NovelToon NovelToon
Dewa Abadi

Dewa Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Misteri
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di dunia kultivasi yang kejam dan tak berbelas kasih, takdir mengikat dua jiwa dari dunia yang sepenuhnya berbeda: Zeng Niu, seorang pemuda berdarah dingin dari kelas bawah yang mewarisi Dao Bencana dan Petir Hukuman Langit, serta Zhao Ying, putri dari Tiran Ketiadaan Surga Atas yang jatuh ke dunia fana dengan kultivasi yang tersegel.

Terdampar di Benua Selatan yang dipenuhi kabut dan kutukan, keduanya harus bertahan hidup dari buruan ahli Nascent Soul dari Suku Li Kuno. Perjalanan berdarah melintasi Hutan Seratus Ribu Gunung Siluman hingga ke gelapnya Kota Reruntuhan Tanpa Tuan memaksa Zeng Niu untuk terus mendobrak batas fisiknya demi menjadi perisai bagi sang dewi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: Reuni Berdarah di Hutan

Kepulan asap merah pekat bercampur debu tanah membumbung tinggi di atas kanopi Hutan Kabut Merah. Suara dentuman logam yang beradu dengan sesuatu yang sekeras baja terus bergema, diselingi oleh raungan binatang buas yang membuat burung-burung gagak terbang panik menjauhi area tersebut.

Di depan gerbang selatan Kota Kabut Merah, para penjaga berzirah biru sedang sibuk mengatur barikade.

"Jangan ada yang keluar! Ini adalah Siluman Mutasi dari retakan dimensi!" teriak kapten penjaga, menghunus pedangnya.

Namun, peringatan itu sama sekali tidak berlaku bagi Zeng Niu. Pemuda itu tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya merendahkan postur tubuhnya, dan dengan satu hentakan kaki fana yang memecahkan batu bata jalanan, tubuhnya melesat ke depan layaknya anak panah hitam, melewati celah sempit di antara para penjaga penjaga sebelum mereka sempat berkedip.

"Hei! Orang gila mana itu?!" teriak salah satu penjaga.

"Tunggu aku, Niu!" Zhao Ying dengan anggun menggunakan kelincahan fisiknya, melompat ringan menyusul bayangan Zeng Niu.

Di belakang, Qian Fugui menepuk dahinya dengan putus asa. "Kenapa aku harus ikut campur urusan pahlawan?! Daoist ini hanya ingin makan daging sapi!" keluhnya sambil berlari tertatih-tatih dengan perut berguncang, takut ditinggal sendirian di kota perbatasan yang asing ini.

Di kedalaman Hutan Kabut Merah, pepohonan tumbang berserakan.

Dua sosok muda sedang bertarung mati-matian melawan seekor siluman kalajengking raksasa seukuran kereta kuda. Kalajengking itu memiliki cangkang hitam keunguan yang memancarkan aura Yin busuk khas Benua Selatan.

"Xiaoyu! Mundur! Biar aku yang menahan capitnya!"

Pemuda bertubuh tambun itu adalah Bao Tu. Ia memutar Palu Godam Emas raksasanya dengan sisa-sisa tenaga, auranya berada di Pengumpulan Qi Puncak. Keringat bercampur darah menetes dari pelipisnya.

Di sisinya, Lin Xiaoyu, gadis berzirah biru langit, melompat mundur dengan napas tersengal. Pedang tipisnya bergetar, bilahnya sedikit retak setelah mencoba menebus cangkang monster itu puluhan kali.

"Cangkangnya sekeras besi spiritual tingkat menengah! Dan racun miasmanya membuat Qi-ku melambat!" geram Xiaoyu, mengusap darah di sudut bibirnya. "Siluman Kalajengking Tulang Besi ini bukan dari benua kita! Dia pasti masuk melalui retakan di udara itu!"

Kalajengking raksasa itu mendesis marah. Mata merah ganda miliknya menatap Bao Tu yang maju menghalangi jalannya. Dengan kecepatan luar biasa, ekor kalajengking yang ujungnya memiliki sengat beracun sebesar tombak melesat menembus udara, mengarah lurus ke dada pemuda gemuk tersebut.

"Perisai Gunung!" raung Bao Tu, menancapkan palunya ke tanah dan membentuk perisai Qi berwarna emas tebal.

KRAAAAK!

Sengat itu menghantam perisai emas Bao Tu. Hanya dalam dua tarikan napas, perisai Qi itu hancur berkeping-keping. Dorongan yang luar biasa kuat membuat Bao Tu terpental ke belakang, palunya terlepas dari genggamannya. Ia jatuh bergulingan di atas tanah merah, tulang rusuknya terasa remuk.

"Bao Tu!" jerit Xiaoyu panik. Ia memaksakan diri melesat maju, berniat menggunakan teknik terlarangnya untuk menyelamatkan sahabatnya.

Kalajengking itu mengangkat capit kanannya tinggi-tinggi, bersiap menjepit tubuh Bao Tu yang tak berdaya menjadi dua bagian.

Bao Tu memejamkan matanya rapat-rapat. "Sial... aku bahkan belum sempat memakan bebek panggang ibukota..." gumamnya pasrah.

"Hei, Niu! Teman gemukmu ini teriakannya lebih melengking dari wanita yang diculik siluman babi!" Suara Lei Ling yang meremehkan menggema di kepala Zeng Niu.

Diam dan tonton saja, Cerewet, balas Zeng Niu singkat dalam batinnya.

Tepat saat capit raksasa itu turun kematian...

WUUUUUSSSSH!

Sebuah bayangan hitam jatuh dari kanopi pohon tepat di atas monster tersebut. Udara di sekitarnya mendadak menjadi sangat berat, tertekan oleh Niat Membunuh murni yang membekukan darah.

Tanpa merapal mantra, tanpa kilatan sihir yang indah. Sosok berjubah hitam itu memegang gagang pedang raksasa kusam dengan kedua tangannya, mengangkatnya melewati bahu, lalu mengayunkannya lurus ke bawah dengan brutal.

[Bilah Penebas Tulang: Tebasan Pemecah Gunung!]

BLAAAAM! KRAAAAAK!

Daya hancur dari pedang seberat seribu kati yang diayunkan oleh otot Tulang Besi Berkarat menciptakan ledakan murni. Capit kalajengking yang sekeras baja spiritual itu hancur berkeping-keping seketika!

Tidak berhenti di situ, sisa momentum tebasan Zeng Niu menghantam tanah, menciptakan kawah sedalam satu tombak dan mengirimkan gelombang kejut yang mementalkan kalajengking raksasa itu hingga terbalik!

Hutan seketika menjadi hening. Hanya tersisa suara rintik darah siluman yang jatuh ke atas dedaunan kering.

Zeng Niu berdiri perlahan di tengah debu yang mengepul. Ia mengibaskan Bilah Penebas Tulang-nya ke samping, memercikkan darah hijau monster itu ke tanah. Jubah hitam bersulam peraknya berkibar pelan tertiup angin hutan.

Lin Xiaoyu berdiri mematung. Pedang tipisnya nyaris terlepas dari genggamannya. Mulutnya terbuka sedikit, matanya yang tajam kini membelalak tak percaya menatap punggung tegap di depannya.

Di atas tanah, Bao Tu perlahan membuka matanya yang terpejam rapat. Ia tidak merasakan rasa sakit tubuh terbelah. Yang ia lihat hanyalah punggung seseorang yang berdiri menghalanginya punggung yang sama yang selalu berdiri di depannya saat ujian masuk akademi, saat melawan murid senior, dan saat menghadapi maut.

"N-Niu...?" panggil Bao Tu, suaranya bergetar hebat.

Zeng Niu menoleh ke belakang. Dari balik bayangan topinya, mata gelap sang algojo menatap Bao Tu yang terkapar di tanah. Seringai tipis yang hangat terukir di bibirnya.

"Ternyata kau belum mati diculik hantu hutan, Gendut," ucap Zeng Niu santai, nada suaranya seolah mereka baru saja bertemu kemarin di kantin akademi.

"HUWAAAAAA! ZENG NIUUUUU!"

Bao Tu langsung melolong menangis layaknya babi disembelih. Ia melompat bangkit, mengabaikan rasa sakit di tulang rusuknya, dan menerjang memeluk tubuh Zeng Niu erat-erat. Air mata dan ingusnya bercampur debu, menodai jubah baru Zeng Niu.

"Aku tahu kau masih hidup! Aku tahu si muka batu tidak akan mati semudah itu! Huwaaa, kau tahu betapa sedihnya aku?!" rengek Bao Tu, mengusap air matanya ke dada pemuda itu.

"Lepas, Gendut. Kau membuat jubahku kotor," gerutu Zeng Niu, mencoba mendorong wajah besar Bao Tu dengan sebelah tangan, meski ada kehangatan nyata di matanya. Ia tidak benar-benar mengusir sahabatnya itu.

Lin Xiaoyu berjalan perlahan menghampiri mereka. Matanya sedikit berkaca-kaca, namun ia buru-buru mengusapnya dengan punggung tangannya, memasang kembali ekspresi angkuh dan galak andalannya.

"Kau berhutang padaku seratus Batu Spiritual karena membuatku harus menahan tangisan si gembeng ini berbulan-bulan, Zeng Niu," ketus Lin Xiaoyu. Namun, tepat setelah ia mengatakan itu, gadis berzirah biru itu meninju bahu Zeng Niu dengan kepalan tangannya. Bukan tinjuan marah, melainkan tinjuan lega seorang sahabat seperjuangan.

"Selamat datang kembali dari neraka, Tuan Algojo."

Zeng Niu terkekeh pelan. "Senang melihat kalian berdua masih sebodoh biasanya."

Tepat saat reuni emosional itu berlangsung, siluman kalajengking yang terbalik itu belum sepenuhnya mati. Ia meronta, bersiap menembakkan racun dari ekornya sebagai serangan bunuh diri ke arah punggung ketiganya.

Namun, sebelum monster itu bisa menyemburkan racunnya, sebuah batu seukuran kepalan tangan melesat dari balik pepohonan dengan akurasi mematikan.

PRAAK!

Batu itu menghantam tepat mata ganda kalajengking tersebut, membuatnya mendesis kesakitan dan membatalkan serangannya. Sedetik kemudian, sebuah jimat api murahan melayang dan meledak di luka matanya, membakar otak sang siluman hingga mati sepenuhnya.

Bao Tu dan Xiaoyu langsung waspada, menatap ke arah datangnya serangan.

Dari balik rimbunnya Hutan Kabut Merah, Zhao Ying melangkah keluar dengan keanggunan seorang dewi yang menapaki taman surgawi. Gaun sutra birunya sama sekali tidak kotor. Di belakangnya, Qian Fugui berjalan terseok-seok sambil terengah-engah, masih memegang sisa jimat api di tangannya.

"Zeng Niu, saat reuni sebaiknya kau pastikan musuhmu sudah mati," tegur Zhao Ying dengan nada tenang, namun suaranya sehalus lonceng perak.

Mata Bao Tu membulat sempurna. Mulutnya terbuka lebar hingga lalat bisa masuk. Ia menatap bergantian antara Zeng Niu dan gadis bercadar yang auranya sedingin es namun memancarkan kecantikan absolut itu.

"N-Niu..." Bao Tu menelan ludah, menyenggol lengan Zeng Niu menggunakan sikunya. "Kau hilang ke alam rahasia mematikan, kehilangan Dantianmu, tapi kau pulang membawa bidadari?! A-Apakah dia istrimu? Kakak Ipar?!"

Mendengar kata "Kakak Ipar", wajah Zeng Niu yang selalu tenang layaknya permukaan danau beku itu seketika retak. Ia mendadak terbatuk keras, memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan telinganya yang memerah sempurna. Ia bahkan salah tingkah hingga tanpa sadar mencengkeram gagang pedangnya terlalu erat.

"D-Bukan! Jangan bicara sembarangan, Gendut! Dia... dia temanku!" sergah Zeng Niu, suaranya sedikit meninggi dan terbata-bata.

Di dalam kepalanya, Lei Ling meledak dalam tawa histeris. "BWAHAHAHA! Sang Algojo Kiamat mati kutu! Wajahmu merah sekali, Zeng Niu! Merah seperti pantat monyet!"

Di seberang sana, meskipun separuh wajahnya tertutup cadar, Zhao Ying memalingkan pandangannya ke arah pepohonan. Ujung telinga pualamnya memerah cerah. Tangannya saling bertaut gugup, tak mampu membalas celetukan konyol Bao Tu.

Melihat reaksi kedua orang itu yang sama-sama salah tingkah, Lin Xiaoyu langsung memutar bola matanya. Insting wanitanya menangkap dinamika canggung yang sangat manis sekaligus menggelikan di antara sang algojo berdarah dingin dan bidadari misterius tersebut.

"Kau bodoh, Bao Tu," Xiaoyu menendang pelan tulang kering Bao Tu. "Lihat mereka, mereka bahkan belum berani berpegangan tangan tanpa alasan. Jangan merusak suasana."

Qian Fugui akhirnya sampai di dekat mereka, menopang tubuh gembulnya pada lutut. "D-Daoist ini setuju... romansa mereka lebih lambat dari siput berumur seribu tahun."

"Siapa Gendut berbaju kuning ini?!" tanya Bao Tu bingung melihat Fugui.

"Namaku Qian Fugui! Dan kau tidak boleh memanggilku Gendut, karena kau lebih gemuk dariku, Saudara Palu!" balas Fugui tak terima.

Zeng Niu menghela napas panjang, memejamkan matanya untuk menstabilkan detak jantungnya yang kacau. Ia kemudian menatap Xiaoyu dan Bao Tu dengan sorot mata yang kembali serius dan tajam.

"Kalian terlihat berantakan, dan kalian berada jauh di perbatasan selatan," ucap Zeng Niu. "Ada apa sebenarnya?"

Raut wajah Lin Xiaoyu seketika berubah muram. Ia menunjuk ke arah celah hitam yang melayang di udara, sekitar lima puluh tombak dari tempat mereka berdiri. Pusaran energi Yin pelan-pelan merembes dari sana.

"Kami ditempatkan di sini sebagai mata-mata sekte," jelas Xiaoyu. "Tabir benua antara Benua Utara dan Selatan retak di mana-mana. Sekte-sekte ortodoks sedang bersiap untuk perang pertahanan, namun masalah terbesarnya bukanlah siluman."

Xiaoyu menatap mata gelap Zeng Niu. "Suku Li kuno. Para ahli sihir Yin dari Benua Selatan telah menemukan celah ini. Kudengar, mereka sedang memburu seseorang yang mencuri sesuatu dari benua mereka... Seorang buronan berjubah hitam."

Bao Tu menyeringai lebar, menepuk bahu Zeng Niu. "Dan melihatmu kembali, aku sangat yakin buronan yang sedang dicari jutaan ahli sihir gila itu adalah dirimu, kan?"

Zeng Niu tersenyum tipis. Sebuah senyum yang sudah lama tidak ia tunjukkan di hadapan musuh-musuh Benua Utara. Ia menepuk gagang pedang Bilah Penebas Tulang raksasanya.

"Bagus. Jika Suku Li mencariku kemari," mata Zeng Niu memancarkan kilatan petir ungu di kedalaman pupilnya, "maka aku tidak perlu repot-repot kembali ke sana untuk membantai sisa tetua mereka."

1
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
saniscara patriawuha.
gasddd polllll
saniscara patriawuha.
nahhh lohhhhh....
Arinto Ario Triharyanto
telan aja dulu pil nya, pengen tau efeknya gmn
Arinto Ario Triharyanto: keturunan Tiran dinasti klan bintang harusnya ngga ecek2 sih sekalipun kena kutukan
total 1 replies
eka suci
pengumuman pengakuan 😥
yos helmi
🤣🤣🤣👍👍
eka suci
tenang ya niu sang putri menemani, walaupun perjalanan masih jauh untuk level fana udah out of the box🤭
🔴༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Meluncur 6 gift ☕ Lanjut Crazy Up Thor 💪💪
Sang_Imajinasi: terimakasih mbah atta🙏
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lnjut
Sang_Imajinasi: siap🙏
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
eka suci
waahhhhh langsung menyalakan suar💪
eka suci
aku suka keributan kata Lei Ling 🤭
Arinto Ario Triharyanto
masih jauh dr level mertua nya, cuman arogan nya doang kocak
Sang_Imajinasi: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
saniscara patriawuha.
sikatttt sudahhhhh.....
Sang_Imajinasi: gaspol
total 1 replies
saniscara patriawuha.
cincang cincang sudahhhh....
saniscara patriawuha.
gasssss polllllll....
Simon Semprul
sanggat menarik
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!