NovelToon NovelToon
Kisah Tanpa Dirimu

Kisah Tanpa Dirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: neng_86

Maara Hayuning menikah dengan putra wanita yang telah menyebabkan ibunya mengalami koma.

Mira, ibunda Revan tak sengaja menabrak Maara dan ibunya karena kurang berkonstrasi hingga menyebabkan rahim Maara bermasalah dan ibunya koma lalu meninggal setelah berjuang untuk hidup.

Tak ingin rasa bersalah itu makin menderanya, Mira memaksa putranya Revan Adiyasa menikahi Maara sebagai bentuk tanggung jawab meski pria itu awalnya menolak karena telah memiliki kekasih.

Akankah Maara bertahan atau justru menemukan cinta yang bisa menerima kekurangannya?

Lalu bagaimana perjuangan seorang duda bernama Kenan Jayadi demi bisa menadapatkan hati Maara?

yuk simak....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kejutan yang menyakiti (2)

Semua orang yang berada diruang keluarga terdiam dengan isi pikiran masing-masing.

Revan bahkan tak bisa berkata-kata ketika seorang gadis menghampirinya dan langsung memeluknya erat seperti sebuah ungkapan rindu yang mendalam.

"Mas... Selamat ulang tahun ya... semoga kamu selalu diberi kesehatan dan rezeki yang melimpah... Aku merindukanmu" ucapnya yang diiringi sebuah kecupan dipipi Revan.

Gian yang ceriwis kali ini hanya terdiam tak bisa berkata-kata. Matanya secara otomatis melirik kearah gadis yang sedang membawa nampan berisi beberapa macam minuman segar.

Maara yang melihat pemandangan yang menyesakkan dada hanya bisa menekan sisi nampan yang berisi minuman untuk para sepupu Revan.

Dia menebak ini pasti Laura kekasih Revan yang selalu dia dengar namanya baik dari sepupu laki-laki itu atau dari Revan langsung.

Laura melepas pelukannya dan menatap semua orang dengan kening berkerut.

"Tumben kamu diam Gian? Biasanya kalau aku datang, mulutmu selalu berisik" sindir Laura.

Gian mengelus tengkuknya yang tiba-tiba saja merinding horor.

Memaksakan senyum kakunya.

"Kalian kenapa? Kayak lihat hantu aja..." heran Laura menatap satu-persatu orang-orang.

"Laura.... Kapan kamu sampai? Kok nggak ngabarin tante atau Revan?" tanya Mira mendekati Laura.

"Tante..." Laura menyalami wanita itu dengan santun tak lupa cipika-cipikinya.

"Baru sampai tadi sore... Aku sengaja nggak kasih kabar biar jadi kejutan... Tapi kok kayaknya kalian nggak suka aku datang...." cemberut Laura manja.

"Oh.. Nggak kok beb... Aku senang kamu kembali... " sela Revan cepat.

"Kangen kamu dan semuanya... " rengek manja Laura.

Mata Laura menyipit sejenak.

"Dia siapa? Pembantu tante Mira? Kok masih muda?"ucapnya mengarah kepada Maara yang masih berdiri membeku di dekat pilar yang memisahkan ruang keluarga dan ruang tamu.

Amel tak dapat menahan senyumnya kala Laura juga menganggap Maara sebagai pembantu keluarga Adiyasa.

Revan menatap tajam kearah Maara tapi bibirnya terkunci rapat.

" Bukan...! Dia menantu kami... Dan tolong ralat kata-kata kamu barusan Laura!" tegas Rendra Adiyasa.

"Pa..." sela Revan.

Laura mengernyit bingung.

Kepalanya tertoleh pada Revan dan Maara bergantian.

"Tunggu... Maksudnya menantu? Kan putra om cuma Revan... Kok bisa? Kamu bisa jelasin ini mas?" desaknya pada Revan.

Maara menggigit bibir bawahnya. Dadanya berdegup lebih kencang. Udara disekelilingnya mendadak begitu menyesakkannya.

"Seperti yang kamu dengar! Maara Hayuning adalah menantu keluarga Adiyasa, istri dari Revan Adiyasa..." ujar Rendra lagi.

Laura kembali menoleh kepada Revan seperti meminta penjelasan.

"Beb...? Kamu kok diam aja? Jelasin sama aku... Kamu selingkuh? Kamu hamilin perempuan lain? Jahat kamu mas!!" amarah Laura pecah seketika.

"Please sayang.. Nanti aku akan jelasin sama kamu... Kamu tenang dulu.." ujar Revan memegang bahu Laura guna menenangkannya.

Laura menepis tangan Revan dengan kasar.

"Gimana aku bisa tenang mas! Disaat aku jauh dinegeri orang dan menjaga hatiku selama disana, kamu disini justru menikah dengan perempuan lain! Aku butuh penjelasanmu mas, bukan kalimat penenang!"

"Jahat kamu mas!"

Laura memukul dada Revan berulang kali guna melampiaskan kemarahannya.

Laura juga melempar kotak kado yang berada ditangannya tepat didepan wajah Revan dan pergi meninggalkan ruangan tersebut.

"Laura... Tunggu! Aku akan jelasin semuanya... Lauraaa...." Revan bergegas mengejar Laura yang kadung emosi.

Decit ban mobil begitu nyaring meninggalkan halaman rumah keluarga Adiyasa.

Revan menggusar kasar wajahnya.

"Shitt..!" umpatnya.

Dengan dada yang bergemuruh, Revan masuk kedalam rumah guna mencari kunci mobilnya.

"Ngapain kamu susul dia! Biarkan saja dia dan yang harus kamu tenangin itu Maara bukan perempuan lain!" suara bariton Rendra membuat langkah Revan terhenti.

Revan mengepalkan tinjunya.

Dengan nafas tertahan, dia mejawab kalimat Rendra dengan nada tenang.

"Pa... Kita sudah membicarakan ini sebelumnya dan dia" tunjuk Revan mengarah kepada Maara "Dia sudah tahu bahwa pernikahan ini hanyalah kedok untuk menutupi kesalahan mama..." sambungnya.

"Revan...!!! Jaga bicaramu!!" hardik Rendra menggelegar mengisi ruangan.

Suasana jadi hening seketika seolah sedang memberi ruang untuk setiap luapan emosi yang tersimpan.

Mira menutup matanya dan menarik nafas pelan.

Suaminya tidak pernah semurka ini dan kini dia melihat sisi lain Rendra setelah 32 tahun pernikahannya.

"Dimana salahku pa? Aku sudah menikahinya sebagai bentuk pertanggung jawaban kita dan sekarang Laura marah kepadaku... Dimana salahku pa....?! Aku sudah membuktikan baktiku sebagai seorang anak lalu kalian mau aku bagaimana lagi? Aku harus bagaimana pa....??!!" ujar Revan tak kalah emosinya.

Revan menarik nafas sejenak.

"Jika kalian minta aku untuk memutuskan Laura, Tidak...!!! Aku tidak akan melakukannya walaupun kalian menganggapku sebagai anak yang durhaka, aku akan tetap menikahi Laura dengan atau tanpa restu kalian...!" tegas Revan.

"Revan...!!!" teriak Rendra memanggil putranya.

Tapi Revan tetap pergi dengan amarah yang masih menggebu.

Mobilnya pun ikut meninggalkan rumah kediaman Adiyasa menyisakan beberapa orang yang nampak syok dengan kejadian barusan.

Mira kini ditenangkan oleh saudara-saudaranya.

Maara masih terpaku di tempatnya dengan nampan yang masih ia pegang.

"Ck... Kalau jadi kamu, aku sudah minta cerai dan menghilang jauh dari semuanya.. Itu kalau kamu masih punya rasa empati... Tempatmu bukan disini!" ujar Amel dengan suara rendah namun tetap menusuk kejantung.

Perempuan itu juga ikut meninggalkan acara makan malam yang berantakan.

Maara melirik sekali lagi kearah Mira yang masih terisak duduk di sofa bersama saudara-saudaranya yang sedang menghiburnya.

"Sini nampannya... Kamu istirahat dikamar saja.... Jangan khawatirkan tante Mira dan Revan..." kali ini Denis yang selalu ketus meraih nampan yang masih dipegang erat oleh Maara.

Dia juga sempat melihat nampan itu bergetar.

Sebagai seorang dokter, dia tahu gejala yang ditunjukkan oleh Maara.

Bola mata hitam Maara bergerak menatap Denis yang berdiri menjulang dihadapannya.

Denis yang awalnya tak menyukai Maara kini berbalik bersimpati pada gadis itu.

Harusnya keluarga ini tak boleh memperlakukan Maara seperti ini hanya karena sebuah tanggungjawab.

Maara tak menolak saat Denis meraih nampan tersebut.

Tanpa sepatah kata, Maara beranjak masuk kedalam kamar tamu yang sejak sore ia tempati.

Meski bingung, tapi Denis tak mencegahnya.

"Susul Revan Yan... Dia pasti ke apartemen mu buat nenangin diri" suruh Denis pada Gian yang berjalan kearahnya.

Tanpa banyak protes, Gian kemudian juga ikut meninggalkan rumah Adiyasa dan disusul oleh Denis setelahnya.

...********^*******...

Revan menyugar rambutnya.

Berkali-kali dia mencoba menghubungi ponsel Laura namun tak diangkat oleh gadis itu bahkan kini hanya operator yang menjawabnya.

"Please Laura... Aku mau jelasin semua sama kamu..."

"Aku menikahinya karena mama... Mama tak sengaja menabrak dia dan ibunya sehingga membuat ibunya koma lalu meninggal dunia... Dia juga mengalami cindera rahim akibat trauma kecelakaan dan kata dokter dia tidak akan bisa hamil"

"Aku nggak pernah menyentuhnya seujung kuku pun... hatiku masih terpaut untukmu dan kita akan tetap menikah seperti rencana awal kita"

"Tolong jawab panggilanku Laura agar aku bisa jelasin semuanya sama kamu... Aku mohon..."

Beberapa voice note Revan kirim berharap Laura mendengarnya dan bisa memahami isi hatinya.

Dan untuk pertama kalinya, pria itu menitikkan air mata.

Hatinya gusar.

Takut jika nanti Laura memutuskannya.

Tidak!

Revan tak siap jika harus putus dengan Laura.

Suara pintu apartemen dibuka.

Disana sudah ada Denis dan Gian.

Keduanya merasa iba sekaligus kesal pada Revan.

Denis duduk di sofa tunggal di depan Revan.

"Bagaimana?" tanyanya.

Revan menggeleng lemah.

"Laura tidak mau menemuiku apalagi mengangkat panggilanku..." tutur Revan lemah.

"Beri dia waktu... Ini mengejutkan baginya... "

"Ck... niat hati mau kasih kejutan justru dia yang kaget...." sela Gian yang ikut duduk disisi Revan.

Revan melirik horor pada sepupunya itu.

"Kalian pulanglah...! Aku mau nginap disini!" usir Revan yang memejamkan kedua matanya.

"Enak aja... Ini apartemen ku... Kamu yang harusnya pulang! Kan rumahmu ada, pulang sana!" protes sewot Gian tak terima diusir dari apartemennya sendiri.

Revan tak lagi mendengar ocehan Gian yang misuh-misuh.

Dia hanya perlu tidur sejenak dan kembali menyusun strategi untuk menjelaskan semuanya kepada Laura dan juga orang tua gadis itu.

Revan harus menelan pil pahit tepat di hari ulang tahunnya yang ke 30 tahun.

Sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.

bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!