NovelToon NovelToon
Matahari Tetap Terbit (Kisah Seorang Ibu Pejuang)

Matahari Tetap Terbit (Kisah Seorang Ibu Pejuang)

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Single Mom
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: 🍁ɳɪȩƖɑᷭ🐣N⃟ʲᵃᵃ࿐

Ditinggal pergi oleh suami tercinta tanpa kabar berita, Rania terpaksa memikul seluruh beban rumah tangga sendirian. Di tengah keterbatasan dan rasa sepi yang menghimpit, ia menemukan kekuatan yang tak pernah ia tahu dimilikinya. Demi masa depan Dika dan Naya, Rania belajar menjadi wanita yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Ini adalah kisah tentang pengorbanan, ketabahan, dan kebangkitan seorang ibu yang menolak menyerah pada nasib.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 🍁ɳɪȩƖɑᷭ🐣N⃟ʲᵃᵃ࿐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keseruan di sekolah dan Segarnya Es Kelapa

Matahari siang itu bersinar terik, memancarkan cahayanya yang panas ke sepanjang jalan raya. Di depan rumah Rania, sisa-sisa dagangan di atas meja tampak sudah tidak banyak lagi. Hanya ada sedikit lauk dan beberapa bungkus nasi yang tersisa. Namun, Rania dan Mbak Siti tidak berniat memasak atau menambah menu lagi. Bagi Rania, ini sudah lebih dari cukup. Warungnya sudah buka sejak pagi buta, melayani pembeli dengan penuh semangat, dan melihat dagangan hampir habis di tengah terik matahari begini adalah tanda keberhasilan yang membuat hatinya puas dan bersyukur.

"Alhamdulillah, tinggal sedikit saja sisanya, Mbak. Sudah cukup untuk hari ini. Kita tutup saja ya, kebetulan cuaca juga mulai panas sekali," ucap Rania sambil tersenyum lega.

Mbak Siti mengangguk setuju sambil membereskan tudung saji. "Iya benar, Bu. Sudah laris manis sekali hari ini. Lebih baik kita beres-beres sekarang, biar nanti tidak terburu-buru."

Keduanya pun segera bergerak cekatan. Meja-meja panjang tempat menaruh masakan dibersihkan dari sisa makanan dan remah-remah, lalu dilap hingga kering dan mengkilap. Kursi-kursi kayu yang digunakan pembeli disusun rapi bersandar ke dinding atau disimpan di bawah atap agar tidak terkena panas atau debu jalanan.

Semua peralatan masak, panci, dan wajan dibawa masuk ke dapur untuk dicuci nanti. Tak lama kemudian, bagian depan rumah yang tadinya ramai menjadi tenang dan bersih kembali, siap untuk ditutup dan diistirahatkan.

Setelah semua beres, Rania mengajak Mbak Siti duduk bersantai sejenak di ruang tamu yang letaknya tepat di depan televisi. Ruangan itu cukup sejuk karena ada angin yang masuk dari jendela yang terbuka. Rania melirik jam dinding yang tergantung di tembok. Jarum jam sudah menunjukkan pukul satu siang lewat sedikit.

"Sebentar lagi jamnya jemput Dika, Mbak. Biasanya jam setengah dua bel waktu pulang. Kita duduk santai dulu saja sambil menunggu waktunya," kata Rania lembut.

Di samping mereka, si kecil Naya yang tadi pagi sangat antusias bermain dengan mainan barunya, kini sudah tidak bergerak lagi. Keceriaan dan tenaganya yang meluap-luap tadi ternyata menyita banyak energinya. Anak perempuan kecil itu kini sudah tertidur pulas di atas karpet empuk di depan televisi, meringkuk mungil sambil masih memegang erat mainan kesayangannya di tangan. Napasnya terdengar teratur dan damai, wajahnya terlihat damai dan lelah setelah seharian berlarian tertawa.

Rania tersenyum melihat putrinya itu. Ia mengelus pelan rambut Naya, lalu mengambil bantal kecil dan meletakkannya di bawah kepala anak itu agar lebih nyaman. "Anak ini, antusiasnya tadi pagi luar biasa sekali sampai sekarang kecapean dan tidur pulas begini," gumam Rania sambil tertawa pelan.

Tak lama kemudian waktu menjemput Dika sudah tiba. Rania bangkit berdiri, merapikan pakaiannya, dan berpamitan pada Mbak Siti.

"Mbak, saya pergi dulu ya menjemput Dika. Nanti saya pulang sekalian bawa oleh-oleh sedikit. Naya biar di sini saja ya, biarkan dia tidur sampai puas, nanti kalau bangun pasti dia cari kita sendiri," pesan Rania.

"Siap, Bu. Ibu hati-hati saja ya di jalan, saya awasi rumah sama Naya di sini," jawab Mbak Siti ramah.

Rania pun berjalan keluar rumah, menaiki sepeda motornya, lalu melaju perlahan menuju sekolah dasar tempat Dika belajar. Jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar lima menit perjalanan, namun bagi Rania, momen menjemput putranya adalah momen yang paling ia nantikan setiap harinya.

Sementara itu, di dalam ruang kelas Dika, suasana belajar baru saja usai. Di depan kelas, Bu Sari, guru kelas mereka, sedang berdiri tegap sambil tersenyum menatap murid-muridnya yang sudah mulai tidak sabar ingin pulang.

"Baiklah anak-anak, pelajaran hari ini sudah selesai semua. Sebelum kita pulang, mari kita berdoa bersama-sama dulu," ucap Bu Sari dengan suara lembut namun tegas.

Seluruh murid pun serentak menundukkan kepala, mengikuti lantunan doa yang dipimpin Bu Sari dengan khusyuk. Begitu kata penutup doa selesai diucapkan, suasana kelas langsung berubah menjadi riuh rendah. Suara kursi yang ditarik, tawa anak-anak, dan kegembiraan memenuhi ruangan. Mereka berhamburan keluar pintu kelas, berlari kecil menuju gerbang sekolah untuk mencari orang tua atau penunggu mereka masing-masing.

Dika pun tidak kalah bersemangat. Dengan cepat ia memasukkan buku-bukunya ke dalam tas, membenahi alat tulisnya, lalu mengenakan kembali topi sekolahnya dengan rapi. Ia berjalan keluar kelas dengan langkah ringan, matanya segera menyapu seluruh area depan sekolah. Saat itu juga, wajahnya yang polos berseri-seri penuh kebahagiaan. Di sana, berdiri sosok wanita yang sangat dicintainya, ibunya, sedang menunggu sambil tersenyum lebar.

"Ibuuuu!" seru Dika riang sambil berlari kecil mendekat, lalu langsung menyambut uluran tangan ibunya.

Rania memeluk bahu putranya itu sejenak, mencium keningnya dengan kasih sayang. "Halo anak Ibu yang pintar! Gimana sekolahnya hari ini? Seru tidak?" tanyanya lembut.

Seperti biasa, sepanjang perjalanan pulang menuju rumah, Dika tak pernah diam. Mulutnya bercerita terus menerus dengan penuh semangat, menceritakan segala hal yang ia alami dan pelajari di sekolah hari itu. Mulai dari cerita tentang teman sekelasnya yang tidur saat pelajaran berhitung yang sedikit sulit tapi ia bisa mengerjakannya, sampai tentang guru yang memberikan hadiah bintang.

"Ibu, tadi Bu Guru kasih tugas lho! Terus aku dapat nilai bagus, lho! Bu Guru bilang aku pinter," cerocos Dika dengan mata berbinar bangga.

Rania tertawa mendengarnya, hatinya penuh kebanggaan. "Wah, hebat sekali anak Ibu! Pasti Dika belajarnya rajin ya sampai dapat nilai bagus. Bagus, terus begitu ya."

Tak lama kemudian, Dika mengubah topik pembicaraannya menjadi hal yang lebih serius namun tetap penuh semangat. Ia menoleh ke arah ibunya dari jok belakang.

"Ibu, sebentar lagi kita mau ada ujian kenaikan kelas lho! Katanya Bu Guru, ujiannya nanti minggu depan. Kalau nilainya bagus, aku bisa naik ke kelas tiga, Bu!" suara Dika terdengar antusias sekaligus sedikit menantang diri sendiri.

Rania tersenyum lebar, mendengarkan dengan seksama. Ia sangat senang melihat betapa serius dan semangatnya Dika menempuh pendidikannya di usia yang masih sangat muda ini.

"Wah, hebat sekali beritanya! Berarti Dika harus belajar lebih rajin lagi ya, Nak? Rajin membaca buku, mengulang pelajaran di rumah, dan mendengarkan kata Ibu. Nanti pas ujian tiba, Dika pasti bisa mengerjakan semua soal dengan mudah dan benar. Ibu yakin sekali!" jawab Rania dengan nada penuh dukungan dan semangat.

Rania pun melanjutkan ucapannya, suaranya terdengar tulus dan penuh doa seorang ibu. "Ibu selalu mendoakan Dika, Nak. Semoga Dika selalu sehat, selalu pintar, dan selalu berhasil di sekolah. Nanti pas hari ujian, semoga Dika tenang, ingat semua yang sudah dipelajari, dan bisa mengerjakan semuanya dengan lancar. Dika pasti bisa!"

Mendengar dukungan dan doa itu, hati Dika terasa sangat kuat dan berani. Ia memeluk pinggang ibunya sedikit lebih erat. "Siap, Ibu! Aku janji belajar yang rajin ya!"

Belum sampai ke rumah, saat melewati pinggir jalan dekat pertigaan, Dika menepuk bahu ibunya pelan. "Ibu... Ibu... boleh berhenti sebentar di situ tidak?" tunjuknya ke arah pedagang es kelapa muda yang sedang duduk di bawah pohon rindang.

"Ada apa, Nak? Mau minum ya?" tanya Rania lembut.

"Iya Bu, aku kepengen banget minum es kelapa muda. Panas sekali nih hari ini. Boleh ya dibelikan?" pinta Dika dengan wajah memelas namun lucu.

Rania tertawa melihat tingkah anaknya. Ia pun langsung menghentikan kendaraannya tepat di dekat lapak pedagang itu. "Boleh dong, anak Ibu mau apa saja pasti Ibu turuti, asal baik-baik saja. Kita beli ya, sekalian beli banyak. Nanti kita bawa pulang buat Mbak Siti juga, kebetulan di rumah juga panas, pasti Mbak Siti juga kepengen yang segar-segar."

Rania memesan tiga gelas es kelapa muda dengan gula merah yang manis dan segar. Minuman itu dimasukkan ke dalam kantong plastik dengan hati-hati agar tidak tumpah. Sesegera mungkin mereka kembali melanjutkan perjalanan pulang, membawa kesegaran di tengah terik siang itu.

Sesampainya di rumah, Dika langsung berlari masuk dengan senyum lebar. Mbak Siti yang masih duduk di ruang tamu, mengawasi Naya yang masih tidur, langsung menoleh.

"Mbak Siti! Kami pulang!" seru Dika riang.

Rania masuk sambil membawa kantong berisi minuman segar itu. Ia menyerahkan satu gelas es kelapa muda dingin kepada Mbak Siti. "Ini Mbak, saya belikan tadi di jalan. Segar sekali, pas sekali buat melepas dahaga di siang hari yang panas begini. Silakan diminum ya."

Mbak Siti menerimanya dengan wajah berbinar senang. "Wah, makasih banyak ya Bu! Ini pas banget, rasanya lagi pengen yang dingin-dingin. Terima kasih juga ya Dika, sudah ingat Mbak Siti," ucapnya sambil mengedipkan mata ke arah Dika yang tertawa gembira.

Rania duduk bersandar sejenak, memandang Dika yang dengan lahap meminum es kelapa miliknya, dan Naya yang masih tidur damai.

Di tengah kesederhanaan itu, Rania merasa hidupnya sangat lengkap dan bahagia. Ia siap mendampingi Dika belajar demi ujian kenaikan kelas nanti, yakin bahwa kerja keras dan kasih sayang akan selalu membawa mereka pada hasil yang terbaik.

1
Yayang Suami Risa
Wah Dika Jadi semangat lagi ya di semangati pak Sandi
Yayang Suami Risa
Semangat Rania hidupmu berubah jadi lebih baik
Bahagia Bersama Dirimu😍😍😍🥰
Dika kagum sama pak Sandi ya
Bahagia Bersama Dirimu😍😍😍🥰
Pasti uang hasil jualan Rania di tabung ya
@Me and You Married
Dika ayo semangat kerjakan soal ujian ya supaya naik kelas
@Me and You Married
Rania alhamdulilah warung kamu semakin laris ya beda jauh saat dulu sehari baru buka warung
@Yayang Risa Couple Happy
Dika kamu di beri semangat oleh pak Sandi
@Yayang Risa Couple Happy
Rania pasti punya banyak uang
Ya Ris Tak Terpisahkan
Dika jadi semangat lagi setelah di semangati pak Sandi
Ya Ris Tak Terpisahkan
Enak semua menu buatan Rania pantas laris manis ya
❤️⃟𝐖ᵃ𝐟☘𝓡𝓳♉ᵘᵐᵃsʸ𝐀⃝🥀🤎⒋ⷨ͢⚤
Kamu hidup enak tanpa memikirkan keluarga yg kamu tinggalkan Bara setidaknya kirim lah uang sedikit untuk keperluan mereka sehari-hari bukan keluarga baru mu saja yg kau perhatikan
@ Yayang Risa Selamanya
Pak Sandi anda di kagumi oleh Dika
@ Yayang Risa Selamanya
Rania menu makanan kamu lezat dan enak semua
@Yayang Risa Saling 💖❣️💗💕💞
Pak Sandi menyemangati Dika supaya semangat
@Yayang Risa Saling 💖❣️💗💕💞
Rania memang ramah dalam melayani pembeli makanya banyak pelanggan
Risa Yayang Cinta Sejati
Dika semangat kerjakan soal karena ingat perjuangan ibunya buat Dika dan Naya
Risa Yayang Cinta Sejati
Menu makanannya tambah lagi dong Rania
@Yayang Suami Ris4
Dika merasa ibunya berjuang buat dia dan Naya pasti dia bakal berusaha kerjakan soal
@Yayang Suami Ris4
Semua menu gorengan di warung Rania enak semua ya
Suamiku Paling Sempurna
Ayo Dika semangat kerjakan soal dengan baik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!