Sebelum kau membaca kisah ini, kau harus tahu satu hal:
Aku bisa melihat bagaimana kau akan mati.
Bukan dengan bola kristal. Bukan dengan ritual aneh. Cukup dengan menyentuhmu. Satu sentuhan, dan mataku akan dipenuhi gambar—kau di ujung napas terakhir, dengan cara yang mungkin tidak pernah kau bayangkan.
Kakek bilang ini kutukan. Aku bilang ini hadiah.
Karena dengan hadiah ini, aku tahu siapa yang harus aku hindari.
Tapi malam itu, saat pertama kali menyentuh Damian Adhiratria, aku tidak melihat kematiannya.
Aku melihat kematianku sendiri.
Dan aku tersenyum.
Karena akhirnya, setelah 24 tahun, aku tahu kapan aku akan mati.
Tepat 6 bulan setelah menikahi iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Ruang Hukuman
Jam menunjukkan pukul 02:47 pagi.
Alea tidak bisa tidur. Bukan karena lampu tidur berbentuk bintang yang Damian berikan semalam—lampu itu malah membuat ruangan terasa seperti langit kecil yang aman. Bukan juga karena suara mesin pemotong rumput di luar, atau karena embusan AC yang terlalu dingin.
Dia tidak bisa tidur karena sejak tiga malam lalu, Damian Kecil tidak muncul.
Jam 3 pagi adalah waktu mereka. Selalu. Seperti alarm biologis yang menyala tepat saat Damian dewasa terlelap paling dalam. Tiga malam lalu, Damian Kecil duduk di ujung ranjangnya, memeluk lutut, menatap kosong ke arah jendela. Dua malam lalu, Damian Kecil hanya muncul lima menit, berkata "kak, aku ngantuk", lalu menghilang. Kemarin malam, tidak ada siapa-siapa.
Alea menatap langit-langit. Menghitung retakan yang tidak ada di sana.
Di mana kau, Damian Kecil?
Bruk.
Alea tersentak.
Suara itu. Bukan dari dinding. Bukan dari lorong di balik lemari. Dari bawah. Dari lantai.
Ia duduk, jantung berdebar cepat. Lampu bintang menyala redup, menerangi ruangan dengan bayangan keemasan. Semua benda di tempatnya. Kursi. Meja rias. Pintu kamar masih terkunci dari luar.
Lalu suara kedua datang.
Tuk... tuk... tuk...
Seperti jari mengetuk kayu. Perlahan. Berirama.
Alea meraih ponsel di samping bantal. Layar menyala: 02:58.
Dua menit lagi. Damian Kecil biasanya datang tepat jam 3.
Tapi suara ini bukan dari arah pintu. Dari lantai.
Ia turun dari ranjang. Kaki telanjang menyentuh karpet bulu tebal yang menghangatkan, tapi bulu kuduk di tengkuknya berdiri. Ia berjalan perlahan, mengikuti suara. Setiap langkah, suara itu semakin jelas.
Di tengah ruangan, tepat di bawah karpet.
Alea berlutut. Menyisihkan karpet. Di bawahnya, lantai kayu yang tampak biasa. Tapi saat ia menempelkan telinga, suara itu bergema dari dalam.
Tuk... tuk... tuk...
Seperti ada ruang di bawah.
Ia mencari tepian, sela, pegangan—dan menemukannya. Sebuah cincin besi kecil tersembunyi di antara serat kayu, hampir tak terlihat kecuali jika cahaya menyorot tepat. Alea menariknya.
Kayu itu terangkat.
Sebuah lubang persegi terbuka, di bawahnya tangga kayu sempit menuju kegelapan. Udara dingin naik ke wajahnya, bau tanah basah dan sesuatu yang manis. Tengik. Seperti bunga yang terlalu lama di air.
Alea mengambil ponsel, menyalakan senter. Cahaya putih menyorot anak tangga yang berdebu. Dinding-dinding kayu dengan coretan-coretan.
Dan di ujung bawah, samar-samar, sosok kecil duduk membelakanginya.
"Damian Kecil?"
Sosok itu tidak bergerak. Tapi suara ketukan berhenti.
Alea menarik napas. Bodoh, Alea. Kau psikiater forensik. Kau pernah masuk ke ruang isolasi narapidana paling sadis di penjara. Ini hanya ruang bawah tanah rumah mafia. Tidak ada hantu di sini.
Tapi kakinya gemetar saat menapaki anak tangga pertama.
Kayu itu berderit pelan, seperti mengeluh. Setiap langkah membawanya lebih dalam ke udara yang makin dingin, makin berat. Senter ponsel menyorot dinding—dan Alea berhenti.
Coretan-coretan itu ternyata gambar. Gambar anak-anak. Matahari bundar dengan wajah tersenyum. Rumah dengan asap dari cerobong. Dua sosok: satu besar, satu kecil, berpegangan tangan.
Dan di atas semuanya, tulisan kapur yang sudah pudar:
"Tuhan, tolong aku keluar."
Alea menelan ludah.
"Damian Kecil?" panggilnya lagi, kali ini lebih pelan.
Sosok di ujung bawah mulai bergerak. Perlahan, seperti boneka yang diangkat talinya, ia menoleh.
Wajah Damian Kecil pucat. Matanya sembab, seperti habis menangis. Bibirnya bergetar, tapi senyum kecil merekah saat melihat Alea.
"Kak!" suaranya parau. "Kak datang!"
Alea mempercepat langkah. Tiga anak tangga terakhir ia lompati, langsung berlutut di depan bocah itu. "Kau di sini? Tiga hari kau tidak muncul, aku—"
Tangan Damian Kecil yang dingin menggenggam pergelangan tangannya.
"Kak, ini rumahku dulu."
Alea terdiam.
Damian Kecil menunjuk ke sekeliling. Sekarang Alea bisa melihat lebih jelas: ruangan ini tidak besar, mungkin tiga kali tiga meter. Lantai tanah liat yang lembap. Dinding kayu lapuk. Di pojok, tumpukan selimut lusuh dan beberapa buku bergambar usang. Di pojok lain, ember plastik biru yang menguarkan bau menyengat.
"Ini kamarku," kata Damian Kecil. "Waktu aku masih... Damian Kecil."
Alea mematikan senter sejenak, menyalakan lampu ponsel yang lebih redup agar tidak menyilaukan. "Kau tinggal di sini?"
Damian Kecil menggeleng. "Aku dikurung di sini."
Kata itu keluar begitu saja. Tanpa beban. Seperti mengatakan "aku makan nasi goreng".
Alea duduk di sampingnya, membiarkan bahunya bersentuhan dengan bahu kecil itu. "Cerita sama Kakak."
Damian Kecil menunduk. Jari-jarinya menggambar lingkaran di tanah. "Damian dewasa tidak mau aku cerita. Dia bilang, 'Diam. Atau aku bunuh kamu lagi.'"
"Bunuh?"
Bocah itu mengangguk pelan. "Waktu aku masih delapan tahun, Papa kurung aku di sini. Lama. Tiga bulan." Ia mengangkat tiga jari, lalu menunjuk ember plastik di pojok. "Itu buat pipis. Makan dikasih lewat pintu kecil. Setiap hari."
Alea merasakan dadanya sesak. Tiga bulan. Delapan tahun.
"Kenapa?" suaranya parau.
Damian Kecil mengangkat bahu kecilnya. "Papa suruh aku bunuh Bimbi. Anjingku. Aku nggak mau. Jadi Papa marah. Katanya, 'Kamu nggak pantas jadi anakku kalau lemah. Aku akan ajarin kamu jadi kuat di sini.'"
Dia berhenti. Matanya menatap dinding seberang, tempat gambar matahari tersenyum yang mulai luntur.
"Aku buat gambar itu supaya ada yang tersenyum sama aku," bisiknya. "Karena kalau malam, Mama datang."
Alea menoleh. "Mama?"
"Mama tiri." Damian Kecil menelan. "Mama tiri mati di sini. Aku lihat. Papa bunuh. Terus Papa tinggal di sini... sama mayat Mama. Tiga hari. Biar aku lihat."
Udara di ruangan itu tiba-tiba terasa padat. Alea berusaha mencerna kata-kata itu, tapi otaknya seperti menolak. Seorang anak delapan tahun. Dikurung tiga bulan. Dengan mayat.
"Damian..." Alea meraih tangan bocah itu. Dingin sekali. Seperti es. "Kau bilang 'mama tiri'... bukan mamamu?"
"Bukan." Damian Kecil menggeleng. "Mamaku baik. Tapi Papa bunuh Mama pas aku lima tahun. Aku nggak lihat. Tapi Mama tiri jahat. Dia yang bilang ke Papa kalau aku lemah. Dia yang suruh Papa kurung aku." Ia berhenti, matanya mulai basah. "Terus Papa bunuh dia juga. Di depan aku."
Alea menggigit bibir bawahnya sampai hampir berdarah. Jangan menangis. Jangan menangis di depan anak ini. Kau harus kuat.
"Damian Kecil," katanya pelan, "bagaimana kau bisa keluar dari sini?"
Bocah itu tersenyum. Tapi senyumnya pahit. Terlalu dewasa untuk wajah anak-anak.
"Waktu Papa buka pintu, aku sudah nggak mau keluar."
"Kenapa?"
"Karena di luar, Papa suruh aku jadi Damian dewasa." Ia menunjuk dada sendiri. "Papa bilang, 'Kalau kamu lemah, kamu akan kurung lagi. Jadi kuat. Jadi jahat. Bunuh orang yang ganggu kamu. Bunuh sebelum mereka bunuh kamu.'"
Tangannya turun.
"Aku nggak mau. Tapi kalau nggak, Papa bunuh aku juga. Jadi... aku bunuh diri."
Alea mengerjap. "Bunuh diri? Kau—"
"Bukan mati." Damian Kecil menunjuk kepalanya. "Di sini. Aku bunuh Damian Kecil yang lemah. Aku ciptain Damian dewasa yang kuat. Supaya Papa bangga. Supaya nggak dikurung lagi."
Ia memeluk lututnya, meringkuk seperti janin.
"Tapi Damian Kecil-nya nggak mati, Kak. Cuma dikurung lagi. Di dalam sini." Ia menunjuk dada sendiri lagi. "Damian dewasa kunci aku di ruang hukuman dalam kepalanya. Sama persis kayak ruangan ini. Gelap. Kotor. Sendirian."
Alea tidak bisa menahan lagi. Air matanya jatuh.
Damian Kecil mengangkat wajah, melihat Alea menangis. Tangannya yang kecil naik, mengusap pipi Alea dengan kikuk.
"Kak jangan nangis." Senyumnya kembali, kali ini lebih hangat. "Aku udah biasa. Tiga puluh tahun di sini. Aku kuat."
Tiga puluh tahun.
Alea terisak, lalu menahan. Ia meraih tangan kecil itu, menempelkannya di pipinya. "Kau tidak sendirian lagi, Damian. Aku di sini. Aku akan cari cara... aku akan—"
"Kak."
Suara Damian Kecil berubah. Lebih dalam. Lebih dewasa. Tapi tetap anak-anak.
"Kak jangan janji. Damian dewasa kalau dengar, dia akan marah. Dia nggak suka aku keluar. Nanti dia bunuh aku lagi."
"Aku nggak akan biarkan."
"Kak nggak bisa lawan Damian dewasa." Damian Kecil menunduk. "Damian dewasa kuat. Dia punya pistol. Dia punya banyak orang. Kak cuma... cuma..."
"Kak cuma apa?"
Damian Kecil menatap Alea. Matanya berkaca-kaca, tapi senyumnya tetap.
"Kak cuma satu-satunya yang bisa lihat aku. Itu udah cukup."
Alea menarik bocah itu ke dalam pelukannya. Tubuh Damian Kecil kecil sekali, dingin, rapuh. Seperti balon yang tinggal sedikit lagi meledak. Ia memeluknya erat, berusaha memindahkan kehangatan dari tubuhnya ke tubuh itu.
"Damian, dengar." Suaranya bergetar, tapi ia paksa tegas. "Aku psikiater. Aku tahu tentang disosiasi. Tentang kepribadian ganda. Aku pernah menangani kasus yang lebih parah dari ini. Aku akan bantu kau. Aku akan buat Damian dewasa mau dengar."
Damian Kecil menggenggam bajunya. "Damian dewasa nggak mau dengar sama siapa pun."
"Maka aku akan buat dia dengar."
"Kalau dia bunuh Kak?"
"Biarkan."
Bocah itu mendongak, matanya terbeliak. "Kak—"
"Aku bilang, biarkan." Alea mengusap rambut Damian Kecil yang kusut. "Kalau sampai mati pun, aku akan mati di samping orang yang perlu ditolong. Bukan di kamar mewah yang indah itu."
Damian Kecil diam lama.
Lalu ia tertawa. Kecil. Tulus.
"Kak aneh."
"Memang."
"Tapi aku suka."
Alea tersenyum. "Sekarang, ayo keluar dari sini. Dingin."
Damian Kecil menggeleng. "Aku nggak bisa keluar dulu. Damian dewasa nanti sadar kalau aku pindah kamar."
"Tapi kau di sini tiga hari."
"Aku di sini tiap hari, Kak. Tiga puluh tahun." Ia tersenyum kecil. "Kak nggak usah khawatir. Aku kuat."
Alea merasakan ada yang mengganjal di dadanya. Sesuatu yang berat. Tiga puluh tahun di ruang bawah tanah imajinasi sendiri. Dan satu-satunya yang bisa melihatnya adalah seorang psikiater forensik yang dipaksa menikah dengan dirinya yang dewasa.
"Kak," Damian Kecil menggenggam jari Alea, "Kak janji satu."
"Apa?"
"Kak jangan cerita ke Damian dewasa kalau Kak sudah lihat ruangan ini. Nanti dia makin marah. Dia... dia juga korban, Kak. Aku tahu. Damian dewasa cuma mau lindungi aku. Tapi caranya salah."
"Kau masih mau melindungi dia? Padahal dia—"
"Dia aku," potong Damian Kecil. "Kak, dia aku yang udah dewasa. Kalau dia mati, aku mati juga. Jadi... tolong jaga dia, Kak. Jangan bunuh dia."
Alea membeku.
Jangan bunuh dia.
Visi itu melintas lagi. Damian mati ditikam istrinya. Dirinya sendiri.
"Kak?" Damian Kecil menggoyang tangannya. "Kak kenapa?"
Alea menghela napas, mengusir bayangan itu. "Tidak apa-apa. Aku janji."
Damian Kecil tersenyum lebar, memperlihatkan gigi seri yang sedikit maju. Senyum anak-anak yang seharusnya.
"Makasih, Kak. Sekarang Kak balik. Aku tidur dulu."
"Kau tidur di sini?"
"Di sini aman. Damian dewasa nggak datang ke sini. Dia takut."
Alea ingin memaksa Damian Kecil ikut, tapi melihat mata bocah itu mulai sayu, ia mengalah. Ia melepas jaket tidurnya, melingkarkannya ke pundak Damian Kecil.
"Ini. Biar hangat."
Damian Kecil memeluk jaket itu. "Ini wangi."
"Wangi apa?"
"Wangi Kak."
Alea tertawa kecil, lalu mengecup kening Damian Kecil. Bocah itu membeku sesaat, matanya terbeliak, lalu perlahan menutup. Senyumnya mengembang.
"Ini pertama kali aku dicium," bisiknya. "Sejak Mama."
Alea hampir menangis lagi, tapi ditahannya. "Besok malam aku akan ke sini lagi. Kita baca buku cerita."
"Beneran?"
"Beneran."
Damian Kecil mengangguk cepat. "Aku tunggu, Kak."
Alea berdiri. Senter ponsel menyorot tangga kayu yang berderit. Ia melangkah naik, tapi di anak tangga ketiga, suara Damian Kecil memanggil.
"Kak!"
Ia menoleh.
Bocah itu masih duduk di pojok, jaket Alea membalut tubuh kecilnya. Tapi matanya sekarang berbeda. Lebih dalam. Lebih dewasa.
"Kak... hati-hati sama Rania."
Alea mengernyit. "Rania?"
"Suster yang baik itu. Dia jahat." Damian Kecil menunduk. "Aku lihat. Dia lihat aku. Dia tahu. Tapi dia pura-pura nggak."
"Kau yakin?"
"Aku selalu yakin, Kak. Aku yang lihat semuanya dari sini. Karena Damian dewasa nggak sadar, tapi aku sadar."
Alea mengangguk perlahan. "Aku akan hati-hati."
"Dan satu lagi."
"Apa?"
Damian Kecil tersenyum. Tapi kali ini senyumnya misterius. Seperti tahu sesuatu yang tidak boleh ia tahu.
"Kak tanya sama Damian dewasa, kenapa dia pilih Kak. Bukan cuma karena Kak bisa lihat aku. Tapi karena..."
Ia berhenti.
"Karena?"
"Karena Kak mirip Mama."
---
Alea menaiki tangga dengan kepala penuh. Setiap langkah terasa berat, seperti tubuhnya dipenuhi timah.
Di atas, ia menutup kembali lubang, mengembalikan karpet, merebahkan diri di ranjang. Lampu bintang masih menyala redup, membuat bayangan-bayangan kecil di langit-langit.
Ia membuka ponsel.
Jam 03:47.
Sejak ia turun ke ruang bawah tanah, hampir satu jam. Tapi rasanya seperti seumur hidup.
Alea membuka aplikasi catatan. Jari-jarinya bergerak cepat, menulis apa yang baru saja ia dengar. Ruang hukuman. Tiga bulan. Mayat. Mama tiri. Damian Kecil yang mengorbankan diri. Dan yang paling mengganggu:
Rania.
Ia menghentikan jari.
Tiga puluh tahun Damian Kecil terkurung di kepalanya sendiri. Tiga puluh tahun melihat semuanya dari balik dinding imajinasi. Dan ia bilang Rania jahat.
Alea menatap langit-langit. Di balik dinding itu, ia tahu ada kamera pengawas. Rania pasti sudah melihat Alea tidak ada di kamar sejak pukul 3. Tapi pintu terkunci dari luar. Bagaimana caranya—
Klik.
Suara kunci pintu berputar.
Alea menoleh.
Pintu terbuka perlahan. Di baliknya, Damian dewasa berdiri dengan kemeja putih kusut, dasi setengah terlepas. Matanya merah, seperti baru bangun. Atau tidak tidur sama sekali.
Dia menatap Alea. Lalu matanya bergerak ke seluruh ruangan, seperti memeriksa. Akhirnya, ia menatap Alea lagi.
"Kau ke mana?"
Suaranya serak. Dingin. Tapi ada sesuatu di sana. Sesuatu yang tidak bisa Alea tebak.
Alea mengatur napas. Ia ingat janji pada Damian Kecil. Jangan cerita.
"Ke kamar mandi."
Damian diam. Matanya menyipit.
"Lama."
"Diare."
Tidak ada ekspresi di wajah Damian. Tapi ia masuk ke ruangan. Langkahnya pelan, berat. Seperti singa yang mengitari mangsa.
Ia berhenti di samping ranjang.
Matanya menunduk ke karpet.
Alea mengikuti tatapannya—dan jantungnya berhenti.
Karpet itu tidak rapi. Satu sudutnya terlipat, memperlihatkan lantai kayu di bawah. Dan di sampingnya, cincin besi kecil yang tadi ia tarik, sekarang mengintip keluar dari balik serat kayu.
Sial.
Damian berlutut. Tangannya yang besar menyisihkan karpet, lalu menarik cincin itu. Lubang persegi terbuka, menguarkan udara dingin ke ruangan.
Ia menoleh ke Alea.
"Kau turun ke sana?"
Bukan pertanyaan. Pernyataan.
Alea tidak menjawab.
Damian berdiri. Sekarang ia berada tepat di depan Alea, cukup dekat untuk Alea mencium bau kopi dan sesuatu yang metalik. Darah? Atau hanya parfum?
"Kau lihat dia?"
Alea mengangkat dagu. "Siapa?"
"Jangan main-main denganku, Alea." Suaranya turun setengah oktaf, lebih dalam, lebih berbahaya. "Kau turun ke sana. Kau lihat dia. Aku tahu karena—" Ia berhenti, mengepalkan tangan di sisi tubuh.
"Karena apa?"
Damian menunduk. Saat ia mengangkat wajah lagi, matanya tidak lagi dingin. Ada sesuatu yang rapuh di sana. Seperti kaca retak yang siap pecah.
"Karena dia sudah tiga hari tidak muncul ke kamarmu. Tadi malam, aku mencarinya. Dan dia ada di sana." Damian menunjuk lubang di lantai. "Dia ada di sana, duduk di pojok, memakai jaketmu. Dan dia tersenyum."
Alea menahan napas.
"Kau—kau bisa lihat dia?"
Damian menggeleng. "Aku tidak pernah bisa melihatnya. Hanya mendengar. Tadi malam, untuk pertama kalinya, aku melihatnya. Bayangan. Sekilas. Di sudut ruangan itu."
Ia meraih pergelangan tangan Alea. Genggamannya kuat, tapi tidak menyakitkan.
"Dia memakai jaketmu, Alea. Itu artinya dia percaya padamu. Lebih dari padaku." Damian menelan. "Apa yang dia katakan?"
Alea ingat janjinya pada Damian Kecil. Jangan cerita. Tapi melihat mata Damian sekarang—bukan monster yang ia takuti, tapi pria yang kehilangan dirinya sendiri—ia tahu, berbohong bukan pilihan.
"Dia cerita tentang ruang ini," kata Alea pelan. "Tentang ayahmu. Tentang mama tirimu. Tentang tiga bulan di sini."
Genggaman Damian mengeras. Wajahnya pucat.
"Dan dia bilang..." Alea mengambil napas, "dia menciptakanmu untuk melindungi dirinya. Bahwa kau bukan kepribadian asli. Bahwa Damian Kecil-lah yang asli. Dan kau... kau menguncinya di sini, di ruang hukuman yang sama."
Damian melepaskan tangannya. Ia mundur selangkah. Dua langkah. Punggungnya membentur dinding.
Napasnya memburu.
"Aku tahu," bisiknya. "Aku tahu selama ini. Tapi aku—" Ia mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku tidak bisa membiarkan dia keluar. Kalau dia keluar, aku lenyap. Damian Kecil akan hidup, dan aku mati. Aku takut mati, Alea."
Untuk pertama kalinya, Alea melihat Damian dewasa—pria yang dijuluki Silent Reaper, mafia paling ditakuti—dengan mata penuh ketakutan.
Ia mendekat. Perlahan. Tangannya terulang, menyentuh lengan Damian yang tegang.
"Kau tidak akan mati, Damian."
"Kau tidak tahu itu."
"Aku tahu." Alea menatap matanya. "Karena aku akan memastikan kalian berdua hidup. Bukan salah satu. Bukan Damian Kecil yang mengorbankan dirinya. Bukan Damian dewasa yang menjadi monster. Tapi kalian berdua."
Damian menatapnya lama.
"Kenapa kau melakukan ini?" suaranya parau. "Kau dipaksa menikah denganku. Kau benci aku."
Alea tersenyum. Pahit. "Awalnya iya. Tapi sekarang—" ia menghela napas, "sekarang aku tidak tahu harus membenci siapa. Ayahmu yang mengurung anak delapan tahun? Mama tirimu yang kejam? Atau dirimu yang terpaksa menjadi monster agar bisa bertahan?"
Ia meraih tangan Damian, membalikkannya, melihat bekas luka di telapak tangan. Luka yang tidak mungkin didapat dari perang mafia. Luka dari kuku sendiri. Luka karena menahan diri.
"Kau bukan monster, Damian. Kau hanya anak laki-laki yang takut mati. Dan itu manusiawi."
Damian tidak bergerak. Tapi dadanya naik turun cepat.
Lalu, perlahan, tangannya yang besar membalik, menggenggam jari-jari Alea.
"Kalau kau gagal menyelamatkan kami?"
Alea menatap matanya. Hitam pekat, tapi di sana, jauh di dalam, ada cahaya kecil yang berusaha bertahan.
"Maka setidaknya kau tidak sendirian saat kau mati."
Damian menunduk. Bahunya bergetar. Tidak ada suara tangis, tapi Alea tahu pria ini menangis untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun.
---
Jam 04:23.
Damian sudah pergi. Sebelum keluar, ia menutup kembali lubang di lantai, menata karpet dengan rapi. Lalu ia berdiri di ambang pintu, menatap Alea dengan tatapan yang tidak bisa ia artikan.
"Besok," kata Damian, "aku akan tunjukkan sesuatu."
"Apa?"
"Bukti bahwa kau tidak sendirian di sini. Bahwa ada yang lebih besar dari ini semua."
Ia pergi tanpa menunggu jawaban.
Alea merebahkan diri di ranjang. Lampu bintang masih menyala, memantul di langit-langit seperti planet-planet kecil.
Ia membuka ponsel, membuka aplikasi NovelToon. Di sana, cerita yang ia tulis diam-diam—catatan harian palsu tentang pernikahan dengan mafia—telah mencapai ribuan pembaca. Komentar membanjiri.
"Kok jadi baper sama Damian dewasa?"
"Damian Kecil please jangan mati :("
"Alea jangan bunuh Damian!!! Aku ikut nyesek baca ini."
Alea tersenyum. Mereka tidak tahu bahwa ini bukan fiksi.
Ia mengetik status di kolom komentar:
"Terima kasih sudah menemani perjalanan ini. Setiap like, setiap komen, membuatku ingat bahwa di balik semua kegelapan, masih ada yang mau melihat cahaya. Bantu cerita ini sampai ke lebih banyak pembaca, ya. Karena kalian adalah alasan aku tetap kuat."
Ia menekan kirim.
Lalu ia mematikan lampu.
---BERSAMBUNG...---
Di balik setiap monster, ada anak kecil yang hanya ingin dipeluk. Dukung terus cerita ini dengan like, komen, dan share. Mari kita bawa THE DEVIL'S WIFE menjadi yang terbaik di NovelToon 2026.
Tag: #HorrorMisteri #KonflikEtika #NikahPaksa #AirMataPernikahan #BalasDendam #TheDevilsWife