Roses For The Cold Boss (Mawar Untuk Bos Dingin)

Roses For The Cold Boss (Mawar Untuk Bos Dingin)

Ruang Eksekusi

​Malam di kota ini tidak pernah benar-benar sepi, terutama di lantai teratas gedung pencakar langit berkedok perusahaan investasi milik Sterling Group. Di balik dinding kaca tebal yang menyajikan pemandangan kelap-kelip lampu kota dari ketinggian tiga puluh lantai, atmosfernya terasa begitu mencekam. Suara rintik hujan yang menghantam kaca luar terdengar lamat-lamat, kalah telak oleh suara napas terengah-engah dari seorang pria yang terikat di atas kursi besi di tengah ruangan.

​Di sudut ruangan yang minim pencahayaan, Asher duduk dengan tenang di balik meja kerja kayu mahogani besarnya. Wajahnya yang rupawan terpahat sempurna, dengan rahang tegas yang tercukur rapi dan sepasang mata kelabu yang sedingin es. Tidak ada kehangatan di sana. Tidak ada emosi. Pria berusia awal tiga puluhan itu mengenakan setelan jas hitam tiga potong yang pas di tubuh tegapnya, tanpa satu pun kerutan. Jari-jemarinya yang panjang dan kokoh memegang sebatang cerutu yang ujungnya membara merah, mengesankan aura kekuasaan yang mutlak dan tak tergoyahkan.

​Setiap embusan asap abu-abu dari bibir Asher seolah menambah berat udara di dalam ruangan itu. Di dunia bawah tanah, nama Asher adalah sinonim dari malaikat maut. Dia tidak mengenal kata ampun, tidak peduli pada air mata, dan tidak pernah ragu untuk melenyapkan siapa saja yang berani mengusik jalurnya. Baginya, manusia hanyalah bidak catur yang bisa dibuang kapan saja jika sudah tidak berguna atau berani berkhianat.

​"Asher... demi Tuhan, Asher... aku bersumpah bukan aku yang membocorkan jalur pengiriman di pelabuhan utara," ratap pria di kursi itu. Tubuhnya gemetar hebat, wajahnya sudah babak belur, penuh memar keunguan dan darah yang mengalir dari pelipisnya. Dia adalah salah satu manajer logistik yang telah bekerja untuk organisasi Asher selama tiga tahun. Namun, di dunia Asher, kesetiaan masa lalu tidak memiliki nilai tebusan jika hari ini kau membuat kesalahan.

​Asher tidak menjawab. Dia bahkan tidak melirik ke arah pria yang memohon ampun itu. Pandangannya tetap lurus menatap asap cerutu yang membubung ke langit-langit. Sikap diamnya justru menjadi teror yang paling menyiksa bagi siapa pun yang berada di ruangan itu.

​Di samping kursi pria yang terikat, berdiri Kenzo.

​Sebagai tangan kanan sekaligus orang kepercayaan nomor satu Asher, Kenzo adalah bayangan yang selalu mengikuti ke mana pun sang bos pergi. Penampilannya selalu rapi dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan otot-otot lengannya yang kekar dan beberapa bekas luka tembak. Wajah Kenzo datar, tanpa ekspresi, seperti robot yang hanya bergerak berdasarkan perintah. Di pinggangnya, terselip sebuah belati taktis dan sepucuk pistol berperedam suara yang siap menyalak kapan saja.

​Kenzo melangkah satu pukulan maju, memecah keheningan dengan suara sepatunya yang berdecit di atas lantai marmer. "Dia berbohong, Bos," ucap Kenzo dengan nada suara yang sangat tenang, namun sarat akan ancaman. "Kami menemukan mutasi rekening luar negeri atas namanya sebesar dua ratus ribu dolar dari pihak lawan, tepat dua hari sebelum penggerebekan di pelabuhan. Semua bukti digital sudah saya amankan."

​Mendengar laporan Kenzo, pria yang terikat itu langsung memucat. Matanya terbelalak penuh ketakutan. "Tidak! Itu fitnah! Kenzo, kau menjebakku!" teriaknya histeris.

​Kenzo tidak membalas teriakan itu dengan kemarahan. Dia hanya menatap pria itu dengan pandangan dingin yang kosong. Bagi Kenzo, tugasnya adalah menjadi perpanjangan tangan Asher. Jika Asher adalah otak yang merencanakan kematian, maka Kenzo adalah badai yang mengeksekusinya tanpa banyak bicara. Hubungan antara Asher dan Kenzo telah terjalin bertahun-tahun di atas fondasi profesionalisme yang brutal; Kenzo tahu persis apa yang diinginkan bosnya bahkan sebelum Asher mengucapkannya.

​Asher perlahan mengetukkan jemarinya ke meja, menjatuhkan abu cerutunya ke asbak kristal. Suara ketukan itu terdengar seperti detak jam kematian.

​"Kau tahu apa yang paling aku benci di dunia ini, menyedihkan?" Asher akhirnya bersuara. Suaranya berat, bariton, dan bergema di ruangan yang sunyi itu. Nada bicaranya tidak tinggi, tidak ada kemarahan yang meledak-ledak, namun justru keheningan yang dingin itulah yang membuat bulu kuduk merinding.

​Pria yang terikat itu menelan ludah dengan susah payah, air matanya menetes bercampur darah. "A-Asher..."

​"Kebohongan," lanjut Asher, sambil berdiri dari kursi kebesarannya. Tubuhnya yang tinggi menjulang menciptakan bayangan besar yang seolah menelan pria di depannya. Asher berjalan perlahan, memutari meja kerja, lalu melangkah mendekati pria tersebut. Setiap langkah kakinya yang lambat terasa seperti siksaan psikologis yang berat.

​"Aku bisa memaafkan kegagalan jika kau bodoh. Tapi aku tidak pernah memaafkan pengkhianatan dari orang yang kubayar untuk setia," kata Asher lagi. Dia kini berdiri tepat di depan pria itu, menatapnya dari atas dengan pandangan merendahkan, seolah makhluk di bawahnya tidak lebih dari seekor serangga yang siap diinjak.

​Asher mengulurkan tangannya ke samping tanpa menoleh. "Kenzo."

​Tanpa perlu penjelasan lebih lanjut, Kenzo dengan sigap mengeluarkan sebilah pisau bedah yang sangat tajam dari saku bagian dalam jasnya dan meletakkannya di telapak tangan Asher. Gerakan Kenzo begitu presisi dan cepat, menunjukkan betapa seringnya mereka melakukan ritual eksekusi seperti ini bersama-sama.

​Asher menerima pisau itu, memainkannya di antara jari-jarinya yang efisien. Kilatan cahaya lampu ruangan memantul di mata pisau yang berkilau perak.

​"Tolong, Asher! Aku punya anak dan istri! Demi Tuhan, kasihani mereka!" jerit pria itu, mencoba meronta hingga kursi besinya bergetar dan berisik di atas lantai marmer.

​Mendengar kata 'kasihan', seringai tipis yang mengerikan muncul di sudut bibir Asher. Kata itu sudah lama hilang dari kamus hidupnya. Baginya, belas kasihan adalah kelemahan yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang siap mati konyol di jalanan. Di dunia bawah tanah yang dikuasainya, hanya ada dua pilihan: menjadi serigala yang memangsa, atau menjadi domba yang dikuliti. Dan Asher adalah puncak dari rantai makanan itu.

​"Kenzo, tahan dia," perintah Asher pendek.

​Kenzo maju dengan cepat. Dengan satu gerakan tangan yang kuat, dia mencengkeram rambut pria itu dari belakang, menariknya dengan kasar hingga kepala pria itu mendongak paksa, mengunci pergerakannya sepenuhnya. Tangan Kenzo yang lain menekan bahu pria itu agar tidak bisa bergeser satu milimeter pun. Kekuatan fisik Kenzo yang masif membuat korbannya sama sekali tidak berkutik.

​Asher melangkah maju satu tapak lagi. Dia mendekatkan mata pisau yang dingin itu ke pipi pria yang terus menangis tersebut. "Jika kau memikirkan anak dan istrimu sebelum menerima uang dari musuhku, mungkin malam ini kau masih bisa memeluk mereka," bisik Asher tepat di telinga pria itu.

​Srett.

​Tanpa ragu dan dengan gerakan yang sangat tenang, Asher menggoreskan pisau itu jauh ke dalam kulit pipi sang pengkhianat. Jeritan kesakitan yang memilukan langsung pecah, memenuhi seluruh penjuru ruangan. Darah segar berwarna merah pekat langsung menyembur, mengalir membasahi kemeja pria itu dan menetes ke lantai marmer putih yang bersih.

​Asher melakukan itu semua tanpa mengedipkan mata. Wajahnya tetap sedingin es, seolah dia hanya sedang memotong selembar kertas, bukan daging manusia. Kenzo yang memegangi kepala pria itu tetap bergeming, menahan setiap hentakan tubuh korban dengan cengkeraman besi tanpa menunjukkan rasa jijik atau belas kasihan sedikit pun. Bagi Kenzo, darah adalah makanan sehari-hari.

​Setelah selesai memberikan "peringatan" pertama, Asher mundur satu langkah. Dia menyerahkan kembali pisau yang kini berlumuran darah itu kepada Kenzo. Kenzo menerimanya, lalu dengan sapu tangan hitam, dia membersihkan bilah pisau tersebut dengan gerakan yang teratur dan tenang sebelum menyimpannya kembali.

​Asher kembali ke mejanya, mengambil sapu tangan sutra putih untuk menyeka beberapa percikan darah yang mengenai ujung lengan kemejanya. "Bereskan dia, Kenzo. Aku tidak ingin melihat wajahnya lagi besok pagi. Dan pastikan seluruh asetnya disita untuk mengganti kerugian di pelabuhan."

​"Baik, Bos. Akan saya selesaikan di ruang bawah tanah," jawab Kenzo tegas. Dia langsung memberi isyarat kepada dua orang pengawal bertubuh besar yang berjaga di luar pintu untuk masuk. Kedua pengawal itu dengan cepat melepaskan ikatan kursi dan menyeret pria yang sudah setengah tidak sadarkan diri itu keluar dari ruangan, meninggalkan jejak seretan darah di atas lantai marmer.

​Kenzo tidak langsung pergi. Dia mengambil kain pembersih yang selalu tersedia di sudut ruangan, lalu berlutut di lantai untuk membersihkan sendiri sisa-sisa darah yang berceceran. Sebagai tangan kanan, Kenzo sangat perfeksionis. Dia tahu Asher menyukai kerapian dan kebersihan di ruang kerjanya. Suasana kembali sunyi, hanya menyisakan suara gesekan kain pembersih Kenzo di atas lantai dan rintik hujan di luar sana.

​Setelah lantai kembali bersih tanpa noda, Kenzo berdiri dan merapikan pakaiannya. Dia berjalan mendekati meja Asher yang sedang kembali menikmati cerutunya.

​"Ada satu masalah lagi, Bos," kata Kenzo, memecah kesunyian dengan nada formal.

​Asher mengembuskan asap cerutunya, tatapannya beralih pada Kenzo. "Katakan."

​"Ini tentang salah satu anak buah kita di level bawah. Seorang pria tua pengumpul setoran di wilayah barat. Dia sudah menunggak utang dalam jumlah yang sangat besar kepada organisasi, dan malam ini adalah batas akhir pembayarannya. Kolektor kita di lapangan melaporkan bahwa pria itu kembali gagal membayar dan mencoba melarikan diri," lapor Kenzo dengan mendalam.

​Asher menyandarkan tubuhnya ke kursi kulitnya, mengetuk-ngetukan jarinya ke lengan kursi. Matanya menyipit, memancarkan aura berbahaya yang baru saja meredam namun kini tersulut kembali. Di bawah kepemimpinannya, tidak ada satu sen pun uang organisasi yang boleh hilang atau dibawa lari. Siapa pun yang berutang pada Sterling Group harus membayar, entah dengan uang, atau dengan nyawa mereka.

​"Berapa banyak?" tanya Asher pendek.

​Kenzo menyebutkan angka yang cukup fantastis untuk ukuran anak buah level bawah, angka yang jelas tidak akan sanggup dibayar oleh seorang bapak-bapak biasa yang terjebak dalam lingkaran perjudian atau taruhan gelap dunia bawah tanah.

​"Dia tahu konsekuensinya sejak awal saat meminjam uang dari kita," ucap Asher dengan suara yang datar namun mematikan. "Kenzo, bawa pria tua itu ke hadapanku sekarang juga. Jika dia tidak bisa membayar dengan uangnya malam ini, maka kau tahu apa yang harus kau lakukan pada tubuhnya untuk menutupi kerugian kita."

​"Dimengerti, Bos. Saya sendiri yang akan menjemputnya," jawab Kenzo dengan bungkukan hormat yang dalam.

​Kenzo berbalik dan melangkah tegap keluar dari ruangan luas itu. Pintu ganda kayu ek yang tebal tertutup rapat di belakangnya, meninggalkan Asher sendirian di dalam keheningan ruangannya yang megah namun terasa seperti makam yang dingin.

​Asher menatap ke luar jendela besar, ke arah deretan gedung pencakar langit kota yang diguyur hujan lebat. Di matanya, kota ini hanyalah sebuah hutan belantara yang kejam, dan dia adalah rajanya. Tidak ada ruang untuk kelemahan, tidak ada tempat untuk pengampunan. Hidupnya diisi oleh kegelapan, bisnis berdarah, dan kesetiaan mutlak yang dipaksakan lewat rasa takut. Dan bagi siapa saja yang berani bermain-main dengan aturannya, malam ini hanyalah awal dari mimpi buruk yang tidak akan pernah berakhir.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!