Di saat fisiknya yang sawo matang selalu dihina oleh geng Ivanka, Alisha membuktikan bahwa kecerdasan dan rasa percaya diri jauh lebih memikat daripada standar kecantikan dunia. Namun, ketangguhannya diuji oleh Reyshaka, rival abadi berotak encer yang hobinya berdebat, tapi diam-diam selalu pasang badan paling depan saat Alisha direndahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ocehan Bocil Asbun dan Pembelaan si Bungsu
Sore itu, langit di atas jalanan pemukiman tidak lagi memamerkan warna jingga yang tenang. Udara Bandung terasa agak gerah, menyisakan sisa-sisa hawa panas yang melekat di aspal setelah seharian didera terik matahari. Alisha berjalan dengan langkah konstan, menyusuri trotoar semen yang berbatasan langsung dengan selokan komplek. Di sampingnya, Aleta berjalan dengan langkah yang jauh lebih dinamis—sesekali melompat kecil, sesekali menendang kerikil tak bersalah yang menghalangi jalannya.
Hari ini, Alisha sengaja pulang bareng adiknya dari sekolah karena kebetulan jam pulang mereka hampir bersamaan. Di dalam dekapannya, tas sekolahnya terasa sedikit lebih berat karena beban buku cetak tambahan yang harus ia bawa pulang untuk tugas mentornya besok. Di dalam hati, sisa-sisa rasa hangat dari ucapan Shaka di koridor sekolah kemarin sebenarnya masih membekas, memberikan semacam pelindung tak kasat mata bagi suasana hatinya.
Namun, kedamaian sore itu tidak bertahan lama.
Ketika mereka berdua melewati sebuah lapangan semen kecil di dekat pos ronda—tempat yang biasanya dijadikan markas oleh anak-anak usia sekolah dasar untuk bermain kelereng atau mengisengi kucing liar—langkah Alisha mendadak agak kaku.
Di sana, ada segerombolan anak kecil, mungkin sekitar usia tujuh sampai sembilan tahun, sedang duduk-duduk di atas motor matic yang diparkir asal-asalan. Mereka masih mengenakan kaus oblong bergambar karakter kartun yang sudah agak dekil karena keringat, beberapa di antaranya memegang es cekek di dalam plastik.
Begitu Alisha dan Aleta berjalan melintas, pandangan gerombolan bocil itu langsung tertuju pada mereka. Alisha, dengan kepribadiannya yang defensif, sudah otomatis memasang mode "tidak peduli" dan lurus menatap ke depan. Ia tahu betul bagaimana tabiat anak-anak kecil zaman sekarang yang bahasanya kadang meluncur tanpa disaring, hasil dari terlalu banyak menonton video di media sosial tanpa pengawasan orang tua.
Benar saja. Salah satu bocil berkaus merah dengan potongan rambut mangkok tiba-tiba menyenggol lengan temannya, lalu berteriak dengan nada cempreng yang sengaja dikeras-keraskan.
"Eh, liat deh, ada Kakak Cantik lewat!" seru bocil itu, matanya lurus menatap ke arah Aleta yang memang memiliki kulit putih bersih warisan dari sang Ibu. "Halo, Teteh Cantik! Mau kemana atuh teh? Bagi nomor WA-nya dong, Teh!"
Bocil-bocil yang lain langsung tertawa riuh, ikut-ikutan bersiul meniru gaya om-om di pinggir jalan yang suka menggoda perempuan. Bagi anak seusia mereka, tindakan itu mungkin dikira keren atau lucu, sebuah candaan "asbun"—asal bunyi—yang mereka tiru entah dari mana.
Alisha masih diam. Ia mengembuskan napas pendek, berniat mengabaikannya. Cuma anak kecil, gak usah diladenin, pikirnya dalam hati. Baginya, meladeni anak kecil yang belum paham arti sopan santun hanya akan membuang-buang energinya yang sudah terkuras habis setelah seharian belajar di kelas.
Namun, si bocil berkaus merah tampaknya belum puas mencari perhatian. Begitu Alisha berjalan selangkah di depan Aleta, mata bocil itu beralih pada Alisha. Dengan kepolosan yang bercampur dengan kelancangan yang tidak disengaja, ia kembali berteriak.
"Loh, tapi kok teteh yang satunya lagi mah item banget sih? Item kayak arang sekam!" celetuk si bocil sambil menunjuk ke arah Alisha. "Ih, kok bisa beda jauh ya? Yang satu putih kayak artis, yang satu lagi gosong!"
Deg.
Kata "item" dan "gosong" itu meluncur begitu saja dari mulut mungil yang tak berdosa itu. Kalimat itu langsung menghantam tepat di ulu hati Alisha, memicu denyut perih yang familiar. Alisha memejamkan matanya sesaat. Telapak tangannya yang memegang tali tas sekolah mendadak meremas kain tersebut dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih. Semua ingatan tentang cibiran Ivanka, tatapan meremehkan orang-orang di sekolah, kembali berputar seperti kaset rusak.
Walaupun yang mengatakannya adalah seorang anak kecil yang bertindak "asbun" tanpa tahu seberapa dalam kata-kata itu bisa melukai seseorang, tetap saja rasanya sakit. Rasa tidak percaya diri yang sudah susah payah diredam bersama Shaka kemarin, mendadak retak kembali.
Alisha memilih untuk terus melangkah, mempercepat ritme kakinya. "Teta, ayo cepat jalan. Gak usah didengerin," bisik Alisha dengan suara yang agak serak, mencoba menarik lengan adiknya.
Tapi, Alisha salah menilai adiknya sendiri.
Aleta bukan tipe orang yang akan diam saja jika kakaknya dihina. Jiwa pembela si bungsu langsung tersulut api amarah yang luar biasa besar begitu mendengar kata "gosong" dialamatkan pada Alisha. Langkah kaki Aleta langsung berhenti mendadak di tengah jalan, membuat pegangan tangan Alisha terlepas.
Aleta berbalik badan sepenuhnya, berkacak pinggang dengan wajah yang memerah padam karena menahan geram. Matanya melotot tajam ke arah gerombolan bocil di atas motor tersebut.
"HEH!! MULUTNYA JAGA YA, BOCIL KEMARIN SORE!!" teriak Aleta dengan suara melengking tinggi yang langsung menggema di sepanjang gang sepi itu.
Gerombolan anak kecil itu langsung kaget, tawa mereka terhenti seketika melihat gadis remaja yang tadinya mereka goda "cantik" kini berubah wujud menjadi seperti singa yang siap menerkam.
"Teta, udah, ayo pulang!" Alisha panik, ia berbalik dan mencoba menarik bahu adiknya. "Gak usah diladenin, mereka cuma anak kecil!"
"Gak bisa, kak Alisha! Anak kecil kalau asbun begini harus dikasih paham, biar gak keterusan gedenya jadi gak sopan!" bantah Aleta keras kepala, menepis pelan tangan kakaknya.
Aleta melangkah maju dua langkah, mendekati lapangan semen dengan dahi berkerut dalam. "Siapa tadi yang bilang kakak gue gosong, hah?! Kadieu siah Nu pake baju merah! Kecil-kecil udah hobi body shaming, ya! Lo pikir kulit lo udah paling bersih? Itu daki di leher lo aja masih tebel kayak aspal komplek, gak usah sok-sokan ngatain warna kulit orang lain!"
Bocil berkaus merah itu langsung kicep, wajahnya mendadak pias dan ketakutan karena tidak menyangka akan diamuk seheboh ini. Beberapa temannya mulai turun dari motor, bersiap-siap untuk kabur.
"Kenapa? Takut lo?!" tantang Aleta lagi, suaranya makin meninggi, mengundang perhatian beberapa ibu-ibu yang sedang menyapu halaman rumah mereka di sekitar sana. "Asal lo tahu ya, Mbak gue ini pinter banget! Nilai fisika-nya seratus, piala olimpiadenya banyak! Lah lo pada? Palingan di sekolah cuma bisa remedial nulis angka satu sampai sepuluh! Gak usah sok-sokan manggil gue 'Kakak Cantik' kalau mulut lo gak bisa ngehormatin Mbak gue! Pergi gak lo semua, atau gue laporin ke emak lo masing-masing biar disabet pake sapu lidi?!"
"Ayo kabur, kabur! Tetehnya galak pisan kayak mak-mak kosan!" seru salah satu bocil yang ketakutan.
Dalam hitungan detik, gerombolan anak kecil itu langsung kocar-kacir, berlarian menyelamatkan diri masuk ke dalam gang-gang kecil dengan langkah seribu, meninggalkan es plastik mereka yang bahkan belum habis.
Suasana jalanan kembali hening, menyisakan deru napas Aleta yang masih memburu karena emosi.
Alisha berdiri di tempatnya dengan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi, ada rasa haru yang menggelitik dadanya karena melihat bagaimana sang adik begitu pasang badan membelanya habis-habisan. Namun di sisi lain, keributan yang baru saja dibuat Aleta di tengah jalan—sampai membuat beberapa tetangga keluar dari rumah untuk menengok—sukses membuat kepala Alisha mendadak pening bukan main.
Alisha memijit pelipisnya yang mulai terasa berdenyut-denyut. "Aleta... ya ampun," gumam Alisha, suaranya terdengar pasrah dan lelah. "Lo tuh ya... bener-bener bikin heboh satu komplek. Malu tahu gak diliatin orang-orang."
Aleta berbalik menghampiri Alisha, wajahnya masih merengut kesal tapi binar matanya penuh dengan kekhawatiran yang tulus. "kak Alisha kok malah marahin aku sih? Aku kan belain kaka! Lagian bocil-bocil itu emang kurang diajar, masih kecil aja omongannya udah sekasar itu. Kalau dibiarin, ntar gedenya makin ngelunjak!"
Alisha mengembuskan napas panjang, menatap wajah adiknya yang masih berpeluh keringat. Kemarahan Alisha menguap begitu saja, berganti dengan rasa sayang yang mendalam. Ia mengulurkan tangannya, mengacak jilbab Aleta hingga miring lagi, persis seperti kejadian di teras rumah beberapa hari lalu.
"Iya, gue tahu lo belain gue. Makasih ya, Teta cerewet," ucap Alisha lembut, seulas senyum tulus akhirnya terbit di wajahnya yang sempat muram. "Tapi gak usah pake urat sampai teriak-teriak begitu juga di jalanan. Suara lo tuh melengking banget, telinga gue sampai pengang. Gue pening dengernya."
Aleta yang mendengar ucapan terima kasih dari kakaknya langsung meleleh. Sifat galaknya lenyap seketika, berganti dengan cengiran khasnya yang jenaka. Ia memegangi lengan Alisha, menggelayut manja di sana.
"Hehe, ya habisnya aku refleks, Kak. Aku gak suka aja ada orang yang ngatain kak Alisha, mau itu orang gede atau bocil sekalipun," aku Aleta jujur sambil berjalan beriringan kembali menuju rumah. "Lagian, kulit Mbak Alisha itu eksotis tahu, kayak artis-artis Hollywood yang suka berjemur di pantai Bali. Mereka aja bayar mahal-mahal biar kulitnya eksotis kayak Mbak, lah bocil tadi malah bilang gosong. Dasar kurang literasi!"
Alisha tidak bisa menahan tawa renyahnya mendengarkan pembelaan absurd dari adiknya. Langkah kaki mereka kembali berlanjut menyusuri gang menuju rumah. Meski hari ini dibuka dengan kepeningan akibat ulah asbun anak-anak kecil, Alisha sadar bahwa di dalam rumahnya, ia memiliki sistem pendukung terbaik yang tidak akan pernah membiarkannya merasa sendirian menghadapi dunia. Rasa peningnya perlahan hilang, digantikan oleh kehangatan persaudaraan yang tak akan mampu dirusak oleh ucapan siapa pun