Selama tiga tahun menjadi menantu yang numpang hidup, Arya Permana dianggap tak lebih dari sampah. Ia dihina oleh ibu mertuanya, dipandang rendah oleh saingan bisnis istrinya, dan menjadi bahan tertawaan seisi kota Metropolitan. Arya diam dan menanggung semua penghinaan itu demi melindungi wanita yang dicintainya.
Namun, kesabarannya memiliki batas. Ketika keluarganya didorong ke ambang kehancuran, setetes darah Arya tanpa sengaja jatuh ke atas cincin usang warisan mendiang ibunya.
Ding! [Sistem Naga Leluhur Berhasil Diaktifkan!]
Dalam semalam, takdirnya berbalik 180 derajat. Tabir masa lalunya terbongkar; Arya ternyata bukan anak yatim piatu miskin, melainkan pewaris tunggal dari keluarga konglomerat paling berkuasa di dunia yang sedang disembunyikan.
Berbekal kartu hitam dengan saldo triliunan dolar, keterampilan medis tingkat dewa yang bisa menghidupkan orang mati, dan teknik kultivasi kuno pembelah langit, Arya mulai menunjukkan taring aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Kiamat di Nusantara City dan Kembalinya Sang Kaisar
Sirene peringatan serangan udara meraung-raung merobek langit Nusantara City, berbaur dengan jeritan histeris jutaan penduduk yang berlarian mencari tempat berlindung. Langit siang yang cerah kini tertutup oleh awan abu pekat dan kobaran api.
Di atas awan, lima sosok humanoid bersayap naga dengan sisik berwarna emas kotor melayang dengan arogan. Mereka adalah Utusan Darah dari Alam Atas. Senjata militer kebanggaan bumi—jet tempur supersonik, rudal balistik, dan rentetan peluru anti-pesawat—meledak menjadi kembang api yang tak berguna bahkan sebelum bisa menyentuh radius sepuluh meter dari tubuh mereka.
"Dimensi fana yang sangat menyedihkan. Udara di sini sangat tipis hingga membuatku muak," desis Vael, komandan kelima utusan itu. Matanya yang merah menyala menatap ke bawah, ke arah gedung-gedung pencakar langit yang hancur. "Tuan Dewa Naga Darah memerintahkan kita untuk menemukan jangkar karma dari pewaris Naga Leluhur. Hancurkan kota ini sampai kita menemukan jejaknya!"
Empat utusan lainnya tertawa mengejek, melepaskan bola-bola energi destruktif ke arah jalan raya, mengubah aspal menjadi lautan magma dalam sekejap.
Sementara itu, di kedalaman lima puluh meter di bawah tanah, di dalam bunker anti-nuklir milik Dragon Corp cabang Nusantara City.
Riana Kusuma meringkuk di sudut ruangan, kedua tangannya menutupi telinga. Wajahnya pucat pasi. Di ruangan yang sama, Thomas mengoordinasikan sisa-sisa Pasukan Bayangan dengan wajah tegang. Layar monitor di dinding menampilkan kehancuran di permukaan—kehancuran yang tidak bisa dijelaskan dengan logika akal sehat.
"Tuan Thomas, senjata kaliber 50mm kita tidak bisa menembus perisai energi mereka! Pasukan di Sektor Utara telah musnah!" lapor seorang komandan Pasukan Bayangan yang berlumuran darah melalui radio.
Thomas menggebrak meja bajanya. "Tarik semua pasukan yang tersisa! Lindungi Nyonya Riana! Mereka menargetkan siapa pun yang memiliki riwayat ikatan dengan Tuan Muda!"
Riana mendongak, matanya berkaca-kaca. "Thomas... makhluk apa mereka? Apakah... apakah ini karena Arya?"
"Tuan Muda sedang menaklukkan dunia yang jauh lebih besar, Nyonya. Iblis-iblis ini adalah musuh yang ketakutan dan mencoba menyerang titik kelemahan logistik di bumi," jawab Thomas, mencoba mempertahankan profesionalismenya meski tahu ajal sudah di depan mata.
Tiba-tiba, seluruh bunker bergetar hebat. Lampu-lampu darurat berkedip lalu mati total, digantikan oleh pendaran cahaya merah mematikan dari arah lorong utama.
BUMMM!
Pintu brankas titanium setebal dua meter yang diklaim mampu menahan ledakan nuklir itu terbelah menjadi dua. Potongannya terlempar ke dalam ruangan, menewaskan belasan anggota Pasukan Bayangan secara instan.
Vael melangkah masuk melintasi debu titanium yang meleleh. Sayap naganya terlipat di belakang punggung. Matanya langsung terkunci pada Riana yang meringkuk ketakutan.
"Ah... aku menemukannya," Vael menyeringai, memperlihatkan deretan taring yang runcing. "Jejak karma yang sangat tebal. Wanita fana ini pernah berbagi ranjang dengan si anomali. Darahnya akan menjadi umpan yang sempurna."
"Lindungi Nyonya!" Thomas mencabut senapan serbu spiritual hasil riset awal Dragon Corp dan menembakkan peluru berlapis Qi secara brutal ke arah Vael.
Namun, Vael hanya mendengus. Ia menjentikkan jarinya, dan sebuah dinding Qi merah gelap seketika mementalkan semua peluru itu. Dengan satu lirikan mata, tekanan gravitasi dari Ranah Inti Emas Alam Atas menghantam Thomas dan sisa pasukannya, memaksa mereka jatuh tertelungkup ke lantai hingga tulang rusuk mereka retak.
Vael berjalan pelan mendekati Riana, mengulurkan tangannya yang bercakar. "Mari kita lihat, seberapa keras kau menjerit ketika aku menguliti wajah cantikmu ini dan menyiarkannya ke seluruh dimensi—"
KABUMMMMMMM!
Kata-kata Vael terpotong oleh sebuah ledakan sonik yang begitu dahsyat hingga seluruh struktur bunker bawah tanah itu nyaris runtuh. Bukan ledakan dari bom, melainkan suara robekan ruang dan waktu yang sangat masif di atmosfer bumi!
Di permukaan kota, keempat rekan Vael yang sedang melayang di udara tiba-tiba membeku. Langit yang tertutup abu terbelah dua. Sebuah retakan dimensi berwarna biru putih membelah cakrawala.
Dari dalam retakan itu, haluan sebuah kapal kayu raksasa—Perahu Awan Sembilan Naga—menembus awan.
Di atas geladak kapal, Arya Permana berdiri menatap kota kelahirannya yang terbakar. Matanya yang keemasan tidak memancarkan amarah yang meledak-ledak, melainkan perhitungan matematis dari sebuah pembalasan absolut.
"Medan Gravitasi Tirani," bisik Arya datar. "Skala Planet. Turun."
BAMMM!
Tidak ada peringatan. Tidak ada kilatan cahaya. Tiba-tiba saja, gravitasi di seluruh langit Nusantara City melonjak ratusan kali lipat secara selektif.
Keempat Utusan Darah di udara yang memiliki kekuatan dewa di mata manusia bumi, tiba-tiba merasa seolah planet ini menarik mereka dengan kekuatan jutaan ton magnet. Mereka menjerit saat sayap mereka patah ke belakang. Mereka jatuh menghantam tanah aspal layaknya meteorit, menciptakan kawah sedalam belasan meter. Tubuh berlapis sisik mereka hancur, memuntahkan darah emas kehitaman.
Dalam satu detik, pertahanan udara invasi Alam Atas dilenyapkan dari atas geladak kapal tanpa Arya perlu mengangkat tangannya.
Di dalam bunker, Vael merasakan koneksi spiritual dengan keempat rekannya terputus secara instan. Matanya melotot dipenuhi teror yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tekanan yang turun dari langit membuatnya, seorang pakar dari Alam Atas, tak mampu menggerakkan satu jari pun.
Udara di depan Vael terdistorsi. Partikel cahaya berkumpul, dan dari ruang hampa itu, sosok Arya Permana melangkah keluar menggunakan Teleportasi Jarak Pendek (kemampuan yang baru terbuka di Ranah Inti Emas Naga Leluhur).
Arya mengenakan trench coat hitam, kemejanya putih bersih tanpa setitik debu pun. Ia berdiri di antara Vael dan Riana, auranya setenang lautan dalam, namun memancarkan penindasan yang membuat hukum fisika di ruangan itu tunduk padanya.
"Arya...?" bisik Riana tak percaya. Air mata membasahi pipinya. Pria yang dulu ia anggap tidak berguna, pria yang meninggalkannya untuk menguasai dunia, kini kembali turun dari langit layaknya dewa penyelamat.
"Merusak properti perusahaanku, mengintimidasi manajer idealku, dan menyebabkan kepanikan pasar di teritorial asalku," ucap Arya, matanya menatap Vael dengan evaluasi yang sangat rasional dan merendahkan. "Invasi ini adalah operasi bisnis dengan manajemen risiko terburuk yang pernah aku lihat."
Vael menggertakkan giginya, memaksa Inti Emasnya bekerja hingga berdarah untuk melawan tekanan Arya. "K-Kau... Naga Leluhur! Tuan Dewa Naga Darah akan memburu—"
"Sayap naga yang terlalu besar untuk ukuran tubuh humanoid. Aerodinamika yang sangat tidak efisien," potong Arya secara objektif, menunjuk sayap Vael. "Kalian bukan ras naga sejati. Kalian hanyalah produk rekayasa genetika murahan yang gagal."
Arya melangkah maju satu langkah. Jaraknya dan Vael kini hanya tersisa setengah meter.
"Mati kau, anomali!" Vael meronta dari tekanan, mengayunkan cakar beracunnya ke dada Arya.
Arya tidak menghindar. Ia membiarkan cakar itu mengenai dadanya.
Trang! Suara logam beradu terdengar. Cakar Vael patah saat menghantam kemeja Arya, tertahan sepenuhnya oleh perisai Qi tipis yang kepadatan molekulnya menyerupai berlian.
"Kalkulasi daya serangmu terlalu lemah," ucap Arya. Ia dengan santai mengangkat tangan kanannya dan mencengkeram wajah Vael.
Jari-jari Arya yang berlapis Qi Inti Emas Naga Leluhur dengan mudah menembus sisik di wajah Vael.
"Kau datang ke duniaku untuk mencari jangkar karmaku," bisik Arya, suaranya kini membekukan sisa-sisa kewarasan Vael. "Biar kutunjukkan padamu apa yang terjadi ketika kau menarik jangkar dari lautan tanpa dasar."
Arya memutar pergelangan tangannya. Qi murni miliknya disuntikkan secara paksa ke dalam tengkorak Vael, langsung mencari dan menghancurkan Inti Emas di pusat tubuh utusan tersebut.
KRAAAAAK!
Vael meronta hebat sebelum seluruh aliran energinya meledak dari dalam. Ia mati seketika. Arya melepaskan cengkeramannya, dan tubuh utusan Alam Atas itu ambruk ke lantai menjadi tumpukan abu karbon akibat pembakaran Qi internal.
Ruang bunker kembali sunyi. Tekanan mengerikan itu menguap seolah tidak pernah ada.
Arya berbalik, menatap Thomas yang perlahan bangkit dibantu oleh sisa anggota Pasukan Bayangan. "Thomas. Kerugian infrastruktur?"
"S-Signifikan, Tuan Muda," lapor Thomas terbata-bata, masih syok melihat dewa dihancurkan seperti serangga. "Tapi fungsionalitas Pusat Komando masih berjalan."
"Gunakan dana darurat. Bangun kembali kota ini dua kali lipat lebih modern. Tutupi insiden ini menggunakan narasi serangan teroris dengan teknologi eksperimental," instruksi Arya secara efisien.
Matanya kemudian beralih pada Riana yang masih duduk di lantai. Wanita itu menatapnya dengan penuh harap, rindu, dan penyesalan yang mendalam. Riana mencoba berdiri, ingin merengkuh pria yang dulu menjadi suaminya itu.
"Arya... kau kembali..." isaknya pelan.
Namun, pandangan Arya sama sekali tak berubah. Tetap rasional, objektif, dan tidak terikat.
"Aku tidak kembali, Nona Riana. Aku hanya singgah untuk membersihkan hama di halaman depanku," ucap Arya datar. Ia membalikkan badannya.
"Elena, siapkan tim pembersih dari Kunlun. Kita bawa bangkai-bangkai utusan ini ke laboratorium Akademi Naga untuk dibedah," perintah Arya melalui komunikatornya. "Alam Atas telah mendeklarasikan perang terbuka. Maka kita akan meretas struktur genetik mereka dan mengubah kelemahan dewa menjadi produk senjata massal."