Kevin Sanjaya dulunya adalah seorang kurir Ojol pengantar makanan dengan kehidupan keluarga yang penuh dengan kemiskinan. akhirnya dia menemukan sistem pengantaran terhebat.
Sistem tersebut membuat dirinya bisa mendapatkan kekayaan dengan melakukan pengantaran makanan, bahkan wanita cantik pun beramai-ramai mendekatinya.
saat sistem bekerja, ulasan terbaik adalah prioritas atas segalanya. akhirnya kekuatan dan pengaruh telah ia dapatkan, namun tuntutan sistem akan semakin menekan.
bahkan kekuatan penguasa - penguasa akan dia lawan, juga wajah - wajah baru akan dia temui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenjiro Dominic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 : Si Rambut Kuning!
“Mau ciuman lagi dariku?”
Pipi Melati langsung memerah mendengar godaan tiba-tiba dari Kevin. Bahkan telinganya ikut terasa panas. Namun entah kenapa, seolah dikendalikan oleh sesuatu, ia justru mengangguk pelan.
“Mhm…”
“Haha! Bagus sekali! Sekarang kamu pulang dan istirahat dulu, kita ketemu lagi besok malam!”
Semangat Kevin langsung melambung tinggi setelah mendapat persetujuan itu.
“Kevin, aku pergi dulu…”
Dengan sedikit enggan, Nona Melati masuk ke dalam mobil. Dari balik jendela, ia menatap senyum cerah Kevin yang hangat seperti matahari, membuat hatinya kembali berdebar mengingat momen saat digendong tadi.
Bahkan Edward pun diam-diam terkesan.
“Memiliki kemampuan sebesar itu tanpa sedikit pun kesombongan… benar-benar luar biasa,” gumamnya.
Saat mobil mereka perlahan menjauh, senyum licik muncul di sudut bibir Kevin.
“Acara penilaian harta besok malam seperti memanggilku untuk unjuk kemampuan. Sepertinya bakal seru.”
Ding dong!
Suara Sistem tiba-tiba berbunyi.
“Berani menegakkan keadilan dan melindungi kecantikan! Tuan rumah mendapatkan poin Sistem +50, Nilai Pesona +50, serta hadiah uang tunai sebesar sepuluh triliun!”
Kevin tertawa lepas. Sensasi menegakkan keadilan, ditambah kekuatan sebagai setengah langkah Grandmaster, membuatnya merasa sangat puas.
“Kalau setengah langkah Grandmaster saja sudah sehebat ini, bagaimana kalau aku mencapai tingkat Grandmaster, atau bahkan Great Grandmaster?”
“Sepertinya aku harus terus mengantar pesanan dan berbuat baik untuk mengumpulkan poin, supaya bisa naik ke tingkat yang lebih tinggi!”
Saat kembali ke mobil sportnya, Kevin melihat seorang pria berambut kuning dengan pakaian mencolok sedang mencoba mendekati dua wanita muda di dekat Bugatti Veyron miliknya.
“Hai, cantik, mau tukeran Whatsapp?”
Si Rambut Kuning dengan percaya diri mengelus kaca spion Bugatti itu.
“Lagi senggang? Kita jalan-jalan yuk. Mobilku ini keren banget, nyaman pula!”
“Oh?”
Kedua wanita itu tampak terkejut. Perbedaan antara gaya mencolok si Rambut Kuning dan kemewahan Bugatti Veyron terlihat sangat kontras.
“Hehe.”
Melihat keraguan mereka, si Rambut Kuning tertawa kecil.
“Aku cuma lagi nunggu sopirku bawa kunci. Di rumah banyak mobil, tadi aku salah ambil kunci!”
“Ayolah, tukeran Whatsapp dulu. Nanti aku traktir minum,” katanya sambil mengeluarkan ponsel dan mendesak mereka untuk memindai kode Whatsapp.
Kevin yang berdiri beberapa meter dari sana tak bisa menahan tawa.
“Ini strategi baru ya? Tinggal berdiri di samping mobil mewah lalu mengaku itu milik sendiri?”
“Hei, tukang antar! Apa yang lucu?” bentak si Rambut Kuning, jelas kesal. Ia melihat kesempatan untuk pamer.
“Lihat mobil itu? Bugatti Veyron edisi terbatas, harganya sekitar 300 sampai 400 Miliar! Seumur hidup kamu ngantar makanan juga nggak bakal dapat segitu!” ejeknya.
“Berani-beraninya kamu menertawakan anak orang super kaya sepertiku? Percaya deh, aku bisa menamparmu sampai mati!”
Kedua wanita itu mulai terpengaruh. Melihat sikap percaya diri si Rambut Kuning yang berani mempermalukan Kevin di depan umum, mereka mulai berpikir mungkin mobil itu benar miliknya.
“Kalau dia benar anak orang super kaya, tidak ada salahnya tukeran Whatsapp… siapa tahu ada peluang,” pikir mereka.
Zaman sekarang memang penuh kegelisahan. Uang dan keinginan sering kali mengaburkan penilaian. Meski tahu sifat seseorang meragukan, pesona kekayaan tetap sulit ditolak.
“Hehe, mereka mulai terpancing!” batin si Rambut Kuning puas.
“Haha, tukang antar ini juga ada gunanya! Tinggal aku permalukan sedikit lagi, pasti mereka makin kagum!”
Dengan ekspresi sombong dan rokok menggantung di bibirnya, ia berjalan mendekati Kevin.
“Masih ketawa? Cari mati kamu, sampah!”
Namun Kevin sama sekali tidak marah. Ia justru masih tersenyum santai. Tingkah si Rambut Kuning terlalu konyol untuk tidak ditertawakan.
“Kamu pikir kamu bisa menamparku, penipu?” balas Kevin ringan, sudut bibirnya terangkat.
PLAK.....
Tanpa peringatan, ia langsung membalas dengan satu tamparan cepat.