''Semua laki-laki sama, termasuk kamu."
Duniaku hancur saat tahu Ayah punya keluarga lain. Malam itu juga, aku pergi meninggalkan rumah, kenangan, dan laki-laki yang paling mencintaiku tanpa satu pun kata pamit. Bagiku, cinta hanya sebuah kepalsuan.
Lima tahun berlalu, aku kembali sebagai wanita mandiri yang keras hati. Namun, takdir mempertemukanku lagi dengannya di sebuah persimpangan.
Dia tidak lagi mengejarku. Dia hanya memilih duduk di sampingku saat aku menangis, mendengarkan tanpa banyak tanya, dan menjagaku dari kejauhan.
Apakah aku sanggup membuka hati, saat bayang-bayang pengkhianatan Ayah masih menghantui? Bisakah aku berdamai dengan luka, jika memaafkan saja terasa begitu mustahil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Seminggu telah berlalu. Aku berdiri di depan pintu ruang rapat dengan tangan yang mencengkeram erat tali tas kerjaku. Tidak ada Farez hari ini. Jadwal konsultasi ini murni antara pihak konsultan kami dan Wira Pratama Holdings. Aku harus berdiri di atas kakiku sendiri, tanpa aroma kayu cendana yang biasanya menjadi penenang daruratku.
Aku menarik napas panjang, memulas sisa keberanian, lalu mendorong pintu itu.
"Selamat pagi, Ibu Rana," sapa Bagaskara antusias.
Di sampingnya, duduk pria itu. Pak Wira. Ayah. Dia sedang menyesap kopi hitamnya, kacamata bacanya bertengger di hidung, persis seperti kebiasaannya setiap pagi di meja makan kami dulu. Jantungku berdenyut nyeri melihat pemandangan yang begitu familier itu.
"Pagi," jawabku kaku, langsung mengambil tempat duduk yang paling jauh dari jangkauan pandangan mereka.
Rapat dimulai. Aku memaparkan strategi pemasaran koleksi butik premium mereka dengan suara yang kupaksakan stabil. Namun, Pak Wira terus memperhatikanku. Dia tidak banyak mencatat, matanya justru lebih banyak terpaku pada wajahku, seolah sedang membedah setiap inci fitur wajah yang sedang berbicara di depannya.
"Tunggu sebentar, Nak Rana," potong Pak Wira tiba-tiba di tengah penjelasanku.
Aku berhenti bicara. Dadaku bergemuruh. "Ada yang kurang jelas, Pak Wira?"
Ia melepaskan kacamata bacanya, menatapku dengan tatapan yang sangat dalam—tatapan yang dulu sering ia berikan saat aku merajuk minta dibelikan es krim. "Nama lengkap Anda... Rana Anindita Putri?"
Aku membeku. Udara di ruangan itu seolah tersedot habis. "Benar. Ada masalah dengan nama saya?"
"Anindita..." gumamnya lirih .ADa jeda yang cukup panjang setelah Pak Wira menyebut namaku. Ia menyipitkan mata, bukan seperti klien yang menilai proposal, tapi seperti pria yang sedang membedah masa lalu di balik keningnya yang berkerut,"Nama itu... sangat jarang dipakai. Dan cara Anda menggerakkan tangan saat menjelaskan sketsa tadi... Anda mengingatkan saya pada seseorang yang sangat saya kenal. Seseorang yang memiliki bakat menjahit yang luar biasa."
Rahangku mengeras. Dia sedang membicarakan Ibu. Dia mengenali gaya Ibu melalui caraku bekerja.
"Dunia ini sempit, Pak Wira. Banyak orang memiliki kesamaan yang tidak disengaja," jawabku dingin, mencoba mengalihkan pembicaraan kembali ke slide presentasi.
Namun, ketegangan itu pecah saat ponsel Pak Wira bergetar di atas meja. Ia melihat layarnya, lalu menatap Bagaskara. "Bagas, Pak Farez dari Abiwangsa menelepon. Katanya dia sudah di lobi bawah untuk mendiskusikan kontrak distribusi yang sempat tertunda kemarin. Dia minta kita bergabung di ruang rapat bawah setelah sesi ini selesai."
Ternyata Farez datang bukan untuk menemuiku, melainkan untuk urusan bisnis resmi dengan Wira Pratama yang memang dijadwalkan di gedung ini.
Pak Wira berdiri, merapikan jasnya. "Nak Rana, presentasi Anda sangat menarik. Tapi saya rasa kita perlu membicarakan lebih dari sekadar bisnis di pertemuan selanjutnya. Ada sesuatu tentang Anda yang membuat saya... penasaran."
Pernyataan itu terasa seperti ancaman bagiku. Begitu mereka keluar untuk menemui Farez di lobi, aku luruh di kursi. Tanganku gemetar hebat. Zirahku nyaris pecah. Ayah mulai curiga. Dia mulai mencium aroma masa lalu yang selama ini kusembunyikan di balik nama Anindita.
Aku harus bergerak cepat. Sebelum dia benar-benar mengenali putri yang ia buang, aku harus memastikan proyek ini selesai dan aku bisa menghilang lagi dari jangkauannya.
Aku tidak sanggup lagi berlama-lama di gedung ini. Dinding-dinding kaca yang megah ini seolah mulai menghimpitku, dan sisa aroma kopi Pak Wira masih tertinggal di udara, mencekik paru-paruku.
Dengan tangan yang masih gemetar, aku segera menyambar tas dan merapikan laptop ke dalam tas kerja. Aku melangkah keluar dari ruang rapat dengan terburu-buru, hampir menabrak Maya yang sedang membawa setumpuk dokumen di depan koridor.
"Mbak Rana? Mbak mau ke mana? Ini masih jam—"
"May, tolong sampaikan ke Pak Hanan, saya izin pulang lebih awal. Kepala saya mendadak sakit sekali," potongku cepat, tanpa menghentikan langkah. Aku tidak berbohong. Kepalaku memang terasa ingin pecah oleh memori dan ketakutan yang tumpang tindih.
"Oh, baik, Mbak. Perlu saya pesankan taksi?"
"Tidak perlu, aku bawa mobil."
Aku setengah berlari menuju parkiran. Begitu masuk ke dalam mobil putih pemberian Ibu, aku langsung mengunci semua pintu. Aku menyandarkan dahi di atas setir, mencoba mengatur napas yang tersengal. Nama Anindita yang tadi disebutnya dengan nada rendah itu terus terngiang, seperti hantu yang menuntut penjelasan.
"Dia mulai ingat, Bu..." bisikku pedih.
Aku segera memacu mobil menjauhi area perkantoran. Jakarta yang macet terasa begitu lambat hari ini, menambah rasa frustrasiku. Yang kuinginkan hanyalah sampai di rumah. Aku tidak butuh strategi pemasaran, aku tidak butuh proyek jutaan dolar, dan saat ini, aku bahkan tidak sanggup memikirkan Farez.
Satu-satunya hal yang bisa menjagaku agar tidak hancur menjadi serpihan adalah Ibu.
Sesampainya di rumah, aku tidak memarkir mobil dengan rapi. Begitu mesin mati, aku langsung menghambur masuk. Suara gemerincing bel butik menyambutku, namun aku terus melangkah ke arah ruang tengah rumah yang menyatu dengan area belakang butik.
Ibu sedang duduk di dekat jendela besar, jemarinya lincah memainkan jarum di atas kain brokat putih. Sinar matahari sore menerpa wajahnya, memberikan kesan damai yang sangat kontras dengan badai di hatiku.
"Rana? Kenapa sudah pul—"
Aku tidak membiarkan Ibu menyelesaikan kalimatnya. Aku menjatuhkan tas kerjaku begitu saja ke lantai dan langsung menghambur ke pelukannya. Aku menyembunyikan wajahku di ceruk lehernya, menghirup dalam-dalam aroma teh melati dan bedak bayi yang selalu menjadi wangi khas Ibu. Wangi yang selalu mampu membungkam bising di kepalaku.
"Rana? Ada apa, Nak? Kamu sakit?" suara Ibu terdengar sangat cemas. Beliau meletakkan jahitannya dan membalas pelukanku, mendekap kepalaku erat di dadanya.
Aku tidak menjawab. Aku hanya menggeleng di dalam pelukannya sambil terisak tanpa suara. Dadaku terasa sesak, seolah-olah jika aku tidak memeluk Ibu sekuat ini, aku akan hancur berkeping-keping.
Di dalam kepalaku, suara bariton Ayah yang menyebut nama "Anindita" terus berputar seperti kaset rusak. Aku ingin sekali berteriak dan mengadu, "Bu, Ayah ada di sini. Ayah jadi klien Rana. Dan Ayah sama sekali nggak ngenalin Rana!"
Namun, kata-kata itu tertahan di tenggorokanku. Aku menelan paksa rasa pahit itu. Aku tidak boleh mengatakannya. Aku tidak sanggup melihat binar kedamaian di mata Ibu yang sudah susah payah ia bangun selama lima tahun ini sirna seketika hanya karena bayangan laki-laki itu kembali. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi tameng bagi Ibu, meskipun itu berarti aku harus membiarkan dadaku sendiri yang berdarah-darah karena menyimpan rahasia ini.
"Cuma capek, Bu... Rana cuma butuh peluk Ibu bentar," bisikku bohong, suaranya parau karena menahan tangis.
Ibu menghela napas panjang, tangan lembutnya mengusap punggungku dengan gerakan teratur yang sangat menenangkan. "Pekerjaan kantor memang berat ya, Sayang? Kalau terlalu lelah, jangan dipaksa. Kamu sudah melakukan yang terbaik buat kita."
Aku semakin mengeratkan pelukan. Ibu tidak tahu bahwa "pekerjaan berat" yang kumaksud adalah menahan diri untuk tidak meledak di depan orang yang telah menghancurkan hidup kami. Ibu tidak tahu bahwa asisten manajer yang ia banggakan ini baru saja dipanggil "Nak" oleh ayah kandungnya sendiri sebagai orang asing.
"Makan dulu ya? Ibu tadi masak sayur lodeh kesukaanmu," ucap Ibu lembut, mencoba mengalihkan suasana.
Aku mengangguk pelan tanpa melepaskan pelukan. Saat ini, hanya di sini, di balik dinding rumah kami yang sederhana, aku bisa melepaskan zirah asisten manajer yang dingin itu. Di sini, aku hanya Rana, anak perempuan yang dunianya baru saja diguncang hebat namun harus tetap berdiri tegak demi melihat ibunya tetap tersenyum.