NovelToon NovelToon
Jadikan Aku Pelabuhan Terakhirmu

Jadikan Aku Pelabuhan Terakhirmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Berondong / Aliansi Pernikahan
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan seorang celebrity chef terkenal bernama Devina Maharani yang harus menerima kenyataan bahwa pertunangannya dengan Aris Wicaksana harus kandas karena Aris ketahuan masih belum bercerai dengan istri sahnya. Devina begitu shock dan terpukul setelah acara pertunangan itu batal. Di saat terendah dalam hidupnya ia bertemu dengan Gavin Wirya Aryaga seorang pengusaha muda di bidang pembuatan alat memasak. Perlahan kedekatan intens dan cinta pun datang membuat Devina ragu bisakah Gavin menjadi pelabuhan terakhirnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teror Kembali

Kabar pelarian Aris sampai ke telinga Devina tepat saat ia sedang mempersiapkan sarapan di dapur rumah amannya. Ponsel di tangannya jatuh berdentang di atas lantai marmer. Layar televisi di depannya menampilkan berita utama: "Buronan Kasus Pembunuhan Berencana, Aris Wicaksana, Kabur dari Penjara."

Wajah Devina memucat seketika. Seluruh tubuhnya mendadak dingin. Rasa aman yang baru saja ia bangun dengan susah payah selama beberapa hari terakhir runtuh berkeping-keping.

"Tidak mungkin... tidak mungkin..." bisik Devina dengan napas tersengal.

Gavin masuk ke ruangan dengan terburu-buru, wajahnya nampak sangat tegang. Ia segera memeluk bahu Devina yang mulai menggigil. "Dev, aku sudah dengar. Kita harus pindah sekarang juga. Polisi sudah berjaga di perimeter luar."

"Dia akan datang, Gavin! Dia tidak akan berhenti!" Devina mendongak, matanya penuh dengan kengerian yang nyata. "Dia sudah menculik orang tuaku, dia sudah mendorong Bu Imroh, dan sekarang dia bebas? Di mana keadilan itu, Gavin?!"

Devina berjalan mondar-mandir di dapur, tangannya memegang kepalanya sendiri. Setiap bunyi derit pintu atau gesekan angin pada jendela kini terdengar seperti langkah kaki Aris yang datang untuk menjemputnya. Ia merasa terpojok, merasa bahwa tembok-tembok rumah aman ini pun tidak akan mampu menahan kegilaan Aris.

"Aku merasa dia sedang melihatku sekarang, Gavin," isak Devina. "Di mana pun aku berada, dia selalu ada di sana."

Gavin mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. Ia tidak hanya merasa gagal sebagai pelindung, tapi ia juga merasa amarah yang membuncah terhadap sistem yang membiarkan monster seperti Aris lolos.

"Dia memang bebas dari penjara, Devina," ucap Gavin dengan suara rendah dan mematikan. "Tapi dia tidak akan pernah bebas dari kejaran-ku. Jika hukum tidak bisa mengurungnya, maka aku sendiri yang akan memastikan dia tidak akan pernah bisa melangkah lagi."

Malam itu, Jakarta kembali mencekam bagi mereka. Di sebuah sudut kota yang kumuh, Aris Wicaksana duduk di kegelapan, memperhatikan sebuah foto Devina yang ia curi dari rumah Bu Imroh. Ia menyeringai, sebuah seringai yang menjanjikan kehancuran total. Permainan kucing dan tikus ini telah memasuki babak akhir yang paling berdarah.

****

Malam di Jakarta terasa lebih berat, seolah udara pun mengandung timbal yang menyesakkan. Di dalam rumah aman yang kini dijaga oleh pasukan paramiliter swasta, Devina Maharani duduk mematung di depan meja riasnya. Namun, ia tidak sedang bersolek. Tangannya yang gemetar menggenggam sebuah radio transistor tua—satu-satunya benda yang tidak terhubung ke internet, namun justru menjadi saluran teror yang paling nyata.

Suara statis beralih menjadi sebuah frekuensi gelap. Sebuah suara serak yang sangat ia kenali masuk, menyusup lewat celah-celah speaker kecil itu.

"...dan untuk koki kesayangan kita yang sedang bersembunyi di balik tembok beton... apakah masakanmu hari ini berasa pahit, Devina? Sepahit pengkhianatanmu? Aku bisa melihatmu dari sini, bahkan saat kamu mematikan lampu. Aku adalah kegelapan yang kamu takuti."

Devina melempar radio itu ke lantai hingga hancur. Namun, teror tidak berhenti di situ. Layar ponselnya yang diletakkan di atas meja terus menyala. Notifikasi dari akun-akun anonim di media sosial membanjiri dinding komentarnya. Foto-foto candid dirinya saat sedang menangis di pemakaman Salsa, foto pintu depan rumah orang tuanya yang diberi tanda silang merah, hingga video pendek yang menunjukkan gedung apartemennya dari kejauhan.

"Kamu tidak akan pernah merdeka, Devina. Selama aku masih bernapas, setiap langkahmu adalah langkah menuju liang lahatmu sendiri," tulis salah satu akun anonim dengan profil gambar hitam pekat.

Devina jatuh terduduk, membenamkan wajahnya di antara kedua lutut. Ia merasa seperti serangga yang terperangkap dalam jaring laba-laba raksasa. Aris tidak hanya menyerang fisiknya; ia sedang menguliti kewarasan Devina lapis demi lapis.

****

Di sudut kamar lain, Bu Imroh bersimpuh di atas sajadahnya yang sudah mulai usang. Tubuhnya masih terasa nyeri, bekas cekikan Aris tempo hari masih menyisakan rona merah di lehernya yang keriput. Namun, bibirnya tidak berhenti bergerak.

"Hasbunallah wanikmal wakil... Hasbunallah wanikmal wakil..."

Butiran tasbih kayu itu berpindah dari satu jari ke jari lainnya dengan ritme yang cepat. Air matanya mengalir perlahan, membasahi kain mukena putihnya. Bu Imroh tidak lagi meminta keselamatan untuk dirinya sendiri. Ia sudah cukup tua dan sudah cukup banyak melihat kematian.

"Ya Allah, Ya Jabbar... Engkau yang membolak-balikkan hati manusia. Jika memang hamba-Mu yang zalim itu tidak bisa lagi disadarkan, maka hentikanlah langkahnya dengan cara-Mu. Jangan biarkan tangan kotornya menyentuh anak-anak baik ini lagi. Akhiri kegilaan ini, ya Rabb..."

Doa Bu Imroh adalah satu-satunya frekuensi yang tidak bisa disabotase oleh Aris. Di tengah kebisingan teror radio dan media sosial, zikir wanita tua itu menjadi jangkar yang menahan badai agar tidak menghancurkan rumah itu sepenuhnya.

****

Sementara itu, di sebuah gudang kontainer di pelabuhan Tanjung Priok, Gavin Wirya Aryaga berdiri di tengah kegelapan yang pekat. Ia telah menyusun sebuah rencana yang ia yakini sempurna. Melalui informan gelap, Gavin menyebarkan berita bahwa ia akan memindahkan Devina ke luar negeri malam ini melalui jalur laut pribadi.

Gavin berdiri di dekat pintu masuk gudang, tangannya menggenggam senjata dengan erat. Di sekelilingnya, tim penembak jitu sudah mengambil posisi di atas tumpukan peti kemas.

"Dia akan datang. Dia terlalu sombong untuk melewatkan kesempatan ini," gumam Gavin pada dirinya sendiri.

Namun, menit demi menit berlalu, dan kesunyian di pelabuhan itu terasa janggal. Tiba-tiba, suara tawa yang melengking terdengar dari pengeras suara gedung pelabuhan yang seharusnya sudah mati.

"Gavin, Gavin... kamu pikir aku masih Aris yang bodoh yang bisa kamu pancing dengan umpan murahan?"

Gavin tersentak. Suara itu tidak datang dari luar, melainkan dari dalam gudang. Tiba-tiba, lampu-lampu sorot di dalam gudang menyala serentak, membutakan mata Gavin dan timnya. Bukan Aris yang muncul, melainkan deretan layar monitor yang terpasang di dinding kontainer.

Layar itu menampilkan rekaman live dari dalam rumah aman tempat Devina berada. Gavin melihat tim keamanannya sendiri sedang dilumpuhkan oleh asap gas air mata yang keluar dari sistem ventilasi rumah tersebut.

"TIDAK! DEVINA!" raung Gavin.

Aris telah meretas sistem keamanan rumah aman itu dari jarak jauh, menggunakan akses yang ia dapatkan saat penyamarannya tempo hari. Jebakan Gavin untuk memancing Aris ke pelabuhan justru membuat Gavin berada jauh dari Devina di saat kritis. Aris sengaja membuat Gavin meninggalkan sisi Devina agar ia bisa menyerang "benteng" itu tanpa perlawanan dari sang pelindung utama.

"Terima kasih sudah mengosongkan jalan untukku, Gavin. Kamu menjebak dirimu sendiri dalam kesombonganmu," suara Aris kembali menggema, diikuti oleh bunyi ledakan kecil di panel listrik gudang yang mengunci semua pintu keluar secara otomatis.

Gavin terjebak di dalam gudang kontainernya sendiri, sementara di rumah aman, sosok bayangan hitam mulai terlihat merangkak masuk melalui jendela dapur yang tidak lagi terjaga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!