NovelToon NovelToon
JALANGKUNG JATUH CINTA

JALANGKUNG JATUH CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cintapertama / Mata Batin
Popularitas:207
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Satria adalah cowok SMA yang memiliki "berkah" sekaligus kutukan: ia bisa melihat makhluk halus. Sialnya, Satria tidak seperti tokoh indigo di film-film yang terlihat misterius dan keren. Satria adalah seorang Indigo Semprul. Bukannya mengusir setan dengan doa yang khusyuk, ia lebih sering bernegosiasi dengan kuntilanak menggunakan voucher kuota atau menawar pocong agar tidak melompat di depannya karena ia punya penyakit jantung ringan.
​Pindah ke SMA Wijaya Kusuma—sekolah tua peninggalan Belanda yang kabarnya sangat angker—Satria berharap bisa hidup normal. Namun, harapannya pupus saat ia bertemu Arini, gadis manis ketua OSIS yang ternyata adalah cinta pertamanya saat SD.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia di Balik Lab Biologi

Jika kantin SMA Wijaya Kusuma adalah pusat hiburan bagi para hantu, maka Laboratorium Biologi adalah ruang unit gawat darurat sekaligus museum penderitaan mereka. Tempat ini selalu terasa sepuluh derajat lebih dingin daripada ruangan lainnya. Bau formalin yang menyengat seolah bertarung dengan aroma dupa yang entah berasal dari mana. Namun, bagi Satria, masalah sebenarnya bukan pada bau atau suhunya, melainkan pada penghuni tetap lemari kaca nomor empat: sebuah kerangka manusia asli yang seharusnya hanya menjadi alat peraga, tapi punya hobi mengeluh tentang rematik.

​"Sat, kamu serius mau masuk sekarang? Pak Broto bilang kunci lab ini hilang misterius sejak tadi sore," Arini berbisik, memegang senter ponselnya yang cahayanya menari-nari di dinding lorong yang gelap.

​"Justru itu, Rin. Ucok bilang dia lihat 'si kepala botak' menyeret sesuatu ke dalam lab. Kalau itu kunci sekolah, bisa gawat kalau besok pagi Pak Broto nggak bisa masuk. Kita bakal dituduh lagi," jawab Satria sambil mengutak-atik lubang kunci dengan selembar kawat tipis—keterampilan yang ia pelajari dari hantu pencopet yang dulu menghuni terminal dekat rumahnya.

​Cklek.

​Pintu terbuka dengan suara derit yang panjang, seolah memprotes kehadiran mereka. Begitu masuk, cahaya senter Arini menyapu deretan mikroskop yang tertutup kain putih, botol-botol spesimen berisi janin hewan yang diawetkan, dan... sesosok bayangan tinggi yang berdiri di pojok ruangan.

​“AKHIRNYA... ADA YANG DATANG JUGA...”

​Bukan, itu bukan hantu jahat. Itu adalah Profesor Hans, hantu Belanda yang dulunya adalah ahli anatomi di bangunan ini sebelum menjadi sekolah. Profesor Hans mengenakan jas lab yang sudah robek-robek, dan di tangannya, ia memegang sebuah jantung manusia dalam toples formalin.

​"Malam, Prof. Lagi bedah apa malam-malam begini?" tanya Satria santai, meskipun jantungnya sendiri berdegup kencang.

​Meneer Van De Berg muncul di belakang mereka, memberikan hormat singkat. “Hans, kau masih saja terobsesi dengan organ-organ itu. Tidakkah cukup kau kehilangan nyawamu sendiri saat mencoba meneliti detak jantung hantu?”

​“Ah, Van De Berg! Kau tidak akan mengerti sains!” Profesor Hans melayang mendekat. “Satria, kau datang tepat waktu. Kunci yang kau cari ada pada si 'Kerangka Lemari Empat'. Dia mengamuk karena tulang rusuknya yang ketiga sebelah kiri hilang, dan dia menolak mengembalikan kunci itu sebelum tulang itu ditemukan.”

Satria dan Arini berjalan menuju lemari kaca di tengah lab. Di dalamnya, berdiri kerangka manusia yang diikat dengan kawat besi. Namun, posisi kerangka itu tidak seperti biasanya. Ia tampak sedang duduk meringkuk di dasar lemari, memegang kunci besar milik Pak Broto dengan erat di tulang jarinya.

​"Permisi, Pak Kerangka? Bisa kita bicara sebentar?" Satria mengetuk kaca lemari.

​Kerangka itu mendongak. Rahangnya bergerak-gerak, menimbulkan suara klektak-klektak yang mengerikan. “Tulangku... siapa yang mencuri tulangku? Aku merasa tidak simetris! Aku tidak mau jadi alat peraga kalau penampilanku cacat!”

​"Rin, cari tulang rusuk di sekitar sini. Siapa tahu jatuh pas jam pelajaran tadi," perintah Satria.

​Mereka mulai menggeledah laboratorium. Arini memeriksa di bawah meja praktikum, sementara Satria memeriksa di dalam bak cuci piring. Namun, yang mereka temukan justru lebih aneh. Di dalam salah satu loker siswa, terdapat sebuah ritual kecil: lilin hitam, foto Pak Broto yang dicoret-coret, dan... tulang rusuk yang mereka cari, digunakan sebagai pengaduk ramuan aneh di dalam gelas kimia.

​"Sat! Lihat ini! Ada siswa yang mencoba main dukun-dukunan di lab!" Arini menunjuk ke arah loker milik Raka, siswa paling culun sekaligus paling misterius di kelas sebelah.

​"Gila... dia mau guna-guna Pak Broto pakai tulang kerangka lab?" Satria menggelengkan kepala. "Raka beneran udah putus asa sama nilai biologinya."

​Tiba-tiba, suhu di lab turun drastis. Cairan di dalam gelas kimia itu mulai mendidih, meskipun tidak ada api. Sesosok asap hitam pekat keluar dari gelas tersebut, membentuk wajah raksasa yang mengerikan.

​“SIAPA... YANG BERANI... MENGGANGGU RITUAL INI?!”

Itu adalah Arwah Penunggu Tanah, yang terpanggil karena ritual salah kaprah si Raka. Arwah ini jauh lebih kuat dari Mbak Suryani atau Bambang. Ia adalah akumulasi energi negatif dari tanah sekolah yang sudah ratusan tahun terpendam.

​“MAKANAN... AKU BUTUH MAKANAN JIWA!” asap hitam itu menerjang ke arah Arini.

​"ARINI, MERUNDUK!" Satria melompat, namun ia tidak punya senjata.

​Profesor Hans berteriak dari pojok, “SATRIA! GUNAKAN CAIRAN BASA KUAT DI LEMARI ASAM! ENERGI NEGATIF ITU BERSIFAT ASAM METAFISIK! KITA HARUS MENETRALISIRNYA!”

​Satria tidak bertanya bagaimana Profesor Hans tahu kimia hantu. Ia berlari ke lemari asam, mengambil sebotol besar Natrium Hidroksida (NaOH) yang sudah terkonsentrasi.

​"Rin! Ambilkan cuka di rak sebelah! Kita bikin reaksi netralisasi massal!"

​"Tapi Sat, itu buat apa?!"

​"Percaya aja sama sains ghaib Profesor Hans!"

​Satria menuangkan cairan basa ke dalam gelas kimia yang berisi tulang rusuk tadi, sementara Arini melemparkan sebotol cuka dari kejauhan. Begitu kedua zat itu bertemu, terjadi reaksi hebat. Busa putih meluap keluar dengan sangat cepat, menciptakan kabut uap yang memenuhi ruangan.

​Secara mengejutkan, uap kimia itu bereaksi dengan asap hitam sang Arwah. Kabut putih tersebut "mengikat" molekul-molekul asap ghaib itu, membuatnya menjadi berat dan jatuh ke lantai dalam bentuk gumpalan-gumpalan seperti jelaga hitam yang tidak berdaya.

​“TIDAK... SAINS... SIALAAAANNN...” suara arwah itu mengecil dan akhirnya menghilang ditelan reaksi kimia.

Setelah suasana tenang, Profesor Hans mendekat, tampak sangat bangga. “Vila! Itulah kekuatan kimia, Anak Muda. Asal kau tahu, arwah itu sebenarnya adalah perwujudan dari gas metana purba yang terinfeksi emosi negatif manusia. Netralisasi kimia adalah kunci untuk mengusirnya.”

​Satria mengambil tulang rusuk yang kini sudah bersih dari ramuan hitam itu, lalu mengembalikannya ke si Kerangka Lemari Empat.

​"Ini tulang lo. Pasang yang bener, dan balikin kuncinya."

​Kerangka itu memasang tulangnya dengan bunyi klik yang memuaskan. Ia tampak berdiri tegak kembali dengan gagah. “Terima kasih, Manusia. Ini kuncinya. Bilang pada Pak Broto, jangan biarkan siswa culun masuk lab sendirian lagi. Mereka lebih berbahaya daripada hantu.”

​Satria menerima kunci itu. Namun, di balik tulang rusuk sang kerangka yang baru terpasang, ia melihat sesuatu yang tersembunyi di dalam rongga dadanya: sebuah surat kecil yang sudah menguning.

​Satria mengambilnya dan membacanya bersama Arini di bawah cahaya senter.

​"Untuk siapapun yang menemukan ini. Lab Biologi ini bukan sekadar tempat belajar. Di bawah lantai ubin ketiga dari meja guru, terdapat peta menuju brankas rahasia Meneer Van De Berg yang hilang. Peta ini adalah kunci untuk menyelamatkan sekolah ini dari kebangkrutan masa depan. - Profesor Hans, 1942."

​Satria dan Arini saling berpandangan. Mereka melirik ke arah ubin ketiga di depan meja guru.

​Meneer Van De Berg yang tadinya diam, tiba-tiba tampak sangat terkejut. “Brankas saya? Jadi Hans, kau yang menyembunyikannya selama ini?!”

​Profesor Hans hanya terkekeh ghaib sambil menghilang ke dalam botol spesimen. “Rahasia besar butuh pahlawan besar, Van De Berg. Dan sepertinya kita sudah menemukannya dalam diri si Semprul ini.”

"Sat... kita nggak akan bongkar lantai ini sekarang, kan?" tanya Arini ragu.

​Satria menatap kunci di tangannya, lalu menatap ubin tersebut. "Nggak sekarang, Rin. Kita harus simpan ini buat bab selanjutnya. Tapi satu hal yang pasti: sekolah ini punya rahasia yang jauh lebih besar daripada sekadar hantu-hantu yang kita kenal."

​Mereka keluar dari Lab Biologi, mengunci pintu kembali, dan berjalan cepat menuju gerbang sekolah. Di kejauhan, fajar mulai menyingsing.

​"Sat," panggil Arini saat mereka sudah di depan motor Satria. "Kenapa kamu nggak ambil saja isi brankas itu nanti buat kita sendiri?"

​Satria tersenyum sambil memakaikan helm ke kepala Arini. "Karena kalau sekolah ini bangkrut dan tutup, gue nggak akan bisa ketemu lo lagi setiap hari di kantin. Dan itu adalah kerugian yang lebih besar daripada kehilangan satu brankas emas Belanda."

​Arini tersipu, menyandarkan kepalanya di bahu Satria saat motor mulai melaju. Di spion, Satria bisa melihat sosok Meneer Van De Berg melambai dari jendela Lab Biologi, sementara si Kerangka Lemari Empat memberikan tanda jempol dengan tulang jarinya.

​Hari itu, Satria belajar bahwa di SMA Wijaya Kusuma, sains dan mistis bisa berjalan berdampingan—dan rahasia sejati seringkali tersembunyi di tempat yang paling tidak terduga, di antara tulang belulang dan botol formalin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!