NovelToon NovelToon
Fate Of The Twins

Fate Of The Twins

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:334
Nilai: 5
Nama Author: Putri Shalima

Dua putri kembar lahir, namun nasib memisahkan mereka.
Xiao Ning kecil diculik oleh beberapa orang Penjahat, berganti nama menjadi Luna, dan tumbuh keras di dunia kejahatan. Sementara kakaknya, Xiao Ling, dibesarkan dengan penuh cinta, sehingga menjadi gadis yang lembut, baik hati dan penyayang.
Wajah mereka sama, namun takdir diantara keduanya berbeda. Pada akhirnya takdir itu kembali mempertemukan si kembar, dan identitas pun mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB XIII

  Setelah beberapa hari tinggal di istana dan menikmati segala kebaikan serta kemegahan yang ada, Dafi dan Lili pun merasa sudah waktunya untuk kembali. Mereka sadar sudah cukup lama meninggalkan kediaman Menteri, dan pasti kedua orang tua mereka sangat cemas mengkhawatirkan mereka.

Mereka pun menghadap Permaisuri, Pangeran Haoran, dan Putri Yanxi untuk berpamitan serta meminta izin pulang. Mendengar keinginan mereka, Permaisuri merasa sedikit berat hati, namun ia tahu mereka pasti juga punya keluarga dan kewajiban di tempat asal mereka. Permaisuri mendoakan keselamatan dan kebaikan bagi mereka berdua, lalu memberikan berbagai macam hadiah bekal di perjalanan.

Sementara itu, Pangeran Haoran yang sudah menganggap Dafi sebagai sahabat sejati dan saudara sendiri, langsung memeluknya erat dengan perasaan sedih karena harus berpisah.

“Dafi, ingatlah baik-baik kata-kataku ini,” ucap pangeran Haoran dengan nada tulus namun serius. “Di mana pun kau berada, jika kau sedang kesulitan, dalam bahaya, atau butuh bantuan apa pun, jangan pernah ragu atau sungkan. Langsung saja datang ke Kerajaan dan cari aku. Selama aku masih hidup, bantuanku akan selalu terbuka lebar untukmu dan Lili.”

Dafi membalas pelukan itu dengan hangat, tersenyum tanda terima kasih yang mendalam. “Baik, aku janji. Begitu pula sebaliknya, kalau kau butuh aku, aku pasti akan datang.”

Setelah saling berpamitan dan mengucapkan kata perpisahan, akhirnya Dafi dan Lili pun melangkah pergi meninggalkan gerbang besar Kerajaan Barat itu, memulai perjalanan pulang dengan hati yang penuh kenangan indah, serta persahabatan baru yang terjalin begitu kuat di antara mereka bertiga.

Seusai meninggalkan Kerajaan Barat, sikap Dafi terhadap Lili berubah makin nyata dan dalam. Ia tak lagi bersikap sekedar kakak, melainkan seperti seorang suami yang senantiasa menjaga, melindungi, dan menganggap Lili sebagai miliknya sepenuhnya. Ke mana pun gadis itu melangkah, tangan Dafi selalu menggenggam erat, ia tak pernah membiarkan Lili berjalan jauh atau sendirian sedetik pun.

Hal ini perlahan membuat hati Lili menjadi tak tenang dan makin canggung. Selama ini, baginya Dafi hanyalah kakak yang baik, pelindung, dan orang terdekat yang ia anggap saudara kandung sendiri. Di dalam hatinya, belum tumbuh sedikit pun rasa cinta layaknya pasangan, berbeda dengan Dafi yang ternyata sudah lama memendam perasaan jauh melampaui batas persaudaraan. Lili sering kali bingung dan tak nyaman, namun ia belum berani bertanya atau menyinggung hal itu.

Tiba Di Kediaman Menteri...

  Sampai akhirnya, mereka tiba di depan gerbang kediaman Menteri Pangan yang megah itu. Namun seketika senyum di wajah mereka lenyap, digantikan rasa dingin yang menjalar ke seluruh tubuh. Suasana di sana tidak seperti biasanya, melainkan kesedihan yang pekat, tangis pelayan di mana-mana, dan aroma dupa yang menyengat memenuhi udara. Ternyata selama mereka pergi, musibah besar telah menimpa keluarga ini.

Ibu Lili jatuh sakit parah tak lama setelah kepergian anaknya. Rasa cemas, takut, dan sedih yang menumpuk karena tak tahu di mana keberadaan Lili membuat tubuhnya yang sudah lemah makin runtuh. Penyakit itu merajalela dengan cepat, dan akhirnya beliau menghembuskan napas terakhir dengan hati yang tak tenang, semata-mata karena rindu dan khawatir pada putri kesayangannya. Saat ini, jenazah Ibu sedang disiapkan untuk dikremasi, upacara perpisahan terakhir yang akan membawa beliau pergi selamanya.

Lili melangkah gemetar mendekati peti jenazah yang terbuka itu. Saat ia melihat wajah pucat, dingin, dan diam yang terbaring di sana, seolah bumi berputar terbalik di matanya.

Itu… itu Ibu?!

Kakinya seketika lemas, ia terduduk di tanah. Mulutnya terbuka namun tak ada suara yang keluar, sampai seketika tangisnya pecah meledak, mengguncang seluruh isi kediaman.

“Ibuuuu!!! Ibuuu bangun!!! Ini Lili pulang, Ibu!!!” teriaknya histeris, suara parau dan penuh kepedihan. Ia merangkak mendekat, lalu mencengkeram kain pembungkus jenazah ibunya dengan kuat, menarik-nariknya seolah tak mau melepaskan, seolah bisa membangunkan orang yang sudah tiada itu. “Maafkan Lili… maafkan anakmu yang bodoh ini… Ibu jangan pergi, jangan tinggalkan Lili!!”

Ia menangis sejadi-jadinya, tubuhnya berguncang hebat karena isak tangis, nyaris tak sadarkan diri. Dafi yang berdiri di sampingnya pun segera berlutut, memeluk tubuh Lili yang meronta-ronta itu, menahannya agar tidak menyakiti diri sendiri, sambil ikut meneteskan air mata karena rasa sedih dan rasa bersalah yang mendalam.

Sementara itu, di sisi lain, Ayah Lili, Xiao Yu hanya duduk diam terpaku. Tubuhnya kaku, matanya menatap lurus ke jenazah istrinya tanpa berkedip sedikit pun. Tak ada satu kata pun yang terucap dari mulutnya, tak ada suara tangis, tak ada keluhan. Namun kebisuan dan tatapan kosongnya itu justru terasa jauh lebih menyakitkan, seolah nyawanya pun ikut pergi bersama orang yang paling dicintainya itu, meninggalkan raga yang hanya bisa berdiri diam tanpa daya.

Saat peti jenazah hendak diangkat dan dibawa menuju tempat pembakaran, Lili melompat bangkit dengan wajah penuh air mata, lalu memeluk pinggiran peti itu sekuat tenaga, menahan agar mereka tidak bergerak selangkah pun.

“Jangan bawa Ibu pergi! Ibu belum mati, Ibu pasti akan bangun sebentar lagi! Kalian tidak boleh mengambilnya dariku!” teriaknya histeris, suaranya parau dan pecah memenuhi ruangan.

Semua orang yang ada di sana baik keluarga, pelayan, maupun para tamu yang datang melayat hanya menatapnya dengan tatapan dingin, tajam, dan penuh tuduhan. Di mata mereka semua, Lili adalah satu-satunya penyebab kematian ibunya, Meilin. Seandainya ia tidak kabur dari rumah, dan seandainya ia tidak bersikap keras kepala, nyawa wanita itu pasti masih terselamatkan. Rasa simpati perlahan lenyap, berganti dengan pandangan yang seolah berkata: Semua ini salahmu, Lili.

Melihat pemandangan itu, Xiao Yu perlahan melangkah mendekat. Wajahnya yang biasanya tenang dan berwibawa kini berubah merah padam, matanya basah dan penuh amarah yang bercampur rasa sakit yang tak terlukiskan.

Tanpa kata, tangan kanannya terayun cepat, plakk! Sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipi Lili, membuat tubuh kecilnya terhuyung dan wajahnya menoleh ke samping.

“Apakah kau sudah puas sekarang?!” bentak Xiao Yu, air mata akhirnya tumpah membasahi wajahnya. “Tidak ada gunanya kau membuat keributan dan menangis di sini! Sudah terlambat! Mulai hari ini, aku sama sekali tidak punya putri seperti dirimu! Dan kau juga tidak punya hak sedikit pun untuk melangkahkan kaki kembali ke kediaman ini! Ingat baik-baik, aku Xiao Yu, mulai hari ini, memutuskan segala hubungan darah dan ikatan antara ayah-anak denganmu mulai detik ini juga!”

Suaranya bergetar menahan kepedihan, namun kata-katanya terucap begitu tegas dan tajam bagaikan pisau. Seluruh orang yang ada disana terdiam seribu bahasa, tak ada satu pun yang berani bersuara.

Lili memegang pipinya yang terasa perih, menatap ayahnya dengan mata terbelalak tak percaya, tangisnya makin menjadi-jadi. “Apa yang Ayah katakan?! Aku ini putri kandung Ayah! Aku anak kesayangan Ayah! Bagaimana mungkin Ayah tega bicara seperti ini padaku?!”

“Putri ku?!” Xiao Yu menyeringai getir, lalu membentak makin keras. “Seandainya kau masih menganggap kami sebagai orang tuamu, seandainya kau masih punya rasa hormat dan sayang sedikit saja kepada kami, kau tak akan kabur diam-diam hari itu! Kalau kau tidak pergi, Ibu mu pasti tidak akan jatuh sakit karena cemas dan sedih, dan ia pasti masih ada di sini sekarang! Semua ini karena kesalahanmu!”

Melihat Lili yang terpukul, Dafi tak tahan lagi. Ia segera melangkah maju hendak membela, berniat menjelaskan bahwa semuanya adalah kesalahannya sendiri, karena ia gagal menghentikan Lili untuk kabur dan malah ikut pergi bersamanya. Namun belum sempat sepatah kata pun terucap, Xiao Yu sudah menoleh dan menatapnya dengan pandangan yang tajam.

“Diam kau! Ini urusan antara ayah dan putrinya, kau orang luar tak usah ikut campur!” potong Xiao Yu dengan nada dingin yang menusuk.

Lalu ia mengarahkan telunjuknya tepat ke wajah Dafi. “Dan kau! Bukankah kau yang paling dewasa, dan yang paling bisa aku andalkan selama ini? Saat anak nakal ini berniat kabur, bukannya kau menghentikan dan melarangnya, tapi kau malah menuruti kemauannya dan ikut serta lari bersamanya! Kau juga tak luput dari kesalahan ini!”

Xiao Yu menghela nafas panjang, dan berkata: “Aku sudah terlalu banyak bicara pada kalian berdua!” lanjut Xiao Yu dengan nada pasrah namun penuh kemarahan. “Bukankah kalian begitu suka hidup di luar sana, begitu bosan dan tak betah tinggal di sini? Baiklah, hari ini aku akan mengabulkan keinginan kalian sepenuhnya! Sekarang pergilah! Keluar dari kediaman ini dan jangan pernah menunjukkan wajah kalian berdua lagi di hadapanku! Aku sama sekali tidak ingin melihat wajah kalian?!”

Tanpa memberi kesempatan mereka menjawab, Xiao Yu langsung memberi isyarat pada pengawal yang berdiri di dekatnya.

“Seret mereka berdua keluar! jangan biarkan mereka berdua kembali ke sini dan kunci gerbangnya rapat-rapat!”

Dua orang pengawal itu pun segera mendekat, memegang kuat lengan Lili dan Dafi. Lili meronta sekuat tenaga, menangis, dan terus memanggil-manggil ayahnya, memohon agar dimaafkan dan dibiarkan tinggal. Namun Xiao Yu sama sekali tak menoleh, punggungnya tegak kaku seolah hati batu. Padahal di balik itu, saat tubuh putrinya makin menjauh, air mata terus menetes diam-diam dari sudut matanya yang ia berusaha keras tahan.

Hingga akhirnya mereka berdua didorong paksa dan jatuh tepat di depan pintu gerbang kediaman yang kemudian tertutup rapat untuk mereka.

Seusai semuanya selesai, orang kepercayaan yang sudah lama mengabdi di sisi Xiao Yu perlahan mendekat, bertanya dengan ragu dan hati-hati, “Pak Menteri… apakah tindakan ini benar-benar keputusan yang tepat?”

Xiao Yu tetap diam terpaku, menatap pintu yang tertutup itu dengan tatapan kosong dan hampa. Tak lama kemudian, ia menjawab dengan suara lirih namun tegas. “Ini adalah urusanku dengan putriku. Tak ada orang lain yang perlu ikut campur mengenai masalah ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!