dalam rumah megah ini justru memicu ledakan adrenalin dan gairah terlarang yang tak tertahankan.
Wiliam mengangkat tubuh ramping Lyn tanpa usaha berarti, mendudukkan gadis itu di atas meja marmer dapur yang dingin. Gaun kasual bermotif bunga yang dikenakan Lyn tersingkap, memperlihatkan paha mulusnya yang kontras di bawah Pendar lampu gantung.
"Wiliam... a-ah..." desah Lyn terengah-engah saat bibir hangat Wiliam turun menyusuri leher jenjangnya, menyesap dan menggigit kecil kulit mulusnya hingga memberikan jejak kemerahan baru yang memabukkan.
"Katakan padaku, Lyn..." bisik Wiliam serak di perpotongan leher Lyn, jemari tangannya meluncur ke balik pakaian Lyn, menyapu setiap inci kulit mulus yang telah ia klaim sebagai miliknya. "...siapa pemilik tubuh ini?"
"A-ah... Ngg... Wiliam... Anda... hanya Anda..." rintih Lyn pasrah, kepalanya terkulai ke belakang, menikmati sentuhan telaten pria matang yang melumpuhkan seluruh logikanya.
Sensasi dingin meja marmer beradu dengan panas pembakar dari tubuh Wiliam menciptakan kontras yang gila. Wiliam menanggalkan halangan di antara mereka dengan gerakan yang terampil dan berkuasa. Pria tua itu memosisikan dirinya di antara dua paha mulus Lyn yang terbuka pasrah.
Mata sehitam jelaga milik Wiliam menatap terkunci pada wajah manis Lyn yang memerah padam dengan mata yang sayu berbinar.
"Tatap mataku, Little Lady. Biarkan aku menghapus seluruh kelelahanmu malam ini," ujar Wiliam dengan nada berat yang menuntut kepatuhan total.
Wiliam mendorong dirinya masuk, menyatu secara utuh dan dalam ke dalam kehangatan intim Lyn dalam satu dorongan yang mantap dan berkuasa.
"A-AHH...! WILIAM...!" jerit Lyn tertahan, matanya membelalak sempurna seraya meremas bahu kokoh Wiliam erat-erat. Sensasi penuhan yang tajam, dalam, dan menghentak seketika memenuhi seluruh rongga tubuhnya.
Wiliam tidak memberi jeda. Pria paruh baya itu langsung bergerak dalam tempo yang mantap, dalam, dan penuh kepastian yang mendominasi. Setiap gerakan dihantamkan dengan kelihaian pria dewasa yang sangat berpengalaman, menghujam titik terpeka di dalam diri Lyn.
"Nggh... a-hhn... W-Wiliam... pelan-pelan... sshh... nanti... nanti terdengar..." desah Lyn tergagap di sela-sela ciuman panas Wiliam, tubuh mulusnya gemetar hebat menerima setiap hentakan berkuasa sang tuan.
"Biarkan mereka mendengar siapa yang menguasaimu malam ini, Lyn," bisik Wiliam serak di telinga Lyn, tenggorokannya sendiri mengeluarkan erangan berat dan nikmat yang tertekan saat kerapatan intim Lyn mengulumnya rapat. "Ah-h... kamu begitu sempit dan hangat, Little Lady..."
Desahan nikmat yang dalam dan berat dari pria sekelas Wiliam beradu dengan lenguhan pasrah Lyn yang tertahan di udara dapur yang hening. Setiap gerakan Wiliam mengirimkan gelombang sengatan listrik yang membakar seluruh saraf Lyn, membilas habis rasa lelahnya dan menggantinya dengan puncak-puncak kenikmatan terlarang yang memabukkan.
"Ngg... ahh! Wiliam... a-aku... ahh... tidak tahan lagi..." jerit Lyn pasrah, melingkarkan kedua kaki mulusnya rapat di pinggang kokoh Wiliam, menyerahkan seluruh kepemilikan dirinya tanpa sisa di bawah pendar temaram dapur rumah sahabatnya sendiri.
Wiliam meningkatkan temponya semakin intens dan cepat, hingga akhirnya mereka berdua mencapai puncaknya pelepasan bersama dalam hembusan desah nikmat yang panjang dan pekat di tengah keheningan malam yang sunyi.
Lyn terkulai lemas di dalam pelukan dada bidang Wiliam yang memburu, menghirup aroma sandalwood yang hangat seraya mendengarkan detak jantung pria matang itu. Di dalam rumah besar ini, di bawah atap tempat Clara terbaring sakit, Lyn menyadari bahwa jiwanya kini telah terkunci sepenuhnya dalam sangkar emas kekuasaan sang tuan.
Bersambung ...
itu kata william🙂
enak bacanya
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻