NovelToon NovelToon
Dewa Primordial Yang Mahakuasa

Dewa Primordial Yang Mahakuasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cthulhu / Dunia Lain / Action / Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:165
Nilai: 5
Nama Author: DaoisttjmlCe

Q adalah makhluk hidup. Q adalah esensi alam semesta.

Dengan semakin berkembangnya tenaga uap dan mesin, siapa yang bisa mendekati sosok Master Q? Terselubung dalam kabut dan kegelapan, siapa atau apa kejahatan yang mengintai dan berbisik di telinga kita?

Terbangun dengan serangkaian kebingungan dan misteri, Bagas Pratama mendapati dirinya bereinkarnasi ke tubuh seorang remaja bernama Rostav Zertu di dunia yang dipenuhi oleh lautan dan dikuasai oleh mesin uap, bajak laut, meriam, serta Ramuan, Q, dan Anomali.

Ikuti kisah Rostav Zertu dalam menghadapi bahaya dan misteri yang mengincarnya, saat terlibat dengan organisasi-organisasi rahasia yang ada di dunia.

Ini adalah kisah dari "Kapten Mawar Hitam".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DaoisttjmlCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 - Ramuan

Bagas, atau yang kini bisa disebut Rostav berdiri dan melangkah ke sebuah lemari besar dengan kumpulan gir-gir kecil dan besar yang saling disatukan oleh sebuah rantai berwarna perak, di beberapa bagian lemari juga terdapat sebuah paku keling, sepertinya digunakan untuk merapatkan bagian satu dengan bagian lainnya.

Lemari itu memiliki sebuah cermin kecil, alasan utamanya tentu saja karena Rostav ingin melihat bagaimana penampilannya saat ini di dunia lain ini. Dia berdiri di depan cermin kecil itu dan mengamati penampilannya.

Itu adalah seorang remaja berusia tujuh belas tahun, memiliki perawakan yang tampan dengan rambut panjang sebahu, dan pupil mata berwarna hitam cerah. Pakaiannya berupa mantel panjang hitam dengan ornamen emas dan kancing dekoratif, kemeja putih berenda di bagian dada dan lengan, rompi cokelat tua di dalam mantel, dipadukan dengan beberapa sabuk kulit di pinggang. Celana gelap ketat, dan sebuah aksesori rantai dan liontin.

Rostav memandangi dirinya sendiri dengan teliti, dia menunduk ke bawah, melihat kakinya yang dilindungi oleh sepatu bot kulit berwarna hitam dengan beberapa hiasan di bagian samping.

"Jujur saja... penampilanku tidak terlalu buruk, bahkan mungkin jauh lebih baik dari yang kubayangkan," Rostav mengusap wajahnya sendiri, merasakan kulitnya yang lembut dan kencang, seolah-olah baru saja melakukan perawatan mahal. Tidak ada keriput, tidak ada mata panda, dan tidak ada pekerjaan yang menyiksa. "Hmm, melihat penampilanku ini... aku teringat tentang bajak laut. Ya, kurasa itu masuk akal, karena aku sendiri kini berada di sebuah ruangan yang terdapat sebuah kepala kambing utuh, apakah ini adalah ruangan Kapten? Apakah aku ini Kapten?" Rostav berpikir dalam-dalam sambil melangkahkan kakinya mengelilingi ruangan.

Dia berhenti dan duduk di kasur yang empuk, merasakan tekstur kasurnya membuat Rostav ingin berbaring. Dia berbaring di atas kasur empuk itu, membiarkan tubuhnya merasakan kenikmatan yang sudah lama tak dia dapatkan di Bumi, dan memejamkan matanya sejenak.

"Kurasa tidur beberapa menit tidak akan menjadi masalah, kan?" Rostav meyakinkan dirinya sendiri bahwa tidak akan terjadi apa-apa jika dirinya tidur. Dan pada momen itu dia menutup matanya.

Lima menit kemudian dia terbangun karena terbentur dinding ruangan, dia terduduk dan mengelus dahinya yang sakit sambil bergumam dengan nada kesal, "ck, apa yang sebenarnya terjadi? Aku masih belum puas dengan tidurku. Eh?" Pada momen itu dia merasakan sebuah getaran aneh di seluruh ruangan, barang-barang berjatuhan ke lantai dengan suara nyaring, seolah-olah ada gempa bumi yang melanda di sekitar mereka.

Getaran itu menjadi semakin kuat seiring waktu, hal itu memaksa Rostav untuk berpegangan pada kasur yang dia tempati, berharap bahwa dia tidak akan terlempar keluar. Tubuhnya bergerak tak tentu arah, seolah-olah dia berada di tengah lautan dan sedang terombang-ambing.

"Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Aku benar-benar tak mengerti, aku ingin pergi mengeceknya, tapi aku terlalu takut untuk keluar dari ruangan ini. Ini adalah dunia lain, setahuku dari film-film dan novel yang kubaca, jika karakter utama membuka suatu pintu maka kemungkinan besar akan ada monster yang datang. Dan, apakah aku ini karakter utama? Aku tidak peduli, aku hanya ingin bertahan hidup," Rostav menguatkan cengkramannya pada kasur ketika getaran menjadi semakin kuat dan semakin kuat. Kasurnya kini bahkan telah bergeser beberapa meter dari tempat aslinya.

Ketika kasur membawanya ke meja, Rostav yang menyadari bahwa meja dan kursi itu tidak bergerak dari tempatnya akhirnya memilih untuk pindah lokasi. Dia dengan hati-hati melompat dari kasur, berpegangan pada meja, dan akhirnya duduk di kursi kuningan kuno itu.

"Wah, perutku merasa mual," Rostav memegangi dan mengelus perutnya. Awalnya dia memang bisa menahannya, mungkin karena dia pernah menaiki sebuah wahana berbentuk kapal yang bergerak di udara dengan kecepatan tinggi, tapi kini rasanya bahkan jauh lebih buruk dari wahana itu. Lama-lama dia tidak dapat menahan rasa mualnya, dan akhirnya memuntahkan seluruh isi perutnya yang hanya berisi sebuah cairan bening.

Dia mengusap bibirnya sambil berharap di dalam hati bahwa getaran ini akan segera berakhir, 'cepatlah berakhir! Cepatlah berakhir! Aku bisa pingsan jika ini terus berlanjut.'

Untung saja baginya, tiga menit kemudian, getaran dan rasa terombang-ambing itu berhenti sepenuhnya, membuat Rostav mengambil napas lega. Dia mengelus dadanya sambil menghembuskan napas kebebasan.

Setelah beristirahat lagi selama beberapa menit, dia akhirnya berdiri dan melangkah menuju sebuah pintu yang terbuat dari kayu berwarna gelap.

'Walaupun berbahaya, tapi aku tidak akan tahu dimana aku berada jika terus mengurung di ruangan ini. Ada kemungkinan jika aku membuka pintu ini, ada monster yang bisa saja menerjang ke arahku,' Rostav menelan salivanya dalam-dalam. Dia sebenarnya belum sepenuhnya yakin untuk keluar dari ruangan ini, karena tentu saja ruangan ini adalah ruangan paling aman untuknya saat ini. Tapi, setelah menguatkan tekadnya, dia menggenggam kenop pintu dan membukanya.

Suara klik terdengar, menandakan pintu dapat dibuka. Rostav menariknya secara perlahan, dan kemudian mengintip dari celah pintu yang terbuka. Tidak menemukan sesuatu yang aneh, dia membuka pintu sepenuhnya. Di balik pintu itu adalah sebuah lorong yang cukup luas dan panjang dengan beberapa pintu di setiap sisinya.

"Kurasa... tidak ada monster seperti yang kupikirkan," Rostav awalnya merasa percaya diri sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya dan menambahkan, "tidak, tidak. Bisa saja di balik beberapa pintu ini ada monster, aku harus tetap berhati-hati. Oh, kurasa akan lebih baik jika aku membawa sebuah pedang."

Rostav kembali ke dalam kamar dan mengambil pedang yang terjatuh ke lantai. Pedang itu memiliki bilah panjang, ramping, dan sedikit meruncing, dengan pelindung tangan yang sangat dekoratif dengan bentuk melingkar dan ornamen perunggu. Gagangnya dihiasi detail logam rumit dan batu permata kecil di bagian tengah.

Rostav menggenggam gagang pedangnya, dan merasakan rasa dingin menyambar tangannya. Rostav mengangkat pedang itu hingga sejajar dengan wajahnya, dia dapat melihat pantulan wajahnya dari bilah pedang itu. Dia pun menebas udara beberapa dengan pedang itu, walaupun gerakannya amatiran, tapi tetap saja menurutnya itu terlihat keren.

"Dengan pedang ini aku tidak perlu terlalu khawatir jika ada monster yang datang ke arahku," Rostav menganggukkan kepalanya. Dia merasa seperti seorang ksatria yang dapat melawan musuh apa pun.

Setelah itu dia keluar dari kamar, dan ketika dia melihat papan kayu yang tertanam di atas pintu, dia akhirnya mengetahui bahwa itu adalah Ruangan Kapten.

"Aku terbangun di Ruangan Kapten. Siapa sebenarnya Rostav Zertu ini, selain nama dan usianya, aku tidak bisa mengingat apa pun. Apa dia adalah Kapten kapal ini? Apakah memang seperti itu? Bukankah dia masih terlalu muda untuk menjadi Kapten?" kepala Rostav dipenuhi oleh pertanyaan, sebelum akhirnya dia memilih untuk mengabaikannya dan fokus menjelajahi kapal.

Dia memeriksa pintu satu per satu. Pintu pertama yang dia masuki terletak paling dekat dengan Ruangan Kapten, dia membukanya dengan hati-hati, dan mengacungkan pedangnya setelah pintu terbuka sepenuhnya. Matanya menyapu sekeliling, sebelum akhirnya membelalak ketika melihat apa yang ada di balik pintu ini. Itu adalah ruang penyimpanan, hanya saja yang membuatnya membelalak bukan karena dia menemukan tumpukan koin emas atau sejenisnya, melainkan sebuah tumpukan karung goni yang sudah terlihat usang.

Dia melangkah masuk dan membuka karung goni itu, yang ternyata berisi sebuah roti keras berbentuk kotak.

"Apa-apaan ini, bukankah ini ruang penyimpanan? Setahuku ruang penyimpanan itu dipenuhi oleh koin emas yang dapat membuatku kaya dalam sekejap," Rostav mendesis kesal dan segera menuju sebuah meja di ujung tengah ruangan.

Di atas meja itu ada yang menarik perhatiannya, yaitu sebuah peti kecil yang dikelilingi oleh empat lilin.

Rostav meletakkan pedangnya di atas meja itu dan mengambil peti itu. Dia membuka mekanisme pengunci yang menggunakan gir, dengan cara memutarnya secara perlahan hingga dia mendengar suara klik, dan dia memutarnya secara berlawanan. Melakukannya selama lima kali, dia berhasil membukanya.

Jangan tanya bagaimana dia melakukannya, dia sendiri juga merasa heran bagaimana dia bisa bisa membukanya, dia hanya mengikuti arahan yang ada di kepalanya.

Ketika peti itu terbuka, isinya adalah sebuah botol kaca berukuran sedang dengan cairan berwarna biru gelap dengan bintik-bintik berwarna perak, kuning, dan hijau, yang terlihat seperti bintang di langit luas.

"...?" Rostav menaikkan sebelah alisnya dan mengeluarkan botol kaca itu, dia mengamatinya sejenak sebelum akhirnya meletakkannya di atas meja. Dia mengambil secarik kertas yang ada di sana dan mulai membaca tulisannya, yang anehnya dapat dia baca, padahal itu adalah bahasa yang sama sekali berbeda dengan yang ada di Bumi.

"Master Q adalah sosok Yang Terhormat, pribadi yang melampaui batas kehormatan biasa dan menapaki jalan kemuliaan sejati. Dia disebut Yang Mulia bukan karena anugerah semata, melainkan karena perjuangan panjang yang ditempa dari kerendahan. Sebagaimana seekor semut kecil yang terus bertahan, berkembang, dan berevolusi hingga menjelma menjadi gajah agung yang tak tergoyahkan, demikian pula seseorang harus menguatkan jiwa, tekad, dan pengorbanannya untuk mencapai derajat tersebut.

"Ramuan merupakan gerbang awal menuju dunia Master Q, sebuah jalan pembuka bagi mereka yang berani melangkah ke ranah yang lebih tinggi. Tapi, Ramuan itu tidak boleh disentuh tanpa didahului ritual sakral yang penuh penghormatan dan kesungguhan batin.

"Tempatkanlah empat lilin pada empat penjuru hingga membentuk sebuah persegi suci. Hubungkan tiap sudutnya dengan garis kapur putih sebagai lambang ikatan antara dunia fana dan alam spiritual. Di pusat lingkaran itu, gambarlah lambang Dewa yang kalian muliakan sebagai tanda pengabdian dan penghormatan tertinggi.

"Kemudian, dengan hati yang tenang dan penuh keyakinan, lantunkan Nama Kehormatan Sang Dewa sebanyak tujuh kali, hingga gema suaranya memenuhi ruang dan menyentuh kedalaman jiwa. Setelah ritual mencapai puncaknya, angkatlah Ramuan itu dan minumlah tanpa menyisakan setetes pun, sebagai simbol penerimaan takdir dan sumpah untuk menapaki jalan Master Q."

1
anggita
klo bisa novelnya dipromosikan Thor, biar dikenal pembaca NT.
anggita: ga pa" ijin promo aja. ditempat kami bebas. banyak kok teman" author yg promo dsini.
total 2 replies
anggita
ikut dukung like👍 iklan☝aja, moga novelnya lancar👌.
Blueria: semangat gann🔥
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!