NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ke Tubuh Istri Idiot Sang CEO

Transmigrasi Ke Tubuh Istri Idiot Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Karin terbangun dalam novel medioker sebagai istri idiot CEO dingin, Arlan. Mengetahui nasib tragis tokoh aslinya, Karin memutuskan berpura-pura tetap idiot agar tidak diceraikan dan dibuang.

Namun, tingkah konyolnya justru membuat Arlan yang biasanya kaku mulai merasa bingung sekaligus tertarik.

Di tengah intrik keluarga besar dan ancaman pelakor, Karin harus menyeimbangkan aktingnya yang absurd dengan rasa cinta yang mulai tumbuh nyata.

Apakah rahasia transmigrasinya akan terungkap, ataukah ia akan selamanya menjadi istri kesayangan sang CEO dalam topeng kebodohan yang lucu dan menggemaskan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Warung bakso di pinggir jalan Jakarta Selatan itu sama sekali tidak memiliki tanda bintang Michelin, tapi bagi Karin, tempat ini adalah surga dunia.

Arlan Dirgantara, CEO triliuner yang jasnya saja harganya bisa untuk membeli satu gerobak bakso, kini sedang duduk di atas kursi plastik merah yang sedikit goyah. Kakinya yang panjang terpaksa dilipat rapat agar muat di bawah meja lipat. Ia menatap mangkuk bakso di hadapannya dengan tatapan analitis, seolah sedang memeriksa laporan audit keuangan.

"Kak Arlan, dimakan dong! Kuahnya kalau didiamin nanti sedih, lho. Dia merasa nggak dihargai," celetuk Karin, mulutnya sudah penuh dengan mie dan tahu.

Arlan menoleh, menatap istrinya yang pipinya mengembung seperti tupai. Perlahan, pria itu mengambil sendok, menyendok sebuah bakso, dan memasukkannya ke dalam mulut. Rasanya... ternyata tidak seburuk yang ia bayangkan. Hangat, gurih, dan nyaman.

"Enak," akui Arlan pelan.

"Tuh kan!" Karin tersenyum lebar. "Bakso ini punya sihir. Kalau dimakan di tempat mewah, rasanya biasa aja. Tapi kalau dimakan di pinggir jalan pakai kursi plastik, rasanya jadi juara!"

Arlan hanya tersenyum tipis, menikmati pemandangan istrinya yang makan dengan lahap. Namun, kesenangan itu terusik ketika Karin tiba-tiba berhenti mengunyah. Matanya yang tajam menyipit, menatap ke arah tiang listrik di seberang jalan.

Di balik tiang itu, ada seseorang yang bersembunyi.

Karin menelan baksonya dengan susah payah. Ricky. Fotografer liar yang sering memeras artis. Dalam novel, dia adalah anak buah Vanessa yang baru! Vanessa pasti sudah merencanakan ini. Kalau foto 'CEO Dingin makan bakso pinggir jalan yang tidak higienis bersama istri gilanya' ini bocor, citra Arlan akan hancur. Harga saham Dirgantara bisa anjlok!

Tiba-tiba, FLASH!

Cahaya blitz dari kamera jarak jauh itu menyilaukan mata. Ricky mulai memotret bertubi-tubi, mengambil angle yang membuat Arlan terlihat sedang makan di tempat kumuh dan Karin terlihat berantakan.

Jantung Karin berpacu. Kalau aku suruh Kak Arlan pergi sekarang, kita kelihatan panik dan foto-foto itu bakal dijual mahal. Harus ada cara lain. Cara idiot!

"Kak Arlan!" seru Karin tiba-tiba, suaranya melengking kaget. Ia menunjuk ke arah tiang listrik dengan sendok baksonya. "Ada kunang-kunang raksasa! Dan dia nakal! Dia suka kedip-kedipin mata!"

Arlan mengerutkan kening, mengikuti arah tunjuk sendok Karin. Ia tidak melihat kunang-kunang, tapi ia melihat Ricky yang sedang menurunkan kameranya karena kaget dengan teriakan Karin. Dalam sepersekian detik, otak brilian Arlan langsung menangkap situasi. Paparazzi. Istrinya sedang mengambil alih kendali.

"Kunang-kunang siang hari?" tanya Arlan, sengaja memainkan peran.

"Iya! Lihat, dia mau motret kita!" Karin tidak menunggu Arlan menjawab. Ia langsung berdiri, membawa mangkuk baksonya, dan berlari kecil ke arah tiang listrik.

Ricky panik. Ia mencoba memotret lagi, tapi Karin sudah berdiri tepat di depan lensanya.

"Wah, kunang-kunangnya marah!" teriak Karin pada kamera itu. Ia mulai membuat wajah-wajah konyol. Ia menjulurkan lidahnya, menarik kelopak matanya, dan yang paling parah, ia menyodorkan sebuah bakso ke arah lensa kamera. "Nih, kunang-kunang, makan bakso! Jangan kedip-kedip terus, nanti matanya capek!"

FLASH! FLASH! FLASH!

Ricky memotret secara refleks. Hasilnya bukanlah foto skandal yang elegan dan merusak citra. Hasilnya adalah foto seorang istri CEO yang sedang menyodorkan bakso ke kamera dengan wajah sangat konyol, sambil memegang sendok di kepalanya seperti antena.

"Kak Arlan! Sini! Kita foto bareng kunang-kunangnya!" panggil Karin, berlari kembali ke meja dan menarik lengan Arlan.

Arlan, yang biasanya akan membunuh siapa pun yang menyentuhnya dengan kasar di tempat umum, justru membiarkan dirinya ditarik. Ia berdiri, dan Karin langsung merangkul lehernya dari samping, menempelkan pipinya ke pipi Arlan, lalu membuat tanda peace di depan wajahnya sendiri sambil menyeringai lebar.

"Senyum, Kak Arlan! Biar kunang-kunangnya senang!"

Arlan menatap wajah istrinya yang hanya berjarak beberapa senti darinya. Ia bisa melihat kilatan kecerdasan dan kecemasan di mata coklat itu. Istrinya baru saja menyelamatkan reputasinya dari skandal foto paparazzi dengan mengubahnya menjadi momen komedi yang tidak bisa dijual sebagai berita negatif.

Arlan tersenyum. Bukan senyum tipis, tapi senyum yang tulus dan hangat. Ia melingkarkan lengannya ke pinggang Karin, menariknya lebih dekat, dan menatap lensa kamera dengan tatapan penuh kasih sayang yang sangat langka.

FLASH!

Ricky menurunkan kameranya, napasnya memburu. Ia menatap hasil fotonya di layar LCD. Tidak ada foto yang bisa digunakan untuk menjatuhkan Arlan. Semua foto itu... sangat manis.

Sangat menggemaskan. Jika dijual ke tabloid gosip, judulnya bukan 'CEO Makan di Pinggir Jalan', melainkan 'CEO Dingin luluh, Makan Bakso Bareng Istri Tercinta'.

Sial. Ricky mengutuk dalam hati, lalu berbalik badan dan kabur dari tempat itu.

Karin menghela napas lega, kembali duduk di kursi plastiknya. "Huh. Kunang-kunangnya takut sama bakso. Kabur deh dia."

Arlan duduk kembali, menatap mangkuknya yang kini sedikit tumpah karena gerakan cepat Karin. "Kau tahu," ucap Arlan pelan, suaranya hanya terdengar oleh Karin di tengah suara bising jalanan. "Kau baru saja membuat fotografer itu kehilangan semua amunisinya."

"Hah? Aku nggak ngerti, Kak. Aku cuma mau kasih makan kunang-kunang," balas Karin polos, menyendok bakso lagi.

Arlan tertawa kecil. Ia mengambil tisu, lalu dengan lembut menyeka kuah bakso yang tercecer di sudut bibir Karin. Jari-jarinya tertinggal di pipi istrinya sejenak, mengusap kulit halus itu dengan tatapan yang sangat dalam.

"Kau sangat pintar menyembunyikan kepintaranmu, Nyonya Dirgantara," bisik Arlan. "Tapi hari ini, aku senang melihat kepintaranmu... terutama saat kau menarikku masuk ke dalam duniamu yang aneh ini."

Wajah Karin memanas. Kuah bakso di mulutnya tiba-tiba terasa terlalu panas. Sistem, tolong. Dia pakai jurus tatapan maut! Aku nggak kuat! Aku bakal leleh kayak es batu di freezer!

"Kak Arlan..." gumam Karin, menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang merah padam. "Baksonya habis. Kita pulang yuk. Nanti kalau ada kunang-kunang lagi, aku bawa jaring."

Arlan mengangguk, berdiri dan meninggalkan uang tunai jauh lebih banyak dari harga bakso yang mereka makan di atas meja. "Ayo pulang. Aku akan membelikanmu jaring kupu-kupu jika kau mau."

Di dalam mobil yang melaju meninggalkan warung bakso, Karin menatap jendela, jantungnya masih berdebar kencang. Ia berhasil mengalahkan Ricky, tapi ia mulai menyadari satu hal yang jauh lebih menakutkan: ia tidak lagi pura-pura ketika merasakan kehangatan dari tangan Arlan yang menyeka bibirnya tadi.

1
Susi Nugroho
Lanjut
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
Susi Nugroho
Lanjut
ALEXIS A.😇
up kak
Susi Nugroho
Lanjut
Kucingku Hitam
seruu😍
lanjut kn thor💪
Susi Nugroho
,Lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!