NovelToon NovelToon
Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak tii

Bagi Karin, dosen pembimbingnya yang bernama Pak Arkan adalah monster nyata di dunia perkuliahan. Dingin, kaku, dan tidak segan mencoret draf skripsinya sampai penuh tinta merah. Karin bertekad untuk segera lulus agar bisa terbebas dari pria menyebalkan itu.

Namun takdir berkata lain. Demi melunasi utang pengobatan ibunya yang menumpuk, Karin terpaksa menyetujui pernikahan kontrak selama satu tahun dengan Pak Arkan sebuah rencana perjodohan rahasia yang diatur oleh keluarga mereka.

Kini, Karin tidak hanya harus berhadapan dengan Pak Arkan di ruang dosen yang menegangkan, tapi juga harus berbagi atap di apartemen yang kamarnya saling bersebelahan. Di kampus mereka harus pura-pura tidak kenal, sementara di rumah, Karin perlahan menemukan sisi lain sang dosen.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak tii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tamu malam hari

"Gila! Gila! Gila! Ini orang niatnya bimbingan atau mau ngajakin baku hantam sih?"

Aku menghempaskan tubuhku ke atas kasur busa tipis di kamar kos dengan kasar. Di sampingku, draf proposal skripsi yang penuh dengan coretan tinta merah dari Pak Arkan tergeletak mengenaskan. Beberapa bagian bahkan dicoret silang besar-besar, seolah-olah tulisanku itu adalah sampah yang tidak layak baca.

Aku menatap langit-langit kamar dengan nelangsa. Kalau terus-menerus digalaki seperti ini, jangankan lulus tahun ini, bisa-bisa semester depan aku masih nongkrong di depan ruangan Pak Arkan sambil membawa tumpukan kertas revisi baru.

Ponselku di atas bantal tiba-tiba bergetar. Sebuah nama muncul di layar. "Ibu".

Rasa kesal yang tadinya memenuhi dadaku seketika menguap, berganti dengan rasa rindu bercampur cemas. Aku buru-buru menggeser tombol hijau ke kanan.

"Halo, bu? Ibu udah makan malam?" tanyaku, mencoba membuat nada suaraku terdengar seceria mungkin agar beliau tidak khawatir.

"Halo, Karin sayang. Ibu udah makan kok tadi disuapi sama tante kamu," suara Ibu di seberang telepon terdengar sangat lemah dan sesekali diiringi batuk kecil. "Kamu sendiri gimana di Banjarmasin? Makannya teratur kan? Skripsinya lancar?"

Aku menelan ludah, menatap kertas coretan merah di sampingku. "Lancar banget, Bu! Ini Karin baru aja pulang bimbingan. Dosen pembimbing Karin baik banget kok, katanya tulisan Karin udah bagus, tinggal dirapiin sedikit aja."

Aku benci berbohong, tapi aku tidak punya pilihan lain. Ibu baru saja keluar dari rumah sakit minggu lalu setelah menjalani perawatan intensif karena penyakit jantungnya. Aku tidak mau beban pikirannya bertambah hanya karena masalah skripsiku yang terseok-seok.

"Syukurlah kalau begitu, Nak. Ibu cuma mau bilang... kamu fokus aja kuliah ya. Jangan mikirin biaya obat Ibu dulu. Masalah biaya rumah sakit kemarin, nanti Ibu coba bicarakan lagi sama keluarga besar," tutur Ibu lembut.

Setelah panggilan telepon itu berakhir, aku hanya bisa terduduk lemas di tepi kasur. Aku tahu persis kondisi keuangan keluarga kami. Tabungan Ibu sudah habis total, dan utang ke kerabat dekat sudah menumpuk sangat banyak demi biaya operasi bulan lalu. Sebagai anak tunggal, rasa bersalah karena tidak bisa berbuat apa-apa membuat dadaku terasa sangat sesak.

Pukul delapan malam.

Suasana di luar kosan sedang gerimis tipis. Aku sedang fokus menatap layar laptop, mencoba memperbaiki bagian latar belakang proposal skripsiku yang dicoret-coret Pak Arkan tadi pagi, ketika Mbak Rika tiba-tiba mengetuk pintu kamarku dengan heboh.

"Karin! Karin, cepat keluar!" panggil Mbak Rika setengah berbisik dari balik pintu.

Aku mengernyitkan dahi, membuka pintu kamar. "Ada apa sih, Mbak? Berisik banget dari tadi."

"Itu... di ruang tamu bawah ada tamu nyariin kamu," ujar Mbak Rika dengan mata yang membelalak lebar, wajahnya tampak sangat heboh sekaligus bingung.

"Tamu? Siapa? Anak-anak kelas mau numpang nge-print?"

"Bukan! Tamunya bapak-bapak paruh baya penampilannya rapi banget, naik mobil mewah yang harganya bisa buat beli kosan ini sepuluh biji! Dan yang paling bikin Mbak syok... dia datang bareng cowok ganteng yang mukanya mirip banget sama dosen killer kamu itu!"

Jantungku seketika berdegup kencang. Mirip Pak Arkan?

Tanpa membuang waktu, aku langsung merapikan jilbab instanku dan berjalan turun ke lantai satu dengan perasaan campur aduk. Dari anak tangga terakhir, aku bisa melihat dua orang pria sedang duduk di sofa ruang tamu kosan Mbak Rika yang sederhana.

Pria pertama adalah seorang laki-laki paruh baya berumur sekitar enam puluh tahunan, mengenakan batik sutra yang terlihat sangat berkelas, wajahnya tampak berwibawa namun ramah.

Dan pria kedua yang duduk di sebelahnya... adalah Pak Arkan.

Malam ini dia tidak memakai kemeja kerja formalnya. Pak Arkan hanya mengenakan kaos polo hitam kasual, namun tatapan matanya tetap saja dingin dan kaku saat matanya tidak sengaja beradu pandang denganku yang baru saja turun tangga.

"Karin? Sini, Nak, duduk dekat Bapak," ujar pria paruh baya itu dengan senyum hangat yang sangat ramah begitu melihatku.

Aku berjalan dengan langkah kaku, lalu duduk di sofa tunggal di hadapan mereka berdua. "Selamat malam... maaf, ada perlu apa ya Bapak mencari saya?" tanyaku sangat sopan, sambil sesekali melirik Pak Arkan yang dari tadi hanya diam melipat tangan di dada dengan wajah ditekuk masam.

"Kenalkan, nama Bapak, Danu Dewangga. Bapak adalah kakeknya Arkan," ujar beliau memperkenalkan diri dengan lembut. "Bapak sengaja datang ke sini jauh-jauh dari Jakarta karena ada hal sangat penting yang ingin Bapak sampaikan ke kamu, Karin."

"Hal penting... tentang apa ya, Pak?"

Pak Danu melirik sekilas ke arah cucunya, lalu kembali menatapku dengan tatapan yang sangat serius namun teduh.

"Bapak tahu tentang kondisi ibumu di rumah sakit, dan Bapak tahu keluargamu sedang kesulitan membiayai pengobatannya. Bapak ingin menawarkan bantuan penuh. Bapak akan menanggung semua biaya pengobatan ibumu sampai sembuh total, dan Bapak juga akan menjamin seluruh biaya hidup serta kuliahmu sampai lulus."

Aku tertegun. Mataku membelalak lebar mendengar tawaran yang rasanya terlalu indah untuk menjadi kenyataan itu. "B-bapak serius? Tapi... kenapa Bapak mau membantu saya sejauh itu? Kita bahkan baru pertama kali bertemu malam ini."

Pak Danu tersenyum tipis. "Tentu ada syaratnya, Karin. Bapak ingin... kamu menikah dengan Arkan."

UHUK!

Aku hampir saja tersedak air liurku sendiri mendengar kalimat tersebut. Aku langsung menoleh ke arah Pak Arkan dengan tatapan tidak percaya, dan di saat yang sama, Pak Arkan juga sedang menatapku dengan raut wajah yang sama-sama kesal dan terpaksa.

"Menikah... dengan Pak Arkan?!" pekikku tertahan, suaraku mendadak melengking saking syoknya. "Tapi Pak, dia kan dosen saya! Lagipula kami sama sekali gak saling kenal secara pribadi!"

"Ini adalah pernikahan kontrak selama satu tahun, Karin," potong Pak Arkan tiba-tiba dengan suara beratnya yang dingin, akhirnya membuka suara setelah sejak tadi hanya diam. "Kakek saya sangat ingin melihat saya menikah sebelum usianya bertambah lanjut, dan kakekmu dulu adalah sahabat baik kakek saya yang pernah berjasa besar bagi keluarga kami. Jadi, ini adalah kesepakatan timbal balik."

Pak Arkan menatapku lurus-lurus, seolah sedang menganalisis baris kode yang rusak di draf skripsiku. "Saya akan memberikan semua bantuan finansial yang ibumu butuhkan tanpa kurang sepeser pun. Sebagai gantinya, kamu hanya perlu menandatangani kontrak pernikahan ini dan tinggal satu atap dengan saya selama dua belas bulan ke depan tanpa ada yang boleh tahu di kampus. Bagaimana?"

Aku membeku di tempat dudukku. Kepalaku mendadak terasa berputar sangat cepat.

Di satu sisi, ini adalah jalan keluar instan untuk menyelamatkan nyawa Ibuku yang sangat aku cintai. Di sisi lain, ini berarti aku harus menyerahkan kebebasanku dan tinggal bersama seorang dosen killer yang setiap hari hobinya menyiksa mentalku dengan coretan pulpen merah di kampus.

Aku menatap draf proposal skripsiku yang penuh coretan merah di lantai atas, lalu kembali menatap mata tajam Pak Arkan yang sedang menanti jawabanku di hadapanku.

Ya Tuhan... cobaan macam apa lagi ini?

1
Rian Moontero
mampiiir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!