Rian seorang pemuda yang bertahan hidup di kiamat zombie di khianati oleh temannya yang selalu dia percayai , ketika tiba-tiba dia kembali ke masalalu.
dengan kekuatan dan pengetahuan dari masa depan ,aku ,akan membalas perlakuan semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alu feed, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EVOLUSI ZOMBIE SEMAKIN CEPAT DAN KUAT
Rian tersenyum tipis melihat perkembangan timnya.
Terutama para perempuan di kelompok itu. Untuk ukuran orang yang baru pertama kali menghadapi monster secara langsung, kemampuan mereka berkembang jauh melampaui ekspektasinya.
Mental mereka juga jauh lebih kuat dari yang ia bayangkan.
Rian lalu melirik ke kiri dan kanan, mencari sumber penerangan.
Pandangan matanya berhenti pada sebuah panel saklar listrik di pojok lobi, tepat di dekat dinding kaca yang sudah dipenuhi retakan.
Ia segera berjalan mendekat.
"Masih berfungsi nggak ya..." gumamnya pelan.
Tangannya mencoba menekan saklar tersebut.
Klik. Klik!
Sesaat kemudian—
Bzzzt...
Lampu-lampu di bagian atas mall mulai menyala satu per satu, menerangi area lantai dua hingga lantai lima dengan cahaya redup kekuningan.
Namun lantai bawah tetap gelap gulita.
Hanya lorong hitam pekat yang terlihat dari arah basement dan lantai dasar bagian belakang.
"Sepertinya bagian bawah terkena dampak yang lebih parah," ucap Rian sambil mengamati keadaan sekitar.
"Minimal kita masih bisa lihat jalan sekarang," sahut Ridho sambil menghela napas lega.
Indah menatap ke arah eskalator yang kini mulai terlihat jelas.
"Tapi... kalau listrik atas masih hidup, bukannya itu berarti ada kemungkinan sesuatu masih bergerak di dalam sini?" katanya pelan.
Suasana langsung menjadi hening.
Ucapan itu membuat semua orang refleks menelan ludah.
Mall sebesar ini...
Mustahil hanya ada sedikit zombie.
Seolah menjawab ketakutan mereka—
Terdengar suara gema samar dari lantai atas.
Grrr...
Grrraaagh...
Suara geraman berat bercampur langkah kaki mulai terdengar dari arah koridor lantai dua.
Bayangan-bayangan hitam perlahan bermunculan di balik pagar eskalator.
Mata merah menyala kembali terlihat dalam jumlah lebih banyak dari sebelumnya.
"...Sial," gumam Budi.
Rahma menggenggam pedangnya erat.
Nadia tanpa sadar mundur selangkah.
Sedangkan Rian justru tersenyum tipis sambil memutar pisaunya di tangan.
"Bagus," katanya pelan.
Tatapan matanya berubah tajam.
"Kalau sedikit terus, kita malah nggak bakal cepat berkembang."
Dan pada saat itu—
Puluhan zombie mulai berlari menuruni eskalator menuju mereka.
Puluhan zombie berlari menuruni eskalator dengan gerakan liar dan menyeramkan. Suara langkah kaki mereka menggema di seluruh lobi mall.
_Grrraaaagh!!_
Beberapa zombie bahkan melompat melewati pagar eskalator, jatuh menghantam lantai bawah sebelum kembali bangkit seolah tak merasakan sakit sama sekali.
Nadia menelan ludah. "Jumlah mereka terlalu banyak..." ucapnya dengan suara gemetar.
Namun Rian tetap tenang. Tatapannya menyapu seluruh area dengan cepat, menghitung jumlah musuh sekaligus mencari posisi terbaik untuk bertarung.
"Lawan mereka secara berkelompok!" serunya. "Jangan terpencar!"
"Siap!" jawab Ridho cepat.
Baru saja mereka mengambil posisi, satu zombie bertubuh besar menerjang lebih dulu ke arah Budi.
"WOI!"
Budi refleks mengangkat pedang apinya. _Duar!_ Benturan keras terjadi. Zombie itu ternyata jauh lebih kuat dibanding yang sebelumnya. Lengannya yang membusuk mampu menahan ayunan pedang Budi selama beberapa detik.
"Mereka berevolusi?" gumam Budi terkejut.
Rian langsung bergerak.
_Swish!_
Tubuhnya melesat cepat melewati samping zombie itu. Pisau di tangannya berkilat dingin.
_Slash!_
Kepala zombie besar tersebut langsung terputus dan menggelinding ke lantai. Tubuhnya roboh dengan suara berat.
"Fokus!" teriak Rian. "Jangan lengah hanya karena panik!"
" aku tak pernah mengira bahwa akan ada ,zombie yang sudah setengah berevolusi menjadi level 2"
" sedangkan level kami saja hanya setengah jalan menuju level 1 ,kecuali ridho kakakku"
Ucapnya dalam hati sambil melihat lurus ke eskalator.
"Rian! Sebelah kiri!" teriak Rahma.
Tiga zombie berlari dari arah toko pakaian yang hancur. Rahma segera menancapkan pedangnya ke lantai.
Cahaya hijau menyebar cepat.
_Brak! Brak!_
Akar berduri muncul dari bawah keramik mall dan langsung mengikat kaki para zombie.
"Indah!"
"Aku tahu!"
Indah mengayunkan pedang esnya dengan ekspresi serius. Udara dingin langsung meledak keluar.
_Crack!!_
Tubuh ketiga zombie itu membeku bersamaan sebelum hancur menjadi serpihan es.
"Wah..." Ridho sampai melongo melihat kombinasi mereka.
Namun kekagumannya tidak bertahan lama. Seekor zombie tiba-tiba muncul dari samping dan hampir menggigit lehernya.
"OI TUA!"
Rian menendang tubuh zombie itu hingga terpental beberapa meter. "Jangan bengong di tengah pertarungan!"
Ridho langsung merah wajahnya. "Aku bukan tua!"
"Kalau begitu gerak!"
Ucap Rian yang sedikit meledek kakaknya.
"Dasar adik kurang ajar!"
Meski mengeluh, Ridho tetap maju menyerang. Pisau di tangannya menebas zombie di depan tanpa ampun.
Pertarungan semakin kacau. Lobi mall yang tadinya sunyi kini dipenuhi suara ledakan elemen, jeritan zombie, dan suara benturan senjata.
Budi membakar satu kelompok zombie sekaligus menggunakan api miliknya.
Rahma menahan pergerakan monster.
Indah membekukan area sekitar.
Sementara Nadia bergerak paling lincah di antara mereka.
Belati runiknya menari cepat seperti bayangan.
_Slash! Slash!_
Setiap tebasannya selalu mengarah ke titik vital zombie. Bahkan Rian diam-diam cukup terkejut melihat bakat bertarung gadis itu.
'Gerakannya semakin bagus...' Padahal sebelumnya Nadia hanyalah mahasiswi biasa. Namun di dunia yang sudah berubah seperti ini, manusia memang dipaksa berkembang lebih cepat demi bertahan hidup.
Tiba-tiba—
_BRAK!!_
Suara ledakan keras terdengar dari lantai dua. Semua orang refleks menoleh ke atas. Sebuah toko elektronik hancur berantakan.
Lalu... terdengar suara langkah berat dari balik debu.
_Dum... Dum... Dum..._
Ekspresi Rian langsung berubah serius. Sesosok zombie raksasa perlahan muncul dari dalam asap. Tubuhnya hampir tiga meter. Kulitnya hitam kebiruan dengan otot membengkak tidak normal. Salah satu lengannya bahkan berubah menjadi seperti cakar besar penuh darah.
"...Monster apa itu?" bisik Nadia pucat.
Zombie itu membuka mulutnya lebar-lebar.
_ROOOOOAAARRR!!_
Gelombang suara mengerikan langsung mengguncang seluruh mall. Beberapa kaca toko sampai pecah karena raungannya.
Budi berkeringat dingin. "Hei... hei... itu bukan zombie biasa kan?"
Rian menggenggam pisaunya lebih erat. Aura monster itu jauh berbeda dibanding yang lain. Kalau sebelumnya hanyalah zombie biasa... Maka yang satu ini benar-benar terasa seperti monster.
Dan yang paling berbahaya—mata merah monster itu terkunci tepat ke arah mereka.
Tatapan matanya Rian menjadi tajam dan urat dimatanya muncul.
" bagaimana bisa , Monster level 2 dan setengah jalan menuju level 3 berada di awal awal kiamat ?"
ucap Rian dalam hatinya.
"Semua mundur," ucap Rian pelan.
"Tapi—"
"Mundur!"
Nada suara Rian kali ini jauh lebih serius. Mereka akhirnya sadar. Monster ini berbeda.
Zombie raksasa itu melompat turun dari lantai dua.
_DUARRR!!_
Lantai marmer langsung retak saat tubuh besarnya menghantam bawah. Debu beterbangan ke mana-mana.
Tanpa memberi waktu bernapas, monster itu langsung menerjang ke arah Rahma.
"Rahma!!"
Rian bergerak secepat kilat.
_Swish!_
Ia menarik tubuh Rahma menjauh tepat sebelum cakar raksasa monster itu menghantam lantai.
_BOOM!!_
Keramik mall langsung hancur berkeping-keping.
Rahma pucat melihat bekas serangan tersebut. Kalau tadi terlambat sedikit saja... Tubuhnya mungkin sudah hancur.
"Cepat sekali..." gumam Indah tegang. Padahal tubuh monster itu sangat besar. Namun kecepatannya benar-benar tidak masuk akal.
Rian perlahan berdiri sambil menatap monster di depannya. Untuk pertama kalinya sejak memasuki mall, ekspresinya berubah serius sepenuhnya.
Monster itu menggeram pelan sambil menatap mereka seperti mangsa.
Sementara suasana lobi kembali sunyi mencekam.
Pertarungan sesungguhnya... baru saja dimulai.