Di dunia bawah tanah yang kejam, seorang bos mafia yang tampan namun terkenal bengis tidak pernah ragu untuk melenyapkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Ketika salah satu anak buah level bawahnya terjerat utang besar yang tak mampu dibayar, nyawa pria tua itu berada di ujung tanduk. Demi menyelamatkan diri dari eksekusi mati, sang bapak nekat menawarkan putri cantiknya sebagai penebus utang. Meski awalnya enggan, sang bos mafia akhirnya menerima kesepakatan tersebut dan menikahi si gadis. Dimulailah kehidupan pernikahan yang dingin, penuh tekanan, dan agak kasar di dalam rumah megah sang mafia. Namun, di balik dinding es yang dibangun sang bos, sebuah dinamika baru perlahan mulai menguji batasan kekejamannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanya dalam Keheningan
Mentari pagi kembali merayap naik, menyebarkan pendar keemasan yang hangat melintasi jendela-jendela kaca raksasa di sepanjang koridor mansion Sterling. Namun, bagi Chloe, kilau fajar tidak pernah benar-benar mampu menghapus bayang-bayang kelam yang ditinggalkan oleh malam sebelumnya. Sisa rasa hangat, lumatan liar tanpa ampun, dan bisikan ancaman dari Asher masih terasa begitu nyata melekat di bibir dan benaknya, meninggalkan sensasi berdenyut yang samar sekaligus rasa sesak yang membekas di dada.
Sekitar pukul tujuh pagi, ketukan lembut terdengar di pintu kamar utama. Suara Bi Mirna yang parau dan sarat akan rasa keibuan mengalun dari balik kayu ek tebal, menawarkan untuk membawakan nampan berisi sarapan dan secangkir teh hangat ke dalam kamar, seperti yang biasa dia lakukan jika melihat kondisi Chloe sedang tidak baik-baik saja.
Namun kali ini, Chloe menarik napas dalam-dalam dan menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, Bi," sahut Chloe cukup lantang agar suaranya terdengar ke luar. "Pagi ini aku akan turun ke bawah. Aku akan sarapan di ruang makan utama saja."
Ada alasan tersendiri mengapa Chloe menolak. Dia merasa kamar tidur raksasa itu kini telah menjelma menjadi sebuah ruang interogasi yang menyesakkan. Setiap sudutnya mengingatkannya pada dominasi Asher yang tak terbantahkan. Lagipula, dari balik pintu kamar mandi yang tertutup rapat, Chloe bisa mendengar lamat-lamat suara gemercik air pancuran yang menandakan bahwa suaminya sedang membersihkan diri. Chloe tidak ingin berada di dalam ruangan yang sama saat pria itu keluar dengan handuk yang melilit pinggangnya, memamerkan tubuh penuh luka yang semalam baru saja mengungkungnya tanpa ampun. Dia butuh ruang untuk bernapas, dan ruang makan yang luas terasa jauh lebih aman untuk saat ini.
Dengan langkah yang sengaja dibuat seringan mungkin, Chloe yang pagi itu mengenakan gaun rumah sederhana berwarna krem panjang sebatas betis melangkah menuruni undakan tangga marmer. Suasana lantai dasar masih relatif sepi, hanya ada beberapa pelayan yang sibuk mengelap vas bunga atau menyedot debu di sudut-sudut jauh ruang keluarga.
Begitu melangkah masuk ke dalam ruang makan utama, kemewahan yang dingin kembali menyapanya. Sebuah meja makan panjang bermaterial kayu mahoni utuh yang dilapisi pelindung kaca berdiri kokoh di tengah ruangan, dikelilingi oleh belasan kursi berukir beludru hitam. Di ujung meja, Bi Mirna tampak sedang sibuk menata beberapa piring porselen kosong, menyiapkan peralatan perak, dan menuangkan jus jeruk segar ke dalam teko kristal.
"Eh, Nyonya Muda sudah turun," Bi Mirna sedikit tersentak, namun segera memamerkan senyuman hangatnya. "Mohon tunggu sebentar, ya. Menu sarapan pagi ini sedang diselesaikan oleh koki di dapur. Nasi goreng seafood dan roti panggang mentega kesukaan Nyonya akan siap dalam beberapa menit."
"Terima kasih, Bi. Tidak perlu terburu-buru, aku akan menunggu di sini," jawab Chloe lembut. Dia menarik salah satu kursi di bagian tengah meja—sengaja menjauh dari kursi utama di ujung meja yang biasa ditempati oleh Asher—lalu mendudukkan tubuh mungilnya di sana dengan tenang.
Sembari menunggu, Chloe melipat kedua tangannya di atas meja. Pandangannya bergerak kosong menatap pendar lampu gantung kristal yang memantul di atas permukaan meja kaca yang bersih. Pikirannya kembali mengembara, memutar balik potongan-potongan kejadian ekstrem yang dia alami sejak menginjakkan kaki di rumah ini. Perubahan sikap Asher yang begitu drastis—dari seorang pria terluka yang pasrah di dalam dekapan bathtub, menjadi sosok kejam yang mengancamnya di pagi hari, lalu menjelma menjadi pelindung yang posesif di gala amal, dan berakhir sebagai monster penuh gairah yang menghukumnya semalam—membuat akal sehat Chloe benar-benar berputar di dalam labirin kebingungan yang tak berujung.
Tepat pada saat pusaran pikiran itu berada di puncaknya, sebuah langkah kaki yang teratur dan tegas terdengar menggema dari arah koridor samping.
Chloe menoleh, dan dia mendapati sosok Kenzo sedang berjalan melintas di dekat area ruang makan. Pria tangan kanan Asher itu tampil sangat rapi seperti biasa, mengenakan setelan jas hitam tanpa dasi, dengan sebuah map dokumen penting di bawah ketiaknya. Tampaknya dia baru saja selesai memeriksa laporan pengamanan perimeter luar dari para penjaga malam.
Sebuah dorongan impulsif yang tidak terencana mendadak muncul di dalam benak Chloe. Melihat Kenzo, dia seperti melihat satu-satunya jembatan informasi yang bisa membantunya memahami teka-teki besar bernama Asher Sterling.
"Kenzo," panggil Chloe perlahan, memutus keheningan ruangan.
Langkah kaki Kenzo seketika terhenti. Pria itu menoleh ke arah ruang makan, dan begitu melihat Chloe yang duduk sendirian di sana, ekspresi wajahnya yang biasanya kaku dan profesional langsung melunak dalam sekejap. Dia membungkuk hormat dari jarak beberapa meter. "Selamat pagi, Nyonya Sterling. Apakah ada sesuatu yang bisa saya bantu?"
Chloe memaksakan seulas senyuman ramah di bibirnya, lalu menunjuk ke arah kursi kosong yang berada tepat di hadapannya. "Jika kau tidak sedang terburu-buru untuk urusan mendesak, maukah kau duduk di sini sebentar? Sarapan bersamaku. Bi Mirna sedang menyiapkan makanan yang cukup banyak pagi ini."
Kenzo tampak ragu selama beberapa detik. Sebagai tangan kanan seorang bos mafia tertinggi, dia memiliki kode etik yang sangat ketat untuk tidak terlalu dekat secara personal dengan wanita milik tuannya. Namun, tatapan mata rusa Chloe yang begitu jernih, tulus, dan sama sekali tidak menyiratkan niat buruk atau manipulasi, membuat dinding pertahanan profesionalitas Kenzo sedikit goyah. Bagaimanapun juga, dia sangat menghormati Chloe atas kebaikan dan kelembutan yang jarang dia temui di dunia hitam yang penuh darah ini.
"Baik, Nyonya. Terima kasih atas kebaikan Anda," jawab Kenzo akhirnya. Dia melangkah mendekat, menarik kursi di hadapan Chloe dengan gerakan yang sangat sopan, lalu mendudukkan tubuh tegapnya di sana tanpa menyentuh apa pun di atas meja.
Untuk beberapa saat, keheningan yang canggung kembali tercipta di antara mereka berdua. Bi Mirna yang melihat Kenzo ikut duduk hanya tersenyum maklum dan bergegas kembali ke dapur untuk menambah porsi makanan yang akan disajikan.
Chloe memainkan jemarinya di atas pangkuan, mencoba merangkai kata-kata yang tepat di dalam kepalanya. Ada begitu banyak hal yang ingin dia tanyakan pada pria di depannya ini. Kenzo adalah orang yang paling lama berada di samping Asher, orang yang menyaksikan setiap jengkal keputusan dan perubahan emosi pria itu. Jika ada satu orang di dunia ini yang tahu siapa sebenarnya Asher Sterling di balik topeng iblisnya, orang itu pastilah Kenzo.
Setelah mengumpulkan sisa keberaniannya, Chloe akhirnya mendongak, mengunci pandangannya pada sepasang mata Kenzo yang tenang.
"Kenzo... bolehkah aku bertanya sesuatu padamu? Ini... ini mengenai urusan pribadi," ucap Chloe perlahan, suaranya sengaja direndahkan agar tidak memancing perhatian pelayan lain.
Kenzo mengangguk pelan, wajahnya tampak menyimak dengan serius. "Silakan, Nyonya. Jika itu berada dalam batasan yang bisa saya jawab, saya akan menjawabnya dengan jujur."
Chloe menarik napas pendek, lalu meluncurkan pertanyaan yang selama ini menyiksa batinnya. "Seperti apa... sebenarnya seorang Asher Sterling yang kau kenal selama ini? Mengapa... mengapa dia bisa menjadi sosok yang begitu hangat dan penuh luka di satu waktu, namun dalam hitungan jam bisa berubah kembali menjadi monster yang sangat kejam dan sedingin es? Siapa dia yang sesungguhnya di balik semua kekejaman yang dia tunjukkan padaku?"
Mendengar rentetan pertanyaan yang begitu mendalam dan personal itu, wajah Kenzo yang biasanya datar seketika berubah. Pria tangan kanan itu terlihat sangat terkejut, kelopak matanya sedikit melebar. Dia sama sekali tidak menduga bahwa gadis tawanan yang biasanya hanya diam pasrah ini akan memiliki keberanian untuk menggali lebih dalam mengenai sisi psikologis dari seorang penguasa tertinggi distrik barat yang paling ditakuti.
Kenzo terdiam cukup lama, tatapannya beralih menatap permukaan meja kayu mahoni. Ada pergulatan batin yang sangat jelas di dalam sorot matanya. Dia tahu betul sejarah kelam yang membentuk karakter Asher menjadi sedingin dan sekejam sekarang; dia tahu tentang pengkhianatan masa lalu, tentang darah keluarga yang tumpah, dan tentang bagaimana Asher terpaksa membunuh nuraninya sendiri demi bisa bertahan hidup dan melindungi sisa keluarganya di puncak takhta mafia yang kejam ini.
Kenzo perlahan kembali mendongak, menatap Chloe dengan pandangan yang sarat akan rasa simpati yang tertahan. Bibirnya baru saja terbuka sedikit, berniat untuk memberikan sebuah penjelasan kiasan yang aman untuk menjawab rasa penasaran sang nyonya muda. "Nyonya, Tuan Asher sebenarnya—"
TAK. TAK. TAK.
Belum sempat kata pertama dari jawaban Kenzo terselesaikan, suara ketukan langkah kaki yang teramat berat, tegas, dan sarat akan otoritas mutlak tiba-tiba menggema nyaring dari arah tangga utama lantai dasar.
Atmosfer di dalam ruang makan seketika membeku dalam hitungan milidetik. Hawa dingin yang teramat pekat seolah merayap masuk, menyerap seluruh kehangatan fajar pagi itu.
Asher Sterling sedang berjalan turun menuju ruang makan. Pria itu kini telah berganti pakaian menggunakan setelan kemeja kerja berwarna hitam pekat dengan potongan kaku, melangkah tegap dengan aura dominasi yang langsung mencengkeram seisi ruangan seutuhnya. Rambutnya masih sedikit basah, namun sepasang mata kelabunya sudah berkilat tajam seperti elang yang siap menerkam mangsanya. Tatapan kelabu itu langsung mengunci ke arah meja makan, menatap tajam interaksi antara istri dan tangan kanannya.
Mendengar dan merasakan kehadiran tuannya, insting bertahan hidup dan kepatuhan mutlak di dalam tubuh Kenzo langsung bereaksi secepat kilat. Wajah pria tangan kanan itu seketika kembali kaku bagai batu.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Kenzo bergegas berdiri dari kursinya sebelum Asher sempat menginjakkan kaki di lantai ruang makan. Dia membungkuk dalam ke arah Chloe, lalu membalikkan tubuhnya dengan gerakan efisien yang sangat cepat, melangkah keluar melewati pintu samping ruang makan sebelum sang bos mafia sempat mengeluarkan sepatah kata interogasi. Kenzo tahu betul, berada di situasi yang salah dengan wanita milik Asher Sterling adalah cara tercepat untuk mengantarkan nyawanya sendiri ke ujung maut.
Chloe hanya bisa terpaku menatap kepergian Kenzo yang begitu terburu-buru, meninggalkan dirinya sendirian di tengah ruang makan yang kini terasa jauh lebih dingin dan mencekam seiring dengan langkah tegap Asher yang semakin mendekat ke arah mejanya.