NovelToon NovelToon
Ranting Kaku Yang Di Peluk Badai

Ranting Kaku Yang Di Peluk Badai

Status: sedang berlangsung
Genre:Kaya Raya / Romantis / Perjodohan
Popularitas:996
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Violet Aolani, mahasiswi tengil yang tak kenal kata mundur, nekat mengejar Arden Elio Bayu, CEO kaku yang hidupnya sedingin es. Di mata Arden, Violet hanyalah anak kecil yang mengganggu; namun bagi Violet, Arden adalah takhta yang harus ia taklukkan. Ini adalah kisah tentang "badai" muda yang meruntuhkan tembok beku sang penguasa korporat dengan keberanian yang nyaris lancang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sang purnama dan pria utara

Ketika Julian Vance melangkah masuk ke ruang pertemuan, suasana mendadak hening. Pria berusia 28 tahun itu memiliki rambut cokelat terang dan mata biru yang tajam namun ramah. Berbeda dengan Arden atau Danantya yang kaku, Julian memiliki pembawaan yang jauh lebih santai dan elegan.

"Julian, thanks for coming," ucap Arden sambil bersalaman.

Saat itulah, mata Julian tertuju pada Lavanya Purnama yang sedang sibuk menyusun dokumen dengan rapi di pojok ruangan. Lavanya, yang biasanya tidak terlalu berisik dibandingkan Violet dan Evara, hanya mendongak pelan dan memberikan senyum sopan.

"Dan ini Lavanya, dia yang mengelola semua arsip dokumen sejarah keluarga Aolani untuk kasus ini," Arden memperkenalkan.

Julian tersenyum lebar, membuat lesung pipitnya terlihat. "Lavanya? Nama yang indah. Like the full moon, right? Senang bertemu denganmu."

Lavanya sedikit tersipu, namun tetap profesional. "Senang bertemu Anda juga, Mr. Vance. Dokumennya sudah siap untuk Anda periksa."

Melihat interaksi itu, Violet dan Evara saling sikut di belakang. "Vanya dapet bule, Vi! Lihat tuh, tatapannya Julian kayak mau nelan Vanya hidup-hidup," bisik Evara yang langsung dibalas anggukan antusias oleh Violet.

Si Tengil yang Mulai "Vulgar"

Setelah Julian dan Lavanya masuk ke ruang kerja untuk memeriksa dokumen, Violet dan Evara kembali ke sifat asli mereka. Ketegangan semalam seolah sudah menguap, digantikan oleh hormon masa muda yang sedang membara.

Violet menghampiri Arden yang sedang meninjau materi persidangan di sofa. Tanpa memedulikan Danantya yang ada di sana, Violet duduk di pangkuan Arden dan melingkarkan tangannya di leher pria itu.

"Tuan Bos, semalam Tuan keren banget pas nyetir. Otot lengan Tuan pas lagi banting setir itu... bikin aku pengen gigit," bisik Violet tepat di telinga Arden.

Arden tersedak ludahnya sendiri. Wajahnya yang kaku mendadak panas. "Violet! Ada Danantya di sini. Turun, jangan pancing saya di jam kerja."

"Biarin aja Kak Danan lihat. Biar dia belajar kalau laki-laki itu butuh dikasih 'makan' perhatian," balas Violet dengan cengiran nakalnya. Ia lalu mengecup rahang Arden dengan sengaja. "Tuan Bos, nanti malam kalau masalah dokumen ini selesai, aku mau hadiah yang lebih... 'panas' daripada sekadar martabak, ya?"

Arden menutup mata, mencoba mengendalikan diri. "Violet Aolani, kamu benar-benar anak nakal."

Evara dan Serangan Jantung Danantya

Tidak mau kalah, Evara mendekati Danantya yang sedang sibuk dengan tabletnya. Evara menyandarkan tubuhnya di meja, tepat di depan wajah Danantya, memperlihatkan sedikit lekukan lehernya.

"Kak Danan, semalam pas Kakak peluk aku di luar, aku ngerasa ada yang 'keras' di kantong kemeja Kakak. Itu pulpen atau Kakak emang sesenang itu peluk aku?" tanya Evara dengan nada menggoda yang sangat berani.

Danantya hampir menjatuhkan tabletnya. Ia menatap Evara dengan mata membelalak. "Evara! Itu ponsel kantorku! Mulutmu itu benar-benar harus disekolahin lagi ya?"

"Ah, masa sih cuma ponsel? Aku ngerasa Kakak deg-degan banget loh. Kak, daripada Kakak jadi robot terus, mending nanti malam aku kasih 'servis' pijat plus-plus mau nggak? Plus sayang, plus peluk, plus... yang lain," Evara mengedipkan matanya dengan sangat vulgar, membuat Danantya bangkit berdiri dan berjalan cepat menuju dapur untuk mencari air es.

"EVARA! Jaga bicaramu!" teriak Danantya dari dapur, yang hanya dibalas tawa renyah oleh Evara.

Kontras di Ruang Kerja

Sementara di ruang tengah terjadi "gempa bumi" kecil karena kelakuan Violet dan Evara, di ruang kerja suasananya sangat berbeda. Julian dan Lavanya terlibat dalam percakapan yang sangat intelektual.

"Dokumen ini asli, Lavanya. Lihat serat kertasnya dan tinta yang digunakan. Ini autentik dari tahun 70-an," ucap Julian sambil menatap Lavanya dengan kekaguman. "Kamu sangat teliti menyusunnya. Aku jarang melihat gadis seusiamu yang punya kesabaran seperti ini."

Lavanya tersenyum lembut. "Aku hanya ingin membantu sahabatku, Mr. Vance. Violet sudah seperti saudaraku sendiri."

"Panggil aku Julian saja. Dan... kalau kasus ini selesai, maukah kamu menemaniku melihat-lihat museum di Jakarta? Aku butuh pemandu yang cerdas sepertimu," ajak Julian terang-terangan.

Lavanya terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Tentu, Julian. Itu terdengar menyenangkan."

Langkah Terakhir Arjuna

Di luar gedung, rencana pencurian dokumen semalam memang gagal, namun Arjuna belum menyerah. Ia tahu Julian Vance adalah kunci utama.

"Julian Vance harus dibuat tidak bisa hadir di pengadilan besok," ucap Arjuna pada anak buahnya lewat telepon. "Gunakan cara apapun. Kalau perlu, incar gadis yang bersamanya sekarang. Gadis kalem itu pasti mudah untuk ditakut-takuti."

Arjuna tidak tahu bahwa di balik kalemnya Lavanya, ada Arden, Danantya, dan dua "cegil" yang siap meledak jika salah satu dari mereka disentuh.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!