Pertemuan singkat di sebuah mess karyawan mengubah hidup Abraham. Saat Pramesti datang mengambil kucingnya bersama sang adik, Prita, Abraham langsung terpikat oleh pesona gadis itu. Ketertarikan yang tulus mendorong Abraham untuk menyatakan perasaannya.
Namun, kejujuran Abraham justru membentur tembok tinggi. Orang tua Prita menolak mentah-mentah hubungan mereka karena status sosial. Bagi mereka, seorang teknisi lapangan komunikasi tidak akan pernah cukup berdampingan dengan putri mereka. Di mata orang tua Prita, kebahagiaan hanya bisa dijamin oleh sosok setingkat CEO, bukan pria yang bekerja di bawah terik matahari.
Kini, Abraham dan Prita harus berhadapan dengan dilema: menyerah pada realita atau memperjuangkan cinta di tengah jurang perbedaan status.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Di bawah temaram lampu warung yang sepi, Abraham melangkah mendekat dengan napas yang masih memburu.
Ia tidak memedulikan tatapan beberapa orang di sana.
Fokusnya hanya pada wanita yang kini menelungkupkan wajah di atas meja kayu, bahunya berguncang hebat karena tangis.
"Prita..." panggil Abraham dengan suara yang serak karena kelelahan.
Prita mendongak, matanya merah dan sembab. Begitu melihat Abraham, amarahnya kembali menyala.
"Pergi, Mas! Pergi ke villa itu lagi! Jangan temui aku!"
Abraham tidak pergi. Ia justru mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan meletakkannya di atas meja di depan Prita.
Layarnya hitam pekat. Ia mencoba menekan tombol power berkali-kali, namun tidak ada tanda-tanda kehidupan.
"Ponsel Mas mati total sejak siang, Sayang. Mas jatuh saat mencoba memperbaiki modul di atas tower karena hujan deras. Sinyal di Ampelgading itu nol," jelas Abraham, suaranya bergetar menahan lelah yang luar biasa.
Prita menggeleng kuat, ia mendorong dada Abraham dengan kedua tangannya.
"Kamu bohong, Mas! Papa nggak mungkin bohong! Kamu cuma jadikan kerjaan sebagai alasan untuk selingkuh, kan?"
"Prita, lihat Mas!" Abraham meraih tangan Prita, lalu menggulung lengan bajunya yang kotor.
Di sana, terlihat luka goresan yang cukup panjang dan masih memerah, bekas gesekan besi tower yang tajam.
Telapak tangannya pun tampak kasar, hitam karena oli dan lumpur yang mengering, jauh dari kesan tangan seseorang yang baru saja bersenang-senang di villa.
"Apa ini kelihatan seperti luka orang yang habis berpesta di villa?" tanya Abraham dengan tatapan mata yang sangat terluka.
Prita terdiam sejenak melihat luka itu, namun egonya yang sudah terlanjur terluka oleh ucapan sang ayah membuatnya kembali membuang muka.
"Bisa saja itu kamu buat-buat sendiri untuk menutupi kesalahanmu!"
Abraham memejamkan matanya rapat-rapat. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, merasa benar-benar berada di titik nadir.
Ia telah mempertaruhkan nyawanya di ketinggian puluhan meter demi mencari nafkah, namun saat pulang, justru fitnah keji yang menerimanya.
"Astaghfirullah, Prita. Aku harus berkata apa lagi agar kamu percaya?" tanya Abraham dengan suara yang nyaris berbisik, namun penuh dengan kepedihan.
"Mas mencintaimu lebih dari nyawa Mas sendiri, tapi kalau kamu lebih percaya pada orang yang ingin memisahkan kita daripada suamimu sendiri. Mas tidak tahu lagi harus bagaimana."
Saat ketegangan mencapai puncaknya, Deddy tiba-tiba muncul dari kegelapan mess.
Ia berlari kecil menghampiri warung sambil memegang ponselnya yang masih menyala.
"Mbak Prita, tolong lihat ini sebentar!" seru Deddy dengan napas terengah.
Ia menyodorkan layar ponselnya tepat di depan mata Prita.
Di layar itu, terlihat sebuah video singkat yang diambil Deddy.
Di dalam video, cuaca tampak mendung gelap dan angin bertiup kencang.
Terlihat Abraham sedang berada di ketinggian tower, tubuhnya terikat sabuk pengaman, sedang berjuang memperbaiki perangkat di tengah guyuran hujan gerimis.
Wajahnya tampak sangat tegang dan fokus, jauh dari kesan bersenang-senang.
"Ini tadi jam empat sore di Ampelgading, Mbak. Saya yang rekam buat laporan ke kantor. Abraham hampir jatuh tadi karena besi tower yang licin, itu sebabnya tangannya terluka," jelas Deddy dengan nada serius.
"Kami tidak ke villa, Mbak. Kami bertaruh nyawa di atas sana agar sinyal satu kecamatan tidak mati."
Prita terpaku. Video itu menjadi bukti telak yang meruntuhkan semua tuduhan ayahnya.
Ia menoleh ke arah Abraham yang tampak sangat lesu, matanya merah bukan karena marah, tapi karena kelelahan yang luar biasa.
Hati Prita seketika luluh. Rasa bersalah yang teramat sangat menghantam dadanya.
"Mas, maafkan aku," bisik Prita sambil terisak. Ia meraih tangan Abraham yang terluka, merasa bodoh karena telah meragukan pria sesetia suaminya.
Abraham tidak membalas dengan kemarahan. Ia justru menghela napas panjang, meredam sisa emosinya.
Ia mengusap air mata di pipi istrinya dengan jempolnya yang kasar.
"Sudah, jangan menangis lagi. Ayo kita masuk," ajak Abraham lembut, suaranya terdengar sangat lelah namun tetap protektif.
Mereka berjalan perlahan kembali masuk ke dalam mess.
Deddy dan teman-teman lainnya hanya menatap dengan simpati, membiarkan pasangan itu menyelesaikan urusan mereka.
Begitu sampai di dalam kamar, suasana masih berantakan dengan pecahan keramik.
Abraham tidak langsung beristirahat. Tanpa diperintah, ia mengambil sapu dan pengki.
Dengan punggung yang tampak membungkuk karena lelah, Abraham mulai membersihkan pecahan mangkuk yang dilempar Prita tadi.
Prita berdiri mematung di pintu, melihat suaminya yang seharusnya ia layani setelah pulang kerja, kini justru harus memunguti pecahan mangkuk karena amarahnya yang buta.
Air mata Prita kembali jatuh, namun kali ini adalah air mata penyesalan yang mendalam.
Melihat Abraham yang membungkuk letih memunguti pecahan keramik, hati Prita serasa diiris sembilu.
Ia segera berlari kecil dan merebut sapu dari tangan suaminya.
"Jangan, Mas. Biar aku saja. Mas mandi saja dulu pakai air hangat, aku sudah siapkan," ucap Prita dengan suara bergetar penuh penyesalan.
Abraham menatap istrinya sejenak, melihat mata Prita yang masih sembab.
Ia hanya mengangguk pelan tanpa banyak bicara, lalu melangkah menuju kamar mandi dengan tubuh yang tampak sangat berat.
Prita bergerak cepat. Setelah membersihkan sisa pecahan mangkuk, ia bergegas ke dapur kecil mess.
Ia menyalakan kompor, menjerang air, dan mulai memasak mie rebus dengan tambahan telur serta sayuran.
Aroma gurih mie instan bercampur dengan harum kopi hitam yang ia seduh mulai memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang lebih tenang.
Tak lama kemudian, Abraham kembali ke kamar dengan rambut basah dan pakaian bersih, meski wajahnya masih menyiratkan kelelahan yang sangat dalam.
Prita segera menata makanan di atas meja kecil: semangkuk mie rebus telur yang mengepul hangat, segelas kopi, dan jajanan pasar serta lauk yang ia beli di Pasar Besar Malang tadi siang.
"Makan dulu, Mas. Maafkan aku. Aku benar-benar berdosa sudah menuduh Mas yang tidak-tidak," bisik Prita sambil meletakkan sendok ke tangan Abraham.
Abraham duduk di tepi ranjang, menatap hidangan di depannya, lalu beralih menatap Prita.
Ia menghela napas panjang, lalu menarik tangan istrinya untuk duduk di sampingnya.
"Mas tidak marah, Prita. Mas cuma sedih karena kamu lebih percaya ucapan orang lain daripada keringat suamimu sendiri," ucap Abraham pelan sebelum mulai menyuap mie rebus buatan istrinya.
Prita hanya bisa menunduk, berjanji dalam hati tidak akan membiarkan hasutan ayahnya merusak kebahagiaan kecil yang sedang mereka bangun di mess sederhana ini.
Sambil perlahan mengunyah mie rebus buatannya, Abraham menatap kosong ke depan, teringat kembali kejadian mencekam di Ampelgading.
Ia meletakkan sendoknya sejenak, lalu meraih tangan Prita dan menggenggamnya erat.
"Tadi siang itu hujan turun tiba-tiba, Prita. Angin di atas tower kencang sekali. Mas sedang berusaha mengunci baut modul yang longgar supaya sinyal bisa naik lagi. Karena licin, tumpuan kaki Mas sempat meleset," cerita Abraham dengan nada suara yang masih sedikit bergetar.
Prita menahan napas, matanya membulat ngeri membayangkan suaminya tergantung di ketinggian.
"Mas sempat merosot beberapa meter. Untungnya sabuk pengaman Mas menyangkut di besi penyangga, tapi tangan Mas menghantam pinggiran besi yang tajam sampai robek begitu. Di atas sana, Mas cuma kepikiran satu hal: Mas harus pulang dengan selamat karena ada kamu yang menunggu di mess. Mas tidak mungkin selingkuh, Prita. Tenaga Mas sudah habis hanya untuk bertahan hidup di atas sana."
Abraham kemudian merogoh saku jaketnya yang ia letakkan di kursi.
Ia mengeluarkan amplop kecil yang sedikit kumal dan menyerahkannya kepada Prita.
"Ini uang lemburan darurat dari Pak Gio karena Mas mau turun di hari libur dan menyelesaikan gangguan massal tadi. Simpan ya. Ini bisa buat tambahan kita bayar DP kontrakan besok. Mas kerja keras begini supaya kita cepat-cepat bisa pindah dari sini."
Melihat amplop di tangannya dan mendengar perjuangan nyawa suaminya, pertahanan Prita benar-benar runtuh.
Ia langsung menghambur ke pelukan Abraham, memeluk tubuh tegap itu dengan sangat erat seolah takut kehilangan.
"Maafin Prita, Mas. Prita jahat sekali sudah menuduh Mas yang tidak-tidak. Prita janji tidak akan dengarkan Papa lagi," tangis Prita pecah, ia menangis sesenggukan di dada Abraham.
Abraham membalas pelukan itu, mengelus punggung Prita dengan lembut meskipun tangannya masih terasa perih.
"Sudah, jangan menangis lagi. Yang penting sekarang Mas sudah di sini, dan kita tetap bersama."
Di dalam kamar mess yang sunyi itu, hanya terdengar suara isak tangis penyesalan Prita dan bisikan penenang dari Abraham.
Fitnah Papa Broto memang sempat mengguncang, namun justru membuat pondasi kepercayaan mereka menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
Setelah suasana mereda dan perut Abraham sudah terisi, Prita segera membereskan piring dan gelas kotor ke dapur mess.
Ia mencucinya dengan cepat, ingin segera kembali ke kamar untuk mengurus suaminya yang tampak sudah sangat kelelahan.
Kembali ke dalam kamar, Prita mengambil kotak P3K kecil yang tersimpan di lemari.
Ia duduk bersimpuh di samping Abraham yang sudah merebahkan tubuhnya di ranjang dengan mata setengah terpejam.
Dengan gerakan yang sangat lembut dan hati-hati, Prita mulai membersihkan luka gores di tangan Abraham menggunakan cairan antiseptik.
Abraham sempat sedikit meringis saat cairan itu menyentuh kulitnya yang terbuka, namun ia tidak menarik tangannya.
Ia justru menatap wajah istrinya yang begitu fokus dan penuh kasih sayang merawatnya.
"Perih ya, Mas? Maaf ya..." bisik Prita sambil meniup luka itu perlahan.
Prita mengoleskan salep dan membalut luka tersebut dengan kain kasa bersih.
Setelah selesai, ia mengusap punggung tangan suaminya dan mengecupnya lama sebagai tanda permintaan maaf yang tulus.
Namun, saat Prita mendongak untuk melihat reaksi suaminya, ia menyadari bahwa Abraham sudah tidak lagi terjaga. Napasnya sudah teratur dan dalam.
Abraham telah tertidur pulas dalam posisi masih mengenakan kaosnya, saking hebatnya rasa lelah yang menghantam fisiknya setelah bertaruh nyawa di tower dan menghadapi badai emosi malam ini.
Prita tersenyum tipis dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
Ia menyelimuti tubuh suaminya dengan hati-hati, lalu ikut merebahkan diri di samping Abraham.
Ia memandangi wajah lelah itu di bawah lampu kamar yang temaram, berjanji dalam hati untuk menjadi sandaran yang lebih kuat bagi suaminya mulai besok.