Xiao Chen memiliki Tulang Patah Surga—kutukan yang membuatnya tidak mampu menyimpan Qi, dihina sebagai sampah Sekte Langit Pedang. Ketika dibuang ke jurang penuh mayat oleh tunangan yang menghianatinya, ia justru menemukan rahasia kuno: retakan di tulangnya adalah wadah kekuatan yang bahkan ditakuti para Dewa. Di dunia di mana Kaisar Langit telah mati dan Hukum Dao runtuh, Xiao Chen memulai jalan kultivasi terlarang yang akan mengguncang Tahta Surga. Ia tidak naik untuk berlutut pada takdir... ia naik untuk menghapus Langit itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Di Atas Air yang Tak Bernama
Angin pagi mendorong perahu Kapten Bao menjauhi Kota Karang Hitam dengan kecepatan yang menenangkan. Layar merah pudar mengembang penuh, menangkap setiap hembusan yang ditawarkan lautan. Di kejauhan, garis pantai perlahan mengecil, berubah menjadi bayangan samar yang akhirnya ditelan cakrawala.
Xiao Chen duduk di buritan, bersandar pada tiang kayu. Hui berbaring di sampingnya, kepala di atas cakar depan, mata merahnya setengah terpejam menikmati semilir angin laut. Serigala hitam itu tampak lebih damai di atas air daripada di daratan—mungkin karena tidak ada awan pengawas di atas sini, atau mungkin karena ia memang menyukai laut.
Kapten Bao berdiri di kemudi, satu tangan memegang tongkat kayu yang mengendalikan arah, satu tangan lagi memegang pipa rokok yang asapnya mengepul malas. Matanya yang tua menyapu cakrawala dengan kebiasaan yang terasah selama puluhan tahun.
"Kau tidak mabuk laut," komentarnya setelah hening panjang. "Biasanya penumpang daratan muntah-muntah di jam pertama."
"Aku terbiasa dengan ketidaknyamanan," jawab Xiao Chen.
Kapten Bao mendengus. "Ketidaknyamanan. Kata yang bagus untuk penderitaan." Ia mengisap pipanya dalam-dalam. "Lian Xin tidak cerita banyak tentangmu. Hanya bilang kau penting. Dan berbahaya. Dua hal yang biasanya tidak kusukai di kapalku."
"Aku tidak akan membawa masalah ke kapal ini. Masalahku... tinggal di darat."
"Masalah semua orang tinggal di darat, Nak. Tapi masalah punya kaki. Mereka bisa berenang." Kapten Bao menunjuk pipanya ke arah langit. "Contohnya awan-awan itu. Mereka mengikutimu sejak kau naik ke kapalku."
Xiao Chen mendongak. Awan pengawas itu memang masih di sana, berputar-putar di ketinggian, mengikuti perahu kecil mereka seperti burung nasar yang menunggu bangkai. Di tengah lautan luas, tanpa daratan untuk bersembunyi, mereka terlihat lebih mencolok.
"Mereka hanya mengawasi," kata Xiao Chen.
"Mengawasi apa? Kau bukan buronan kerajaan, kan? Karena kalau iya, tarifku naik."
Xiao Chen nyaris tersenyum. "Bukan buronan kerajaan. Sesuatu yang... lebih tinggi."
Kapten Bao menatap awan-awan itu lama. Lalu ia menggeleng, mengisap pipanya lagi. "Langit memang selalu punya urusan sendiri. Nelayan tua sepertiku hanya perlu tahu kapan badai datang dan kapan harus pulang. Urusan langit... biar langit yang urus."
Ia berbalik, memeriksa layar, meninggalkan Xiao Chen dengan pikirannya sendiri.
---
Hari pertama di laut berlalu tanpa kejadian berarti. Xiao Chen menghabiskan waktunya dengan latihan Pernapasan Tulang, membiarkan Energi Chaos mengalir melalui retakan-retakan yang sudah ada dan meresap ke dalam tiga retakan baru di lengan kirinya. Tulang-tulangnya perlahan beradaptasi, menciptakan jalur-jalur kecil yang kelak akan menjadi fondasi Lapis Ketiga yang sempurna.
Malam harinya, saat Kapten Bao tertidur di kabin kecil di haluan, Xiao Chen menciptakan retakan keempat di lengan kirinya. Kali ini di lengan atas, dekat bahu. Sakitnya masih sama—seperti tulang dibor dari dalam—tapi ia sudah semakin terbiasa. Tubuhnya belajar menerima rasa sakit sebagai bagian dari pertumbuhan.
Hui menonton dengan mata setengah terbuka, sesekali menggeram pelan setiap kali Xiao Chen meringis. Tapi ia tidak mengganggu. Ia mengerti bahwa ini perlu.
Hari kedua, Kapten Bao mulai banyak bicara.
"Gua Naga Tidur," katanya sambil mengunyah ikan kering. "Aku belum pernah ke sana. Tapi kakekku pernah. Katanya tempat itu dikelilingi karang tajam yang bisa merobek lambung kapal dalam sekejap. Airnya tenang, tapi di bawahnya ada pusaran arus yang bisa menelan perahu tanpa jejak."
"Kau tahu jalannya?"
"Aku tahu cara membaca air. Warna, riak, buih. Laut itu seperti buku, Nak. Hanya orang malas yang tidak bisa membacanya." Kapten Bao menunjuk ke permukaan laut di sekitar mereka. "Lihat itu. Biru tua, riak teratur. Itu laut dalam yang aman. Nanti saat kita mendekati gua, warnanya akan berubah. Lebih gelap, lebih kusam. Riaknya kacau. Itu tandanya kita harus hati-hati."
Xiao Chen memperhatikan, mencoba mempelajari apa yang ditunjukkan Kapten Bao. Tulang punggungnya yang bisa membaca getaran tanah ternyata kurang efektif di atas air. Di sini, ia harus mengandalkan mata dan insting—dua hal yang belum ia latih sepenuhnya.
"Kau pernah dengar tentang Kapal Tulang?" tanyanya.
Kapten Bao berhenti mengunyah. "Kapal hantu itu? Semua pelaut di pesisir barat tahu legendanya. Katanya kapal itu terbuat dari tulang naga, bisa berlayar tanpa angin, tanpa ombak. Muncul di malam berkabut, menghilang sebelum fajar. Yang melihatnya biasanya tidak pernah kembali."
"Itu bukan kapal hantu. Itu kapal sungguhan. Dan aku akan menemukannya."
Kapten Bao menatap Xiao Chen lama. Lalu ia tertawa—tawa serak yang terdengar seperti batuk. "Kau memang aneh, Nak. Tapi aku suka orang aneh. Mereka biasanya tidak membosankan."
---
Hari ketiga. Sore menjelang.
Langit di depan mereka berubah. Bukan karena matahari tenggelam—itu masih beberapa jam lagi. Tapi karena air laut di hadapan mereka mulai berubah warna. Dari biru tua menjadi hitam kehijauan, seperti memar tua yang tidak sembuh-sembuh.
"Kita sudah dekat," kata Kapten Bao, suaranya kini serius. Pipanya sudah lama padam, terselip di saku jubahnya. Kedua tangannya memegang kemudi dengan waspada.
Xiao Chen berdiri, memegang tiang kapal untuk keseimbangan. Hui ikut bangun, telinganya tegak, hidungnya mengendus udara.
Di kejauhan, samar-samar, muncul bayangan. Bukan pulau—tapi formasi karang raksasa yang menjulang dari dasar laut, menciptakan dinding-dinding alami yang mengelilingi sebuah teluk kecil. Di tengah teluk itu, airnya tenang sekali—terlalu tenang, seperti kaca hitam yang tidak memantulkan apa pun.
"Gua Naga Tidur," bisik Kapten Bao. "Atau setidaknya pintu masuknya. Lihat karang-karang itu? Bentuknya seperti tulang rusuk."
Xiao Chen melihat. Dan benar saja. Formasi karang itu tidak acak. Mereka tersusun melengkung, seperti tulang-tulang rusuk raksasa yang mencuat dari air, menciptakan lorong alami menuju teluk di dalamnya.
"Ini bukan formasi alami," kata Yue Que di benaknya. "Ini benar-benar tulang rusuk. Tulang rusuk Naga Laut Chaos. Kapal Tulang yang kaucari... mungkin berada di dalam rongga dadanya."
Xiao Chen merasakan Energi Chaos di tulang-tulangnya beresonansi. Simbol di dadanya berdenyut. Mutiara Kegelapan di Ruang Warisan ikut bergetar.
Mereka telah tiba.
"Siap-siap," kata Kapten Bao, suaranya tegang. "Aku akan coba menerobos lorong karang itu. Tapi aku tidak janji apa-apa. Kalau perahuku rusak, kau yang ganti."
Xiao Chen mengangguk. Tangannya meraih Yue Que di balik jubah.
Perahu kecil itu meluncur masuk ke dalam lorong tulang raksasa. Dinding-dinding karang—atau tulang—menjulang tinggi di kiri dan kanan, menciptakan bayangan yang menelan mereka. Air di sini sangat tenang, tidak ada riak sama sekali. Seolah-olah mereka sedang berlayar di atas kaca hitam.
Dan di ujung lorong, di dalam teluk yang dikelilingi tulang rusuk raksasa, Xiao Chen melihatnya.
Sebuah mulut gua. Lebih besar dari apa pun yang pernah ia lihat. Terbentuk dari dua tulang raksasa yang bertemu di atas, menciptakan lengkungan yang mengingatkan pada rahang naga yang menganga.
Di dalam gua itu, kegelapan total. Tapi Xiao Chen bisa merasakannya.
Sesuatu ada di dalam sana. Menunggu.