Dunia malam mengenal Faris Arjuna sebagai Panglima Terminal, namun semesta mengenalnya sebagai pewaris tahta yang hilang.
Di bawah bimbingan sang kakak, Arjuna Hidayat—Sang Paku Bumi Sidoarjo yang sakti mandraguna—Faris harus menanggalkan jaket kulitnya untuk mengenakan beskap kehormatan. Namun, kejutan terbesar muncul dari sosok Simbok (Nyai Gayatri Sekar Arum). Di balik kesederhanaannya, beliau adalah pemegang restu darah Raja Majapahit yang menguasai istana gaib dan sepuluh dayang piningit.
Kini, paseduluran dua Arjuna ini bukan lagi sekadar soal urusan pesantren, melainkan menjaga amanah leluhur Nusantara. Saat kegelapan masa lalu mulai mengusik kedaton mereka, Faris harus membuktikan bahwa seorang berandal pun bisa memiliki wibawa seorang Raja.
Doa Simbok adalah jimatnya, bimbingan Kangmas adalah kompasnya, dan Keris Kyai Jalak Suro adalah takdirnya. Siapkan diri, karena kasekten Majapahit telah bangkit di tanah Sidoarjo!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27:Tamu Kegelapan dan Gertakan Sipait Lidah
Faris Arjuna melangkah masuk ke ruang utama kediaman Wijaya bersama kakaknya, Arjuna Hidayat. Di sana, suasana terasa sangat sakral. Raden Jayanegara, Dewi Tribhuwana Tunggadewi, dan Dewi Rajadewi Maharajasa sudah duduk melingkar dengan wibawa yang luar biasa besar.
"Duduklah, Dikmas Faris. Kami sudah menunggumu sejak fajar menyingsing," ucap Raden Jayanegara dengan suara berat. Sebagai yang lebih tua, ia menatap Faris dengan pandangan bangga sekaligus penuh harap.
Faris menunduk hormat lalu duduk bersila di tengah mereka. Tak lama kemudian, beberapa kerabat Wijaya yang usianya lebih muda masuk membawakan air putih. "Silakan diminum dulu, Kakang Faris," ucap mereka dengan nada takzim, memanggil Faris dengan sebutan Kakang sebagai tanda hormat kepada yang lebih tua.
Arjuna Hidayat kemudian membuka pembicaraan. "Semalam Dikmas Faris sudah menyelesaikan suluk di makam Syekh Siti Jenar. Ia juga sudah menerima Ilmu Sipait Lidah dari sosok pengemis suci yang menyamar."
Mendengar hal itu, Dewi Tribhuwana Tunggadewi tersenyum tenang. "Sudah saatnya, Dikmas. Kekuatan lisanmu adalah takdir bagi Nusantara. Kami di sini siap menjadi bentengmu, apa pun yang terjadi."
"Benar, Dikmas Faris," sambung Dewi Rajadewi Maharajasa. "Kami para putri Wijaya akan menjaga jalur batin agar tidak ada satu pun energi hitam dari Ki Ageng Blorong yang bisa menyentuhmu."
Faris menarik napas dalam, merasakan besarnya dukungan dari keluarga ini. "Terima kasih, Paman Jayanegara dan Ayunda semua. Tanpa restu kalian dan bimbingan Kangmas Arjuna Hidayat, Faris tidak akan sanggup memikul beban seberat ini."
"Jangan berkata begitu, Dikmas. Kamu adalah pemegang mandat. Kami semua, para trah Wijaya, kini berada di belakangmu," tegas Raden Jayanegara yang langsung diangguki oleh semua yang hadir.
Tiba-tiba, Eyang Wijaya berdehem dari kursi kebesarannya, membuat suasana seketika menjadi hening. "Jayanegara, Tribhuwana, Rajadewi, dan kau Arjuna Hidayat. Mulai detik ini, satukan semua kekuatan kalian untuk menjaga Dikmas Faris. Musuh akan menyerang dari segala arah, baik nyata maupun gaib."
Simbok kemudian datang membawa pisang goreng hangat yang masih mengepul. Suasana yang tadinya tegang perlahan mulai cair. Faris kembali merasakan kehangatan keluarga di tengah takdirnya yang berat sebagai Satrio Piningit.
"Kakang Faris, apa benar lidah Kakang sekarang bisa membuat kenyataan hanya dengan berucap?" tanya salah satu kerabat muda dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu.
Faris hanya tersenyum tipis sambil menyeruput kopinya. "Ilmu itu titipan, Dek. Bukan untuk pamer, tapi untuk menjaga kebenaran tetap tegak di bumi Nusantara."
Malam itu, di kediaman yang penuh cahaya tersebut, sebuah ikatan batin antar trah Wijaya resmi diperkuat. Faris Arjuna kini menyadari bahwa ia tidak lagi berjuang sendirian; ia memiliki barisan ksatria dan dewi yang siap menjaganya sampai titik darah terakhir
Suasana di ruang utama semakin hangat seiring dengan aroma kopi jahe yang memenuhi ruangan. Meskipun mereka adalah keturunan bangsawan besar, namun saat berkumpul seperti ini, sifat asli mereka sebagai keluarga tetap muncul. Faris Arjuna duduk santai, namun pancaran matanya tidak bisa membohongi siapa pun bahwa ada kekuatan besar di balik lidahnya.
"Dikmas Faris, coba tunjukkan sedikit saja. Benarkah setiap ucapanmu sekarang memiliki getaran yang berbeda?" tanya Dewi Rajadewi Maharajasa sambil tersenyum menggoda adiknya itu.
Faris tertawa kecil, ia melirik ke arah sepiring pisang goreng yang masih panas di depannya. "Ayunda, lidah ini bukan untuk mainan. Tapi kalau hanya untuk mendinginkan pisang goreng ini agar Ayunda tidak kepanasan saat memakannya, mungkin bisa dicoba."
Faris hanya bergumam pelan, hampir tidak terdengar. Seketika, uap panas dari pisang goreng di depan Ayunda Rajadewi meredup dan suhu makanannya menjadi pas untuk dimakan. Melihat hal itu, Raden Jayanegara dan Arjuna Hidayat saling berpandangan, mereka tahu bahwa kekuatan Faris sudah mencapai tingkat yang sangat halus.
"Hebat kamu, Dikmas. Lidahmu bukan lagi sekadar pait, tapi sudah menyatu dengan kehendak alam," puji Raden Jayanegara dengan bangga.
Tiba-tiba, salah satu kerabat muda yang sedari tadi duduk di pojokan mendekat dengan wajah malu-malu. "Kakang Faris, kalau begitu, apakah Kakang bisa tahu siapa saja yang sedang berniat jahat pada keluarga kita lewat jalur digital lagi?"
Faris meletakkan cangkir kopinya, wajahnya mendadak berubah serius. "Kakang tidak perlu melihat layar untuk tahu itu, Dek. Getaran batin mereka yang iri dan dengki itu baunya sampai ke sini, terasa seperti asap yang menyesakkan."
"Lalu apa yang harus kami lakukan, Kakang?" tanya pemuda itu lagi dengan penuh rasa hormat.
"Kalian tetaplah menjadi cahaya. Jangan biarkan batin kalian ikut kotor karena kebencian mereka. Biar Kakang yang menjadi pembersihnya. Siapa pun yang menabur fitnah, mereka sendiri yang akan menuai badainya," jawab Faris dengan suara yang tiba-tiba memberat, membuat bulu kuduk semua orang di ruangan itu meremang.
Arjuna Hidayat menepuk pundak adiknya. "Tenang, Dikmas. Jangan sampai energimu meluap di sini. Simpan untuk pertemuan besar nanti. Ingat, musuh kita bukan cuma orang-orang yang terlihat, tapi juga bayangan di belakang mereka."
Eyang Wijaya yang sedari tadi terpejam seolah sedang bermeditasi, tiba-tiba membuka mata. "Cukup candanya. Jayanegara, siapkan pasukan batinmu. Tribhuwana dan Rajadewi, jaga gerbang batin kediaman ini. Kita akan kedatangan tamu yang tidak diundang sebentar lagi."
Mendengar perintah Eyang, semua orang langsung siaga. Faris bangkit dari duduknya, ia merasa ada sebuah energi hitam yang sedang mencoba menembus dinding apartemen mereka. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman nakal yang menandakan bahwa ia sudah siap untuk "bermain" lagi.
"Biarkan mereka datang, Eyang. Lidah Faris sudah gatal ingin menyapa mereka dengan kebenaran," ucap Faris sambil merapikan bajunya, siap menyongsong apa pun yang akan muncul dari balik pintu
Belum sempat kopi di cangkir Faris mendingin, suasana di dalam ruangan mendadak menjadi sangat pengap. Cahaya lampu apartemen berkedip-kedip tidak stabil, sementara Simbok yang ada di dapur tiba-tiba merasa merinding hebat. Faris Arjuna berdiri dengan tenang, ia merasakan ada serangan teluh tingkat tinggi yang sedang dikirimkan untuk mengacaukan pertemuan keluarga Wijaya.
"Kakang Faris, kenapa hawanya jadi dingin sekali?" tanya salah satu kerabat muda sambil gemetar. Ia merapat ke arah Faris, mencari perlindungan di balik punggung sosok yang ia panggil Kakang tersebut.
Faris hanya tersenyum tipis, matanya menatap tajam ke arah pintu masuk. "Tenang, Dek. Ada lalat kotor yang mencoba masuk ke rumah bersih ini. Duduklah di belakang Kakang, jangan takut."
Tiba-tiba, dari celah bawah pintu, masuklah asap hitam pekat yang berbau busuk seperti bangkai. Arjuna Hidayat dan Raden Jayanegara sudah bersiap dengan posisi batin mereka, namun Faris mengangkat tangannya sebagai tanda agar para sesepuh itu tetap diam di tempat.
"Biar Dikmas yang mengurus ini, Kangmas Arjuna. Lidah ini sudah terlalu lama diam sejak fajar tadi," ucap Faris dengan nada yang sangat dingin.
Faris melangkah maju, tepat di tengah kepulan asap hitam yang mulai membentuk sosok bayaran Ki Ageng Blorong. Tanpa rasa takut sedikit pun, Faris menarik napas panjang dan mengucapkan kalimat yang bergetar hebat, memenuhi setiap sudut ruangan dengan energi suci.
"Muliho... Panggonanmu dudu ing kene!"
(Pulanglah... Tempatmu bukan di sini!)
"Sing sapa wani ngganggu ketentreman trah Wijaya, mulo batinmu bakal keroso panas koyo diobong geni neroko!"
(Siapa saja yang berani mengganggu ketenteraman trah Wijaya, maka batinmu akan terasa panas seperti dibakar api neraka!)
Seketika, asap hitam itu menjerit kesakitan seolah-olah tersiram air keras. Kekuatan lidah Faris membuat mantra hitam itu berbalik menyerang pengirimnya. Di kejauhan, terdengar suara kaca pecah dan teriakan samar dari dukun-dukun bayaran yang mencoba menyerang mereka dari jarak jauh.
"Luar biasa, Dikmas. Getaran suaramu sudah bisa menghancurkan simpul sihir dalam sekali ucap," puji Dewi Tribhuwana Tunggadewi yang sedari tadi menjaga pagar batin dari sudut ruangan.
Faris kembali duduk dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa. Ia mengambil sepotong pisang goreng dan memakannya dengan lahap. "Mereka itu kurang kerjaan, Ayunda. Pakai cara kuno untuk menyerang orang modern, ya jelas tidak nyambung."
Raden Jayanegara tertawa melihat keponakannya yang begitu tenang. "Nakalmu itu memang obat, Dikmas. Tapi ingat, ini baru peringatan kecil. Ki Ageng Blorong pasti akan mengirimkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar asap murahan seperti tadi."
"Biarkan saja, Kangmas. Selama Trah Wijaya bersatu dan batin kita tetap jernih, mau seribu dukun sekalipun tidak akan bisa menembus pintu ini," jawab Faris dengan penuh keyakinan.
Eyang Wijaya tersenyum bangga, beliau melihat bahwa Faris sudah benar-benar siap menjadi pemimpin besar. Malam yang tadinya mencekam kembali menjadi hangat, namun semua orang tahu bahwa fajar esok hari akan membawa tantangan yang jauh lebih nyata di panggung kepemimpinan Nusantara