Di dunia bawah tanah yang kejam, seorang bos mafia yang tampan namun terkenal bengis tidak pernah ragu untuk melenyapkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Ketika salah satu anak buah level bawahnya terjerat utang besar yang tak mampu dibayar, nyawa pria tua itu berada di ujung tanduk. Demi menyelamatkan diri dari eksekusi mati, sang bapak nekat menawarkan putri cantiknya sebagai penebus utang. Meski awalnya enggan, sang bos mafia akhirnya menerima kesepakatan tersebut dan menikahi si gadis. Dimulailah kehidupan pernikahan yang dingin, penuh tekanan, dan agak kasar di dalam rumah megah sang mafia. Namun, di balik dinding es yang dibangun sang bos, sebuah dinamika baru perlahan mulai menguji batasan kekejamannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan Di Balik Kanvas Kaca
Jarum jam dinding di kamar utama telah menunjukkan pukul tujuh malam lewat lima belas menit. Setelah menghabiskan waktu beberapa jam untuk memanjakan diri melalui rangkaian perawatan tubuh, aura kelelahan di wajah Chloe seolah sirna, digantikan oleh kesegaran murni yang terpancar dari kulit porselennya yang kini tampak lebih cerah dan halus.
Di depan meja rias raksasa, Bi Mirna dengan penuh ketelatenan membantu sang nyonya muda bersiap-siap. Malam ini, karena acara yang dihadiri adalah sebuah pameran lukisan kontemporer yang kental dengan nuansa seni tinggi, Chloe memilih untuk tidak tampil terlalu mencolok seperti malam gala amal kemarin. Dia mengenakan sebuah gaun midi berbahan sutra satin premium berwarna hijau zamrud (emerald green) yang jatuh dengan anggun di bawah lututnya. Potongan gaun itu sangat sederhana namun berkelas, mengekspos tulang selangkanya yang indah tanpa memberikan kesan berlebihan. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai bebas dengan aksen gelombang alami di bagian ujung, sementara riasan wajahnya dibuat sangat natural dengan sentuhan lipstik berwarna salem yang segar.
"Nyonya Muda benar-benar sangat cantik malam ini. Sederhana, namun keanggunan Nyonya tidak bisa disembunyikan," puji Bi Mirna tulus sembari mengancingkan gelang mutiara kecil di pergelangan tangan kiri Chloe.
"Terima kasih, Bi," sahut Chloe lembut, menatap pantulan dirinya di cermin dengan seulas senyuman yang kali ini terasa lebih lepas. Harapan untuk bisa menghirup udara bebas di luar cengkeraman aura kaku Asher malam ini benar-benar menjadi suntikan energi tersendiri bagi jiwanya.
Begitu turun ke lobi utama mansion, sebuah limosin putih yang berbeda dari kendaraan operasional harian milik Asher sudah terparkir rapi di depan pintu utama. Seorang sopir pribadi berseragam rapi yang ditunjuk langsung oleh manajemen internal keluarga segera membukakan pintu belakang untuk Chloe dengan sikap yang teramat hormat.
Perjalanan membelah jalanan protokol kota malam itu terasa begitu cepat bagi Chloe. Pikirannya dipenuhi oleh bayangan deretan lukisan indah yang akan dia lihat, serta obrolan-obrolan hangat yang akan dia lakukan bersama Cassandra. Dia ingin melupakan sejenak statusnya sebagai barang tebusan; malam ini, dia hanya ingin menjadi Chloe yang mencintai seni, seperti sedia kala.
Galeri Veritas, gedung bergaya arsitektur neoklasik yang terletak di kawasan elite pusat kota, tampak benderang oleh lampu-lampu sorot yang estetis ketika mobil yang membawa Chloe tiba. Halaman depan galeri dipenuhi oleh deretan kendaraan mewah milik para kolektor seni, kritikus ternama, dan kaum borjuis kota.
Begitu melangkah masuk melewati pintu kaca raksasa galeri, Chloe langsung disambut oleh atmosfer yang tenang namun megah. Langit-langit ruangan yang tinggi dihiasi oleh instalasi seni gantung, sementara dinding-dinding galeri yang berwarna putih bersih menjadi latar belakang bagi puluhan kanvas lukisan beraliran abstrak dan kontemporer yang dipamerkan di bawah pencahayaan yang dramatis.
Chloe menyerahkan kartu undangan digitalnya kepada petugas protokoler di depan, lalu mulai melangkah perlahan memasuki ruang pameran utama. Dia sengaja berjalan menyusuri lorong-lorong galeri sendirian terlebih dahulu, membiarkan sepasang mata rusanya bergerak menjelajahi setiap sapuan kuas dan perpaduan warna di atas kanvas-kanvas besar yang terpajang. Langkah kakinya terasa sangat ringan, dan senyuman kebahagiaan yang tulus terus terukir di bibir ranumnya. Jiwanya seolah menemukan kembali rumah yang telah lama hilang.
Namun, kedamaian sesaat itu mendadak hancur berkeping-keping ketika langkah kaki Chloe membawanya ke area tengah galeri, tepat di bawah langit-langit terbuka yang terhubung langsung dengan koridor balkon lantai dua—area semi-VIP yang biasanya digunakan oleh para tamu khusus untuk menikmati pemandangan galeri dari ketinggian sembari meminum sampanye.
Secara tidak sengaja, pandangan mata Chloe bergerak naik ke arah pembatas balkon kaca di lantai atas. Dan di sanalah, jantung Chloe seolah berhenti berdetak dalam satu sentakan yang teramat keras.
Sesosok pria bertubuh masif dengan setelan jas hitam tanpa dasi berdiri tegak di sana, bersandar dengan satu tangan memegang gelas kristal berisi cairan amber. Itu adalah Asher Sterling.
Chloe mematung di tempatnya berdiri, pasokan oksigen di dalam paru-parunya mendadak menguap habis. Namun, bukan kehadiran Asher yang mengejutkannya, melainkan sosok wanita yang saat ini sedang berdiri tepat di samping suaminya.
Wanita itu memiliki perawakan yang sangat tinggi semampai dengan rambut pirang platinum yang ditata bergelombang sempurna. Dia mengenakan gaun malam berpotongan rendah yang sangat glamor dan bertabur payet berkilau, memancarkan aura kemewahan kelas atas yang teramat pekat. Dari gestur tubuh dan ekspresi wajahnya, wanita itu tampak memiliki hubungan yang sangat dekat, akrab, dan intim dengan Asher. Dia terus berbicara dengan nada manja sembari melemparkan senyuman menggoda ke arah wajah tampan sang bos mafia.
Asher sendiri tetap mempertahankan ekspresi wajahnya yang flat, kaku, dan sedingin es. Sepasang mata kelabunya menatap lurus ke depan, memperhatikan hamparan galeri di bawahnya tanpa membalas tatapan wanita di sampingnya. Namun, yang membuat dada Chloe mendadak dirayapi oleh rasa sesak yang luar biasa tajam adalah tindakan wanita itu selanjutnya.
Dengan gerakan yang sangat natural dan penuh percaya diri, wanita glamor itu mengulurkan kedua tangan lentiknya, lalu menggelayut manja di lengan kekar Asher. Dia menyandarkan sebagian bobot tubuhnya pada pundak kokoh pria itu, menunjukkan sebuah klaim kepemilikan fisik yang teramat intim di depan publik.
Dan Asher... pria yang semalam mengamuk dan menghukum Chloe tanpa ampun hanya karena dia keluar rumah tanpa izin, pria yang selalu memancarkan aura mematikan jika ada orang asing yang berani mendekatinya, malam ini justru diam membisu. Asher sama sekali tidak menolak, tidak menjauhkan tubuhnya, ataupun melepaskan gelayutan manja wanita tersebut dari lengan kekarnya. Pria itu membiarkan dirinya disentuh dan didekati dengan begitu mudah oleh wanita glamor itu.
Sret...
Sebuah rasa nyeri yang teramat tajam, asing, dan menghunjam dalam mendadak menghantam lubuk hati Chloe. Rasanya seperti ada belati tak kasat mata yang baru saja menggores dinding dadanya hingga berdarah. Chloe meremas bagian depan gaun hijau zamrudnya dengan jemari yang mendadak dingin dan gemetar.
Pikiran Chloe langsung melayang pada pertanyaan sensitif yang tadi siang sempat dia ajukan kepada terapisnya di kamar mandi: Apakah Asher pernah membawa perempuan lain ke mansion? Keraguan dan ketakutan yang ditunjukkan oleh terapis itu kini terjawab sudah dengan pemandangan nyata yang tersaji di depan matanya sendiri. Wanita di atas sana jelas bukan orang baru dalam kehidupan Asher.
Di atas balkon, Asher tetap fokus menatap lurus ke arah kerumunan di lantai bawah, sama sekali tidak menyadari kehadiran sosok mungil Chloe yang berdiri mematung di balik bayangan salah satu pilar instalasi seni raksasa.
Chloe memejamkan matanya rapat-rapat selama beberapa detik, mencoba meredakan gemuruh rasa sakit, kecewa, dan penghinaan yang mendadak bercampur aduk di dalam dadanya. Untuk apa dia berada di sini? Untuk apa dia merasa bahagia bisa keluar dari rumah, jika pada akhirnya dia hanya ditunjukkan pada kenyataan pahit bahwa posisi dirinya di mata Asher memang tidak lebih dari sekadar barang tebusan yang bisa digantikan atau diabaikan kapan saja? Sementara di luar sana, pria itu memiliki wanita lain yang bebas menyentuhnya tanpa perlu menerima hukuman kejam.
Tanpa berlama-lama lagi, dan tanpa berniat untuk mencari tahu lebih lanjut siapa wanita tersebut, Chloe langsung membalikkan tubuhnya. Keputusan untuk menikmati pameran seni malam ini seketika berubah menjadi mimpi buruk yang ingin segera dia akhiri. Dengan langkah kaki yang terburu-buru dan sedikit limbung, Chloe berjalan cepat melintasi lorong galeri, mengabaikan beberapa pasang mata yang menatapnya heran, dan langsung melangkah keluar menuju pintu keluar utama untuk memanggil sopir pribadinya agar segera membawanya pulang ke mansion.
Di dalam kabin belakang mobil putih yang bergerak membelah kegelapan malam, keheningan yang menyiksa kembali mengurung Chloe. Suasana di dalam mobil terasa begitu dingin, sekaku ruang hampa udara.
Bzzz... Bzzz... Bzzz...
Ponsel di dalam tas tangan Chloe terus-menerus bergetar tanpa henti. Layar ponselnya menyala berulang kali, menampilkan rentetan panggilan telepon dan pesan masuk dari Cassandra yang tampaknya baru saja menyadari bahwa adik iparnya telah tiba namun mendadak menghilang dari area galeri.
Chloe menatap layar ponsel yang berkedip itu dengan pandangan mata yang kosong dan kuyu. Dia sama sekali tidak memiliki energi atau kekuatan emosional untuk mengangkat panggilan tersebut dan berpura-pura suara semuanya baik-baik saja di hadapan kakak kedua Asher. Dengan jemari yang gemetar, Chloe mengabaikan seluruh rentetan telepon dari Cassandra.
Sebagai gantinya, dia membuka aplikasi pesan singkat, lalu mengetikkan untaian kalimat maaf dengan gerakan yang kaku.
"Kak Cassandra, aku benar-benar minta maaf yang sebesar-besarnya. Tiba-tiba saja kondisi tubuhku drop dan kepalaku terasa sangat pusing saat baru tiba di galeri tadi. Aku memutuskan untuk langsung pulang ke mansion karena tidak ingin merepotkan acara pameranmu. Maafkan aku karena tidak bisa menemanimu malam ini..."
Setelah menekan tombol kirim, Chloe langsung mematikan daya ponselnya seutuhnya, melempar benda pipih itu ke samping kursi kulit dengan rasa muak yang mendalam. Dia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, memalingkan wajahnya untuk menatap lurus ke luar jendela mobil, melihat pendar lampu-lampu jalanan kota yang tampak kabur dan berputar di matanya.
Dada Chloe terasa begitu sesak, seolah-olah ada batu besar yang sedang menghimpit saluran pernapasannya. Nyeri di hatinya akibat pemandangan di balkon galeri tadi tidak kunjung mereda, melainkan semakin meluas dan menggerogoti sisa-sisa pertahanan dirinya.
Tanpa bisa dia bendung lagi, setetes air mata yang hangat dan bening perlahan-lahan lolos dari sudut mata rusanya, menetes turun membasahi pipi porselennya yang mulus, disusul oleh tetesan-tetesan berikutnya yang mengalir dalam keheningan malam. Malam ini, di balik tirai kaca mobil mewah yang membawanya kembali menuju sangkar emasnya, Chloe menangis bukan hanya karena rasa takut akan kekejaman Asher, melainkan karena sebuah perasaan terluka yang teramat dalam—sebuah retakan tak kasat mata yang menandakan bahwa sang mawar kecil kini telah mulai peduli pada siapa pemilik rantai yang mengikatnya.