NovelToon NovelToon
Malam Saat Aku Melahirkan, Suamiku Bersama Sahabatku

Malam Saat Aku Melahirkan, Suamiku Bersama Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Penyesalan Suami / Romansa Fantasi
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Erunisa

Persahabatan selama lima belas tahun membuat Aurel percaya bahwa Kayla adalah keluarga yang dipilih oleh hati. Mereka berbagi tawa, air mata, mimpi, bahkan janji untuk selalu ada dalam setiap langkah kehidupan masing-masing.
Hingga suatu hari, semesta merobohkan semua kepercayaan itu.
Suami yang dicintainya, Mahesa, ternyata menyimpan rahasia yang tak pernah terbayangkan. Perempuan yang diam-diam mengisi ruang di hati Mahesa bukanlah orang asing, melainkan sahabat yang selama ini duduk di meja makan rumahnya, memeluknya saat ia menangis, dan mengucapkan doa terbaik di hari pernikahannya.
Yang paling menyakitkan bukanlah perselingkuhan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa kebohongan tersebut dibangun oleh dua orang yang paling ia percaya.
Di antara cinta, pengkhianatan, dan harga diri yang tercabik, Aurel harus memilih, bertahan demi mempertahankan keluarga, atau melepaskan semuanya meski harus kehilangan dua orang sekaligus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Persidangan hari itu berlangsung lebih lancar dari yang diperkirakan.

Satu per satu bukti diperlihatkan di hadapan majelis hakim.

Arya menyampaikan seluruh dalil gugatan dengan tenang dan terstruktur.

Najwa pun memberikan keterangan sesuai apa yang ia ketahui. Tak ada yang dilebih-lebihkan. Tak ada pula yang ditutupi. Semua disampaikan sebagaimana adanya.

Mahesa hanya duduk diam. Sesekali ia mengusap wajahnya yang mulai dipenuhi keringat.

Ketika hakim menanyakan mengenai beberapa bukti yang diajukan, Mahesa tidak mampu membantah. Percakapan itu memang benar. Pertemuan-pertemuan itu memang terjadi.

Bahkan beberapa fakta yang sebelumnya masih berusaha Mahesa tutupi, kini perlahan terungkap melalui rangkaian bukti yang saling berkaitan.

Mahesa menundukkan kepala. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa penyesalan saja tidak cukup untuk menghapus semua yang telah ia lakukan.

Sidang hari itu akhirnya ditutup. Majelis hakim menjadwalkan sidang berikutnya untuk melanjutkan pemeriksaan sesuai tahapan persidangan.

"Sidang ditunda dan akan dilanjutkan pada jadwal yang telah ditetapkan." Ketukan palu terdengar memenuhi ruangan.

Aurel mengembuskan napas panjang. Belum selesai. Namun setidaknya, satu langkah lagi telah berhasil dilewati.

Selesai sidang, Aurel berjalan berdampingan dengan Arya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, wajah Aurel tampak lebih cerah. Bukan karena ia merasa menang. Melainkan karena ia melihat proses hukum berjalan sesuai harapannya.

"Apa saya tadi sudah menjawab dengan baik, Pak Arya?" tanya Aurel.

Arya mengangguk tipis. "Ibu sudah sangat tenang."

"Itu membantu jalannya persidangan."

Aurel tersenyum lega. "Terima kasih."

"Saya jadi lebih percaya diri karena Bapak terus mengarahkan saya."

"Itu memang tugas saya." Jawab Arya singkat.

Di belakang mereka, Najwa ikut tersenyum melihat sahabatnya mulai kembali menemukan ketenangannya.

"Sudah kubilang, kan?"

"Kamu pasti bisa." kata Najwa.

Aurel mengangguk. "Iya."

"Aku juga nggak menyangka ternyata aku bisa setenang itu." kata Aurel.

Sementara itu. Tidak jauh dari mereka. Mahesa keluar dari ruang sidang dengan langkah yang terasa berat. Wajahnya pucat. Sorot matanya kosong. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa bukti-bukti yang dimiliki Aurel tersusun begitu rapi. Semua bantahan yang sempat ia siapkan seolah runtuh satu per satu.

Mahesa berhenti di anak tangga pengadilan. Menatap Aurel yang sedang berbincang dengan Arya dan Najwa. Aurel tersenyum. Senyum yang sudah lama tidak pernah ia lihat. Ironisnya..Senyum itu muncul bukan saat bersamanya. Melainkan saat Aurel sedang berjuang melepaskan dirinya.

Mahesa menundukkan kepala. Dadanya terasa semakin sesak.

Di sisi lain, Kayla yang sejak tadi menunggu segera menghampiri.

"Gimana?"

"Sidangnya gimana?"

Mahesa tidak langsung menjawab.

"Mas..." Kayla kembali bertanya.

Mahesa menggeleng pelan. "Semuanya berjalan sesuai proses."

"Itu artinya bagus, kan?" Tanya Kayla penuh harap.

Mahesa menatap Kayla beberapa detik. Entah mengapa, pertanyaan itu justru membuatnya semakin lelah. Baginya, setiap sidang bukanlah langkah menuju kebahagiaan. Melainkan langkah demi langkah menuju akhir rumah tangga yang dulu dibangun bersama Aurel. Tanpa menjawab lagi, Mahesa berjalan melewati Kayla. Meninggalkan wanita itu yang hanya bisa memandang punggungnya dengan perasaan bingung.

Di hari yang sama..Ada dua wajah yang keluar dari pengadilan dengan perasaan yang sangat berbeda. Aurel melangkah dengan hati yang mulai menemukan harapan. Sedangkan Mahesa melangkah sambil membawa penyesalan yang terasa semakin berat di setiap langkahnya.

Setelah meninggalkan gedung pengadilan, Arya menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah Aurel dan Najwa yang berjalan di belakangnya.

"Kalau tidak ada acara lain..."

"Bagaimana kalau kita minum kopi dulu?"

Najwa langsung mengangkat alis. "Serius, Pak?"

Arya mengangguk pelan. "Hari ini persidangan berjalan cukup baik."

"Saya rasa kita semua butuh sedikit waktu untuk mengendurkan pikiran."

Aurel sempat ragu. "Ah, tidak usah, Pak. Nanti malah merepotkan."

Arya tersenyum tipis. "Tidak merepotkan."

"Anggap saja saya yang mentraktir."

Najwa langsung menyikut pelan lengan Aurel. "Kalau bos yang traktir, masa ditolak?"

Aurel terkekeh kecil. "Baiklah."

Beberapa menit kemudian, mereka sudah duduk di sebuah kafe yang letaknya tidak jauh dari pengadilan. Suasananya tenang. Tidak terlalu ramai.

Pelayan datang menghampiri. "Apa yang ingin dipesan?"

Arya menoleh kepada dua wanita di hadapannya.

"Silakan pesan dulu."

Najwa tanpa sungkan memesan es kopi favoritnya. Sementara Aurel memilih kopi susu dengan kadar gula yang lebih sedikit.

Arya sendiri hanya memesan americano dingin.

Tak lama kemudian, pesanan datang. Suasana sempat hening beberapa saat.

Hingga Najwa tiba-tiba tersenyum jahil.

"Pak Arya."

Arya mengangkat pandangannya. "Iya?"

"Boleh saya jujur?"

"Tentu." jawab Arya.

Najwa tertawa kecil. "Baru kali ini saya melihat sisi lain Bapak."

Arya terlihat bingung. "Sisi lain?"

"Iya."

"Selama ini di kantor Bapak terkenal serius."

"Kalau lewat lorong kantor saja, semua orang langsung duduk rapi."

Aurel spontan tersenyum mendengar cerita itu.

Najwa melanjutkan. "Kalau ada yang melihat Bapak jalan, langsung pura-pura sibuk."

"Takut dipanggil."

Arya menggeleng pelan sambil tersenyum. "Sebegitunya?"

Najwa mengangguk mantap.

"Sebegitunya."

"Tapi sekarang..." Najwa menunjuk gelas kopi di depan Arya.

"...ternyata Bapak cukup asyik juga."

"Bahkan mau mentraktir kami."

Aurel ikut menimpali pelan. "Jujur saja, Pak."

"Awalnya saya juga mengira Bapak orang yang sulit diajak bercanda."

Arya mengembuskan napas pelan lalu tersenyum kecil. "Saya memang serius saat bekerja."

"Kalau urusan pekerjaan, saya tidak ingin setengah-setengah."

"Tapi di luar itu..."

"...saya juga manusia biasa."

Najwa langsung tertawa. "Nah, ini baru kalimat yang tidak akan dipercaya satu kantor."

Arya hanya menggeleng sambil tersenyum. "Kalau mereka tahu saya bisa bercanda, nanti wibawa saya hilang."

Ucapan itu membuat Aurel dan Najwa tertawa bersamaan. Suasana yang sejak pagi dipenuhi ketegangan akhirnya berubah jauh lebih ringan.

Beberapa pegawai kafe bahkan menoleh sesaat karena mendengar tawa mereka. Setelah tawa mulai reda, Arya kembali bersikap lebih tenang.

"Saya senang melihat Bu Aurel jauh lebih tenang dibanding beberapa minggu lalu."

Aurel mengangguk. "Semua berkat bantuan Pak Arya dan Najwa."

"Saya hanya menjalankan tugas." Jawab Arya singkat.

Najwa tersenyum jahil lagi. "Itu dia."

"Pak Arya selalu begitu."

"Dipuji sedikit saja langsung jawab, 'Saya hanya menjalankan tugas.'"

Arya hanya menggeleng pelan tanpa membantah. Senyum tipis masih terukir di wajahnya.

Melihat ekspresi atasannya itu, Najwa diam-diam merasa puas. Selama bertahun-tahun bekerja di firma hukum tersebut, baru kali itu ia melihat Arya duduk santai sambil bercanda bersama kliennya.

Di sisi lain, Aurel juga baru menyadari bahwa di balik pembawaannya yang tenang dan berwibawa, Arya ternyata memiliki sisi hangat yang jarang diperlihatkan kepada orang lain. Dan tanpa mereka sadari, secangkir kopi sore itu bukan hanya menjadi pelepas penat setelah persidangan. Melainkan juga awal dari tumbuhnya rasa saling mengenal yang lebih dalam di antara tiga orang itu.

1
Yuyu
mamam tuh
Eneng Farida
dasar tidak tahu dri kmu kayla pengen hdup seneng dan bahagia atas jeri payah istri sah makan tuh laki2 kere
Ma Em
Semoga masalah Aurel dgn Mahesa cepat selesai .
Ma Em
Karena Aurel percaya seratus persen pada Galang jadi Aurel tdk menaruh curiga pada dua orang peselingkuh itu sampai bertahun tahun .
jekey
up lg thor
Allea
bagusss
Ma Em
Mahesa selingkuh dgn Kayla selama tujuh tahun dan Aurel tdk curiga sama sekali kalau Kayla sendiri tdk beritahu Aurel sekarang Aurel msh tenang2 saja , benar2 perselingkuhan yg hebat bisa sampai tujuh THN tdk diketahui .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!