NovelToon NovelToon
Kisah Julian & Yisla : Ketika Anima Dan Animus Menulis Takdir Di Negeri Utara

Kisah Julian & Yisla : Ketika Anima Dan Animus Menulis Takdir Di Negeri Utara

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi Isekai / Sistem
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: AzhuraAstra

"Aku terjebak dalam draf novel yang bahkan belum aku pikirkan alur ceritanya, dan sialnya, aku adalah karakter utamanya."

Tidak ada sistem yang akan membuatku kaya raya. Tidak ada kekuatan luar biasa yang diberikan untuk melawan para penjahat di dunia ini. Hanya aku, seorang penulis yang terjebak di tubuh seorang budak bernama Julian, ditemani oleh Anima dan Animus yang cerewet, serta Yisla gadis miskin yang menyelamatkanku dari perbudakan bersama kakak laki-lakinya bernama Vito.

Kami harus lari dari kejaran para penguasa, menukar daging beku demi koin perak, dan mencoba bertahan hidup di dunia yang genrenya terus berubah di luar kendali.

Bersama Yisla, gadis yang menjadi satu-satunya saksi perjuanganku, aku sebagai Julian harus melintasi perbatasan Utara yang dingin menuju ke Selatan. Mencoba peruntungan hidup baru demi merubah hidupku dan Yisla.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

...── ⋆⋅𖤓⋅⋆ ──...

Yisla mematung sejenak di tempatnya berdiri, wajahnya sudah merah padam menahan amarah yang siap meledak. Ia melangkah maju, menatap Julian dengan tatapan tidak suka.

"Julian! Kamu sudah gila?!" desis Yisla, suaranya bergetar menahan emosi. "Rumah itu milik Kak Vito! Kamu nggak bisa seenaknya bawa orang asing apalagi putri kerajaan yang menjadi buronan ke sana!"

Julian, yang masih dibuai oleh bayangan rating pembaca yang meroket, mengabaikan peringatan itu. Ia justru menempatkan Jenny di balik punggungnya.

"Yisla, ini darurat. Kita nggak bisa membiarkan Putri Jenny tertangkap. Nanti aku yang akan bicara sama Kak Vito."

Julian menoleh ke arah Jenny, pemuda itu tersenyum meyakinkan. "Jangan khawatir, Jenny. Aku akan melindungimu."

"Terima kasih, Tuan Julian... Anda benar-benar pahlawan," bisik Jenny manja, sengaja melirik Yisla dengan tatapan remeh.

"Terserah!" potong Yisla dingin. Ia berbalik dan berjalan cepat menembus salju dengan langkah kasar.

"Lakukan apa yang kamu mau, Julian!"

Di dalam saku mantelnya, jemari Yisla mencengkeram erat sebuah belati kecil.

Memorinya mendadak berputar di kepalanya. Tepat sebelum mereka berangkat ke kota, Vito menariknya ke dapur dan menyelipkan sebuah belati itu ke tangannya.

"Pegang ini, Yisla. Aku masih belum bisa memercayai Julian sepenuhnya, sejak dia datang sikapnya sangat aneh. Kalau dia berani macam-macam atau menyakitimu, gunakan ini," bisik Vito tegas waktu itu.

Air mata Yisla akhirnya luruh menetes ke atas salju. Kak Vito benar. Julian memang tidak menyakitinya secara fisik—tapi apa yang cowok itu lakukan sekarang, dengan mudahnya berpaling ke perempuan lain setelah malam intim mereka, rasanya jauh lebih menyakitkan dari luka fisik mana pun.

Sret!

Langkah Yisla terhenti paksa saat sebuah tangan menarik lengannya dari arah belakang. Julian menatapnya dengan napas terengah-engah, sementara Jenny tertinggal beberapa langkah di belakang mereka.

"Yisla, tunggu! Kamu kenapa sih?" tanya Julian frustrasi. Ia menatap wajah Yisla yang basah oleh air mata, lalu sebuah seringai jahil mendadak muncul di bibirnya.

"Tunggu... kamu menangis? Kamu... cemburu, ya?"

Dituduh seperti itu, tangis Yisla justru pecah semakin kencang. Ia berusaha menyentak tangan Julian, namun gagal.

"Lepas, Julian! Kamu jahat! Kamu beneran nggak punya perasaan!"

Melihat air mata Yisla yang tumpah, Julian langsung sadar dari delusi haremnya. Rasa bersalah yang kembali menghantam dadanya.

Tanpa memedulikan Jenny yang menonton di belakang mereka, Julian buru-buru menarik tubuh Yisla ke dalam dekapannya. Ia memeluk gadis itu dengan erat, dan menenggelamkan wajah Yisla di dadanya.

"Maaf... Maaf, Yisla. Aku bercanda. Tolong jangan menangis," bisik Julian panik, sambil mengelus rambut Yisla dengan lembut.

Jenny yang menyaksikan adegan pelukan mesra itu dari kejauhan langsung melipat tangan di dada, matanya menyipit tidak suka. Drama perebutan hati sang Author resmi dimulai di tengah badai salju.

Julian masih terus mendekap tubuh Yisla yang masih sesenggukan, membiarkan kehangatan tubuhnya meredam getaran amarah gadis itu. Setelah beberapa saat, ia mengendurkan dekapan dan memegang kedua pundak Yisla.

Julian menunduk sedikit supaya wajah mereka sejajar, sembari menyunggingkan senyuman jahil.

"Tuh, kan... beneran cemburu. Lagian, kalau nggak suka, nggak mungkin ngambeknya sampai seheboh ini, Yisla."

Wajah Yisla langsung memerah sempurna sampai ke telinga. Rahasia perasaannya yang selama ini ia sembunyikan akhirnya terbongkar.

"Julian, kamu...!! Kamu bener-bener jahat!" tangis Yisla pecah lagi, campur aduk antara malu dan gengsinya yang runtuh total. Ia memukul dada Julian pelan, lalu menyembunyikan wajahnya di balik syal.

Julian terkekeh pelan, merasa gemas karena sifat asli Yisla akhirnya kembali. Ia berjalan mendekati Jenny sambil merangkul pundak Yisla.

Jenny masih melipat tangan di dada dengan sebelah alis terangkat, memancarkan aura tidak suka karena panggungnya direbut oleh seorang gadis desa miskin.

"Ehem... Putri Jenny, maaf ya atas drama barusan," ucap Julian canggung.

"Yisla ini... agak cemburuan kalau ada perempuan lain yang terlalu dekat. Maklum, efek kejadian semalam di penginapan masih membekas."

KRAKK!

Yisla refleks menginjak sepatu bot Julian keras-keras.

Jenny menyipitkan matanya, seolah menangkap sinyal aneh dari kalimat Julian barusan.

"Kejadian semalam? Memangnya... kalian melakukan apa?"

"Anu..." Julian mendadak gagap, menyadari mulutnya lepas kendali. Pikiran adegan dewasanya semalam hampir saja keceplosan.

"Ah! Itu... semalam kita cuma BBQ-an!"

Yisla menghentikan tangisnya dan mendongak bingung. "BBQ-an? Apa itu?"

Jenny ikut mengernyitkan dahinya, menatap Julian dengan tatapan skeptis.

"Bahasa asing macam apa itu? Apa artinya?"

Julian cuma bisa menyengir kuda. Mampus, lidah modern ini malah keluar! Di dunia fiksi abad pertengahan ini mana ada yang tahu istilah bakar daging pake saos tomat!

"Semalam di penginapan kami... eh, kami sibuk kipas-kipas daging sampai asepnya bikin nangis! Makanya Yisla matanya sembap dan sensitif hari ini!"

Yisla menatap Julian dengan pandangan 'kamu-bicara-bahasa-alien-apa-sih-panjul', sementara Jenny melipat tangannya di dadanya, sama sekali tidak termakan alasan absurd tersebut.

"Membakar daging di dalam kamar penginapan?" beo Jenny dengan nada menyelidik yang amat sangat skeptis.

"Selera warga desa ternyata sangat... eksentrik ya, Tuan Julian."

"Ahahaha! Benar sekali, Putri! Eksentrik dan penuh kearifan lokal!" Julian tertawa yang dibuat-buat, lalu buru-buru menoleh ke belakang dengan dramatis demi memotong interogasi.

"A-aduh! Waduh gawat! Itu di balik bukit kayaknya ada bunyi gemerincing zirah lagi! Takutnya tentara kerajaan yang tadi balik lagi nyariin Putri! Ayo gih, buruan, jalan, jalan! Bahaya kan kalau sampai tertangkap!"

Tanpa menunggu respons, Julian langsung mendorong pelan punggung Jenny agar kembali berjalan, sekaligus menarik tangan Yisla agar tidak tertinggal.

Taktik pengalihan isu murahan itu berhasil membuat mereka terpaksa melangkah maju kembali menyusuri rute perbukitan salju menuju rumah Vito.

Begitu ketegangan mereda dan mereka berjalan beriringan dengan Julian terjepit di tengah-tengah dua gadis—Jenny mulai memiringkan kepalanya menatap profil samping wajah Julian dengan mata yang berbinar.

"Tapi tahu tidak, Tuan Julian?" suara Jenny mengalun manja, seolah sengaja memecah keheningan di antara mereka.

"Meskipun pakaian Anda sedikit... gombrang-gambreng dan aneh, tapi jika dilihat-lihat dari dekat, wajah Anda ini jauh lebih rupawan dan gagah daripada Pangeran Negeri Selatan yang dijodohkan dengan saya itu. Dia itu sangat membosankan, tidak seperti Anda."

Dua keping pujian tingkat tinggi dari seorang putri kerajaan langsung membuat hidung Julian kembang kempis. Jiwa narsistik sang author mendadak melambung ke langit ketujuh.

Wah, padahal di bayangan awal aku bahkan nggak membayangkan wajah si Panjul setinggi itu, ternyata visualisasi realitasnya lumayan oke juga ya—

"Oh, tentu saja dia rupawan," potong Yisla tiba-tiba dengan nada yang teramat datar, memutus rantai delusi agung di kepala Julian.

Yisla melirik Julian dari balik syalnya dengan senyuman yang teramat manis, namun sorot matanya sangat sinis.

"Julian ini memang sangat rupawan, Putri Jenny. Apalagi kalau sedang memelas di depan nyonya toko baju sambil mengarang cerita bohong, ketampanannya langsung naik seratus persen karena sangat totalitas."

Uhuk!

Julian tersedak ludahnya sendiri. Sindiran maut dari Yisla sukses menusuk tepat di ulu hatinya, mengingatkan Julian bahwa "istri tiruannya" masih memegang kartu as kelicikan otaknya.

Jenny melirik Yisla dengan tatapan heran, tidak mengerti sindiran internal tersebut, sementara Julian hanya bisa menyengir kuda, menyadari bahwa perjalanan pulang ini akan berjalan sangat panjang bagi keselamatan mentalnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!