Seorang wanita zaman kuno yang mati akibat di bunuh oleh kekasihnya saat ia sedang membuat pil naga suci untuk menjadi abadi.
Tapi ia malah berpindah ke tubuh seorang wanita modern, seorang istri lemah, yang setiap hari di siksa oleh suaminya seorang pemabuk, KDRT dan seorang penjudi.
Yang lebih membingungkan, ia malah sudah memiliki seorang gadis kecil cantik berusia 6 tahun.
"Dasar suami sampah! Ini saatnya aku membalas suami brengksek itu karena sudah menyakiti pemilik tubuh asli ini!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Kabar tentang Klinik Herbal Ghaizka menyebar begitu cepat.
Dari mulut ke mulut, dari cerita tetangga, hingga viral di media sosial. Siapa pun yang berobat di sana sembuh, dan siapa pun yang didiagnosis penyakitnya selalu tepat sasaran.
Berita itu pun akhirnya sampai juga ke telinga orang-orang penting, termasuk ke pendengaran Alger, salah satu pria kaya di kotanya.
Tiba-tiba, Muncullah empat orang pria berbadan tegap mengenakan seragam pengawal yang rapi, berjalan berbaris membuka jalan.
Di tengah mereka, berjalanlah seorang pria dengan penampilan sangat memukau. Itu adalah Alger.
"Permisi," sapanya Alger saat berdiri di ambang pintu.
Ghaizka yang sedang merapikan obat-obatan langsung menyadari kedatangan tamu itu. Ia pun berjalan mendekat.
"Ya, ada yang perlu saya bantu, Tuan?" tanya Ghaizka sopan, wajahnya datar namun memancarkan kecantikan alami yang luar biasa.
Seketika itu juga...
JLEB!
Mata Alger seketika terbelalak. Ia terpaku menatap wajah Ghaizka tanpa berkedip.
"Tuhan... apakah ini manusia atau bidadari?' batin Alger terpesona.
Ia benar-benar tidak menyangka. Selama ini ia mendengar bahwa pemilik klinik ini adalah tabib hebat dan jenius, ia membayangkan pria tua.
Tapi siapa sangka, pemiliknya adalah seorang wanita muda yang cantik jelita, membuat ia terpesona.
Ia terdiam lama sekali, hanya menatap Ghaizka yang cantik itu.
"Maaf Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Ghaizka lagi, sedikit bingung melihat pria itu hanya diam menatapnya.
Suara Ghaizka akhirnya menyadarkan Alger dari lamunannya.
"Ehem... ehem!" Alger berdeham keras untuk menutupi rasa gugupnya.
"Maafkan saya Nona... saya... saya benar-benar terkejut," ucapnya malu-malu.
Ia mengatur napasnya, lalu mencoba terlihat profesional kembali.
"Saya mendengar kabar bahwa klinik herbal ini bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Benarkah demikian?" tanya Alger.
"Benar Tuan, saya berusaha semampu saya," jawab Ghaizka singkat.
"Bagus... Begini Nona... saya ingin menanyakan sesuatu. Apakah Anda sanggup dan bersedia menyembuhkan penyakit kakek saya?" tanya Alger.
"Oh? Di mana kakek Anda sekarang? Kenapa tidak dibawa ke sini saja?" tanya Ghaizka sedikit tertarik.
"Dia... ada di rumah. Mohon maaf Nona, kondisi kakek saya saat ini sangat lemah. Beliau sudah sakit-sakitan lama dan tidak bisa bergerak sama sekali, apalagi bepergian keluar rumah. Oleh karena itu, saya mohon dengan sangat... bisakah Anda berkenan datang ke rumah saya untuk memeriksanya langsung?" tanya Alger dengan nada memohon.
Ghaizka terdiam sejenak, ia sedang berpikir, jika ia pergi maka klinik ini akan tinggal, dan Gelsya pulang sekolah nanti pasti akan mencarinya
Tapi Sebagai seorang tabib, menolong orang sakit adalah kewajiban baginya, apalagi pasiennya tidak bisa bergerak.
"Baiklah Tuan Alger. Karena kondisi Kakek tidak memungkinkan untuk dibawa ke sini, saya bersedia datang ke rumah Tuan untuk memeriksanya langsung," jawab Ghaizka akhirnya dengan nada tenang.
Mendengar jawaban itu, wajah Alger seketika merasa amat senang.
"Benarkah Nona?! Wah, terima kasih banyak! Anda benar-benar baik hati!" serunya tersenyum lebar.
"Tapi ada satu syarat," potong Ghaizka.
Alger menekuk alisnya. "Syarat apa Nona? Silakan katakan saja, apa pun itu saya akan penuhi!"
"Jadi tolong siapkan kendaraan yang nyaman dan aman, dan pastikan saya tidak diganggu selama dalam perjalanan maupun saat sedang memeriksa pasien. Konsentrasi saya harus penuh," kata Ghaizka.
Alger langsung mengangguk cepat.
"Tentu saja Nona! Itu hal yang paling mudah! Mobil saya sudah siap di depan, sangat nyaman dan dingin! Dan saya pribadi yang akan mengantar dan menjaga Anda agar tidak ada yang berani mengganggu sedikitpun!" jawab Alger sigap dan antusias.
"Baiklah, tunggu sebentar saya ambil tas obat saya," kata Ghaizka lalu berbalik masuk ke dalam.
Alger tetap berdiri di sana, matanya tak lepas memandang punggung wanita itu yang berjalan masuk
Ghaizka masuk ke dalam, ia mengambil beberapa obat herbal dan juga menuliskan sebuah surat untuk Gelsya.
"Gelsya, mama pergi mengobati orang dulu ya. Tetap di rumah, makanan sudah ada di meja makan, makan yang banyak ya," setelah menulis surat tersebut, Ghaizka meletakkan di atas meja yang gampang terlihat oleh Gelsya pulang nanti.
"Ghaizka... nama yang indah untuk wanita yang luar biasa," batin Alger tersenyum tipis.
Tidak butuh waktu lama, Ghaizka keluar membawa tas kulit berisi ramuan-ramuan herbal.
"Ayo kita berangkat," ajak Ghaizka.
"Siap! Silakan Nona!" Alger dengan sigap membukakan pintu mobil mewahnya untuk Ghaizka, lalu ia pun masuk dan duduk di sampingnya.
Empat pengawal tadi langsung bergerak sigap, dua orang naik ke mobil depan sebagai pengawal, dan dua lainnya naik di belakang.
Mobil iring-iringan itu pun melaju meninggalkan klinik herbal Ghaizka, menuju sebuah rumah besar yang megah dan luas di mana sang Kakek sedang menunggu.
Di dalam mobil, suasana hening. Alger sesekali melirik ke arah Ghaizka yang duduk tenang dengan mata melihat keluar jendela.
"Cantiknya bukan main... dan dia juga pintar serta baik hati," batin Alger.