Seorang wanita yang bernama Karamel, di detik-detik kematiannya, sebelum menutup mata, dia melihat sosok pria berlari menuju ke arahnya dan langsung memeluknya dari api yang berkobar.
Pria itu adalah mantan suaminya yang dia ceraikan, pria yang sudah dia sakiti. Tapi pria itu masih datang untuk menolongnya, tapi sayang sekali, Karamel sudah tidak bisa bertahan, nafasnya sudah sudah berat dan matanya sudah mulai tertutup.
Tapi, ada suatu hal yang terjadi dan sulit dimengerti. Karamel kembali hidup di masa lalu, di mana dia masih menjadi seorang Istri.
Dengan kesempatan kedua yang dia dapatkan, tentu Karamel tidak akan melakukan kesalahan yang sama.
Mampukah Karamel membalas semua luka yang dia dapat kan di kehidupan pertamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Flashback
Sarah kembali menemui Arka di kamar sempitnya, dia begitu heran dengannya yang makin hari makin tidak terawat, tidak seperti sebelumnya rapi, bersih dan wangi.
Sarah yang sudah jijik dengan ruang sempit itu makin bertambah ilfil. Dia tak menyangka Arka yang selama ini menjaga penampilan berubah jadi acuh tak acuh.
"Kamu kenapa sih?" tanya Sarah dengan wajahnya yang jengkel. "Bagaimana dengan bisnismu?"
Arka terdiam, bisnis apa? Uang makan saja ditanggung sepupunya. Dia baru mau mulai berbisnis tapi Kara keburu menjauhinya.
Salaman ini, hampir semua kebutuhannya berasal dari uang Kara. Uang itu dia kumpulkan sedikit demi sedikit hingga bisa kebeli rumah. Tapi rumah itu malah kembali ke tangan Kara, dia seperti jadi perantara saja.
"Ck bisnis apa? Kamu mau kasi aku uang sebagai modal? Tidakkan? Jadi jangan banyak tanya!" Arka juga jengkel Karena Sarah tidak bisa membantunya sama sekali.
Dia bertunangan dengan Sarah karena keduanya memang saling mencintai. Tapi tentu ada maksud lain, dia ingin menumpang hidup dengan keluarga Sarah.
Tapi semenjak bertemu dengan Kara yang lebih royal, Arka mulai membandingkannya dengan Sarah.
Sehingga Sarah mengajaknya untuk bekerja sama, membuat Kara jatuh cinta dan mengejarnya, lalu dia hanya berpura-pura sok jual mahal, dan rencana mereka berhasil.
Entah polos ata bodoh, Kara selalu menuruti permintaannya. Sehingga hal itu makin membuatnya serakah, dia membayangkan, bagaimana jika semua harta Kara jadi miliknya?
"Loh, bukannya kamu sedang menjalankan bisnis?" Tanya Sarah, karena itulah yang sering Arka katakan jika dia menjanjikan sesuatu pada Kara.
Wajah Arka terlihat jelek mendengar pertanyaan Sarah. "Sudahlah..! Kanapa kamu datang?"
Sarah sangat kesal melihat Arka yang mengalihkan topik, namun dia tetap menjawab pertanyaan Arka.
Dia menceritakan apa saja mereka lakukan dengan Kara beberapa hari yang lalu. Sarah juga memberi tahu Arka tentang yang dialami Devi yang masih terus mengurung diri.
"Kan aneh, aku dan Devi mengalami hal yang buruk di jalan itu." sahut Sarah dengan wajah serius.
Arka juga memikirkan hal yang sama, "Kayaknya si Devi bukan cuman dibegal!"
"Maksudmu dia,, dia dilecehkan oleh begal itu? Tebak Sarah dengan mata terbelalak.
Pantas saja Devi terlihat takut jika mereka mendekatinya, ternyata dia menyembunyikan sesuatu. Tapi kenapa dia tidak jujur saja? Agar kasus itu bisa diselidiki.
"Kayaknya ada orang yang sudah merencanakannya, seperti yang kau alami.!" jelas Arka.
Sarah tiba-tiba jadi takut, sebenarnya siapa yang mereka sudah mereka singgung sehingga membalas mereka dengan begitu kejam?
Seandainya Kara bisa tahu apa yang ada dipikiran Sarah, mungkin Kara akan membalasnya lebih kejam lagi.
"Kalian semua harus berhati-hati! Entah siapa target orang itu selanjutnya!" pinta Arka.
"Aku jadi takut. Siapa sih orang itu?" ucap Sarah dengan tubuh yang gemetar. Karena saat ini dia benar-benar ketakutan, bagaimana jika orang itu masih mengincarnya?
Arka juga tidak tahu harus bagaimana, dia beranjak dan keluar kamar. Dia meminta Sarah untuk pulang, karena dia ingin mencari sepupunya.
Sarah berdecak kesal melihat Arka pergi begitu saja. Tidak ada rasa khawatir melihatnya ketakutan.
Dia meninggalkan tempat itu dengan rasa takut, setiap keluar Sarah menggunakan masker dan kaca mata untuk menutupi bekas luka di wajahnya. Meski sudah ditutupi dengan bedak, bekasnya masih terlihat.
...----------------...
Seminggu kepergian Tama, Kara benar-benar sudah sangat bosan. Dia tidak ada kegiatan sama sekali, selama ini dia hanya taunya keluyuran.
"Astagaaaa.. Apa yang harus Aku lakukan? Semua orang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Masa aku cuman rebahan?" tanya Kara pada dirinya sendiri.
Kara tiba-tiba teringat dengan gadis yang menolongnya saat hampir dilecehkan, saat itu dia sudah tidak punya apa-apa, dia tidak bisa memberi sesuatu selain ucapan terima kasih.
Kara beranjak lalu segera bersiap, dia turun ke bawah dengan semangat, akhirnya dia punya kegiatan juga.
Dia hanya mengatakan kepada Pak Rudi, jika dia akan pergi mencari seorang kenalan lama. Kara melajukan mobilnya dengan pelan.
"Hmm, kalau tidak salah gadis itu masih sekolah SMA dan sebentar lagi akan tamat. Dia tinggal disebuah kontrakan kecil!" gumam Kara setelah berhasil mengingatnya.
"Tapi itu setelah dua tahun kemudian. Dan sekarang mungkin dia masih kelas 10," lanjut Kara dengan tebakannya.
Kara berhenti di depan sebuah gang! Dia menatap Gang itu dengan wajah suram, di sana lah kejadian itu hampir terjadi.
***
Di gang itu ada pertigaan, dan jalannya buntu. Mungkin Preman itu tinggal di kawasan sekitar.
Di kehidupan pertamanya, Kara tinggal di kontrakan kecil, dia bekerja sebagai kasir mini market, waktu shift malam dan pulangnya sekitar jam 11.
Dia tiba-tiba dihadang oleh dua preman, dan Kara terlambat untuk berlari, mulutnya sudah disumpel kain sehingga di tidak bisa berteriak minta tolong.
Kara di bawah ke gang jalan buntu itu, badannya bergetar karena takut. Dia berhasil melepaskan kain di mulutnyanya sehingga dia punya kesempatan untuk berteriak.
Dan dia sangat beruntung, ada seorang gadis yang datang membawa rombongan orang, dan preman itu langsung memanjat tembok pagar dan melarikan diri.
Gadis itu sudah melihat kejadian dari awal, dan dia segera berlari dan berteriak mencari bantuan, tapi gadis itu sangat cerdik, dia menggunakan kain untuk menutup sebagian wajahnya, agar preman itu tidak mengenalinya.
"Nona, kau sangat beruntung! Berterima kasihlah kepadanya. Jika dia tidak berteriak mungkin kami tidak bisa mengetahuinya."
Karena mereka semua ada di salah satu rumah yang pagarnya tinggi, sehingga orang luar tidak bisa melihat ke dalam.
Tapi karena gadis itu berteriak minta tolong, mereka akhirnya keluar dan bertanya apa yang terjadi.
"Terima kasih, terima kasih!" kata Kara sambil membungkuk dengan perasaan takut. Tapi, saat dia mendongak tatapan tertuju dengan seorang pria yang menatapnya dengan datar.
Orang-orang itu mengantar Kara pulang ke kontrakannya, begitupun dengan gadis kecil. Karena kejadian itu, Kara jadi trauma berat, sehingga dia tidak masuk kerja, dan akhirnya dipecat.
Sebulan kemudian, setelah kondisinya membaik. Kara mencari gadis itu, dan dia menemukannya di sebuah taman sedang mencari rongsokan.
"Aku tidak punya apa-apa! Aku dipecat dari tempat kerja!"
"Kak! Aku tulus membantumu! Senang lihat Kakak baik-baik saja.!" balasnya sambil tersenyum.
Kara juga tersenyum, sebulan terakhir dia hanya menampilkan wajah penuh keputus asaan. "Siapa namamu? Kamu tinggal di mana?"
"Oh iya kita belum kenalan!" Katanya dengan tertawa kecil. "Namaku Salsabila, Kakak bisa memanggilku Caca. Aku tinggal di kontrakan, di JLN. MANGGA."
Kara melihat tawanya yang ceria, dia juga pernah tertawa seperti itu. Tapi sekarang sudah hilang karena dirinya sendiri.
"Kamu bisa memanggilku Kara! Sekali lagi terima kasih yaa!" ujar Kara. "Kamu masih sekolah?" tanya Kara sambil melirik karung goni yang penuh dengan botol plastik.
"Aku sudah kelas 3 SMA, sebentar lagi lulus!" jawabnya dengan tersenyum, mungkin dia tidak sabar dengan hal itu. "Pulang sekolah lanjut cari rongsokan lalu dijual!"
"Oh, apa itu cukup?"
Caca masih tersenyum mendengar pertanyaan Kara "Cukup! jika kita bersyukur!"
Kara terdiam, dia merasa tertampar dengan pernyataan itu. Selama ini dia hanya tau berfoya-foya dengan teman-temannya, tapi sialnya orang-orang itu tidak tahu berbalas budi.
.
.
.
Sebelum UP sdah dibaca berulang-ulang kok. Tapi masih ada juga yang lolos dari pandangan..😭
sering2 yaa kalau ada typo😍😍