Shen yifan adalah seorang pemuda yang terobsesi dengan pembuatan pil, namun sayangnya, ia tidak bisa menjadi alkemis di dunia ini hanya karena menjadi manuisa cacat.
Banyak sekali kultivator. Namun orang-orang untuk menjadi seorang alkemis di dunia ini sudah sangat jarang di temukan, bahkan menjadi salah satu kemunduran mutlak.
Salah satunya, hampir di seluruh dunia ini hanya 000,1% para kultivator yang mempunyai element api.
Salah satunya adalah kakek Shen yifan.
Apakah Shen yifan bisa menggapai cita-citanya untuk menjadi alkemis? Atau dia akan mengubah takdir secara tidak langsung, untuk menjadi alkemis sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon En zz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 : Fondasi sebuah perjalanan
Shen Yifan, akhirnya sampai di ruangan sunyi, tempat tinggal sementara di kota istana langit ini. Dengan sewaan yang relatif murah, di tambah semua biaya sewaannya sudah terbayarkan untuk seperkian bulan oleh Nangong Bingxue sebagai tanda terima kasih.
"Entah kenapa, dalam pikiranku tentang negosiasi berjalan lancar. Mungkin perbuatan aku... Yang itu." gumam Shen Yifan, tangannya terlentang, ia tiduran di kasur sederhananya.
"Kakek... Aku sudah berhasil menjadi alkemis tidak resmi hari ini." Ia memandang langit-langit ruangan tersebut. Dalam benaknya, seolah ia kembali melihat Lu Ming berdiri sambil tersenyum hangat. Lelaki tua itu mengangkat ibu jarinya seperti biasa. "Bagus."
"Kalau sudah begini, aku sedikit tenang kultivasi, mengumpulkan sumber daya!"
"Gu Lie... Tunggu aku, masalah kita belum selesai!" Sorot mata Shen Yifan menajam, di dalam hatinya penuh dengan kebencian kepada Gu Lie, yang telah membunuh Kakeknya—Lu Ming.
......................
Satu bulan kemudian
Sejak malam itu, kerja sama antara Paviliun Awan Hijau dan seorang alkemis misterius bernama Fan Yi berjalan tanpa hambatan. Setiap tiga hari sekali, sebuah sosok berjubah hitam selalu datang pada larut malam. Ia tidak pernah berbicara lebih dari yang diperlukan. Setelah menyerahkan beberapa botol pil, ia akan mengambil batu spiritual hasil penjualan, lalu menghilang begitu saja.
Awalnya, Yan He sempat memeriksa setiap butir pil dengan sangat teliti.
Namun setelah beberapa kali transaksi, ia mulai menghentikan kebiasaannya itu, bukan karena lengah, melainkan karena seluruh pil yang dikirim Fan Yi selalu memiliki kualitas yang nyaris sama.
Tidak pernah ada retakan inti. Tidak pernah ada kebocoran energi.
Kemurniannya bahkan stabil di atas sembilan puluh persen.
Perlahan, nama Paviliun Awan Hijau mulai kembali mendapatkan kepercayaan para kultivator.
Banyak pelanggan lama yang kembali berdatangan, bahkan beberapa kultivator dari kota lain sengaja datang hanya untuk membeli Pil Pemulih Qi milik mereka.
Meski demikian, perjalanan bisnis itu tidak selalu berjalan mulus.
Kadang kala, proses peleburan Shen Yifan gagal karena pengendalian api sedikit meleset.
Ada pula beberapa tanaman herbal yang kualitasnya terlalu rendah sehingga hanya menghasilkan satu pil, bahkan sesekali tidak menghasilkan apa pun.
Namun Shen Yifan tidak pernah merasa kecewa. Baginya, setiap kegagalan adalah pengalaman.
Sedikit demi sedikit, teknik alkemis nya semakin matang.
Selain membuat pil, Shen Yifan tidak pernah melupakan tujuan utamanya.
Setiap malam setelah selesai mengolah pil, ia selalu duduk bersila di atas ranjang kayu. Energi spiritual dari sekeliling ruangan mengalir perlahan memasuki tubuhnya. Energi spiritual itu terus mengalir menuju Gerbang Misterius di dalam dantiannya, sedikit demi sedikit.
Energi spiritual di dalam tubuhnya juga menjadi jauh lebih padat dibanding sebelumnya.
Tak peduli berapa banyak energi spiritual yang ia serap, Gerbang Misterius itu seolah telah mencapai batasnya.
Shen Yifan perlahan membuka kedua matanya. Ia mengepalkan tangan pelan. "Sudah mentok..."
Ia dapat merasakan dengan jelas bahwa kultivasinya telah mencapai batas. Bukan karena kekurangan energi spiritual, melainkan karena sebuah penghalang tak kasatmata menghalangi jalannya menuju Ranah Fondasi.
Untuk menerobos penghalang itu, Shen Yifan membutuhkan Pil Foundation Establishment Grade Tiga. Dan pil itu masih kekurangan satu bahan utama.
(Anggrek Jiwa Langit.) batinnya.
Shen Yifan menghela napas panjang, lalu melirik kantung, di dalamnya telah tersimpan cukup banyak batu spiritual hasil penjualan pil selama satu bulan terakhir.
Senyum tipis pun muncul di wajahnya.
"Sudah waktunya..."
"Aku pergi ke Lembah Kabut Roh."
Beberapa saat kemudian, Shen Yifan terpikirkan sesuatu. Ia segera bangkit dari tempat tidurnya.
"Tapi sebelum itu..."
Tatapannya beralih ke beberapa botol giok yang tersusun rapi di atas meja kayu. Di dalamnya tersimpan belasan Pil Pemulih Qi yang berhasil ia buat selama beberapa hari terakhir.
Ia mengangguk pelan.
"Lembah Kabut Roh bukan tempat yang bisa ditinggalkan sesuka hati."
"Bisa jadi aku baru kembali beberapa hari... Atau bahkan beberapa minggu."
Shen Yifan memasukkan seluruh botol giok itu ke dalam cincin penyimpanannya. "Setidaknya... Yan He tidak perlu khawatir kehabisan pasokan."
Sesaat kemudian, sosoknya menghilang dari penginapan, menyatu dengan gelapnya malam.
......................
Paviliun Awan Hijau.
Meski malam telah larut, lampu-lampu di paviliun masih menyala terang.
Yan He sedang memeriksa beberapa catatan penjualan ketika pintu ruangannya diketuk perlahan.
"Saya masuk."
Begitu pintu terbuka, Yan He hanya melirik sekilas sebelum kembali menutup buku catatannya. "Fan Yi."
Lelaki berjubah hitam itu menganggukkan kepala. "Aku datang mengirim pasokan."
Ia meletakkan belasan botol giok di atas meja. Yan He membuka salah satunya dan tersenyum tipis. "Kualitasnya masih sama."
"Bagus." Fan Yi mengangguk.
"Namun kali ini jumlahnya lebih banyak." Yan He sedikit heran. "Apakah kau akan meningkatkan produksi?"
Lelaki berjubah hitam menggeleng pelan. "Tidak... Aku akan meninggalkan Kota Istana Langit untuk sementara waktu."
Tatapan Yan He langsung berubah. "Pergi? Lama?"
"Entahlah." Fan Yi menjawab tenang. "Bisa beberapa hari. Bisa juga lebih lama. Karena itu, anggap saja persediaan ini sebagai stok sementara."
Yan He mengusap janggutnya perlahan.
Ia tidak menanyakan tujuan Fan Yi, ia tahu, setiap alkemis memiliki rahasianya sendiri.
"Baik. Paviliun Awan Hijau akan menjaga seluruh pil ini sampai habis terjual."
Fan Yi mengangguk pelan. "Kalau begitu... Aku titip urusan di sini."
Yan He tersenyum tipis. "Semoga perjalananmu lancar."
Fan Yi tidak menjawab.
Ia hanya menangkupkan kedua tangannya sebagai salam, lalu berbalik meninggalkan ruangan. Yan He memandang punggung lelaki berjubah hitam itu hingga menghilang di balik lorong.
......................
Keesokan paginya Shen Yifan pergi ke paviliun seratus herbal.
Begitu melihat sosok Shen Yifan memasuki paviliun, resepsionis yang sudah mengenalnya segera tersenyum ramah. "Tuan, selamat datang kembali. Seperti biasa? Membeli bahan untuk Pil Pemulih Qi?"
Shen Yifan menggeleng pelan. "Tidak."
"Aku ingin bertanya, apakah di sini ada peta menuju Lembah Kabut Roh?"
Resepsionis itu sedikit terkejut, lalu mengangguk.
"Tentu ada. Mohon tunggu sebentar."
Ia segera berjalan menuju rak di belakang meja resepsionis. Setelah beberapa saat mencari, ia kembali sambil membawa sebuah gulungan peta tua.
"Ini, Tuan."
Shen Yifan membuka gulungan itu perlahan. Jalur menuju Lembah Kabut Roh tergambar cukup jelas, lengkap dengan beberapa persimpangan dan daerah yang dianggap berbahaya.
Resepsionis itu memperhatikan Shen Yifan sejenak sebelum akhirnya bertanya,
"Tuan... Apa hari ini Anda akan berangkat ke sana?"
"Sepertinya begitu." Shen Yifan mengangguk tipis. "Kalau perhitunganku tidak salah... Tiga hari lagi Anggrek Jiwa Langit mulai mekar."
Mendengar itu, wajah resepsionis langsung berubah sedikit serius.
"Lalu... Apa ada lagi yang bisa saya bantu, Tuan?"
Shen Yifan masih menatap peta sambil tersenyum tipis. "Aku sudah sering datang ke sini... Kalau terus dipanggil Tuan, aku jadi canggung."
Ia menggulung kembali peta itu. "Aku ini cuma pelanggan tetap."
Resepsionis itu tersenyum kaku. "Kalau begitu... Bolehkah aku mengetahui nama Anda?"
Shen Yifan terdiam sejenak, tentu saja ia tidak mungkin menyebut nama aslinya. Setelah berpikir beberapa detik, ia menjawab dengan tenang.
"Panggil saja aku... Fan."
"Baik, Tuan... eh, Saudara Fan."
Mendengar perubahan panggilan itu, Shen Yifan mengacungkan ibu jarinya sambil tersenyum.
"Begitu lebih enak didengar."
Resepsionis itu tersenyum kaku.
"Dua Batu Spiritual." Shen Yifan meletakan Batu Spiritual tinggi nya di depan meja resepsionis, dan langsung pergi.
Setelah melihat Batu Spiritual tinggi, resepsionis bingung.
"Fan... Batu nya kelebihan!!" Teriak Resepsionis itu melihat Shen Yifan sudah ada di depan pintu.
"Sisanya buatmu." Shen Yifan langsung keluar dar Paviliun seratus herbal.