Salwa Azzahra, gadis berusia 22 tahun, menikah dengan orang yang sangat dia cintai , dan berharap Salwa bisa keluar dari rumah yang membuathya terluka . namun harapannya hancur seketika di malam pertama pernikahan .
Baru saja akad dilaksanakan, Yogie, suaminya, langsung menjatuhkan talak tiga tepat di malam itu juga, tanpa penjelasan yang masuk akal. Ia mengembalikan Salwa ke rumah orang tuanya seolah gadis itu barang yang tidak berguna. Salwa hancur, merasa harga dirinya diinjak-injak, dan kini harus menanggung malu serta fitnah masyarakat yang menuduhnya bersalah hingga diceraikan secepat itu.
Di balik sikap dingin Yogie, ternyata ada rahasia besar dan alasan tersembunyi yang membuatnya terpaksa melakukan hal menyakitkan itu, meski sebenarnya ia menyimpan rasa peduli. Takdir mempertemukan mereka kembali bertahun-tahun kemudian, saat luka keduanya belum sembuh , apakah Salwa akan kembali pada Yogie?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20
Di butik mewah lainnya, yang terletak di pusat perbelanjaan paling eksklusif dan terkenal di kota itu, suasana terasa jauh lebih tenang, lebih berkelas, dan penuh ketenangan. Di sudut ruangan yang luas dan beraroma wangi bunga itu, Salwa dan Bunga yang kini sudah mulai dipanggil Ibu oleh Salwa sedang berjalan beriringan menyusuri deretan gaun-gaun pesta yang sangat indah, mahal, dan dirancang oleh perancang busana ternama.
Berbeda dengan Sania dan ibunya yang sibuk mencari gaun dengan hiasan paling ramai, warna paling mencolok, dan permata paling banyak demi terlihat mewah, Salwa memiliki selera yang jauh berbeda. Selera yang tumbuh dari hati yang tenang, percaya diri, dan tidak perlu berusaha mati-matian untuk menarik perhatian.
Salwa berjalan dengan anggun, penampilannya sederhana namun terlihat sangat bersih dan berkelas. Kulitnya yang putih bersih, wajahnya yang cantik alami, dan postur tubuhnya yang tinggi tegap membuatnya terlihat seperti seorang putri bangsawan sejati meski hanya mengenakan pakaian santai sekalipun.
"Tante bunga ..." panggil Salwa lembut sambil menoleh ke arah Bunga yang sedang memperhatikan satu per satu koleksi gaun itu dengan teliti. "Tolong carikan saya gaun yang sederhana saja ya. Yang simpel, tidak terlalu banyak hiasan atau manik-manik berlebihan. Tapi tetap... elegan. Saya ingin gaun yang bentuknya klasik, rapi, dan pas di badan."
Bunga berhenti melangkah, menatap wajah cantik putri tirinya itu dengan senyum yang sangat bangga dan penuh kasih sayang. Ia mengusap lengan Salwa dengan lembut.
"Baiklah, Nak. Tante mengerti seleramu. Justru gaun yang paling sederhana dan paling simpel itulah yang akan membuat keindahan aslimu semakin bersinar. Ingat, kemewahan sejati tidak butuh berteriak untuk dilihat. Kemewahan itu terlihat dari ketenangan, dari keanggunan, dan dari kualitas diri pemakainya."
Bunga tersenyum makin lebar, hatinya terasa hangat. Ia sangat bahagia, sangat bersyukur, dan sangat mencintai gadis ini. Ia tidak pernah merasa menjadi ibu tiri, karena bagi Bunga, Salwa adalah darah dagingnya sendiri, gadis yang telah ia tunggu dan ia doakan selama bertahun-tahun lamanya. Melihat Salwa tumbuh menjadi wanita yang baik hati, rendah hati, namun sangat tegar dan cerdas, membuat Bunga merasa dialah wanita paling beruntung di dunia.
"Tante akan pilihkan yang terbaik untukmu, Nak. Percayalah, gaun yang paling sederhana sekalipun, saat dikenakan olehmu, akan terlihat jauh lebih mahal dan lebih indah dibandingkan gaun termahal yang dipakai oleh orang yang hatinya penuh kesombongan," ucap Bunga tulus.
Dengan telaten dan penuh kehati-hatian, Bunga mulai memilihkan beberapa model gaun untuk Salwa. Ia mengambilkan beberapa pilihan: ada yang berpotongan lurus anggun, ada yang sedikit beralun lembut di bagian bawah, ada yang berleher tinggi, dan ada pula yang bergaya bahu terbuka namun tetap sopan. Semuanya memiliki satu kesamaan: desain yang sangat simpel, tidak ada hiasan yang mencolok, kain yang halus dan berkilau lembut, serta warna-warna lembut namun berkelas seperti putih tulang, krem pucat, biru muda, dan abu-abu perak.
"Coba kau lihat ini, Nak," ucap Bunga sambil menyodorkan satu per satu gaun itu ke depan tubuh Salwa untuk menyesuaikan warnanya dengan kulit gadis itu yang putih bersih. "Yang ini potongannya sangat rapi, sangat elegan, dan sangat cocok dengan postur tubuhmu yang tinggi langsing. Warnanya putih bersih, melambangkan kemurnian dan kepolosanmu yang tidak ternoda meski sudah banyak kotoran yang melempari hidupmu. Yang ini warnanya perak lembut, terlihat dingin namun berwibawa, sangat pas untuk seorang pemimpin muda."
Salwa mengamati satu per satu dengan saksama, matanya berbinar menyukai semua pilihan yang diberikan oleh Ibu barunya itu. Akhirnya, tangannya terhenti pada satu gaun berwarna putih tulang dengan sedikit sentuhan kilap lembut yang hanya terlihat jika terkena cahaya. Gaun itu berpotongan pas di badan, mempertontonkan lekuk tubuhnya yang indah namun tetap sopan dan anggun, dengan potongan lengan panjang yang rapi. Tidak ada manik-manik, tidak ada bordiran rumit, hanya kain yang jatuh indah dan halus.
"Ini, Tante.... Saya suka yang ini," ucap Salwa mantap sambil tersenyum. "Sederhana, bersih, indah, dan pas sekali. Rasanya gaun ini cocok sekali dengan perasaan saya saat ini. Bersih dari masa lalu yang kotor, dan siap bersinar dengan kemampuan sendiri."
Bunga menatap gaun itu, lalu menatap wajah Salwa yang cantik berseri, dan ia langsung mengangguk setuju dengan mata yang berkaca-kaca bahagia.
"Sempurna... Sangat sempurna, Nak. Gaun ini memang diciptakan untukmu. Saat kau memakai ini nanti, semua orang yang melihatmu pasti akan terpesona. Kesederhanaanmu, kelembutanmu, dan keanggunanmu akan memancar jauh lebih terang dibandingkan ribuan permata yang dipakai oleh mereka yang sombong."
Setelah menentukan pilihan untuk Salwa, barulah Bunga memilihkan gaun untuk dirinya sendiri. Ia memilih gaun berwarna biru tua elegan yang senada namun tidak sama persis, sehingga mereka berdua akan terlihat serasi seperti ibu dan anak yang berkelas tinggi, namun tetap menonjolkan Salwa sebagai bintang utamanya malam itu.
Saat mereka sedang membayar dan bersiap meninggalkan butik mewah itu, Salwa menatap Bunga dengan penuh rasa terima kasih dan kasih sayang. Ia menggenggam tangan wanita itu erat.
"Terima kasih banyak, Tante bunga... Terima kasih sudah memilihkan yang terbaik untuk saya. Dan terima kasih sudah begitu menyayangi saya, sudah menganggap saya seperti anak sendiri. Saya sangat bahagia Tante ada di sisi saya."
Bunga berhenti melangkah, lalu memeluk bahu Salwa dengan penuh kehangatan. Ia menatap mata gadis itu dalam-dalam dengan penuh ketulusan.
"Jangan pernah berterima kasih untuk hal itu, Nak. Mencintaimu bukanlah kewajiban, tapi kebahagiaan terbesar bagi tante. tante tidak pernah merasa menjadi ibu tiri bagimu. Bagiku, kau adalah anugerah terindah yang Tuhan kirimkan. Dulu Tante berjuang demi Ayahmu, sekarang Ibu berjuang demi kalian berdua. Kebahagiaanmu adalah segalanya bagi Tante."
Mereka pun berjalan keluar butik itu beriringan dengan senyum bahagia di bibir masing-masing. Di jalan menuju pulang, di dalam mobil mewah yang nyaman itu, Salwa menatap ke luar jendela. Di dalam tas di sebelahnya, tersimpan gaun putih tulang yang sederhana namun elegan itu.
Ia membayangkan Sania, ibunya, dan keluarga Pratama yang pasti sedang sibuk mencari gaun paling mencolok dan paling ramai agar terlihat kaya dan hebat. Salwa hanya tersenyum tipis. Ia tidak butuh kemewahan palsu. Ia tidak butuh pakaian berhias berlebihan untuk membuktikan siapa dirinya.
Malam nanti, di acara besar itu, Salwa akan hadir dengan penampilan yang sederhana, bersih, dan anggun. Namun, saat ia berjalan masuk sebagai pemilik sah perusahaan raksasa itu, sebagai putri dari Ardiansyah Laksana, dan sebagai wanita yang bangkit dari keterpurukan... kehadirannya akan mengalahkan kemegahan apa pun yang dipakai oleh orang lain.
Dan di sanalah perbedaan itu akan terlihat jelas. Di satu sisi ada kesombongan yang berusaha terlihat indah, dan di sisi lain ada keanggunan sejati yang lahir dari hati yang bersih, kekuatan, dan kekuasaan mutlak.
Bersambung,,,