NovelToon NovelToon
BLACK AND WHITE

BLACK AND WHITE

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Chicklit / Enemy to Lovers
Popularitas:591
Nilai: 5
Nama Author: xyBubble

Pout for Me, Little Mouse.

Fraülein Keylana Reinhardt, Putri Raja perbankan Jerman, diatur ke dalam pertunangan dengan Julian Donnersmarck -- Seorang miliarder muda dari Berlin yang arogan, pragmatis dan bergaul dengan bebas.

Setelah bertunangan, mereka tinggal bersama di Berlin, Tidak ada satu hari pun tanpa pertikaian. Julian tidak meninggalkan kebiasaan moral yang buruk sedangkan Keylana tak kalah nakal.

Ini tentang Rasionalitas yang terus dipertanyakan dan satu Perasaan yang dianggap tidak penting.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xyBubble, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rubanah (Bagian 2)

"Di balik pintu ini, Ada dunia yang tidak akan pernah kamu lihat di pesta-pestamu, Keylana. Dunia di mana orang-orang seperti kami bisa benar-benar menjadi diri sendiri."

Pintu itu terbuka perlahan, mengungkapkan pemandangan sebuah ruangan luas yang diterangi cahaya lampu dengan aroma anggur dan parfum mahal Di dalamnya, Pemandangannya,

Lana tertegun.

Sebuah sofa beludru melingkar di tengah ruangan dimana pria dan wanita melakukan lebih dari yang diperbolehkan oleh etika. Udara terasa pengap karena aroma keringat dan parfum mahal, bercampur dengan aroma herbal yang samar dan terasa kuat.

"Selamat datang di duniaku, tempat di mana orang-orang datang untuk melepaskan segala keraguan dan kekhawatiran mereka, dan sepenuhnya menjadi diri mereka sendiri."

Ini bukan pesta biasa, ini adalah pergaulan bebas, Pikirnya.

Roy menunjuk ke sekelompok orang yang berkumpul di sekitar meja rendah yang penuh dengan gelas kristal dan tumpukan kecil bubuk putih.

"Itu kokain, Obat pilihan bagi mereka yang mampu melupakan masalah mereka selama beberapa jam."

Dia menjelaskan zat adiktif itu dengan santai, Lana berhenti berjalan lebih dalam dan berdiri diam sambil menarik kupluknya lebih erat, Ini adalah dunia yang jauh berbeda dari dunianya sendiri, sebuah tempat di mana moralitas tampak seperti mata uang dari masa lalu.

Dengan cepat dan tanpa basa-basi, Lana berbalik untuk berjalan ke pintu keluar.

Tangan Roy dengan cepat menangkap pergelangan tangan Lana dengan bunyi Plak pelan, membuat Lana terhenti. Genggaman itu tidak menyakitkan, tetapi cukup kuat untuk menghentikan langkah nya.

"Jangan terburu-buru, Kau bahkan belum minum. Biarkan aku memberimu sesuatu - apa pun yang kamu inginkan."

"Tidak Roy, Temanku menungguku."

Lana memutar pergelangan tangannya tapi dia perlahan menariknya kembali ke area utama, memimpin membelah kerumunan dengan mudah

"Ayolah, Keylana. Segelas minuman tidak akan membunuhmu. Dan siapa tahu? Kau mungkin akan menikmati tempat ini."

Bahkan saat Roy menuntun Lana ke bar, kaki Lana sedikit tersandung, menyerempet paha seorang pria yang sedang duduk dengan kaki terbentang di salah satu sofa.

Pria itu sama sekali tidak bergerak menjauh, justru dengan sengaja membiarkan Lana tersandung, yang justru mendekatkannya. Tersenyum tipis memperhatikan penampilannya – pakaian bermerek, nuansa polos yang sekarang tampak tidak sesuai di tempat tersembunyi penuh kebejatan ini.

"Hmm, hmm," suara pria itu terdengar rendah dan berat. "Seekor domba kecil yang tersesat, masuk ke sarang serigala?"

"Tidak, tidak, Pak. Saya tidak bermaksud demikian, maafkan saya, sungguh tidak sengaja."

Lana mengangkat tangannya, melambai-lambai dengan panik.

Kepala-kepala menoleh, percakapan berhenti di tengah kalimat, melihat konfrontasi dan pendatang baru yang terlihat seperti gadis sekolah menengah itu.

Senyum sinis pria semakin lebar melihat permintaan maaf Lana yang gugup, dan ia merasa terhibur dengan kepolosan wanita itu. bersandar di kursinya, menyilangkan satu kaki di atas kaki yang lain dengan sikap angkuh yang mengintimidasi.

"Oh, tidak perlu meminta maaf," katanya dengan nada menggoda, matanya memperhatikan lekuk tubuh Lana dengan jelas menunjukkan kekaguman. "Aku justru sangat menikmati sentuhan tak sengaja itu. Sudah lama sekali seorang wanita dengan..... bentuk tubuh yang menawan seperti ini memasuki wilayahku."

Raut wajah Roy tampak tegang mendengar perkataan pria itu. "Urus saja urusanmu sendiri, Liam." katanya dengan nada geram. "Dia bersamaku malam ini."

Pria bernama Liam itu hanya mengangkat alisnya, tidak takut oleh nada ancaman dalam suara Roy. Matanya menatap kaki panjang Lana di bawah rok mini itu dengan maksud yang jelas.

"Lalu kenapa? gadis itu menyentuhku terlebih dahulu berarti dia ingin bersamaku." Dia menyeringai.

Lana bergerak cepat untuk pergi ketika dua pria itu teralihkan, berhasil melepaskan diri dari genggaman Roy

Sebelum Roy sempat bereaksi, Liam berdiri dengan gerakan lincah, menghalangi jalan Lana untuk melarikan diri. "Sudah mau kabur? Pesta baru saja akan dimulai." Suaranya terdengar lembut dan menggoda.

Lana menarik nafas terkejut dan melangkah mundur menghindarinya, membuat kupluknya tersingkap memperlihatkan rambut hitam legam yang mengalir dalam gelombang tebal di punggungnya. Penampakan mendadak itu membuat orang-orang di sekitarnya terkejut. Mata Liam membelalak karena terpesona.

"Astaga," dia menghela napas, suaranya penuh kekaguman. "Rambut itu... seolah keluar dari sebuah dongeng."

Roy yang muram dengan cepat bergerak untuk berdiri di belakang Lana, dan tangannya memegang bahunya. Dengan sengaja menyentuh lembut helai rambutnya saat ia membungkuk untuk berbisik di telinganya.

"Seharusnya kau tidak gegabah. Sekarang, semua orang di ruangan ini ingin tahu apa lagi yang kamu sembunyikan di balik pakaianmu."

Lana melirik Roy dengan jengkel dari sudut matanya. Kaulah yang membawa dan menahanku disini, Brengsek!

Mata Liam memperhatikan wajah cantik Lana yang sepenuhnya terekspos dengan senyum penuh ketertarikan gelap.

"Raymond, kamu menyembunyikan sesuatu yang terlalu bagus jika disimpan seorang diri."

Pengunjung lain mulai berkumpul di sekitar mereka, tertarik oleh pemandangan penyanyi terkenal yang tiba-tiba menunjukkan perhatiannya pada seorang wanita yang jelas bukan bagian dari kalangan mereka.

"Mundur, Liam. Dia bukan tipe wanita yang kamu cari."

"Bukan tipeku? Semua orang bisa menjadi tipeku ketika mereka secantik dan selembut ini." Dia melangkah semakin mendekat pada Lana membuat gadis itu terpojok antara dua pria. "Siapa namamu? Aku ingin mengingatnya nanti ketika aku membentangkan mu ke sofa itu."

Kata-kata vulgarnya bergema di benak Lana, Roy menggertakkan gigi tidak terima dengan perkataan dan niat Liam.

Sementara itu, dia saat yang sama, mata di seluruh ruangan itu telah melihat wajah Lana yang terbuka, Ada yang mengira dia adalah gadis sekolah menengah, pasangan Roy dan ada juga yang berpikir dia hanya tersesat.

Di bagian sofa dekat dinding, seorang wanita dengan gaun merah marun menatap tak percaya sejak wajah Lana tersingkap sambil berdiri perlahan. Matanya terus terfokus pada Lana yang berada di tengah-tengah pria yang saling bersitegang itu.

Tangan Roy mencengkeram bahu Lana, menjauhkan nya dari Liam. "Dia tidak di sini untuk menghibur kalian semua—"

Kata-kata Roy terhenti sepenuhnya ketika suara wanita berbaju merah marun itu –Valeri– yang pernah hadir di pesta kakek Julian itu memecah ketegangan, atau menambah.

"Keylana?" Dia melangkah mendekat dengan wajah tercengang. "Bukankah kamu Keylana?"

1
Jordin Yanti
semangat yha kakak othor ❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!